Sementara tugas teman-teman lain kuanggap selesai, di depan mataku, terbentang sebuah tanggung jawab yang menentukan akhir dari muara tugas ini. Editing jurnal.
Buka puasa jurnal
Tarawih jurnal
Sahur jurnal
Marhaban ya jurnal
Tulisku pada timeline facebookku saat itu untuk sedikit mencacah bongkah beban yang menggumpali dada.
*
Rabu, 16 Mei 2018.
Puasa hari pertama.
Di mulai hari itu, riak emosiku naik-turun. Bahkan, ketika bapak meminta bantuan untuk diantar ke Toko Gunung Jati membeli bola untuk stok di warung, aku pun menyahutinya dengan nada ketus.
"Nantilah, Puputnya, tuh, lagi pusing! Tugasnya belum selesai. Deadlinenya hari Sabtu."
Setelah itu, bapak terdiam. Dan meski rasa bersalah terbersit di hatiku, aku bergeming tak mengantarnya pada saat itu juga.
Berkali-kali aku 'menepi sejenak' untuk kembali menstabilkan emosiku. Saat 'menepi sejenak', ku bisa mendengar dengan jelas suara-suara menggema dalam batinku. Suara-suara yang lebih mirip pergumulan batin.
Untuk apa kamu repot-repot meneliti kembali kalau hasil dari review dosen sudah keluar begitu. Biarkan saja bagian yang luput dari review tetap salah. Kamu hanya akan menyusahkan dirimu sendiri.
Tapi, itu bukan cara kerjaku. Totalitas tanggung jawab itu penting. Dan itu akan menjadi karya buku.
Hei! Seharusnya itu bukan tugasmu dan tanggung jawabmu. Itu harusnya bagian dari tanggung jawab dosen pengampu. Tak usahlah kamu berbuat maksimal. Turunkan sikap idealismu. Cobalah untuk tak peduli. Lagipula, belum tentu buku itu dibaca orang.
Aku ingin seperti itu. Tapi, prinsipku tidak bisa bersepakat dengan itu. Aku bukan orang seperti itu. Tak penting buku itu dibaca atau tidak. Ini soal tanggung jawab, yang tidak semua orang memahami itu. Ya, Allah, aku lelah! Aku muak!
*
Kamis, 17 Mei 2018.
Puasa hari kedua.
"Assalamu'alaikum. Bagaimana untuk revisi, sudah sampai mana? Siapa yang tidak hadir di foto itu?" tanya Dosen di grup Kesehatan dan Gizi AUD setelah sekian lama grup sepi.
"Alhamdulillah hadir semua, Bu," tanggap Bu Sutiah.
"Editing masih dalam proses," sambungku dengan ekspresi datar bercampur rasa muak saat menuliskannya.
Setelahnya, grup tersebut kembali sepi. Pun grup kelas. Setelah pertemuan hari Selasa, aku menghilang sementara dari aktivitas grup kelas untuk fokus pada proses editing.
*
Jum'at, 18 Mei 2019.
Puasa hari ketiga.
Sejak hari pertama puasa, aku benar-benar melakukan apa yang telah kutulis di timeline facebookku. Aku mengatur waktuku sebaik mungkin untuk pengerjaan editing jurnal juga kegiatan lainnya. Usai tarawih, aku mengerjakan editing jurnal hingga jam 12 malam. Dilanjut lepas subuh hingga jelang dzuhur. Untuk mendinginkan laptop yang panas aku menjedanya 1 jam setiap 4 jam sekali. Aku harus hati-hati menggunakan laptop ini karena laptop yang kupakai bukanlah milikku. Laptop ini milik Bu Sutiah.
Waktu jeda kugunakan untuk merebahkan diri di pembaringan untuk mengurangi punggung yang lelah dan memejamkan mata yang perih. Jelang ashar, aku harus meninggalkan pekerjaan editing sementara waktu untuk membantu ibu menyiapkan menu berbuka puasa. Aku hanya menggunakan 3-4 jam untuk tidur.
Siang itu, tubuhku mulai memberikan sinyal tidak kuat. Aku sempat limbung sesaat. Sebabnya, pikiran dan tenaga terforsir, tubuh kurang istirahat, juga beban emosi yang menghantamku karena ibu dan bapak pun sedang berada dalam kondisi sakit.
Badan ambruk. Jurnal belum selesai. Orang tua sakit. Ya Allah, nikmatnya ujian di awal ramadhan tahun ini, tulisku di status whatsapp.
Satu hari, pengerjaan editing jurnal hanya bisa menyelesaikan 2-3 file. Sampai dengan hari itu, total file terkumpul ada 9 file. Masih tersisa 8 file yang belum disatukan. Mengapa selama itu? Aku tidak hanya menyatukan filenya, tapi juga me-review file yang dikerjakan masing-masing individu (terutama yang belum sempat di-review) yang kupikir tadinya sudah menjadi tanggung jawab dosen pengampu mata kuliah tersebut. Kubenahi bila ada kejanggalan-kejanggalan kalimat hasil terjemahan google translate. Kurapikan tabel, diagram dan bagan yang masih berantakan. Selain itu, ini adalah pertama kalinya aku mengedit file sebanyak 400 halaman. Katakanlah, ini pertama kalinya bagi seorang amatir sepertiku.
Sedari awal mendapat tugas ini, kompas batinku benar. Pekerjaan editing ini tak mungkin selesai dalam waktu seminggu. Dipaksakan tidak tidur sampai dengan hari Sabtu pun tetap tidak akan selesai. Ini bukan soal energi negatif yang kutanamkan pada pikiranku. Justru karena aku mampu mengukur kemampuanku dan mengatur waktu dengan tepat, batinku bisa berkata begitu.
Dukungan dan empati pun mulai berdatangan dari beberapa teman. Mereka bergiliran menanyakan kondisiku secara pribadi. Pun ada yang menyaranku untuk menyerah karena rasa kasihannya padaku.
"Kalau udah gak kuat jangan dipaksakan, Teh. Bilang saja gak sanggup," ujar salah satu teman.
"Iya, Bu. Minta doanya aja biar aku dikasih kesehatan," balasku.
Sebelum dukungan dan empati membajiriku, kata menyerah memang sempat terlintas di benakku. Tapi bersamaan dengan itu, aku mengingat kembali kerelaan Bu Sutiah yang meminjamkan laptop pribadinya. Juga support beliau dari awal proses editing dimulai. Mengingat itu rasanya, sungguh malu untuk menyerah.
Pada teman-teman lainnya yang menanyakan perihal kondisiku, kumeminta doa yang sama: doa agar aku diberikan kesehatan. Dan, atas dukungan dan empati tulus mereka, aku berterima kasih. Saat itu, yang terasa olehku, hikmah adanya tugas ini membuatku semakin tahu, bagaimana hubungan pertemanan kami disaat-saat kondisi sulit. Sejauh mana kepedulian antar sesama teman terjalin. Seerat apa kekompakan terlihat tak hanya di masa-masa senang. Siapa yang benar-benar tulus, siapa yang basa-basi, siapa yang memilih diam karena tidak tahu harus berkata apa atau takut salah bicara, siapa yang tidak peduli sama sekali... semuanya terdeteksi oleh radarku saat itu juga.
Dukungan positif dan empati tulus kian mengukuhkan tekadku untuk tidak menyerah. Aku menghargai empati mereka. Aku tak ingin menyia-nyiakan pengorbanan dan kepercayaan Bu Sutiah yang telah merelakan laptopnya demi terselesaikan tugas ini. Aku memahami makna sebuah totalitas dan tanggung jawab. Kuputuskan, aku akan meminta perpanjangan waktu bila memang Sabtu editing belum selesai.
Malam harinya, usai tarawih, aku total istirahat. Dalam rebah, sebelum memejam mata, aku berterima kasih pada-Nya. Karena aku memiliki seorang ibu berjiwa tangguh yang tak merengek manja dan tak takluk pada rasa sakit. Beliau tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Ibu lebih tangguh dari lelakinya. Lelaki yang kupanggil bapak dan darahnya mengalir di tubuhku.
*
Sabtu. 19 Mei 2018.
Puasa hari keempat.
"Agar disamakan dengan kelas lain. Tanggal 24-5-2018 jam 03.00 sore di perpus kampus, pengumpulan buku. Teh Vinny, jika telah selesai proses edit, dan sudah lengkap isi buku dari cover sampai selesai, kirimkan ke email saya, ya," ujar dosen via whatsapp di grup Kesehatan dan Gizi AUD.
"Bunda, saya minta perpanjangan waktu untuk editing sampai dengan hari Selasa bisa gak, Bun? Masih ada 7 file lagi yang belum disatukan," balasku.
"Selasa tanggal berapa, Teh?"
"Tanggal 22, Bun."
"Boleh, Mangga cantik."
"Makasih, Bun. Saya lagi mengusahakan untuk selesai sesegera mungkin."
"Sama-sama, cantik. Semangat, ya."
"Iya, Bun. Makasih."
Tak lama berselang, Bu Sutiah whatsapp secara pribadi. Beliau kembali menanyakan kondisiku.
"Neng, gimana kondisinya? Saya kepikiran terus dengan tugas jurnal ini. Bener-bener menyita pikiran dan emosi."
"Tenang, Bu. Insya Allah Selasa bisa selesai. Minta doanya aja, Bu. Supaya aku dikasih kesehatan."
"Iya, Neng. Doaku selalu ada untukmu. Uangnya kurang gak, Neng?"
"Kayaknya gak, Bu. Nanti aja itung-itungan pastinya kalau udah selesai semua."
"Inget ya, Neng. kalau butuh apa-apa ngomong. Jangan ditanggung sendiri."
"Iya, Bu. Makasih untuk dukungan dan bantuannya."
Hari itu, segalanya mulai membaik. Tubuhku kembali bugar. Kaki bapak yang bengkak mulai pulih. Keluhan-keluhan sakit dari bibirnya pun lenyap. Bengkak di tangan ibu juga mulai mengempis. Dan aku bisa lebih rileks mengerjakan editing jurnal karena ada perpanjangan waktu yang sesuai dengan ketepatan pengaturan waktuku untuk menyelesaikan tugas tersebut.
*
Selasa, 22 Mei 2018.
Puasa hari keenam. Sore hari. Satu jam jelang waktu berbuka puasa.
Yeah! Selesai! Mission complete! Tantangan berhasil ditaklukan! Teriakku dalam hati.
File kukirim ke grup Kesehatan dan Gizi AUD.
"Assalamu'alaikum. Bunda, ini softfile tugas UAS," tulisku di grup dengan melampirkan file tugas jurnal untuk UAS yang telah selesai.
Belum ada balasan.
Grup kelas pun ramai. Segala ungkapan kelegaan, sanjungan juga pujian untukku pun mengucur dari teman-teman. Aku tertawa. Aku membayangkan bagaimana mereka ketar-ketir menanti kabar perkembangan tugas ini. Karena setelah aku meminta perpanjangan waktu editing pada dosen di grup Kesehatan dan Gizi AUD dan berkomunikasi dengan Bu Sutiah secara pribadi, aku tak muncul di grup kelas.
Satu jam berlalu. Tertera balasan dari dosen pengampu di grup Kesehatan dan Gizi AUD.
"Wa'alaikumsalam cantik. Diterima ya. Saya minta waktu untuk baca (review) full. Terima kasih, ya, cantik."
"Mangga, Bun."
Atmosfer whatsapp grup kelas kembali mendidih.
"Itu orang gimana, sih, Teh. Maunya di-review bae. Pokoknya kita gak terima revisi. Titik!" ujar salah satu teman.
"Paling kalau direvisi balik lagi ke aku, Bu. Makanya aku jengkel dari kemarin-kemarin. Lah kudunya kalau mau direvisi dari kemarin," tanggapku.
"Ya janganlah. Pokoknya kita angkat bareng-bareng, Teh. Kasihan, Teh Vinny," balasnya.
"Iya, Bu. Aku juga udah mual. Nanti mah diiyain aja," jawabku dalam kondisi jengkel.
Apa yang membuatku jengkel hingga semuak ini? Pertama, pemberian tugas terkesan tidak terencana dengan baik, mendadak dan penyediaan waktu terlalu singkat dari proses translate hingga editing. Kedua, review dari dosen tidak dilakukan secara menyeluruh dan teliti sehingga memusingkan editor (tepatnya menambah daftar panjang pekerjaan editor). Ketiga, tidak ada komunikasi intens antara dosen dan editor yang menjadi ujung tombak selesai atau tidaknya karya buku yang diinginkan dosen.
Kemudian, kejengkelan-kejengkelan itu berubah menjadi lelucon-lelucon yang bersahut-sahutan. Lelucon-lelucon yang akhirnya membuat kami tertawa terbahak-bahak. Aku dalam posisi yang sudah lebih rileks sehingga mampu ikut andil menimpali lelucon-lelucon yang memancing tawa. Setidaknya, proses editing telah selesai. Bagian terberat telah terlewati. Kalaupun nanti ada revisi tidak akan seberat proses editing.
*
Jum'at, 25 Mei 2018.
Puasa hari kesembilan.
Tiga hari proses review yang dibutuhkan dosen. Pukul 15.00 sore, akhirnya pecah kabar, ACC, disetujui. Sudah boleh dicetak. Lega hatiku. Lega juga hati seisi kelas. Dosen meminta buku dicetak rangkap dua. Satu untuk perpustakaan. Satu untuk dirinya. Dan beliau meminta dicetak dengan halaman bolak-balik. Aku menyanggupi. Kuperkirakan, butuh sekitar 3 hari untuk proses cetak. Proses cetak pun kutangani sendiri.
*
Sabtu, 26 Mei 2018
Puasa hari kesepuluh.
Proses cetak dilakukan di rumahku sendiri. Aku memiliki printer yang bisa kugunakan. Secara perhitungan biaya pun akan lebih hemat. Lagi-lagi, dalam proses cetak pun, aku mendapatkan pembelajaran soal bagaimana caranya mencetak halaman secara bolak-balik layaknya buku. Awal-awal, aku yang lemah dalam menginterpretasikan perputaran arah bangun ruang, berulang-ulang melakukan kesalahan cetak halaman. Sampai akhirnya, dari kesalahan tersebut, aku memahami cara mencetak halaman buku secara bolak-balik.
"Teh, kurang gak, uangnya?" tanya Bu Mia via whatsapp pribadi di sela-sela proses cetak.
"Insya Allah, gak, Bu. Lebih malah kayaknya. Kalau lebih gimana, Bu?"
"Lebihannya buat Teh Vinny aja. Lebih berapa, Teh?"
"Belum tahu pastinya, Bu. Dua buku akhirnya aku print semua. Kalau fotokopi diitung-itung jatuhnya lebih mahal. Nanti ajalah ya, Bu, itungan pastinya, kalau udah sampai proses jilid."
"Oke. Pokoknya nanti bilang. Kalau kurang, kurangnya berapa. Kalau lebih, lebihnya berapa."
"Oke, Bu."
*
Selasa, 28 Mei 2018
Puasa hari kedua belas.
Tiga hari setelah proses cetak selesai, akhirnya buku pun siap dijilid. Waktu penjilidan sempat mundur tiga hari dari hari yang dijanjikan oleh percetakan. Setelah selesai dijilid, tinggal selangkah lagi tanggung jawabku selesai: menyerahkan tugas tersebut pada dosen.
Kupandangi dua buku tebal yang tergeletak di meja. Tugas ini, sungguh luar biasa. Hampir menyamai kerumitan menggarap skripsi saat aku berkuliah di teknik sipil. Juga tugas perancangan yang pernah kuhadapi dan tebalnya laporan praktikum yang ditulis tangan di tiap semesternya.
Aku tersenyum puas melihat hasil desain cover buku yang kubuat sendiri. Satu-satunya bagian yang kukerjakan dengan hati yang ringan tanpa beban, tanpa keluh kesah. Sementara isi didalamnya adalah hasil dari berpasang-pasang alis yang saling bertaut saat berpikir dan kumpulan hati yang bolak-balik beristighfar saat tersulut emosi.
Ya, Allah. Terima kasih. Tanpa kekuatan dan kemudahan dari-Mu, aku tak bisa melewati tantangan ini.
*
Rabu, 6 Juni 2018.
Puasa hari kedua puluh satu.
Aku meminta Bu Renata untuk menemaniku ke kampus dalam rangka penyerahan tugas UAS yang telah selesai dijilid. Alhamdulillah, Bu Renata bisa menemani.
"Saya ngajak Sheren gak apa-apa, ya, Bun?"
"Iya, gak apa-apa, Bun. Aku malah seneng Sheren diajak."
Kami datang lebih awal dari kesepakatan yang telah dijanjikan oleh dosen untuk mengurus e-campus. Aku ingin menanyakan perihal salah satu mata kuliah yang nilainya masih kosong. Sementara Bu Renata ingin menanyakan e-campus miliknya yang belum bisa dibuka.
Aku dan Bu Renata menunggu dosen tersebut sekitar tiga jam setelah urusan kami selesai sembari bercerita banyak hal. Sampai, dosen yang ditunggu akhirnya datang. Sebelum penyerahan tugas, beliau mengobrol panjang lebar denganku. Dari mulai menanyakan padaku bagaimana rasanya mengerjakan tugas ini, pujian atas hasil kerja cerdas kelasku juga desain cover buku yang menarik, kemudian penjelasan tentang alasan mengapa model tugas seperti ini yang beliau pilih, disambung dengan tukar pikiran mengenai evaluasi dan refleksi tugas ini hingga masalah e-campus yang belum tersistem dengan baik karena baru diuji coba selama satu semester.
Obrolan diakhiri dengan penyerahan tugas. Bu Renata, Sheren (anak Bu Renata), aku dan dosen pengampu mata kuliah Kesehatan Gizi dan AUD, berfoto bersama. Sebagai simbol tugas telah diserahkan, ketika berfoto bersama, aku dan dosen tersebut masing-masing memegang satu buku berjudul Kesehatan Dan Pendidikan Anak Di Awal Masa Kanak-Kanak hasil kerja cerdas kelasku.
"Nanti kirim via whatsapp, ya, Vin," kata dosen tersebut.
"Oke, Bun."
Setelah urusan selesai, Aku dan Bu Renata pun berpamitan. Sementara beliau, masih di kampus untuk menghadiri acara buka puasa bersama dengan dosen-dosen IAI BBC.
*
Satu jam setelah berbuka puasa.
"Alhamdulillah. Serah terima tugas UAS mata kuliah Kesehatan dan Gizi AUD sore tadi di perpustakaan IAI BBC. Terima kasih, Bu, atas bimbingannya. Terima kasih teman-teman atas kerjasamanya. Semoga buku ini bisa bermanfaat untuk orang banyak khususnya untuk civitas akademika IAI BBC," tulisku di grup whatsapp Kesehatan dan Gizi AUD dilengkapi dengan foto.
Dua orang teman mengamini.
"Banyak dosen lain yang pengen ikutan," jawab dosen tersebut.
"Ikutan apa, Bun? Dosen-dosen masih pada bukber di kampus, ya, Bun?" balasku dengan insting yang mencium gelagat tak enak.
"Ikutan petak umpet... hee," jawab Bu Renata dengan maksud mengalihkan.
"Ikutan mau bikin tugas yang menghasilkan karya seperti itu. Tadi ada yang minta dijelaskan bagaimana konsepnya, apa triknya, seperti apa prosesnya dan darimana buku sumbernya didapat? Alhamdulilah, semoga jadi inspirasi positif untuk kemajuan kampus BBC," jelas dosen tersebut.
Ha! Tepat dugaanku. Inilah gelagat tak enak yang langsung dirasakan intuisiku. Setelahnya, obrolanku dengan beliau segera kututup sesopan mungkin. Sementara disaat yang sama, seketika, grup kelas ramai. Setiap jiwa saling mengamini semoga dosen-dosen tidak ada yang tertular seperti itu. Pun aku, yang sangat-sangat terkuras secara tenaga, pikiran dan emosi.
NOOOO!! NO MORE, PLEASE, ENOUGH!!
Kalau kata Dilan, yang berat itu rindu, kataku yang berat itu memikul tanggung jawab 17 file milik 17 orang dengan waktu yang tersedia hanya 3 minggu untuk proses translate-review-editing-printing tanpa komunikasi dua arah yang intens dengan dosen pengampu.
-The End-


0 komentar:
Posting Komentar