Apakah kau merindukan ayah?
Bagaimana rasanya?
Kau tahu? Aku punya seorang kawan yang juga seperti dirimu. Seorang kawan yang kerap merindui ayahnya. Bedanya, ia seorang perempuan. Ayahnya berpulang ke sisi-Nya saat ia masih mengenakan seragam putih-merah.
Ia kerap mengingatkanku saat puncak kesalku pada ayah tetas di telinganya. Ya. Aku lebih sering berseberangan pendapat dengan ayah. Jarang menemui titik temu. Ibulah yang menjadi penengah. Penengah yang menyarankan aku untuk mengalah seperti yang sering ibu lakukan. Mengalah untuk menang. Itu kata ibu.
Aku dan ayah, sebenarnya memiliki karakter yang sama. Sama-sama keras. Bulat bila sudah menginginkan sesuatu. Tanpa adanya ibu sebagai penyeimbang, mungkin dua karakter yang sama ini akan kaku beku. Ya. Kaku beku. Di antara kami, tak pernah ada tukar pikiran. Tak pernah berdialog dari hati ke hati atau empat mata. Ayahku tak pandai berdialog. Beliau ditakdirkan menjadi perencana ulung. Saking ulungnya, saat segala tak berjalan sempurna, itu sangat mengganggunya. Beliau terkadang lupa. Rencana manusia berada di bawah rencana-Nya. Tanpa adanya kearifan ibu, karakterku akan persis sepersis-persisnya seperti ayah. Tapi, di sisi lain, kuacungkan jempol untuk kesetiaannya pada ibu sebagai lelaki.
Kata kawanku, seharusnya aku bersyukur karena masih bisa berseberangan pemikiran atau pendapat dengan ayah. Katanya pula, aku tak tahu rasanya merindukan ayah.
Lainnya, aku pernah menanyai ibu, mengapa ibu selalu mengalah. Saat itu, aku merasa gerah. Ayah terlalu egois dalam kacamata pandangku. Dan aku benar-benar tidak terima keegoisannya pada ibu.
Tahukah kau, apa yang ibu katakan? Kata ibu, aku harus bersikap netral. Katanya juga, ibu tidak tahu, siapa yang akan lebih dulu dipanggil. Ibu atau ayah. Ibu tak ingin menyesal di kemudian hari. Bila ayah ditakdirkan terlebih dahulu berpulang, ibu tak ingin mengenangnya dengan penuh rasa bersalah karena perlakuan ibu pada beliau semasa hidupnya. Ibu ingin mengenangnya dengan keindahan. Lalu, bila ibu yang lebih dulu dipanggil, ibu tak ingin menyisakan ingatan buruk di kepala ayah. Jadi, lebih baik, mengalahlah. Itu bagian dari bersabar. Itu juga menjadi konsep dasar suatu hubungan rumah tangga bila memang menginginkan kalimat hingga maut memisahkan menyata.
Dua kepala tak bisa dilebur-satukan. Kepala itu tetap berdiri sendiri. Yang bisa diusahakan adalah cara menyeiringkan langkah untuk mencapai satu tujuan yang sama.
Mengalah. Itu cara ibu menyeiringkan langkah.
Apakah kau merindukan ayah?
Bagaimana rasanya?
Ajari aku rasa merindukan ayah. Sebelum kehilangan menyudutkanku pada titik penyesalan.
Apakah kau merindukan ayah?
-Vinny Erika Putri-


0 komentar:
Posting Komentar