"Sudah. Bagianmu saja yang kau proritaskan. Jalani dengan tanggung jawab. Yang bukan bagianmu, biarkan."
"Tapi, akankah aku terkesan egois?"
"Jangan mengambil terlalu banyak tanggung jawab dalam satu waktu. Prioritas dan fokus perlu. Membiarkan yang bukan bagianmu bukan berarti kamu tak peduli. Tapi, itu memberikan kesempatan bagian lainnya untuk menjalani tanggung jawab masing-masing. Kalau bola itu bukan kamu yang seharusnya pegang, arahkan dan lempar ke yang seharusnya memegang bola."
Aku merasai nada tegas dalam saranmu. Itulah kau. Tahu kapan bersikap bagai ibu dan kapan bagai sahabat bagiku. Dan dari nada tegas itu, artinya aku harus mempertimbangkannya baik-baik. Kau berbicara sebagai ibu. Kau paham, cara mengontrol batas inisiatifku agar tak semua beban pekerjaan terlimpah padaku.
"Kepalaku pening."
"Kamu terlalu pemikir dan akan mendadak ruwet di saat-saat begini. Satu lagi, hindari menangani anak yang tengah bermasalah saat ritme emosimu tak stabil. Kalau dipaksakan, kamu akan dominan menggunakan ketidak stabilan emosimu, bukan ketepatan berpikir. Menjauhlah sesaat dari anak-anak dan hiruk-pikuknya daripada kamu memperbesar energi negatifmu. Menjauh dan diam. Atur napas dan jernihkan pikiran."
Ah, ibu, kau paham, aku kerap butuh sunyi di sela-sela keruwetan itu. Ya. Saat-saat itu aku sungguh ingin bersembunyi dari hiruk-pikuk meski hanya beberapa jenak untuk menyederhanakan pikiranku.
Ibu, kepalaku hanya berisi benang kusut bila tak sering bertukar pikiran denganmu. Kau akan menawariku bermacam solusi saat kugelontorkan ganjalan-ganjalan isi kepalaku. Selama kepalaku belum penuh, kau biarkan aku menyelesaikannya sendiri. Meski aku tahu, pengalaman-pengalamanmu bisa membantuku. Katamu, kau ingin aku merasai tempaannya. Merasai likunya. Mempelajarinya. Lantas mengambil mana yang tepat dan tidak untuk diterapkan sebagai sebuah solusi.
Ibu, aku ingin meleluconi diriku sendiri saat ini. Seperti ini lelucon itu: santai dan banyak-banyak mengamati hiruk-pikuk dalam diam.
Mungkin, dengan begitu aku bisa menertawai keadaan. Menertawai sifat manusiawi bagian lainnya yang tengah bergulat dengan keadaan dalam satu ruang. Tapi sepertinya, alisku akan tetap mengernyit seperti alis wajah orang serius. Mengernyit mencari sebuah gagasan untuk diuji-cobakan pada sehiruk-pikuk keadaan.


0 komentar:
Posting Komentar