Jumat, 29 Juni 2018

#2. Hai, Diriku, Dengarlah Suara-Suara Ini


Sisakan ruang hati untuk dilukai agar lebih mudah berdamai dengan luka. Hati yang hidup tak mungkin tak pernah mengalami luka setitik pun. -Yanti, Psikolog.

Malam ini, sebuah catatan lama mengingatkanmu akan seseorang. Ia wanita bemandikan kegetiran sekaligus ketangguhan.

Apa yang dilakukannya adalah mengobati jiwa orang-orang yang sakit, jiwa orang-orang yang terluka. Orang-orang menamainya psikolog.

Apa yang dilakukan Tuhan adalah mengujinya apakah ia bisa mengobati luka-luka pada dirinya sendiri seperti ia mengobati orang lain.

Tuhan memberikannya takdir:

Takdir pertama, anaknya terlahir dengan cahaya bintang berbeda dari cahaya pada umumnya. Tuhan menganugerahinya anak yang mengidap disleksia dan kelemahan otot-otot tangan.

Takdir kedua, sang suami menceraikannya. Lalu, takdir kedua membawanya pada takdir ketiga.

Takdir ketiga, ia menjadi seorang single mother. Ia membesarkan anak lelakinya seorang diri. Anak yang terlahir istimewa ia terima dengan segala warnanya. Kecerdasannya sekaligus kekurangannya. Kesedihan sekaligus kebahagiannya. Cemoohan bibir-bibir tetangga akan anaknya yang hanya larut dengan dunianya sendiri. Cibiran nyinyir orang-orang ketika anaknya berbeda dari keumuman anak-anak lainnya. Sanjungan orang-orang yang terasa bagaikan penjilat kala anaknya pada akhirnya menunjukkan prestasi di balik segala kekurangan. Ia melewati semuanya di fase itu.

Di takdir ketiga yang mengakumulasi takdir-takdir sebelumnya. Ia berhasil memenangkan masa-masa sulit itu. Pun memetik buah kesabarannya.

Hingga ia akhirnya memahami, makna pekerjaan dimana ia begitu hidup didalamnya. Tuhan benar-benar membentuknya menjadi psikolog sejati di takdir ketiganya. Sebab, ia tak hanya melihat rasa sakit dari berpasang-pasang hati yang berusaha ia sembuhkan. Ia juga melihat rasa sakitnya sendiri yang membuatnya menyadari satu hal bahwa untuk bisa menyembuhkan dan benar-benar memahami luka yang orang-orang rasakan, ia harus berdamai dengan lukanya sendiri. Tepatnya berdamai dengan diri sendiri.

Lalu, bagaimana dengan takdir milik wanita itu selanjutnya? Kau tak tahu. Kau tak lagi mendengar kabarnya. Tapi, kau mengingat nama panggilannya: Bu Yanti. Dimana pun beliau berada, kau berterima kasih padanya karena telah meninggalkan pembelajaran berharga bagimu.

Maka, malam ini, ingatlah suara-suara ini, suara dari dalam hatimu, wahai diriku:
Berdamailah dengan luka untuk berdamai dengan dirimu sendiri.
Ketika kau telah mampu berdamai dengan luka, saat kau mengingatnya, luka itu tak lagi terasa tajam. Kau akan menikmatinya itu bagian dari takdirmu. 
Ketika kau telah mampu berdamai dengan luka, kau akan kembali menemukan dirimu. Dan kau akan bisa melanjutkan hidupmu. 
Luka mengajarimu cara untuk sembuh.

-V.E.P, 29.06.18

0 komentar:

Posting Komentar