Aku tak romantis. Itu bukan keahlianku. Tapi soal romantis, apakah kau setuju bahwa kau dan aku punya Dzat yang Maha Romantis? Aku yakin, kau setuju.
Tuan Tanpa Nama, aku tak mau mengeluhkan sunyi. Entah di belahan bumi mana, aku yakin, kau melimpahiku doa-doa. Pula sebaliknya, aku di sini.
Sesoal sunyi, mengapa sebagian orang takut atau resah? Bagiku, tak melulu ingar-bingar yang menjadi warna hidup. Ada saatnya aku membutuhkan sunyi untuk mencari mutiara hikmah. Bahkan dalam hiruk-pikuk keramaian, aku kerap mencuri sunyi. Bagaimana denganmu, Tuan Tanpa Nama? Aku tertawa geli menerka-nerka.
Tuan Tanpa Nama, aku tak akan melukiskan rasaku di kanvas mimpimu. Mimpi terkadang menipu. Lagipula, ini terlalu rahasia. Maaf, bukan aku tak percaya padamu. Biarlah ini menjadi rahasia antara aku dan Penciptaku. Biarlah Dia, Sang Pemilik Jiwa, yang memantapkan keteguhan di hatimu dan hatiku untuk menjadi "kita" di atas titian waktu-Nya.
Tahukah kau, Tuan Tanpa Nama? Sang Pencipta tak sembarang mengukir garis-garis telapak tangan. Kunamai itu garis takdir. Tapi, aku tak perlu berpayah-payah memburu cenayang untuk mengurai satu persatu garis-garis itu lalu mencari eja namamu di sana. Kau juga pasti begitu. Kita memiliki-Nya. Dia Maha Tahu, kapan waktu menunjukkan garis takdir "kita" di telapak tanganmu dan telapak tanganku.
Tuan Tanpa Nama, aku terus melangkah menggenggam impian demi impian. Aku yakin kau pun begitu. Biarlah begitu, sampai aku dan kau dipertemukan di titik yang dinamai "kita".
-Vinny Erika Putri, 17.06.14


0 komentar:
Posting Komentar