Ketika Masaku Tak Lagi Kanak-Kanak

Ketika Anak-Anak Menjelma Dewasa dan Ibu Semakin Menua

It Is Okay Not To Be Okay

It Is Okay Not To Be Okay Eventhough You Are A Mother

Pergi Untuk Kembali

Pergilah, Untuk Kembali Tumbuh Menjadi Dirimu

Dandelion

Kebertahanan Hidup, Kenyamanan dan Kedamaian

#1. Tentang Selalu Ada dan Berdiri untuk Diriku Sendiri

Mencintai, Hadir Menerima dan Keterhubungan dengan Diri Sendiri

#2. Tentang Selalu Ada dan Berdiri untuk Diriku Sendiri

Sebuah Muara Kesadaran Kemana Seharusnya Keterhubungan Diri Terhubung

Selasa, 17 Juni 2014

Perempuan di Sebuah Gerbang Rumah



Aku kerap melihatmu duduk termenung di selasar rumah. Sendiri. Tepat di sisi gerbang. Pandanganmu selalu mengarah ke jalan. Kau tak mengenalku. Pula aku. Aku hanya sekilas memperhatikan saat kuda besi yang kukendarai melewati gerbang rumahmu.

Awalnya, aku tak hirau. Tapi sedemikian sering aku mendapatimu duduk termenung, membuatku bertanya-tanya. Apakah kau sedang menunggu sesuatu? Atau mengenang sesuatu? Atau kau sama sepertiku yang senang menyambut kedatangan senja?

Tapi, nanti dulu, biar kuterka lagi. Pakaian yang kau kenakan selalu sama. Kebaya model zaman dahulu. Mungkinkah lingkar matamu tengah mengurai sejarah perubahan daerah ini dari waktu ke waktu? Atau kau tengah menyatukan remah-remah kenangan hidup dalam belantara sejarah?

Ah, mengapa aku menjadi sepeduli itu? Tahukah kau, aku bahkan bertanya-tanya saat tak mendapatimu duduk termenung di gerbang itu. Apakah kau sakit atau memang sedang tak ada di rumah.

Aku tak mampu menerka tepat usiamu dari keriput kulitmu. Kulitmu keriput, tapi tak begitu dengan rambutmu. Rambutmu tak putih menua. Warna hitam legam masih perkasa memudakan kepalamu. Namun, hitam legam rambutmu tak seperkasa tubuhmu. Tubuhmu renta. Ringkih.

Kau tahu? Entah mengapa, terbesit keinginanku untuk mengenalmu. Siapa tahu kita bisa mengisi waktu senja dengan melodi kisah. Aku ingin memahami isi kepalamu. Pun menyelami duniamu.

Catatan ini, untukmu, Perempuan di Sebuah Gerbang Rumah.

-Vinny Erika Putri-

Tuan Tanpa Nama


Bagaimana aku mengeja namamu, lelaki? Kau masih tertutup tabir. Jadi, tak apa bukan, aku memanggilmu dengan sebutan Tuan Tanpa Nama? Oh ya. Aku menyebutmu Tuan Tanpa Nama. Lantas, bagaimana kau menyebutku?

Aku tak romantis. Itu bukan keahlianku. Tapi soal romantis, apakah kau setuju bahwa kau dan aku punya Dzat yang Maha Romantis? Aku yakin, kau setuju.

Tuan Tanpa Nama, aku tak mau mengeluhkan sunyi. Entah di belahan bumi mana, aku yakin, kau melimpahiku doa-doa. Pula sebaliknya, aku di sini.

Sesoal sunyi, mengapa sebagian orang takut atau resah? Bagiku, tak melulu ingar-bingar yang menjadi warna hidup. Ada saatnya aku membutuhkan sunyi untuk mencari mutiara hikmah. Bahkan dalam hiruk-pikuk keramaian, aku kerap mencuri sunyi. Bagaimana denganmu, Tuan Tanpa Nama? Aku tertawa geli menerka-nerka.

Tuan Tanpa Nama, aku tak akan melukiskan rasaku di kanvas mimpimu. Mimpi terkadang menipu. Lagipula, ini terlalu rahasia. Maaf, bukan aku tak percaya padamu. Biarlah ini menjadi rahasia antara aku dan Penciptaku. Biarlah Dia, Sang Pemilik Jiwa, yang memantapkan keteguhan di hatimu dan hatiku untuk menjadi "kita" di atas titian waktu-Nya.

Tahukah kau, Tuan Tanpa Nama? Sang Pencipta tak sembarang mengukir garis-garis telapak tangan. Kunamai itu garis takdir. Tapi, aku tak perlu berpayah-payah memburu cenayang untuk mengurai satu persatu garis-garis itu lalu mencari eja namamu di sana. Kau juga pasti begitu. Kita memiliki-Nya. Dia Maha Tahu, kapan waktu menunjukkan garis takdir "kita" di telapak tanganmu dan telapak tanganku.

Tuan Tanpa Nama, aku terus melangkah menggenggam impian demi impian. Aku yakin kau pun begitu. Biarlah begitu, sampai aku dan kau dipertemukan di titik yang dinamai "kita".

-Vinny Erika Putri, 17.06.14

Apakah Kau Merindukan Ayah?



Apakah kau merindukan ayah?

Bagaimana rasanya?

Kau tahu? Aku punya seorang kawan yang juga seperti dirimu. Seorang kawan yang kerap merindui ayahnya. Bedanya, ia seorang perempuan. Ayahnya berpulang ke sisi-Nya saat ia masih mengenakan seragam putih-merah.

Ia kerap mengingatkanku saat puncak kesalku pada ayah tetas di telinganya. Ya. Aku lebih sering berseberangan pendapat dengan ayah. Jarang menemui titik temu. Ibulah yang menjadi penengah. Penengah yang menyarankan aku untuk mengalah seperti yang sering ibu lakukan. Mengalah untuk menang. Itu kata ibu.

Aku dan ayah, sebenarnya memiliki karakter yang sama. Sama-sama keras. Bulat bila sudah menginginkan sesuatu. Tanpa adanya ibu sebagai penyeimbang, mungkin dua karakter yang sama ini akan kaku beku. Ya. Kaku beku. Di antara kami, tak pernah ada tukar pikiran. Tak pernah berdialog dari hati ke hati atau empat mata. Ayahku tak pandai berdialog. Beliau ditakdirkan menjadi perencana ulung. Saking ulungnya, saat segala tak berjalan sempurna, itu sangat mengganggunya. Beliau terkadang lupa. Rencana manusia berada di bawah rencana-Nya. Tanpa adanya kearifan ibu, karakterku akan persis sepersis-persisnya seperti ayah. Tapi, di sisi lain, kuacungkan jempol untuk kesetiaannya pada ibu sebagai lelaki.

Kata kawanku, seharusnya aku bersyukur karena masih bisa berseberangan pemikiran atau pendapat dengan ayah. Katanya pula, aku tak tahu rasanya merindukan ayah.

Lainnya, aku pernah menanyai ibu, mengapa ibu selalu mengalah. Saat itu, aku merasa gerah. Ayah terlalu egois dalam kacamata pandangku. Dan aku benar-benar tidak terima keegoisannya pada ibu.

Tahukah kau, apa yang ibu katakan? Kata ibu, aku harus bersikap netral. Katanya juga, ibu tidak tahu, siapa yang akan lebih dulu dipanggil. Ibu atau ayah. Ibu tak ingin menyesal di kemudian hari. Bila ayah ditakdirkan terlebih dahulu berpulang, ibu tak ingin mengenangnya dengan penuh rasa bersalah karena perlakuan ibu pada beliau semasa hidupnya. Ibu ingin mengenangnya dengan keindahan. Lalu, bila ibu yang lebih dulu dipanggil, ibu tak ingin menyisakan ingatan buruk di kepala ayah. Jadi, lebih baik, mengalahlah. Itu bagian dari bersabar. Itu juga menjadi konsep dasar suatu hubungan rumah tangga bila memang menginginkan kalimat hingga maut memisahkan menyata.

Dua kepala tak bisa dilebur-satukan. Kepala itu tetap berdiri sendiri. Yang bisa diusahakan adalah cara menyeiringkan langkah untuk mencapai satu tujuan yang sama.

Mengalah. Itu cara ibu menyeiringkan langkah.

Apakah kau merindukan ayah?

Bagaimana rasanya?

Ajari aku rasa merindukan ayah. Sebelum kehilangan menyudutkanku pada titik penyesalan.

Apakah kau merindukan ayah?

-Vinny Erika Putri-

Minggu, 25 Mei 2014

Sepasang Kaki dan Hati



Kecelakaan. Lagi. Luka di kaki yang sama, kaki kiri. Meski bukan yang terparah, tetap terasa sakit. Tapi, adanya kecelakaan terdahulu, membuatku bisa menganggap kecil rasa sakit ini. Tawa masih membahak, senyum masih terulas penuh.

Aku diingatkan kembali arti sebuah kaki disaat hati lelah berjalan. Beruntung, peringatan itu, tak sampai aku harus kehilangan kaki. Allah hanya menjentikkan sedikit luka di kaki untuk melecutku berjalan maju.

Mungkin, seperti itu pula hati. Untuk membentuknya menjadi karang, harus melalui tempaan luka. Tanpa luka hati, aku tidak akan mengerti rasa perih. Dari rasa perih, empati terlahir. Tanpa luka hati, hidup tak akan terpacu lebih baik lagi. Tanpa luka hati, aku tak mungkin bisa melangkah sampai sejauh ini.

Sebuah kaki dan hati, mungkin berpasang. Hati butuh kaki untuk bangkit dan melangkah maju. Dan ke mana kaki melangkah, ia membutuhkan hati untuk memandu.

Vinny Erika Putri, Cirebon, 26.05.14