Ketika Masaku Tak Lagi Kanak-Kanak

Ketika Anak-Anak Menjelma Dewasa dan Ibu Semakin Menua

It Is Okay Not To Be Okay

It Is Okay Not To Be Okay Eventhough You Are A Mother

Pergi Untuk Kembali

Pergilah, Untuk Kembali Tumbuh Menjadi Dirimu

Dandelion

Kebertahanan Hidup, Kenyamanan dan Kedamaian

#1. Tentang Selalu Ada dan Berdiri untuk Diriku Sendiri

Mencintai, Hadir Menerima dan Keterhubungan dengan Diri Sendiri

#2. Tentang Selalu Ada dan Berdiri untuk Diriku Sendiri

Sebuah Muara Kesadaran Kemana Seharusnya Keterhubungan Diri Terhubung

Sabtu, 08 Desember 2018

Siapa Kau?



Keganjilan begitu mengganggu
Puncaknya, tetas di malam ini
Hingga memaksa jemari meretas aksara

Berkali-kali kubertanya, pada diri sendiri
Siapa kau?
Pesan apa yang hendak kau sampaikan?
Mengapa begitu memerih hati
Seperti kidung kesedihan
Yang sayup-sayup memanggil dari kejauhan

Siapa kau?
Dari belahan bumi mana suara itu memanggil?
Mengapa sampai meletikkan resah yang bergemuruh dalam diam?
Hingga akhirnya melahirkan katarsis lirih berujung embun di mata?

Siapa kau?
Di kepalaku satu per satu bayangan samar berkelebat
Dari tiap rekam jejak emosi yang kuat dalam ingatan hidupku
Tapi... tak kutemukan satu pun titik pangkal makna dari pertanda dalam bentuk rupa wajah

Siapa kau?
Apakah kau mengenalku?

-Vinny Erika Putri, 08.12.18

Selasa, 13 November 2018

Untuk 32 Tahun Ini... Terima Kasih



Ya Rahiim...
Untuk 32 tahun ini ... terima kasih
Terima kasih atas nikmat dan karunia-Mu yang tak terhingga
Terima kasih atas cahaya-Mu yang selalu menerangiku saat tersaruk dan terjatuh dalam lubang gelap
Terima kasih tak berpaling dariku meski khilaf dan dosa kerap menggodaku hingga memunggungi-Mu
Terima kasih atas sandaran abadi yang Kau beri saat diri bagaikan senoktah kecil di dunia yang terlampau luas dan buas

Ibu...
Untuk 32 tahun ini ... terima kasih
Terima kasih atas telaga kasih sayangmu yang tak pernah mengering
Terima kasih atas semua doa-doa yang selalu kau panjatkan untukku
Terima kasih atas semua pengorbanan dan perjuanganmu
Terima kasih selalu menjadi rumah terhangat dan ternyaman bagiku 
Terima kasih telah melalui hari-hari sulitmu sebagai seorang istri dan ibu dengan kuat

Bapak...
Untuk 32 tahun ini ... terima kasih
Terima kasih atas pintu maaf yang selalu terbuka sebanyak kita berdebat dan berselisih

Wahai, diriku...
Untuk 32 tahun ini ... terima kasih
Terima kasih telah berusaha sekuat jiwa raga bertahan menghadapi hidup 
Terima kasih atas segala perjuanganmu menaklukan masa-masa berdarah dalam hidupmu
Terima kasih atas kesediaanmu memahami dan berdamai dengan sisi gelap juga kelemahan dirimu
Terima kasih telah bertahan menjadi diri sendiri sampai sejauh ini

Untuk 32 Tahun ini ... terima kasih.
Tak ada rangkaian cerita panjang yang tergelar malam ini
Embun yang rebak di sepasang bola mata mewakilinya

Untuk 32 tahun ini ... terima kasih
Tetaplah hidup dengan baik secerah mentari seperti yang berkesudah sekalipun hatimu koyak dan ada bekas luka-luka di sana
Tetaplah tersenyum seindah pelangi meski mendung terkadang menghampiri hidupmu
Genggamlah selalu rasa syukur meski harapan dan cita-citamu terasa sekarat 
Karena waktu yang terus berjalan akan semakin mendekatkanmu pada gerbang kematian

Sabtu, 29 September 2018

Semesta berbisik: Doa untuk Donggala




Hari berdiam di Jum’at 
Kala itu siang terasa ganjil
Seperti kesedihan yang entah
Dan rasa tak keruan yang tak bisa terukir kata-kata

Semesta tengah berbisik
Pada jiwa-jiwa yang peka
Ia memberi pertanda 
Samar ataupun jelas

Sore
Langit meneja, bermandikan semburat senja
Dengan keganjilan yang belum beranjak pergi
Dan kata-kata yang masih tak mampu berbicara padanya

Di sudut langit yang lain, petaka bersiap tiba
Tanah-tanah kejang bergetar
Laut bergemuruh, ombak mengganas
Lalu, sekejap, tumpah ruah menyapu apapun tanpa pandang bulu

Lintang pukang kehidupan terjadi
Teriakan minta tolong
Bibir-bibir yang merapal doa
Aroma kematian yang menguar tajam

Di belahan bumi lain, berjiwa-jiwa menyaksikan dari berita-berita
Ngilu terasa, perih menyayat, duka mengoyak

Seseorang, dalam ruang sunyi, yang menyembunyikan sengguk,
dengan mata yang basah, batinnya berkata,
“Siang itu, semesta tengah berbisik:
Doa untuk Donggala.”

Matanya kian sembab, batinnya kembali berkata,
“Ini adalah pelajaran bagimu agar tetap hidup dengan rasa syukur. Kau tidak tahu, bagaimana akhir hidupmu dan mudah bagi Tuhan mencabut segala nikmat yang telah diberikannya dalam waktu sekejap.”

Sengguk lirihnya kian tak beraturan, napasnya makin tersengal,  batinnya tak juga berhenti berkata-kata, “Sekalipun masalah mengeruhkan pikiranmu hingga membuat hidup kadang terasa bagai onggokan sampah... tetaplah cari rasa syukur itu agar kau tak kehilangan iman.”

Siang itu, semesta berbisik:
“Doa untuk Donggala”
“Doa untuk Donggala”
“Doa untuk Donggala”

Juga... peringatan baginya, untuk tetap mensyukuri hidup bagaimana pun keadaannya.

-Vinny Erika Putri, 30.09.18

Rabu, 19 September 2018

#1. Mbah, Bagaimana Kabarmu?



Mbah, bagaimana kabarmu di sana?
Mengapa kau tak sekalipun berkunjung menemuiku?
Aku menunggu hadirmu dalam mimpi-mimpiku
Apa yang kau tengah dapatkan di sana?
Kuberdoa... semoga nikmat kubur dari-Nya selalu melimpahimu

Mbah, bagaimana kabarmu di sana?
Bagaimana kehidupan alam di sana?
Hal apa saja yang kau lakukan di sana?
Apakah kau bisa melihat kami di sini dari sana?
Adakah pesan kebaikan dari-Nya untukku yang bisa kau sampaikan?

Mbah, bagaimana kabarmu di sana?
Pasak hidupku telah berkurang satu seiring kepergianmu
Kini, tersisa satu
Ialah ibuku, anakmu
Yang menjadi sumber teladanku
Sumber semangat hidupku untuk tetap menyala
Sumber ketegaranku dengan semua tanggung jawab yang kupikul beserta masa-masa sulit yang menyertainya

Mbah, bagaimana kabarmu di sana?
Aku rindu... sangat.

-V.E.P, Cirebon, 19.09.18