Malam tak bosan-bosannya kujatuh-cintai. Bening telaga yang bersembunyi di sebalik rimbun pepohonan dan padang ilalang, tak jemu-jemu kukunjungi. Saat berdiam di sini, kerapkali aku tak menginginkan malam tergantikan mentari. Seolah aku enggan menemui pagi. Seperti kali ini.
Lama kuberdiri. Sendiri, merenungkan kehidupan dalam semesta batin yang luas tak bertepi. Sendiri, mengumpulkan keping-keping memori yang hilang dari lintas generasi. Sendiri, memaknai hidup yang kuhidupi. Sendiri, mencerna dengan terbata-bata tentang apa yang Sang Maha Kuasa kehendaki atas penciptaan diri.
Angin bergemerisik mengusik hening. Ilalang bergerak lintang pukang. Dari sebalik ilalang, kurasai sepasang kaki berjalan dengan tenang. Tangannya bergerak hati-hati menyibak ilalang demi ilalang. Hingga jarak dirinya dan diriku, tak lagi bersekat penghalang. Kami, dua orang asing, berdiri sejajar di hadapan telaga yang membentang.
Aku tak tahu. Apa yang akan ia tuju. Tanya meluncur begitu saja dari bibirku. Terdengar dingin dan kaku. Lantas, bercampur dengan jawaban yang terkesan merayu.
"Apa yang menarik langkahmu kemari?"
"Sesuatu yang berselubung sunyi. Serupa misteri."
"Siapa maksudmu?"
"Kau."
Aku tersenyum geli. Mengolok-olok tentang apa yang dikatakannya misteri. Seolah aku tengah mengeja ulang ingatan usang tentang singgahnya orang-orang dalam buku catatan perjalanan diri.
Begitukah orang-orang melihat diriku? Ah, mungkin bukan itu. Lebih tepatnya, akulah yang mesti berlapang jiwa-hati-akal pikiran tentang kehidupan dengan segala entitasnya yang memang merupakan persinggahan di setiap perputaran roda waktu.
Ia terus saja mengamatiku. Isi kepalanya sibuk menerka-nerka manusia macam apa diriku. Sementara aku, yang masih berkelindan ragu kembali membisu. Aku melihat banyak hal yang terasa abu-abu dan ambigu. Seluruhnya, berputar-putar menghuni ruang batinku.
Misteri?
Lekat-lekat kupandangi permukaan telaga mencari cermin diri. Tak kutemukan apapun di sana selain hitam gelap hamparan air dengan kilau bayangan rembulan yang menyinari.
Padanya, kulemparkan satu tanya tentang misteri. Entah di bagian mana percakapan akan terhenti.
"Seumpama aku serupa misteri, bisakah kau definisikan bagaimana misteri didalam misteri dengan sebuah rasa?"
Ia mengernyitkan alis.
"Misteri didalam misteri?"
Lingkar mataku menatapnya sekilas. Hidupnya tergambar jelas. Hatinya telah menggetas. Entah seberapa keras jiwanya berkali-kali pecah terhempas. Dan pertanyaanku padanya, terasa seperti katalis dari pendaman katarsis. Aku tertawa miris.
"Mengapa kau tertawa?"
Dirinya kian terkepung bingung. Namun, tetap geming. Tak juga beranjak pulang.
"Aku tidak tahu apa yang kutertawai. Entah menertawai orang-orang linglung yang amnesia akan diri mereka lantas mencari mata dan mulutku sebagai alat validasi diri. Atau menertawai orang-orang yang mengikrarkan diri mereka sebagai 'belahan jiwa', kemudian berujung pada kata tak lagi bisa memahami dan berpaling menjauh dari misteri diri. Atau mungkin, aku justru sedang menertawai diriku sendiri yang belum bisa menyelesaikan teka-teki diri."
Ia bungkam. Aku terdiam.
Misteri?
Lagi-lagi, aku bertanya pada diriku sendiri. Tentang misteri diri yang tak pernah usai kuselami. Yang bahkan masih acapkali terasa samar bagiku sendiri.
"Aku rumit. Memahamiku sulit. Jadi, tak apa untuk memilih berpamit. Sebelum pikiran dan hatimu melelah. Lalu, pada akhirnya, menyisakan getir perih kata maaf sekaligus ucapan terima kasih. Seperti orang-orang berkesudah yang sekadar singgah."
Malam semakin menipis di ujung waktu. Matanya masih terpaku padaku. Entah kapan ia akan pergi berlalu. Mungkin isi kepala dan hatinya sedang berseteru. Sementara aku, tengah tak ingin mengurai sirat pesan tentangnya yang menghantam dari segala penjuru.
Desir angin kian menggigilkan tulang belulang. Pantulan cahaya rembulan yang rebah di permukaan telaga berayun terombang-ambing.
Misteri? Terkadang berjawab, terkadang ada hanya untuk dilepaskan tanpa aku harus tahu mengapa begini-begitu. Pun, alasan Tuhan menghadirkan rasa yang tak terbahasakan kata-kata didalam diriku.
Malam, masih ingin kujelajahi. Pagi, aku enggan kembali. Misteri, berikan udara untukku merasakan aliran denyut nadi dan napas diri.
-Vinny Erika Putri, Ramadhan hari ke-5.


0 komentar:
Posting Komentar