Apakah kau merindukan ayah?
Bagaimana rasanya merindukan ayah?
Aku memilikinya
Darahnya mengalir dalam tubuhku
Tapi, jiwa ini terkadang merasa yatim
Aku kepala batu
Yang kadang membencinya dalam diam
Ketika terpaksa mengalah dan mengubur pilihan-pilihanku
Ketika dia menggunakan otoritas kepemimpinannya
Ketika dia selalu merasa paling benar
Aku kepala batu
Yang kadang membencinya dalam diam
Ketika dia melimpahkan amarahnya pada ibu
Bersebab kubantah dan kupatahkan kediktatorannya
Aku kepala batu
Yang tak suka mendengar suara kerasnya meledak-ledak di telingaku
Ketika terjadi pertengkaran antara ibu dan dirinya
Yang terpaksa melunak dan menurunkan egoku
Untuk memadamkan bara yang berkobar-kobar
Untuk memadamkan bara yang berkobar-kobar
Ketika melihat kerumitan tercipta di sana
Aku kepala batu
Yang kadang mengasihaninya dalam diam
Seiring tubuhnya yang tak lagi sekuat dulu
Seiring rambut putih di kepalanya kian membanyak
Seiring kulitnya yang kian kerut keriput
Aku kepala batu
Yang kadang mengasihaninya dalam diam
Ketika melihat luka yang dibawanya sedari kecil
Luka yang tak disadarinya menyisakan lubang di hatinya hingga ia menua
Aku kepala batu
Yang kadang berterima kasih padanya dalam diam
Ketika mengingat peras keringatnya menghidupi keluarga ini
Hingga membuat daging-daging dan otot-otot dalam tubuh ini terus tumbuh sehat
Aku kepala batu
Yang kadang mengasihinya
Ketika aku menyadari dia adalah bagian dari takdirku
Takdir bahwa dirinya ikut andil membuatku terlahir ke dunia ini
Takdir bahwa dirinya adalah lelaki yang kusebut ayah
Aku kepala batu
Yang kadang mengasihaninya dalam diam
Seiring tubuhnya yang tak lagi sekuat dulu
Seiring rambut putih di kepalanya kian membanyak
Seiring kulitnya yang kian kerut keriput
Aku kepala batu
Yang kadang mengasihaninya dalam diam
Ketika melihat luka yang dibawanya sedari kecil
Luka yang tak disadarinya menyisakan lubang di hatinya hingga ia menua
Aku kepala batu
Yang kadang berterima kasih padanya dalam diam
Ketika mengingat peras keringatnya menghidupi keluarga ini
Hingga membuat daging-daging dan otot-otot dalam tubuh ini terus tumbuh sehat
Aku kepala batu
Yang kadang mengasihinya
Ketika aku menyadari dia adalah bagian dari takdirku
Takdir bahwa dirinya ikut andil membuatku terlahir ke dunia ini
Takdir bahwa dirinya adalah lelaki yang kusebut ayah
Dia kepala batu
Yang berusaha memenuhi semua kebutuhan keluarganya
Karena orang tuanya tak banyak melakukan itu untuknya
Dia kepala batu
Yang merasa buah hatinya harus selalu dilindungi
Sehingga buah hatinya tak boleh berada terlalu jauh dari jangkauan matanya
Karena orang tuanya tak banyak melakukan itu untuknya
Dia kepala batu
Yang tak merasakan kasih sayang penuh kedua orang tuanya
Karena dia berulang-ulang menjadi kakak di setiap tahun kelahiran adik-adiknya sepanjang sembilan tahun
Sehingga nenek dan kakeknya menjelma perpanjangan tangan kasih sayang
Dia kepala batu
Yang bersandar pada kegigihan di tengah pergumulan sifat pemalunya
Ketika menghadapi lingkungan sosialnya
Ketika darahnya yang masih muda harus menghadapi dunia
Dan merasakan dirinya bukanlah siapa-siapa
Dia kepala batu
Yang memegang teguh kesetiaan pernikahan juga hatinya
Karena ia mengingat suatu takdirnya yang pahit:
dia melihat ayahnya sebagai orang yang memberi ibunya luka pengkhianatan
Hingga penyakit membawa ibundanya kembali ke tanah
Meninggalkan dirinya di usia yang masih labil
Lalu, ia harus menelan takdir
Perempuan duri itu menjadi ibu tirinya yang baik hati
Aku
Dia
Kami berdua
Kepala batu
Yang kerap berseteru panas dan perang dingin lalu cair dengan sendirinya
Yang kadang menyimpan lukanya masing-masing ketika saling melukainya
Yang saling mengasihani dan mengasihi dalam diam
Pula saling melindungi dengan caranya masing-masing
Apakah kau merindukan ayah?
Bagaimana rasanya merindukan ayah?
Kami, dua kepala batu masih saja sering berselisih untuk bisa saling memahami. Bahkan, di usianya yang semakin menua.
Apakah kau merindukan ayah?
Bagaimana rasanya merindukan ayah?
Karena orang tuanya tak banyak melakukan itu untuknya
Dia kepala batu
Yang merasa buah hatinya harus selalu dilindungi
Sehingga buah hatinya tak boleh berada terlalu jauh dari jangkauan matanya
Karena orang tuanya tak banyak melakukan itu untuknya
Dia kepala batu
Yang tak merasakan kasih sayang penuh kedua orang tuanya
Karena dia berulang-ulang menjadi kakak di setiap tahun kelahiran adik-adiknya sepanjang sembilan tahun
Sehingga nenek dan kakeknya menjelma perpanjangan tangan kasih sayang
Dia kepala batu
Yang bersandar pada kegigihan di tengah pergumulan sifat pemalunya
Ketika menghadapi lingkungan sosialnya
Ketika darahnya yang masih muda harus menghadapi dunia
Dan merasakan dirinya bukanlah siapa-siapa
Dia kepala batu
Yang memegang teguh kesetiaan pernikahan juga hatinya
Karena ia mengingat suatu takdirnya yang pahit:
dia melihat ayahnya sebagai orang yang memberi ibunya luka pengkhianatan
Hingga penyakit membawa ibundanya kembali ke tanah
Meninggalkan dirinya di usia yang masih labil
Lalu, ia harus menelan takdir
Perempuan duri itu menjadi ibu tirinya yang baik hati
Aku
Dia
Kami berdua
Kepala batu
Yang kerap berseteru panas dan perang dingin lalu cair dengan sendirinya
Yang kadang menyimpan lukanya masing-masing ketika saling melukainya
Yang saling mengasihani dan mengasihi dalam diam
Pula saling melindungi dengan caranya masing-masing
Apakah kau merindukan ayah?
Bagaimana rasanya merindukan ayah?
Kami, dua kepala batu masih saja sering berselisih untuk bisa saling memahami. Bahkan, di usianya yang semakin menua.
Apakah kau merindukan ayah?
Bagaimana rasanya merindukan ayah?
-Vinny Erika Putri, 01.17.18
Apakah datangnya kerinduan itu harus menunggu salah satu dari kami kembali ke tanah terlebih dahulu?
Kalau memang begitu, maka, wahai Bumi, panggilah aku lebih dulu untuk berbaring di pelataranmu. Aku tak ingin menanggung kerinduan itu.
-V.E.P, 01.07.18-
Apakah datangnya kerinduan itu harus menunggu salah satu dari kami kembali ke tanah terlebih dahulu?
Kalau memang begitu, maka, wahai Bumi, panggilah aku lebih dulu untuk berbaring di pelataranmu. Aku tak ingin menanggung kerinduan itu.
-V.E.P, 01.07.18-


0 komentar:
Posting Komentar