Senin, 11 Juni 2018

#1. Behind The Scene-Jejak Editor Amatir



"Untuk UAS Mata Kuliah Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini, tugas analisis pengaruh sarapan pada pembelajaran anak dibatalin. Gantinya, nerjemahin isi buku," jelas Bu Sutiah ketika kumenanyakan soal tugas-tugas kuliah di hari Sabtu via whatsapp.

Sabtu itu, aku tidak bisa menghadiri perkuliahan dikarenakan sakit.

"Nerjemahin buku gimana maksudnya, Bu?"

"Nanti satu buku dibagi sejumlah orang di kelas untuk menentukan jumlah halaman yang dikerjakan masing-masing individu."

"Oh, ya sudah. Gak papa kalau begitu. Lebih enak malah daripada nganalisis data gizi. Ada google translate untuk mempermudah ngerjain tugasnya," tanggapku.

Pikiranku tentang tugas tersebut pada saat itu masihlah sederhana: translate dengan bantuan google, review-koreksi-perbaiki sendiri sebelum dikumpulkan ke dosen, review oleh dosen, revisi lagi, selesai. Kalaupun nanti dijadikan buku, hanya tinggal mengumpulkan print out dari masing-masing individu.

*

Sabtu berikutnya.

"Vin, maju ke depan. Kita bagi halamannya sekaligus nama orang-orangnya. Hitung ada berapa halaman. Terus dibagi sejumlah orang di kelas," titah dosen.

Aku maju ke depan kelas. Kuhampiri dosen untuk memastikan darimana pengerjaan halaman buku dimulai.

"Bu, introduction perlu diterjemahkan juga atau tidak? Atau dimulainya dari part I saja, Bu?" ujarku sembari menunjukkan file halaman buku yang tertera di layar smartphoneku.

"Langsung ke part I juga gak apa-apa," respon dosen.


"Total berarti 400 halaman dibagi 17 orang. Satu orang berarti mengerjakan 23 halaman untuk ditranslate," kataku.

"Vin, catat di papan tulis, ya. Tetep harus ada yang punya catatan tugas ini selain semua juga memiliki catatan masing-masing," perintah dosen pengampu mata kuliah tersebut.

Pembagian halaman pun dimulai. Urutan jumlah halaman yang dikerjakan mengikuti urutan absen. Pembagian selesai, aku masih berdiri di depan kelas. Kulihat raut wajah teman-teman sekelas rata-rata bagaikan benang masai. Sementara wajahku masih belum semasai mereka.

Optimisme masih di genggamanku. Berdasarkan takaranku terhadap kemampuan diriku sendiri, menerjemahkan 23 halaman jurnal berbahasa inggris untuk tugas UAS, masih bisa tertangani dan dikerjakan secara maksimal dengan waktu deadline 2 minggu. Dan dengan pikiranku yang masih sesederhana itu soal tugas ini, kurasa aku juga masih bisa membantu satu-dua-tiga orang teman yang mengalami kendala di fasilitas seperti tidak adanya laptop pribadi atau masalah teknis (yang berhubungan dengan teknologi) dalam pengerjaan tugas ini.

"Nanti saya minta datanya, ya, Vin," ujar dosen.

“Saya foto aja, ya, Bu. Nanti saya kirim ke whatsapp grup."

"Boleh."

Tak hanya aku, lingkar mata dosen tersebut pun menangkap wajah-wajah dengan alis berkerut dan menegang yang ada di hadapannya, “Kelihatannya pada keberatan, nih, dengan tugas UAS-nya? Jangan takut dulu sama jurnal, Ibu-ibu ."

"Bu, kalau tes tertulis saja gimana?" Bu Mia mewakili suara-suara yang membisu.

Sementara aku masih mematung di depan kelas. 

"Sekarang, saya boleh kembali ke tempat duduk, Bu?” ujarku yang tak ingin lama-lama berdiri di depan kelas mengamati negosiasi model UAS yang akan disepakati.

"Oh, iya. Silakan."

Aku duduk.

“Oke. Saya kasih pilihan sama teman-teman. Kalau tes tertulis, syaratnya, tas dan semua HP di depan pada saat pelaksanaan. Kalau menerjemahkan jurnal, berarti ujian take home, waktu pengumpulannya kita sepakati bersama. Gimana?” tawar dosen.

Hening beberapa jenak. Tik tok tik tok. Orang-orang seperti tengah menimbang-nimbang. Aku memperhatikan dengan santai. Bagiku pribadi, ujian dengan kondisi seluruh catatan dan HP “disita” tak masalah. Sama tak masalahnya bila harus menerjemahkan jurnal sebanyak 23 halaman. Tak ada bedanya. Kuserahkan pilihan pada suara terbanyak.

“Kalau jurnal, kan, kalian bisa mengerjakan di rumah. Waktunya juga panjang,” tandas dosen. 

Aku sudah paham. Jurnal adalah pilihan terkuat yang lebih direkomendasikan dosen sedari awal proses negosiasi. Maka dari itu, aku tak berselera untuk berdebat atau bernegosiasi kalau pilihan dari awal sebenarnya sudah diteguhkan seperti itu dan tawar-menawar hanya sebagai penggembira belaka.

“Ya sudah, Bu. Translate jurnal aja,” jawab beberapa teman.

Jawaban yang kurasakan bertentangan dengan keinginan mereka. Jawaban yang kumaknai sama dengan batinku: memperpanjang negosiasi saat itu adalah hal yang percuma karena pada akhirnya bukan kita yang menentukan. Sementara sebagian lainnya yang bungkam, mengekor jawaban yang sudah dilontarkan dengan menyisakan garis kerumitan di wajah masing-masing.

Akhirnya, sepakat: UAS untuk mata kuliah Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini take home, dengan model tugas menerjemahkan jurnal ilmiah.

“Oke. Nanti kalau sudah ditranslate, saya review. Hasil review, kalau masih ada revisi, nanti direvisi teman-teman. Kalau sudah direvisi, diserahkan ke Vinny untuk proses editing akhir. Kalau bisa dikasih covernya dikash gambar ya, Vin.”

Gleg! Aku menelan liur. Aku tersenyum kaku. Dalam hati, aku menertawai diri sendiri. Menertawai pikiran yang terlalu sederhana. Di titik ini, seketika kurasakan semua tak lagi sederhana. Kerumitan mulai tercipta di benak. Di kepala, berputar tak henti-henti: editing, editing dan editing.

"Waktu dari proses translate sampai editing akhir jadi buku berapa lama, Bu?" tanyaku.

“Temen-temen maunya gimana?” tanya dosen.

“Dua minggu untuk translate, seminggu untuk proses editing, gimana, Bu?” usulku dengan hati yang tak seyakin biasanya.

"Oke. Biar kaliannya juga konsentrasi untuk persiapan UAS mata kuliah yang lain aja dulu, ya."

Kepalaku berdenyut-denyut. Pening terasa. Editing jurnal sebanyak 400 halaman dalam waktu seminggu. Segala kemungkinan yang terbaca dari karakteristik teman-teman kelasku berlintasan layaknya database program komputer di kepalaku yang sekali ‘klik’ keluar seluruh data prediksi yang dibutuhkan. Pula kumenangkap sinyal dari kompas batinku. Aku merasa tidak yakin, proses editing seminggu bisa terselesaikan. Bukan aku tidak percaya diri. Justru karena aku mampu menakar dengan baik antara kemampuanku, manajemen waktu dan masalah teknis lainnya, insting batinku mampu berkata begitu.

*

Seminggu jelang UAS. Aku mulai mencicil tugasku sendiri. Selesai dalam waktu 4 hari untuk proses translate-review-koreksi-revisi yang kulakukan sendiri. Adanya google translate sangat membantu. Tapi, bukan berarti google translate lolos ‘sensorku’ begitu saja. Aku menghabiskan waktu 3 hari untuk review-koreksi-revisi sebelum diserahkan ke dosen.

UAS selesai. Tugas translate jurnal bagianku selesai. Satu minggu terlewat. Tersisa 2 minggu. Sementara teman-teman baru mulai men-translate, aku membuat desain cover dan membantu beberapa teman yang berkonsultasi kepadaku terlebih dahulu sebelum tugas tersebut diserahkan ke dosen. Terutama yang tidak memiliki fasilitas seperti laptop dan belum bisa memaksimalkan fungsi gadget canggih yang dimilikinya untuk menunjang pengerjaan tugas ini.

Sebanyak tiga file melewati ‘pemeriksaanku’ sebelum masuk screening dosen. Membantu memeriksa pekerjaan mereka, sama halnya memperingan tugas editing-ku sendiri. Empat file (termasuk milikku) sudah dalam kondisi rapi. Tekanan belum terlalu kurasakan tinggi. Aku pernah mengalami tugas-tugas yang lebih berat dari ini semasa menjalani kuliah di teknik sipil dulu.

File-file mulai terkumpul di grup mata kuliah Kesehatan dan Gizi AUD. Sebelum dosen dalam grup tersebut me-review, aku telah lebih dulu me-review file-file yang dikumpulkan teman-teman. Hasilnya: aku banyak menarik napas panjang-panjang dan berusaha memahami kendala-kendala yang dihadapi mereka. Persis seperti yang kuprediksi. Apa yang diterjemahkan adalah ‘hasil mentah” tempelan dari google translate yang tidak melewati (paling tidak) proses ‘review-koreksi-revisi’ oleh masing-masing individu. Beberapa individu yang mendapat bagian tabel, hanya mentranslate konten tabelnya saja. Kolom tabel tidak dibuat. Beberapa bagan dan diagram yang ada pun dilewat. Sembari menghela napas dalam-dalam dan menertawai diri sendiri, aku harus memahami: sudah untung mereka bisa pergi ke warnet mengerjakan tugas dengan kesibukan yang mereka miliki sebagai istri, ibu dan guru atau sudah untung mereka yang masih gagap teknologi mau berusaha mengerjakan sendiri.

Kemudian, dosen me-review hasil setiap pekerjaan teman-teman. Sebagian revisi, sebagian lolos sensor (termasuk yang sebelumnya sempat kuperiksa terlebih dahulu sebelum sampai ke tangan dosen). Pertengahan minggu kedua, aku mulai total masuk ke proses editing. File-file yang sudah mendapatkan lampu hijau oke dari dosen mulai kusatukan. 

Tekanan mulai meninggi. Kuperiksa seluruh file yang telah terkumpul dengan lebih teliti lagi dari sebelumnya. Benar saja dugaanku. Hasil review dari dosen pun tampaknya tidak menyeluruh. Karena di beberapa file ada beberapa kejanggalan-kejanggalan kata-kata atau kalimat hasil translate yang lolos dari reviewnya. Haruskah beliau kumaklumi? Bahwa beliau juga punya banyak kesibukan sehingga tidak sempat me-review-nya secara menyeluruh? Kalau begini, kepada siapa aku harus mengandalkan kepercayaan? Kepada siapa aku harus meminta bimbingan?

Mendapati kenyataan itu, aku berkata pada diri sendiri dengan tawa berisi amarah: Ha! Selamat datang tantangan! Selamat kembali menjadi single fighter, Vinny!

Kekacauan lainnya juga terjadi. Dua orang teman ternyata salah men-translate halaman setelah aku cek dengan buku aslinya dan data halaman yang dikerjakan tiap individu. Dosen pengampu sama sekali tidak menyadarinya. Beliau me-review tanpa crosscheck dengan buku aslinya. 

Kuusahakan minta keringanan untuk teman yang salah men-translate halaman tersebut sebelum temanku komplain. Ditolak. Tidak bisa. Karena tidak akan menjadi sebuah buku bila ada satu bagian yang terlewat. Setiap individu tetap harus mengerjakan sesuai bagiannya karena itu tugas pribadi. Grup kelas (khusus untuk kelas pribadi tanpa ada dosen siapapun) pun ribut. Salah satu teman yang salah men-translate sempat merasa jengkel (bukan padaku), karena sebelumnya dia sudah menanyakan perihal halaman bagiannya, dan diiyakan oleh dosen. Semua mulai gerah. Nano-nano emosi pun mulai berhamburan.

*

Sepanjang proses editing, beberapa kali aku harus ‘menepi sejenak’ untuk mengendalikan ledakan-ledakan emosi negatif yang menggelegak dari dalam diri. Dulu, separah-parahnya tugas perancangan bangunan dan sejenisnya di perkuliahan teknik sipil, gesekan yang kurasakan hanyalah dengan diri sendiri ketika menghadapi deadline. Karena tugas-tugas itu adalah murni tugas individu. Ditambah, fokusku saat itu penuh untuk kuliah. Tidak terbagi dengan urusan pekerjaan.

Kini, aku harus menaklukan letupan emosi negatif dari dalam diriku sendiri, juga mensupport sekaligus mengatur teman-teman agar tugas ini bisa selesai karena tugas ini adalah tugas pribadi sekaligus tugas tim. Tanpa peran serta satu individu, tidak akan terlahir sebuah buku terjemahan seperti yang diinginkan dosen tersebut. Selain itu, pengerjaan tugas ini bertepatan dengan masa-masa padatnya rentetan kegiatan lembaga pendidikan masing-masing individu dari mulai persiapan ujian anak-anak, wisuda hingga rapotan.

Aku sempat lepas kendali ketika seorang teman tidak bisa mengatur kata-kata dengan baik. Atau lebih tepatnya menyulut emosiku yang tengah naik-turun dengan kata-kata yang tidak tepat.

"Mbak, revisianku udah bener belum?" tanya salah seorang temanku via whatapss secara pribadi.

"Sudah."

"Alhamdulilah. Tugasku udah selesai, kan, tugasnya? Aku pengen tugas ini cepet-cepet selesai."

"Ya kamu cuma satu revisinya, punya kamu sendiri. Bisa bayangin, kan, posisiku yang ngedit banyak file," ujarku gemas karena kata-katanya terkesan cenderung egois.

"Ya udah, Mbak. Nikmati aja. Kan bagian tugas negara. Demi kebaikan bersama, Mbak."

Tugas negara yang dimaksud adalah tugas-tugas yang biasa dijalani kosma (koordinator mahasiswa) dan sekertaris kelas.

"Haha. Iya dinikmati aja. Makanya kamu juga gak usah ngeluh," balasku pada akhirnya dengan hati yang jengkel.

Ingin kumaklumi dengan satu kata pada waktu itu: darah lajangnya masih terlalu muda untuk memahami tutur kata yang sesuai dan tidak sesuai terhadap situasi-kondisi kondisi yang ada. Atau belum memahami empati dari sebuah kata-kata. Juga berkali-kali kuingatkan diri ini bahwa kondisi psikis diriku sendiri tengah tak stabil dan cenderung sensitif. Tapi, nyatanya, meski telah berusaha, nilai yang kupegang teguh tentang empati ini tetap tak bisa memaklumi kata-kata itu atau menjadikannya sebatas angin lalu.

Amarah yang sampai di puncak ubun-ubun tak bisa kukeluarkan. Kuperam-peram. Akibatnya, basah terlahir di sudut mataku. Bulir-bulir air menetes. Menjadi pecahan-pecahan amarah yang berserakan.

Lantas, batinku bergumam.

Sudahlah. Tak ada waktu untuk menangis. Pada akhirnya, nilai yang kau pegang teguh memang benar, bahwa kau harus bisa mengandalkan dirimu sendiri. Jangan bergantung pada orang lain. Jangan berharap empati yang sama dari orang lain agar kau tak merasakan kecewa.

Ketegasanku pun dimulai di titik ini. Aku tidak bisa lagi menggunakan pemakluman panjang yang ujungnya akan menghambat proses editing. Karena pada akhirnya, ujung tombak penyelesaian akhir ada di tanganku.

"Aku paham, tugas ini begitu menyita seluruh tenaga, pikiran dan emosi kita semua. Tapi mau tidak mau, tugas ini harus tetap selesai dikerjakan," ujarku di grup kelas.

"Jangan emosi, Mbak," tanggap temanku yang menyulut kemarahanku saat bicara secara pribadi via whatsapp sebelumnya.

Tetas sudah amarahku. Tak bisa lagi kupendam. Bara api keluar dari sekamnya.

"Kalau gak emosi, gak normal namanya. Dan jangan bilang ini tugas negara. Aku suruh tukar posisi nanti kamu jadi sekertaris kelas,” tanggapku tanpa tedeng aling-aling.

Di titik ini, aku tak peduli dengan lontaran kata-kata tajamku padanya. Aku tak lagi menggunakan empatiku. Bahkan, aku tak peduli dengan penilaian teman-teman yang lain ketika kumuntahkan amarah itu padanya. Aku adalah cermin bagi orang lain. Apa yang kulakukan adalah pantulan dari yang mereka lakukan pada cermin itu.

"Ih, Mba Vinny, jangan marah. Nanti cantiknya ilang, loh," bujuknya.

Aku tak menggubrisnya sama sekali.

"Saya minta kerjasamanya dari kalian semua. Karena ini tugas tim juga. Saya minta yang kebagian tabel, diagram atau bagan tolong dilengkapi untuk meringankan proses editing ini supaya segera terselesaikan. Kalau tidak dilengkapi, ya, tidak apa-apa. Nanti saya yang kerjakan. Tapi, nama mahasiswa tersebut saya tandai untuk pelaporan ke dosen. Yang sudah selesai, jangan egois. Kalau bisa, bantu yang masih kesulitan," tegasku dengan bahasa yang lebih formal dari biasanya.

"Gadis, waktu nulis ini ekspresinya gimana?" tanya Bu Maftukha.

"Datar, Bu. Tanpa emosi. Tapi lebih menakutkan dari ekspresi emosi yang meledak-ledak," balasku di grup.

Sementara, grup kelas ramai dengan segala jejak-jejak emosi yang ‘manusiawi’ yang merujuk pada kekesalan akan adanya tugas ini, Bu Maftukha whatsapp secara pribadi.

"Teh, tabelnya sudah jadi, tapi belum sempat dikirim. Saya harus nganter anak. Terus juga ada acara lain," jelasnya.

"Iya, Bu. Gak apa-apa. Kata-kata aku di grup lebih kepada mengingatkan teman-teman yang sering lalai dengan tugasnya. Aku percaya sama ibu, ibu orang yang bertanggung jawab," jawabku, "kaget ya, Bu, lihat aku yang begitu? Baru tahu kalau aku sudah bersikap tegas sama orang? Aku berusaha untuk memaklumi, tapi aku juga punya batas waktu, Bu. Kalau aku terlalu banyak memaklumi, pada akhirnya aku sendiri yang susah karena editing terakhir diserahkan ke aku," lanjutku.

"Iya, Teh. Maaf ya, jadinya kita semua merepotkan Teh Vinny."

"Ini memang tanggung jawab aku, Bu. Aku yang diamanahin menyelesaikan sampai dengan proses editing. Minta doanya saja, Bu. Semoga saya dikasih kesehatan untuk menyelesaikan ini," balasku.

Di grup mata kuliah Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini, dosen tersebut menawarkan diri untuk kita semua berkumpul mengerjakan tugas ini dengan didampingi beliau. Kalau memang semua mahasiswa setuju, tinggal menentukan tempatnya dan waktunya. Beliau mewanti-wanti untuk tidak menggunakan kampus sebagai tempat pertemuan.

Aku mulai intens berkomunikasi dengan Bu Sutiah. Beliau proaktif memberikan bantuan dan dukungan untukku dibandingkan teman lainnya sedari awal proses editing. Kita berdua acapkali berbagi pikiran untuk mencari solusi dari kendala-kendala yang dihadapi selama pengerjaan tugas ini. Termasuk ajakan dosen tersebut untuk bertemu membahas tugas ini setelah beliau menghubungi secara pribadi dosen tersebut.

"Kita diskusikan dulu aja dengan temen-temen, Bu. Mau pada di mana tempatnya, bisanya kapan dan jam berapa," ujarku pada Bu Sutiah via whatsapp.

"Oke, Vin."

Bu Sutiah pun memberitahukan pada dosen tersebut bahwa kita menunggu kesepakatan dari teman-teman sekelas terlebih dahulu. Dosen mengiyakan. Sekaligus menentukan batas waktu tunggu untuk kesepakatan sampai 9 malam.

"Bu, kita tunggu tanggapan teman-teman di grup kelas sampai jam 8 malam. Kalau gak ada yang merekomendasikan tempat, berarti kita yang tentukan. Kalau mereka gak datang, resiko tanggung mereka sendiri,” tegasku pada beliau.

"Oke. Ini jadinya kita main tegas-tegasan, ya."

"Iya, Bu. Aku serahin ke ibu ya, untuk urusan tempat. Malam ini aku fokus ke editing. Makasih pisan, Bu, bantuannya."

"Iya. Kita sama-sama bergerak. Aku juga rasanya gemes. Pengen cepet-cepet selesai tugas yang menguras emosi ini. Kalau butuh bantuan apa-apa, tinggal ngomong aja, ya, Neng."

"Iya, Bu. Makasih."

Malam itu, kesepakatan ditentukan berdasarkan respon aktif beberapa orang di grup kelas, yang tidak memberikan respon atau pasif, dianggap setuju. Hari Selasa di Kejawanan jam 10 pagi untuk proses penyelesaian tugas ini. Dosen yang bersangkutan pun diberitahu mengenai tempat dan waktu pertemuan. Beliau menyatakan tidak bisa menghadiri pertemuan itu dikarenakan ada acara yang harus ia hadiri di kampusnya.

Akhirnya, tanpa kehadiran dosen tersebut, pertemuan akan tetap berjalan. Bu Sutiah ditunjuk sebagai koordinator yang mengawasi dan mengatur jalannya pertemuan.

"Semuanya dimohon datang ya, teman-teman. Demi terselesaikannya tugas ini. jangan lupa siapin kuota," ujar Bu Sutiah.

"Jangan lupa juga yang punya fasilitas laptop dibawa. Mohon kerjasamanya, karena ini bukan hanya tugas individu tapi juga kerja tim. Satu individu tidak selesai, tugas tim juga tidak akan selesai. Yang masih kesulitan untuk membuat tabel, bagan dan diagram, nanti saya bantu pas kita ketemuan. Sementara ini, coba berusaha sendiri dulu," timpalku.

*

Senin pagi, hari pelaksanaan acara wisuda anak-anak di lembaga pendidikan tempatku bekerja.


"Bu, aku offline dulu. Soal perkembangan yang ada di grup aku serahin ke ibu," ujarku pada Bu Sutiah via whatsapp.

"Oke. Semoga lancar acaranya, ya, Neng."

"Iya, Bu. Makasih."

Wisuda anak-anak mengalihkanku sementara waktu dari tugas editing jurnal. Syukur Alhamdulilah karena acara wisuda anak-anak bisa terlewati meski di awal-awal kekacauan sempat terjadi. Setelah itu, sekolah libur puasa selama seminggu. Setidaknya, adanya libur puasa sangat membantu bagiku untuk proses pengerjaan editing jurnal.

Lepas acara wisuda anak-anak, lelah tak lantas bisa mengistirahatkanku. Pikiranku seolah telah terprogram dengan baik oleh 'editing jurnal'. Sesampainya di rumah, sedari siang hingga sore, aku duduk di depan layar laptop, satu file sudah kukoreksi dan tersusun rapi. Total ada enam file yang sudah masuk proses editing dan fix. Tersisa 11 file lagi. Kupindah file tersebut ke flashdisk sebelum mematikan laptop. Aku melakukan hal itu secara berulang: memindahkan file ke flashdisk setiap kali laptop dimatikan. Mengapa? Entahlah. Batinku selalu bilang untuk berjaga-jaga.

*

Malamnya, ba'da isya, aku kembali berkutat dengan editing jurnal. Terhitung tiga hari sudah, keseharianku dipenuhi dengan editing jurnal dan jurnal. Sembari mengedit, aku memantau grup kelas. Grup kelas ramai membahas kembali tempat untuk pertemuan yang telah disepakati sebelumnya. Orang-orang yang malam sebelumnya tidak turut berkomentar, baru muncul berkomentar soal tempat. Ini cukup membuat jengkel aku dan Bu Sutiah.

"Masalah tempat, tolong yang sudah tahu bantu yang belum tahu, kasih arahan yang jelas. Mau ketemuan di mana. Terus berangkat bareng ke Kejawanannya," kataku.

Lantas, kuserahkan urusan grup malam itu pada Bu Sutiah. Aku tak mau ambil pusing, karena fokusku tetap pada editing jurnal.

Di tengah-tengah proses editing, mataku terbelalak. Satu file, baru setengah jumlah halaman kuperiksa dan kurapikan, tiba-tiba... layar Not responding! Lama layar di hadapanku berwarna putih. Kuutak-atik. Tetap tak bisa. Layar tetap putih. Lalu blank dan mati setelahnya. Kulepas baterai. Kudiamkan sementara. Kunyalakan kembali. Laptop berulang kali reboot.

Sungguh, aku muak. Semuak-muaknya saat itu. Rasa muak, marah, sedih dan diambang putus asa karena tak tahu bagaimana solusi untuk masalah ini bercampur aduk jadi satu. Rasa tak keruan membawaku ke pembaringan. Kuputuskan untuk tidur. Dengan harapan, esok laptopku kembali normal dan malam ini, mesinnya hanya butuh istirahat. Sepertiku yang juga butuh rehat.

Di pembaringan, nyatanya, mataku tak juga bisa terpejam. Bagaimana bila esok keadaan tetap sama? Bagaimana aku harus menyelesaikan tugas editing ini? Apakah aku harus menyerah? Pertanyaan-pertanyaan itu mengepung kepalaku hingga akhirnya lelah melelapkanku entah pukul berapa.

*

Selasa pagi. Ba'da subuh. Usai shalat subuh, pikiranku langsung tertuju pada laptop. Kunyalakan laptop. Kondisi laptop masih seperti semalam. Kurasakan, tubuhku mulai merespon akumulasi gejala stress yang membelitku. Perutku mual. Kepalaku pening.

Tak mungkin mengulur waktu sampai dengan laptop ini diperbaiki apalagi menunggu laptop ini pulih dengan sendirinya. Perbaikan laptop ini butuh waktu. Pergi ke warnet untuk menyelesaikannya tidak mungkin. Sama tak mungkinnya menyerahkan tugas itu ke tukang rental. Bukan solusi yang efektif. Mau berapa banyak biaya yang dikeluarkan dan waktu yang dihabiskan? Lebih tipis lagi kemungkinan ada seseorang yang mau meminjamkan laptopnya.

Menyerah sajakah? tanya batinku di ujung lelah.

Tanganku meraih smartphone.

"Bu, laptopku error dari semalam. Sampai sekarang belum pulih," ujarku pada Bu Sutiah via whatsapp.

"Ya Allah. Data tugasnya gimana?"

"Alhamdulillah sempat aku taruh di flashdisk."

"Ada-ada aja ya. Tugas ini bener-bener menyita emosi."

"Iya, Bu. Laptopku kayaknya panas. Overload. Jam pemakaiannya lebih dari biasanya."

Pagi itu... aku pasrah. Lebih tepatnya, diambang kata menyerah.

*

Pertemuan tetap berjalan. Awal pertemuan sempat kacau. Karena kesepakatan berubah mendadak di pagi itu. Sebagian terpencar di Kejawanan. Sebagian di Grage City. Aku merasa turut bersalah dalam kekacauan ini. Karena, aku yang menyetujui tempat pertemuan di Grage City ketika melihat kondisi di grage city "tampak lebih nyaman" dibandingkan dengan Kejawanan yang panas dalam bayanganku.

Disamping itu, pagi itu, baru terpikirkan olehku kalau kami juga membutuhkan tempat yang memiliki fasilitas sumber listrik untuk me-recharge laptop ketika dalam kondisi low baterai. Juga Bu Mia dan Bu Renata yang sudah tiba lebih dulu di Grage City pada waktu itu mengatakan bahwa fasilitas itu ada. Akhirnya, yang berada di Kejawanan pun dengan kesal berbalik arah melawan arus menuju Grage City.

Setelah semua berkumpul, kami pun mencari tempat untuk menyelesaikan tugas ini. Kami naik ke lantai dua. Lalu berhenti dengan ragu-ragu di aula yang dulu digunakan untuk acara KOMPAK mahasiswa IAI BBC.

"Boleh gak tempat ini dipake? Kita perlu izin dulu gak?" tanya Bu Imas.

"Kayaknya gak papa. Kita mau di mana lagi," tanggap teman yang lain.

"Di sini yang ada colokannya juga," aku menimpali.

Akhirnya, kami pun berkumpul di sudut tembok aula. Laptop-laptop dikeluarkan. Sebagian mulai mengerjakan kekurangan-kekurangan tugas mereka. Sebagian lainnya yang sudah tak ada masalah dengan tugasnya tampak mengobrol. Sebagian lagi, mencari makanan karena mereka belum sempat makan. Aku mulai membimbing teman-teman yang kesulitan mengerjakan tabel, bagan atau diagram.

"Neng, nanti laptopku dibawa kamu aja," ujar Bu Sutiah sembari makan nasi goreng yang telah dibelinya.

Aku terperangah. Kaget. Tak percaya ada yang mau merelakan fasilitasnya dipakai demi tugas ini.

"Beneran gak apa-apa, Bu? Laptopnya memang gak dipake ibu?"

"Iya, gak apa-apa, pake aja. Biar tugasnya bisa cepet selesai. Saya tinggal ngerekap tabungan. Udah saya pindah filenya di flashdisk. Nanti gampang dikerjain di sekolah aja."

"Ya Allah, Bu. Makasih pisan. Aku tadinya udah kepikiran mau nyerah."

"Saya juga udah mikir ke situ. Kalau kamu nyerah nanti bubar semua. Makanya, bawa aja laptop saya buat ngerjain."

"Iya, Bu. Soalnya gak mungkin aku bolak-balik warnet untuk nyelesein tugas ini."

"Iyalah. Biayanya mahal."

"Waktunya selesainya juga bakal lebih lama. Kalau pakai laptop pribadi kan bisa full di rumah. Ngerjainnya mau dilembur sampe malem juga gak masalah," tambahku.

"Makanya, saya udah siapin semuanya nih di tas ini. Laptop sama chargernya juga."

"Beneran gak apa-apa, Bu?" aku mengulang pertanyaan untuk meyakinkannya.

"Iya. Pake aja."

"Makasih banyak, Bu."

Aku bersyukur saat itu, satu solusi terpecahkan atas izin-Nya. Aku takjub dengan Bu Sutiah. Karena jarang ada orang yang sepeduli itu dan mau meminjamkan fasilitas pribadinya demi tugas ini. Setelah masalah laptop selesai, kekacauan pun masih berlangsung.

Sri sampai di kejawanan. Ia datang paling terakhir. Miskomunikasi terjadi. Sri menghubungi Tata menanyakan keberadaan kami. Tata memberitahukan bahwa kita ada di Grage City. Sri mengatakan ia tidak punya ongkos untuk menyusul kami di Grage City.

"Suruh pesen grab aja. Tahu mau keluar gak bawa duit sama sekali," ujar Bu Sutiah.

"Dia ngontak kalian pake HPnya siapa, sih, Wat? Setahuku HPnya kan rusak," tanyaku pada Wawat.

"HP saudaranya, Teh," sahut Wawat.

"Ya udah, kalau pakai HP saudaranya berarti, kan, dia sama saudaranya. Minta diantar aja ke sini sama saudaranya. Tapi kalau bukan pake HP saudaranya, coba dijemput. Siapa yang mau jemput?" kataku.

"Aku gak tahu Kejawanan, Mbak," ujar Wawat.

"Aku aja yang jemput kalau dia sendiri," tandasku setengah dongkol.

"Teh Vinny jangan kemana-mana. Teh Vinny, kan, yang bimbing teman-teman di sini. Suruh pesen grab aja, nanti dibayar di sini," ujar Bu Sutiah.

Selang beberapa jam setelah itu, Sri datang dengan mata sembab. Sudah bisa dipastikan, telah terjadi melodrama sepanjang perjalanan dirinya menuju Grage City. Aku memberikannya jeda untuk menenangkan diri. Sampai ia sendiri yang datang menghampiriku.

"Aku tugasnya kurang apa, Teh?" tanyanya padaku setelah agak tenang.

"Maaf, aku gak sempat menjelaskan panjang lebar waktu kamu inbox via facebook. Soalnya aku lagi pusing-pusingnya waktu itu. Email yang kamu kirim juga belum nyampe-nyampe. Kamu kurangnya di tabel. Tabelnya kamu belum dibuat. Kamu bawa laptop?"

"Bawa, tapi harus nyolok terus laptopnya."

"Ya udah, dinyalain dulu aja laptopnya. Cari colokan deket sini. Nanti aku ajarin cara bikin tabelnya."

Sri mengiyakan.

*

Azan Dzuhur berkumandang. Kami bergiliran untuk melaksanakan shalat dzuhur. Ada kejadian yang memalukan ketika Aku dan Bu Mia melaksanakan shalat Dzuhur. Sekembalinya dari shalat dzuhur, di aula kami melihat teman-teman telah mengemasi barang bawaannya.

"Mau pada kemana?" tanyaku.

"Kita diusir satpam tadi pas Bu Vinny lagi shalat," ujar Bu Renata.

"Diusir?" kataku dengan raut muka kaget.

"Bener kata Bu Imas tadi, ya," sambung Bu Renata.

"Kita turun ke bawah aja dulu, yuk," tandas Bu Sutiah yang malu sekaligus jengkel dengan pengusiran ini.

"Temen-temen yang lain udah pada kumpul semua?" tanyaku.

"Ini sandalku ke mana? Dipake sapa?" tanya Bu Sutiah mencari-cari sandal.

"Dipake Dijah atau Bu Diana mungkin," timpal Bu Renata.

Sungguh hiruk-pikuk akibat diusir satpam saat itu membuatku ingin tertawa sekaligus merasa konyol.

"Tu, Bu Diana sama Dijahnya," kataku dengan jari mengarah pada dua orang yang tengah berjalan mendekati kita.

"Sekarang mau ke mana?" kata Bu Sutiah.

"Gimana kalau ke rumah Bu Renata?" usul Bu Mia.

"Jangan. Ada bayi. Banyak anak-anak. Kasian mamahnya nanti repot. Aku tahu situasi kondisi rumahnya," jawabku.

"Terus gimana?" tanya Bu Sutiah.

"Tugasnya udah pada selesai belum?" tanyaku.

"Aku belum, Teh," jawab Sri.

"Tata gimana?" tanyaku.

"Tabelnya sedikit lagi," jawab Tata.

"Ya, udah, Bu. Kalau yang lain udah pada selesai, pulang aja. Tata kalau tinggal sedikit, diselesein di rumah, nanti kirim via whatsapp filenya. Sri, berhubung kamu susah dikontak karena gak ada HP, kamu mau gimana?"

"Aku minta dianter ke sekolah, Teh. Aku mau ngerjainnya di sekolah aja," kata Sri.

"Ya udah kita kerjain di sekolah kamu. Nanti filenya masukin ke flashdisk aku."

Akhirnya, tugas teman-teman kuanggap selesai hari itu. Toh kalaupun masih ada kekurangan, itu akan menjadi tugasku sebagai editor untuk melengkapi atau memperbaikinya.

"Teteh gak sama Bu Renata?"

"Gak. Bu Renata rumahnya dekat sini."

Kami pun berpisah dengan teman-teman setelah Bu Sutiah menyerahkan uang patungan teman-teman padaku untuk keperluan biaya pengerjaan tugas ini. Mereka pulang ke rumah masing-masing. Sementara aku mengantar Sri ke sekolah untuk mengerjakan tugasnya. Sepanjang jalan menuju sekolah, terlontarlah cerita melodrama dari mulut Sri yang membuat matanya sembab ketika datang ke Grage City.

Sampai di sekolah tempat Sri bekerja, aku menunggunya menyelesaikan tabel yang belum dibuatnya hingga sore sembari mencicil tugas editing. Lepas magrib, masih kurang dua tabel lagi yang belum terselesaikan.

"Udah Sri. Sisanya gak apa-apa aku aja. Kalau ditungguin nanti aku pulangnya kemalaman. Kalau gak sekarang, susah lagi buat ngontak kamunya karena gak ada HP. Terus juga kamunya, kan, mau pulang ke Ciledug."

"Beneran gak apa-apa, Teh?"

"Iya. Gak apa-apa. Aku numpang shalat magrib, ya. Terus pulang habis itu."

Hujan sempat turun sesaat kala aku menunaikan shalat magrib. Lalu reda menyisakan gerimis seiring kepulanganku dari sekolah tempat Sri bekerja.

*

To be continue.... (bersambung)

0 komentar:

Posting Komentar