Ketika Masaku Tak Lagi Kanak-Kanak

Ketika Anak-Anak Menjelma Dewasa dan Ibu Semakin Menua

It Is Okay Not To Be Okay

It Is Okay Not To Be Okay Eventhough You Are A Mother

Pergi Untuk Kembali

Pergilah, Untuk Kembali Tumbuh Menjadi Dirimu

Dandelion

Kebertahanan Hidup, Kenyamanan dan Kedamaian

#1. Tentang Selalu Ada dan Berdiri untuk Diriku Sendiri

Mencintai, Hadir Menerima dan Keterhubungan dengan Diri Sendiri

#2. Tentang Selalu Ada dan Berdiri untuk Diriku Sendiri

Sebuah Muara Kesadaran Kemana Seharusnya Keterhubungan Diri Terhubung

Sabtu, 16 April 2022

Masa Depanmu Tidak Akan Patah


Tentang hati yang patah ...
Aku mengerti lebih dari sekadar retorika kata-kata yang seringkali dibeberkan manusia. Aku paham dan memahami rasa sakit yang lebih autentik dari perasaan yang orang-orang ketahui atau yang orang-orang berlari darinya hanya untuk memastikan mereka tetap kuat dan mampu menjalani hidup dengan baik.

Tentang hati yang patah ...
Aku paham, terkadang, kita mengkhianati diri sendiri dan menutupi rasa sakit dengan banyak pengalihan. Sementara luka tersebut masih berdiam di sana tanpa kita sadari. Lantas, ketika kita berhadapan dengan diri sendiri dalam sunyi, air mata menjawab semuanya. Ternyata, kita masih terus berproses untuk kuat dan "dipaksa" menerima. Bahwa, kita sedang melewati siklus "baik-baik saja dan tidak baik-baik saja" secara berulang. Sehari kuat, sehari kemudian jatuh lagi. Sampai kita bisa mengatakan pada diri sendiri dengan tulus-jujur, "Tak apa, aku menghargai proses yang menjadi bagian dari perjalanan hidupku."

Tentang hati yang patah ...
Aku paham, semua rasa yang saling menyelisihi dalam diri. Perang batin antara perasaan sedih, marah, kecewa dan menyalahkan kebodohan diri sendiri. Kita tidak bisa meniadakan segala kenangan yang terekam dalam memori. Manusia tidak punya kemampuan menghapus ingatan secara sengaja. Kita hanya mampu mengusahakan untuk berdamai dengan kenangan tersebut, sehingga ketika ingatan kembali memunculkannya, rasa sakit sudah tidak lagi menyertainya.

Tentang hati yang patah ...
Aku paham, bahkan untuk melukiskan getir perih dan menjabarkannya dengan realita kata pun tidak akan sama akuratnya dengan yang dirasakan hati. Jadilah air mata yang mewakili untuk hati merasakan lega. Tak apa, begitulah tugas air mata. Sejatinya, air mata, menguatkan dan memanusiakan kita sebagai manusia yang dibekali hati oleh-Nya untuk merasakan ragam emosi yang datang.

Tentang hati yang patah ...
Tak apa untuk menangis. Air mata membantu kita untuk bisa berdamai dengan diri sendiri. Air mata melembutkan hati kita untuk menerima dan memaafkan segala kesalahan diri. Air mata mengajari diri melepaskan apa yang sebaiknya dilepaskan. Air mata memberitahu kita, bahwa sesuatu yang lepas, sudah pasti bukanlah sesuatu yang diperuntukkan bagi kita. Kalimat yang terdengar klise dan terasa merajam hati tapi memang benar adanya.

Tentang hati yang patah ...
Aku tahu, menyembuhkan diri butuh waktu. Tidak dalam sekejap, tidak secepat mengedipkan mata, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi, melalui perjalanan ini, kita akan semakin mengenali diri sendiri. Kita akan memahami pertanda semesta, bahwa, ikatan terbaik adalah ketika kita telah sanggup menerima diri sendiri lebih dari harapan atau ekspektasi orang lain terhadap kita. Kita, tidak akan kehilangan diri sendiri atau berlarut-larut limbung sekarat saat rasa sakit melumat semangat hidup. Kita akan tetap bergerak, meski dengan merangkak lemah tertatih.

Tentang hati yang patah ...
Aku tahu, hatimu tengah luluh lantak. Dan, kamu memandang cinta berserta kenangan yang dibawanya sebagai rasa sakit yang sama sekali tak ingin kamu ingat bahkan mungkin menjadi sesuatu yang kamu sesali. Pula, akan ada hari-hari berat yang tak selalu baik-baik saja untuk kamu lewati selama proses menerima dan memaafkan dirimu sendiri (tanpa harus kembali pada masa lalumu). Tapi, bukan berarti kamu kehilangan seluruh hidupmu tanpanya.

Tentang hati yang patah ...
Aku tahu, kata-kata penyemangat apapun dari orang-orang, tidak akan sanggup mengobati rasa sakitmu sampai ke akar-akarnya. Aku paham, serpihan hatimu tak akan kembali utuh ketika berhasil disatukan. Akan ada bekas retakan yang tampak dimana-mana. Tapi, suatu saat, kamu akan melihat retakan tersebut sebagai seni lain yang Tuhan ciptakan atas kehendak-Nya dalam buku takdirmu. 
Kamu tahu sebuah seni bernama Kintsugi? Manusia memecahkan hati manusia lainnya hingga remuk berkeping-keping. Sementara dengan seni Mahakarya Tuhan Yang Maha Penyayang, tangan-Nya mampu menyatu-utuhkan dan memoles retakan-retakan hatimu dengan keindahan.

Tentang hati yang patah ...
Aku tahu, betapa hancurnya dirimu kini. Tapi, kamu masih memiliki hidupmu yang bisa kamu hidupi. Masa depanmu tidak akan patah. Kelak, kamu akan menemukan sinarmu dari setiap kilau air mata yang jatuh. Habis gelap, akan terbitlah terang.


-Vinny Erika Putri, 16.04.21, untukmu sahabat rasa adik

Kamis, 07 April 2022

M.I.S.T.E.R.I



Malam tak bosan-bosannya kujatuh-cintai. Bening telaga yang bersembunyi di sebalik rimbun pepohonan dan padang ilalang, tak jemu-jemu kukunjungi. Saat berdiam di sini, kerapkali aku tak menginginkan malam tergantikan mentari. Seolah aku enggan menemui pagi. Seperti kali ini. 

Lama kuberdiri. Sendiri, merenungkan kehidupan dalam semesta batin yang luas tak bertepi. Sendiri, mengumpulkan keping-keping memori yang hilang dari lintas generasi. Sendiri, memaknai hidup yang kuhidupi. Sendiri, mencerna dengan terbata-bata tentang apa yang Sang Maha Kuasa kehendaki atas penciptaan diri.

Angin bergemerisik mengusik hening. Ilalang bergerak lintang pukang. Dari sebalik ilalang, kurasai sepasang kaki berjalan dengan tenang. Tangannya bergerak hati-hati menyibak ilalang demi ilalang. Hingga jarak dirinya dan diriku, tak lagi bersekat penghalang. Kami, dua orang asing, berdiri sejajar di hadapan telaga yang membentang.

Aku tak tahu. Apa yang akan ia tuju. Tanya meluncur begitu saja dari bibirku. Terdengar dingin dan kaku. Lantas, bercampur dengan jawaban yang terkesan merayu.
"Apa yang menarik langkahmu kemari?"
"Sesuatu yang berselubung sunyi. Serupa misteri."
"Siapa maksudmu?" 
"Kau." 
Aku tersenyum geli. Mengolok-olok tentang apa yang dikatakannya misteri. Seolah aku tengah mengeja ulang ingatan usang tentang singgahnya orang-orang dalam buku catatan perjalanan diri.
Begitukah orang-orang melihat diriku? Ah, mungkin bukan itu. Lebih tepatnya, akulah yang mesti berlapang jiwa-hati-akal pikiran tentang kehidupan dengan segala entitasnya yang memang merupakan persinggahan di setiap perputaran roda waktu. 
Ia terus saja mengamatiku. Isi kepalanya sibuk menerka-nerka manusia macam apa diriku. Sementara aku, yang masih berkelindan ragu kembali membisu. Aku melihat banyak hal yang terasa abu-abu dan ambigu. Seluruhnya, berputar-putar menghuni ruang batinku.
Misteri?
Lekat-lekat kupandangi permukaan telaga mencari cermin diri. Tak kutemukan apapun di sana selain hitam gelap hamparan air dengan kilau bayangan rembulan yang menyinari.

Padanya, kulemparkan satu tanya tentang misteri. Entah di bagian mana percakapan akan terhenti.
"Seumpama aku serupa misteri, bisakah kau definisikan bagaimana misteri didalam misteri dengan sebuah rasa?"

Ia mengernyitkan alis. 

"Misteri didalam misteri?"

Lingkar mataku menatapnya sekilas. Hidupnya tergambar jelas. Hatinya telah menggetas. Entah seberapa keras jiwanya berkali-kali pecah terhempas. Dan pertanyaanku padanya, terasa seperti katalis dari pendaman katarsis. Aku tertawa miris.
"Mengapa kau tertawa?"
Dirinya kian terkepung bingung. Namun, tetap geming. Tak juga beranjak pulang.
"Aku tidak tahu apa yang kutertawai. Entah menertawai orang-orang linglung yang amnesia akan diri mereka lantas mencari mata dan mulutku sebagai alat validasi diri. Atau menertawai orang-orang yang mengikrarkan diri mereka sebagai 'belahan jiwa', kemudian berujung pada kata tak lagi bisa memahami dan berpaling menjauh dari misteri diri. Atau mungkin, aku justru sedang menertawai diriku sendiri yang belum bisa menyelesaikan teka-teki diri."

Ia bungkam. Aku terdiam.

Misteri?
Lagi-lagi, aku bertanya pada diriku sendiri. Tentang misteri diri yang tak pernah usai kuselami. Yang bahkan masih acapkali terasa samar bagiku sendiri.
"Aku rumit. Memahamiku sulit. Jadi, tak apa untuk memilih berpamit. Sebelum pikiran dan hatimu melelah. Lalu, pada akhirnya, menyisakan getir perih kata maaf sekaligus ucapan terima kasih. Seperti orang-orang berkesudah yang sekadar singgah."
Malam semakin menipis di ujung waktu. Matanya masih terpaku padaku. Entah kapan ia akan pergi berlalu. Mungkin isi kepala dan hatinya sedang berseteru. Sementara aku, tengah tak ingin mengurai sirat pesan tentangnya yang menghantam dari segala penjuru.

Desir angin kian menggigilkan tulang belulang. Pantulan cahaya rembulan yang rebah di permukaan telaga berayun terombang-ambing.
Misteri? Terkadang berjawab, terkadang ada hanya untuk dilepaskan tanpa aku harus tahu mengapa begini-begitu. Pun, alasan Tuhan menghadirkan rasa yang tak terbahasakan kata-kata didalam diriku.
Malam, masih ingin kujelajahi. Pagi, aku enggan kembali. Misteri, berikan udara untukku merasakan aliran denyut nadi dan napas diri.


-Vinny Erika Putri, Ramadhan hari ke-5.

Senin, 21 Maret 2022

Tentang Patah Hati Terhebatku

 
Tentang patah hati terhebatku,
aku bertanya pada diriku sendiri, "Patah hati terhebat apa yang pernah kualami dalam hidup?"
Lalu, ingatanku berputar tentang banyak hal: orang-orang dan kenangan yang disisakannya, rasa pahit kehilangan, cita-cita/impian yang dibunuh-paksa atau dilepaskan dengan ikhlas dan sesuatu lainnya yang sempat melukai hati.

Tentang patah hati terhebatku,
aku bertanya pada diriku sendiri, "Apakah tentang luka pengkhianatan atas cinta pertamaku atau cinta yang datang berkesudah?"
Jika memang peristiwa tersebut menjadi patah hati terhebatku, mengapa aku sanggup bertahan hidup hingga sejauh ini? Apakah kehilangan orang-orang tersebut menjadi patah hati terhebatku?

Tentang patah hati terhebatku,
aku bertanya pada diriku sendiri, "Apakah tentang luka kehilangan sebab dipisahkan kematian dengan orang yang aku sayangi?"
Jika memang rasa sakit kehilangan Simbah Putri Wonosobo, aku mengiyakan kesakitan yang nyeri perihnya tak lekang dimakan waktu hingga sekarang. Tapi, mengapa aku masih bertahan hidup sampai kini? Apakah tercabutnya bagian dari jiwaku menjadi patah hati terhebatku?

Tentang patah hati terhebatku,
aku bertanya pada diriku sendiri, "Apakah tentang membunuh paksa atau merelakan cita-cita dilepaskan demi hal lain yang mau tidak mau mesti dipilih?"
Jika memang kehilangan cita-cita/impian membuatku gamang dalam melangkah, aku menganggukkan kepala sebab pernah berada di fase tersebut. Tapi, mengapa aku masih saja gigih mempertahankan nyawa hingga detik ini?

Lantas, jauh didalam sana, sebuah suara berkata padaku, dan menjadi percakapan singkat antara aku dan dirinya. Dirinya, yang menjadi bagian dari diriku.
"Saat ini, hatiku patah."
"Karena siapa?" 
"Karenamu." 
"Karenaku? Mengapa?" 
"Kau mulai menghadirkan yang lain ketimbang diriku."
Tentang patah hati terhebatku,
malam ini aku terperangah, dan kembali bertanya pada diriku, "Patah hati terhebat apa yang pernah kualami dalam hidup?"
Langit hati tertikam ngilu. Seolah mencari jawab. Sesoal patah hati terhebat dalam hidupku.

Tentang patah hati terhebatku, 
adalah ketika aku tidak bisa melihat dan memahami diriku sendiri dengan jelas, jernih dan yakin;
adalah ketika aku tak mampu menemukan kedamaian batin bersama diriku yang autentik di kedalaman sana;
adalah ketika aku tak lagi percaya kepada diriku sendiri untuk menghadapi dan melewati segala hantaman tantangan dan kesulitan hidup yang kadang membuatku sekarat;
adalah ketika aku kehilangan keterikatan dengan diriku sehingga aku tak mampu merasakan kehadiran-Nya dalam wujud petunjuk apapun;
adalah ketika aku kehilangan diriku, yang artinya ... aku tak lagi bisa mengenali diriku sendiri, sehingga aku pun akan kehilangan-Nya.

Kemudian, aku bertanya pada semesta batinku, 
Adakah manusia lainnya yang pernah merasakan patah hati dengan diri sendiri?
Aku rasa, mungkin jawabannya tidak. 

Atau mungkin ... tentang patah hati terhebat yang terjangkau dalam pandanganku dan terasa oleh diriku, hanya bisa dipahami 1% dari populasi manusia di dunia.


-V.E.P, Dialog Malam, Monolog Diri.

Rabu, 02 Maret 2022

Ya Rabb, Aku Hanya Meminta Diri Sejatiku


Ya Rabb, aku tidak meminta orang-orang diluar diriku untuk membersamai hidupku dan bertahan disampingku sepanjang hayat. Sebab, aku menyadarinya sebagai permintaan yang mungkin sulit dan menyulitkan bagi diriku ataupun mereka.

Ya Rabb, aku tidak meminta orang-orang diluar diriku menerima dan memahamiku sebagaimana adanya diriku secara utuh-penuh-autentik. Sebab, aku menyadarinya sebagai permintaan yang mungkin akan menyiksa diriku ataupun membuat mereka kewalahan saat kata "saling" tak lagi sanggup ditemukan titik tengahnya.

Ya Rabb, aku tidak meminta orang-orang diluar diriku masuk kedalam lapisan inti diriku. Sebab, aku menyadarinya sebagai kerumitan dan kompleksitas yang amat sangat menguji kesabaran spiritual, mental dan emosional bagi mereka.

Ya Rabb, aku tidak meminta orang-orang diluar diriku sesoal cinta kasih. Sebab, aku menyadarinya sebagai hal yang mustahil terpenuhi sepenuhnya, semurni-murninya, setulus-tulusnya kecuali oleh tetesan-tetesan cinta kasih-Mu yang Kau perkenankan turun membasuh dan menyembuhkan luka-luka dalam perjalanan hidupku.

Ya Rabb, aku hanya meminta diri sejatiku. Yang Kau titipkan untuk mengarahkan jalan hidupku berjalan menuju-Mu. Yang amat sangat menerima dan memahamiku sebagaimana adanya diriku secara utuh-penuh-autentik. Yang padanya, tidak melekat kepalsuan diri apapun dari realitas dunia manusia beserta label-label yang disandangkan tatanan sosial kepada individu. Yang tidak pernah linglung akan kesejatian dirinya dan mampu melihat hitam-putih, salah-benar, secara murni-jernih-tulus.

Ya Rabb, aku hanya meminta diri sejatiku. Yang tidak pernah limbung, goyah ataupun rusak oleh serangan bertubi-tubi dari sekumpulan hawa nafsu manusia. Yang tidak bisa ditipu oleh gagasan-gagasan ilusi fatamorgana dunia.

Ya Rabb, aku hanya meminta diri sejatiku. Kawan hakiki yang mengajarkan cinta kasih-Mu disaat aku hancur lebur sendirian dan tak bisa melihat, mendengar dan merasakan sesuatu dengan kesadaran akal pikiran dan hati yang jernih, luas, mendalam.

Ya Rabb, aku hanya meminta diri sejatiku. Belahan jiwa yang selalu kurindukan hadirnya di tiap jengkal tapak kesunyian yang kutempuh.


-V.E.P, 03.03.22, dalam dekapan sunyi