Jumat, 22 Juni 2018

#4. Untukmu Yang Masih Entah



Surat ke-empat.

Untukmu yang masih entah...

Percayakah kau, cinta yang menggebu dua insan yang baru menjadi seorang pengantin hanya terhitung dua tahun? Sementara, perjalanan setelahnya adalah perjuangan untuk membuat cinta senantiasa tetap menyala.

Aku percaya. Dua tahun adalah masa cinta rekah membungah. Masa dimana dua insan saling menatap pasangannya dengan balutan cinta yang menggelora. Di hati mereka, setiap hari adalah kehangatan. Di mata mereka, setiap hari adalah keindahan. Dan segalanya begitu sempurna. Tanpa cela.

Tahukah kau, mengapa aku mampu berkata seperti itu?

Aku mengalaminya. Sahabatku mengalaminya. Dua kali. Mungkin memang perkara ini berujung pada 'mereka bukan jodohmu'. Katakanlah demikian, bila jalinan pernikahan belumlah sampai mengikat.

Tapi, aku melihat hal yang nyaris sama pada insan-insan lainnya, yang bahkan sudah terikat oleh pernikahan.

Waktu lagi-lagi yang bisa menguji semuanya:

Sejauh mana madu cinta tetap menjadi madu. Atau akan menjelma duri bahkan racun yang mematikan jiwa-jiwa yang pernah dimerah-jambukan oleh cinta.

Sejauh mana hati masing-masing insan tetap bisa menjadi rumah bagi pasangannya meski bertengkar hebat-berdebat-menangis-berbaikan-tersenyum-tertawa silih berganti terjadi didalamnya.

Sejauh mana hati masing-masing mampu kembali membangun cinta sebanyak cinta mereka patah, runtuh berpuing-puing oleh ego masing-masing.

Lihatlah, bagaimana cinta yang diagungkan dua insan usai biduk mereka berlayar selama 20 tahun. Teruslah lihat mereka, hingga 30 tahun. Lalu, teruslah lihat hingga mereka menua, wajah menyisakan keriput dan tubuh ringkih merenta. Apakah tetap hati mereka tetap menghangat? Atau dipenuhi dengan pertengkaran yang mengikis cinta perlahan-lahan.

Aku melihat bagaimana cinta itu kehilangan gelora. Dari rumah yang menjadi tambatan hati ayah dan ibu. Lalu, rumah orang-orang terdekat. Hingga rumah orang-orang yang jauh. Aku mendengar dari bibir orang-orang yang bercerita padaku. Juga suara-suara hatiku sendiri.

Aku melihat bagaimana cinta itu termakan oleh ego ketika lelaki merasa paling benar. Ketika harga diri sebagai pemimpin terlalu tinggi untuk disentuh. Dan perempuan kerapkali mengalah. Lantas, hati perempuan yang memeram sakit itu menjadi bom waktu yang siap menimbulkan pertengkaran hebat, yang seringkali sampai ke telinga anak-anak. Saat itu, seolah-olah, mereka tak pernah merasakan cinta. Dan anak-anak merekamnya.

Aku melihat bagaimana cinta itu berubah menjelma bentuk lain bernama hak, kewajiban dan tanggung jawab pada keluarga. Dan pucuk tertingginya adalah kesetiaan pada janji yang terucap.

Untukmu yang masih entah...

Apakah kau percaya cinta? Aku tidak. Apa yang kulihat, kudengar dan kurasakan, cinta seolah bisa diciptakan, dihambarkan oleh waktu dan jarak, dilenyapkan oleh pengkhianatan, dimusnahkan dendam dan kebencian.

Lalu, apa yang kupercaya? Entahlah. Aku lupa bagaimana wangi bunga cinta. Kerapkali, ketika aku merindukan aromanya, saat itu juga, getah awar-awar dihidangkan di depan mata. Hingga rasa enggan kembali mengguyur hati dengan luka yang masih menganga.

Untukmu yang masih entah...

Aku tidak lagi membayangkan gula-gula manis pernikahan. Sungguh, imajinasiku tak lagi mampu menyentuh keindahan itu.

Kau tahu apa yang kupikirkan? Ketika garis tanganmu dan garis tanganku bertemu menjadi garis takdir kita, aku tak lagi berpikir sesoal cinta dan geloranya. Aku tak ingin terlampau mabuk dan ketika siuman baru menyadari bahwa semuanya hanyalah cerita khayalan yang ada dalam negeri dongeng. 

Aku akan menanyakan padamu, apakah yang akan kita lukis pada dinding-dinding kehidupan? Ke mana jalan yang akan kita tempuh bersama? Bagaimana cara kita menghadapi godaan, tantangan dan guncangan yang mampu memporak-porandakan cinta itu sendiri? Apa yang bisa kita lakukan agar hati kita tetap bisa menjadi rumah yang hangat bagi yang lainnya? Pula rumah bagi anak-anak bila Tuhan berkendak menitipkan malaikat-malaikat mungil pada kita?

Kita akan bercerita tentang kelemahan, keburukan, cela dan ketidak-sempurnaan masing-masing. Lantas, kita saling memberi ruang untuk memahami dan berdamai dengan diri sendiri untuk merengkuh ketidak-sempurnaan masing-masing dari kita dengan hati yang lapang.

Untukmu yang masih entah...

Kini, aku wanita matang. Dengan pahit getir luka di sekujur hati. Yang membuat pandanganku akan cinta telah bergeser jauh hingga ke titik entah.


-Vinny Erika Putri, 22.06.18

0 komentar:

Posting Komentar