Selasa, 17 Juni 2014

Perempuan di Sebuah Gerbang Rumah



Aku kerap melihatmu duduk termenung di selasar rumah. Sendiri. Tepat di sisi gerbang. Pandanganmu selalu mengarah ke jalan. Kau tak mengenalku. Pula aku. Aku hanya sekilas memperhatikan saat kuda besi yang kukendarai melewati gerbang rumahmu.

Awalnya, aku tak hirau. Tapi sedemikian sering aku mendapatimu duduk termenung, membuatku bertanya-tanya. Apakah kau sedang menunggu sesuatu? Atau mengenang sesuatu? Atau kau sama sepertiku yang senang menyambut kedatangan senja?

Tapi, nanti dulu, biar kuterka lagi. Pakaian yang kau kenakan selalu sama. Kebaya model zaman dahulu. Mungkinkah lingkar matamu tengah mengurai sejarah perubahan daerah ini dari waktu ke waktu? Atau kau tengah menyatukan remah-remah kenangan hidup dalam belantara sejarah?

Ah, mengapa aku menjadi sepeduli itu? Tahukah kau, aku bahkan bertanya-tanya saat tak mendapatimu duduk termenung di gerbang itu. Apakah kau sakit atau memang sedang tak ada di rumah.

Aku tak mampu menerka tepat usiamu dari keriput kulitmu. Kulitmu keriput, tapi tak begitu dengan rambutmu. Rambutmu tak putih menua. Warna hitam legam masih perkasa memudakan kepalamu. Namun, hitam legam rambutmu tak seperkasa tubuhmu. Tubuhmu renta. Ringkih.

Kau tahu? Entah mengapa, terbesit keinginanku untuk mengenalmu. Siapa tahu kita bisa mengisi waktu senja dengan melodi kisah. Aku ingin memahami isi kepalamu. Pun menyelami duniamu.

Catatan ini, untukmu, Perempuan di Sebuah Gerbang Rumah.

-Vinny Erika Putri-

0 komentar:

Posting Komentar