Ibu, aku tahu lelahmu meski bibirmu tak berkeluh. Aku menggugat tumpukan sibuk hariku. Sebab, tak enak hati melihatmu kelelahan. Kau bilang, "Jalani bagianmu dengan tanggung jawab. Tak perlu pikirkan urusan rumah."
Aku mengkhawatirkan sehatmu. Memasak, mencuci,
menyetetika, menggalang usaha warung kelontong dan urusan rumah tangga
lainnya, kau lakoni sendiri saat hariku sibuk. Aku sempat memendam gusar
saat kedapatan pakaianku sendiri yang telah kucuci kau seterika. Aku
bukan tak tahu cara berterima kasih. Aku hanya ingin meringankan
pekerjaanmu di sela sibukku dengan mengerjakan apa yang seharusnya
kukerjakan. Sebenarnya, aku ingin sedikit membalikkan kata-katamu,
"Biarkan. Ini bagian anakmu. Anakmu ingin menjalani tanggung jawabnya."
Tapi, aku tak setega itu menyinggungmu. Mungkin, niatmu sama seperti
niatku. Sama-sama ingin meringankan.
Dari dulu, kau tak
pernah mengandalkan khodimat. Semasa kecil, saat kau masih berkarir
sebagai praktisi pendidikan, khodimat kau tugaskan hanya untuk menjagaku
dan adik selama kau mengajar. Kau membawaku, adikku dan khodimat ke
tempat kerjamu. Selebihnya, usai bergulat dengan kewajiban pekerjaan, waktumu untuk kami dan melakoni
pekerjaan ibu rumah tangga. Sampai, kau dihadapkan pada pilihan ketika berada di
puncak karir. Kau mengerti, sakit-sakitannya adik keduaku merupa
petunjuk-Nya untuk kau menentukan pilihan. Dengan lapang dada, kau
lepaskan puncak karir. Pula lepaslah peran khodimat menjaga kami. Ya.
Menjaga. Bukan mendidik. Saat itu, aku mungkin belum genap lima tahun.
Sebab, saat aku TK, kau menemani hari-hariku di sekolah.
Kau
menjadi ibu rumah tangga yang handal. Sehandal saat kau masih berkarir.
Melihat penampilanmu sekarang, mungkin, orang-orang takkan percaya
bahwa kau pernah bertemu dengan orang-orang besar di zamanmu. Katamu,
tak penting orang-orang tahu, apalagi percaya. Orang-orang percaya atau
tidak, pengalaman-pengalaman itu tetap milik ibu. Dan membagi kisah
pengalamanmu padaku, bagimu, itu sudah cukup. Tapi, malam ini,
kumeluaskan kabar.
Aku melihat fotomu dengan Kak Seto
di albummu yang masih terawat baik. Baik Kak Seto dengan dirimu atau
bersama rekan-rekan kerjamu terdahulu. Atas izinmu, aku mengambil fotomu
bersama Kak Seto yang ada di albummu, lalu menyimpannya. Katamu juga,
cucu-cucu petinggi negara menjadi murid-murid sekolahmu kala itu. Kau
juga pernah berkesempatan terlibat dalam kegiatan mengajar di sekolah
berkebutuhan khusus yang dinaungi Almarhumah Bu Kasur. Lingkungan
pergaulanmu luas. Meski kau hanya mengantongi ijazah SMA dan berasal
dari kampung pelosok. Itu masa mudamu, saat aku belum ada di rahimmu.
Sebelum ada kata "kita" dalam janur kuning antara kau dan ayah.
Lantas,
setelah kau mengambil pilihan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya? Bau
dapur dan deterjen menjadi wewangian harimu. Daster menjadi pakaian
favoritmu, pakaian ibu rumah tangga yang kadang masih dijadikan lelucon
oleh orang-orang. Tapi, bagimu itu tak penting. Biarkan saja. Pernah
mencecapi masa-masa hingar-bingar kejayaan, tak lantas membuatmu "gila
sosialita". Petuahmu, "Takkan ada yang abadi dari masa. Setiap masa mengalami perguliran. Dan di
setiap perguliran selalu terbentang pilihan yang perlu keputusan."
Ibu, kini kau beranjak menua. Setengah abad
lebih usiamu. Fisikmu tak seterusnya handal. Sedangkan waktu meringkusku
dengan bermacam kesibukan. Kesibukan yang akan terus bertumbuh tiap
jenjang masanya. Acap aku berkeinginan menundukkan hari sibuk. Lalu
menjadikannya di atas kendaliku. Saat itu, aku akan menyerahkan waktuku
untukmu. Kupegang semua pekerjaan yang hari-hari kau lakoni agar napasmu
lebih panjang.
Malam ini, saat tubuhku terasa
remuk-redam, aku melihat ibu jarimu bengkak. Dan entah sakit apa lagi
yang kau pendam. Mukamu pucat. Ya. Kau memang sering menahan sakit.
Bahkan beraktivitas seperti biasa disaat demikian. Kau lebih tahan
banting dari ayah. Mental. Pula Fisik.
Di lain sudut,
kumelihat ember-ember penuh pakaian kotor masih terbengkalai. Dua kamar
mandi yang biasa kubersihkan sudah terasa licin. Aku khawatir kau
terpeleset.
Ibu. Ibu. Ibu.
Jangan
terlampau lelah. Biar badanku saja yang remuk-redam. Dan, hei kau hari
sibuk! Aku akan jalani bagianku dengan tanggung jawab. Ya. Bagianku
saja.
-Vinny Erika Putri-

0 komentar:
Posting Komentar