Ketika Masaku Tak Lagi Kanak-Kanak

Ketika Anak-Anak Menjelma Dewasa dan Ibu Semakin Menua

It Is Okay Not To Be Okay

It Is Okay Not To Be Okay Eventhough You Are A Mother

Pergi Untuk Kembali

Pergilah, Untuk Kembali Tumbuh Menjadi Dirimu

Dandelion

Kebertahanan Hidup, Kenyamanan dan Kedamaian

#1. Tentang Selalu Ada dan Berdiri untuk Diriku Sendiri

Mencintai, Hadir Menerima dan Keterhubungan dengan Diri Sendiri

#2. Tentang Selalu Ada dan Berdiri untuk Diriku Sendiri

Sebuah Muara Kesadaran Kemana Seharusnya Keterhubungan Diri Terhubung

Sabtu, 28 November 2020

R.E.H.A.T

 



Wahai Diriku
Mari kita rehat menutup telinga
Dari segala kabar berita yang terdengar di sekelilingmu
Untuk menjernihkan dan memancangkan ulang
Detak apa yang ingin kau hidupi sehidup-hidupnya

Wahai Diriku
Mari kita rehat menutup mata
Dari segala wajah yang diperlihatkan dunia
Untuk membuka lebar-lebar mata hatimu
Akan kedamaian yang sesungguhnya didalam dirimu

Wahai Diriku
Mari kita rehat menarik diri sejenak
Dari hiruk pikuk keterhubunganmu dengan sekeliling 
Untuk menguatkan dan menajamkan rasa
Keterhubungan dirimu dengan diri-Nya

Wahai Diriku
Mari kita rehat menanggalkan semua sementara waktu
Lalu ... kembalilah dengan jiwa yang sehat
Pikiran yang segar dan menyegarkan
Pula hati yang lapang lagi ringan melangkah

-Vinny Erika Putri, 28.11.20

Aku, Elemen Air dan Kebermanfaatan

 


Elemen air adalah elemen yang paling ingin aku serupai dalam menjalani kehidupan dibandingkan elemen dasar lainnya seperti tanah, udara, api. Bukan berarti aku memandang remeh atau mengerdilkan elemen lainnya. Hanya saja, aku lebih bisa terhubung kuat dengan karakteristik, sifat-sifat yang dimiliki dan energi yang dihasilkan elemen air.

Elemen air. Akan selalu mencari celah untuk selalu mengalir dan bergerak dinamis, dengan cara yang halus lembut menyegarkan seperti kesejukan sumber mata air hingga cara menakutkan seperti amukan banjir yang menyapu sekelilingnya. Bahkan, di tempat yang tampak tenang dalam suatu genangan pun, ia sejatinya tetap bergerak dengan pergerakan molekul yang tak bisa dilihat oleh mata telanjang.

Elemen air. Mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah untuk membumi. Ia mengalir ke tempat terendah yang artinya air telah selesai dengan egonya sendiri. Dalam posisi terendahnya, ia tetap bisa memberikan perasaan kesejukan dan kedamaian bukan hanya pada dirinya tapi juga makhluk hidup lainnya.

Elemen air. Mampu mengikuti bentuk apapun dari dunia yang menadahnya. Juga memiliki kesabaran dan kegigihan tak terbatas melunakkan benda-benda sekitarnya.

Elemen air. Yang dititahkan-Nya memberikan awal mula kehidupan bumi. Yang keberadaannya mengalahkan luasnya daratan di bumi. Yang mengisi setiap inci bagian tubuh makhluk hidup penghuni bumi. Air ... selalu bisa selaras dan seimbang menyatu dalam keharmonisan alam semesta.

Aku ... menemukan ketenangan dan kedamaian tersendiri saat mendengar gemericik suara tetesan hujan, debur ombak ataupun aliran air sungai ketika berada di alam bebas. Atau bahkan saat air menyentuh kulitku hingga ke pori, energi yang kudapati lebih segar dan jernih dari elemen apapun.

Aku ingin hidup bermanfaat untuk diri sendiri dan sekelilingku layaknya elemen air. Ya. Bermanfaat. Bukan dimanfaatkan. Bermanfaat dan dimanfaatkan, keduanya berbeda.

Bermanfaat, didalamnya ada keputusan yang bisa aku pilih, berbuat atas dorongan dari dalam diri serta menimbang tindakan mana yang adil lagi bijaksana untuk diri sendiri dan sekeliling. Dimanfaatkan, didalamnya tidak ada otoritas diri sama sekali dan bisa jadi ada ketidaksadaran akan bahaya juga kepalsuan yang mungkin saja disuguhkan "muka dunia" demi tercapainya kepentingan-kepentingan tertentu.

Elemen air bisa sangat bermanfaat bagi kehidupan. Tapi juga bisa menghasilkan dampak kerusakan bagi bumi ketika dunia memberinya racun atau memanfaatkannya dengan semena-mena. Ketika itu benar-benar terjadi, hal terburuk yang bisa terjadi adalah orang-orang akan kehilangan hidup dan kehidupan mereka dengan sendirinya.

-Vinny Erika Putri, 28.11.20

Rabu, 25 November 2020

Aku, Bukan Bagian dari Mimpi Buruk Yang Kau Berikan

 


Kata dunia luarku, aku akan memberikanmu banyak hal dalam hidup:
Ketakutan
Keraguan
Keputusasaan
Ketidakberdayaan
Kubalut semua itu dalam mimpi terburuk yang bisa kuberikan untuk menghantam kekuatanmu

Kata dunia luarku, aku akan memberikanmu banyak hal dalam hidup:
Kehilangan
Kesedihan
Kemarahan
Kekecewaan
Ketidakamanan jiwa
Kubungkus semua itu dalam mimpi buruk yang bisa kulukiskan untuk membuatmu kehilangan dirimu sendiri

Kata dunia luarku, aku akan memberikanmu banyak hal dalam hidup:
Yang sanggup menghancurkan keterhubunganmu dengan dirimu sendiri dan penciptamu
Yang mampu menguji seberapa dalam kebergantungan dan keyakinanmu pada Tuhanmu
Kukemas semua itu dalam mimpi terburuk dari hal terburuk yang bisa kuhadirkan dalam pandanganmu

Lalu, batinku berkata, SILAKAN SAJA
Yang ada didalam diriku
Yang tidak semua orang bisa lihat
Yang dunia luarku sulit memahaminya
Yang aku sendiri tak bisa menduga seberapa jauh batas kekuatanku
Yang aku sendiri tak mampu menakar seberapa keras kegigihanku
Yang aku sendiri tak dapat mengukur dengan skala bilangan soal seberapa erat keterhubunganku dengan diriku sendiri
Yang selalu berusaha kutanamkan berulang-ulang dengan kukuh menetapkan keyakinan dan kebergantunganku kuat-kuat pada-Nya
Itu semua ... lebih besar dari mimpi buruk apapun yang kau berikan padaku

Batinku, berujar padamu, dunia luarku:
Aku, bukan bagian dari mimpi buruk yang kau berikan
Aku telah meminta Tuhan menitipkan denyut nadi dan detak jantung untukku 
Di sana, di setiap babak mimpi yang kau berikan
Oleh sebab itulah, meski menjelma realita terburuk sekalipun
Aku akan selalu menemukan cara untuk bertahan hidup
Siuman dari hati yang koma ataupun sekarat
Lantas, melangkah maju, dari tertatih hingga berlari

Sekali lagi, kukatakan, padamu, dunia luarku:
Aku, bukan bagian dari mimpi buruk yang kau berikan

-Vinny Erika Putri, 25.11.20

Sabtu, 21 November 2020

#8. Untukmu Yang Masih Entah

 



Untukmu yang masih entah ...

Kali ini ... kuperkenalkan keluargaku beserta kehidupan didalamnya. Kehidupan keluarga tak sempurna dan tak melulu seharmonis yang orang-orang sangka. Kehidupan layaknya keluarga pada umumnya. Kehidupan keluarga yang tak mesti baik-baik saja. Tapi juga tak selalu penuh duka lara. Kehidupan yang tak mesti cerah ceria. Tapi juga terkadang bertudung mendung yang menurunkan hujan di langit hati.


Untukmu yang masih entah ...

Kuperkenalkan bapakku. Seorang pengatur yang keras kepala, berkeinginan kuat tapi tak cukup memiliki kemampuan adaptasi sosial yang memadai ketika menghadapi orang-orang dengan ragam perwatakannya. Seorang perencana ulung tapi tak cukup tenang, mudah cemas dan kurang bisa bersikap luwes ketika segala sesuatu tidak berjalan seperti rencananya. Seorang bapak yang kurang bisa membuka komunikasi yang hangat dengan anak-anaknya, cenderung menuntut kepatuhan terhadap aturan dibandingkan membangun kesepakatan dan kesejahteraan mental anak-anaknya, lebih banyak meminta didengarkan ketimbang mendengarkan, lebih sering meminta dipahami daripada menyeimbangkan diri memahami orang lain. Pula, seseorang yang kerapkali berseberangan pemikiran dan perasaan denganku semakin aku mendewasa. Bisakah kau bayangkan bagaimana hubungan kami berdua?

Ya, kami, dua orang berkepala batu. 
Aku bukan lagi seorang anak yang penurut seiring bertambahnya usiaku. Sementara, beliau masih saja menjadi pembuat aturan yang kaku. Aku, yang semakin menyadari akan keberhakan dan otoritas dalam menentukan arah dan tujuan hidupku, tak kalah bersikukuh jika sudah menentukan apa yang menjadi keputusanku.

Kami kerap berselisih paham dan bersilangan pendapat. Tuntutannya yang seringkali berpusat pada ukuran dirinya sendiri akan berhenti ketika aku sudah berbicara dengan nada tegas (sesekali menajam ketika situasi dan kondisiku yang tengah mengalami kelebihan beban tak juga dipahami beliau) dan mendebatnya hingga beliau kalah telak. Setelah itu, ibulah yang menjadi sasaran empuk. Beliau tumpah ruahkan semua kejengkelannya terhadapku kepada ibu saat kami berdua perang dingin memeram riak amarah yang bergolak. 

Saat sesuatu tak berjalan sesuai dengan keinginannya, bapak mudah sekali menjadi lelaki bersumbu pendek. Dan aku, yang berhadapan dengan beliau diwaktu sampah batinku telah penuh, menjelma seorang pemberontak. Amarahku terdesak keluar, sumbu panjangku memendek dan akhirnya terpantik meledak. Tapi, sekalipun kami bersitegang dengan itu semua, kami tak pernah sekalipun melakukan kekerasan fisik. 

Aku, menjadi cerminan beliau soal kekuatan dan kekeraskepalaan tekad sekaligus lawannya yang sulit untuk tunduk ketika aku telah mengetuk palu atas keputusan yang benar-benar penting untuk hidupku. Jika beliau pembuat aturan keluarga, maka, aku adalah perubahan dari aturan yang dibuatnya untukku. Aku, adalah seseorang yang terus berkembang tak terbatasi waktu kecuali aku telah menjadi jenazah yang membujur kaku. Sepanjang jantungku masih berdegup, aku hidup untuk menghidupi kehidupanku.


Untukmu yang masih entah ...

Kuperkenalkan ibuku. Beliau seorang wanita mandiri, kritis, penyabar, problem solver yang kreatif, berempati tinggi terhadap sekitar, welas asih dengan sesamanya, fleksibel dalam menerapkan aturan, menghadirkan tutur kata yang baik saat berkomunikasi dengan lawan bicaranya, sanggup mendengarkan seseorang bercerita dengan sabar dan seksama. Pula, beliau, seorang wanita yang lebih banyak memilih diam ketika bapak mengoceh tak keruan dan meluapkan kekesalannya dengan verbalime yang kurang bijaksana untuk ukuran orang tua matang seusianya. Ibu, menjadi seorang istri yang lebih banyak melakukan seni mengalah dan menanggung lebih sering beban emosi demi terjaganya keharmonisan keluarga. Bisakah kau bayangkan bagaimana hubungan kami berdua?

Kami, dua orang yang saling bergantung dan belajar satu sama lain dalam hal pertukaran pemikiran dan perasaan. Ibu jarang sekali menghakimiku tentang apapun pilihan hidup yang kuambil sekalipun mungkin bertentangan dengan keinginannya. Pengalaman, interaksi dan relasi sosial yang luas yang beliau dapatkan dahulu semasa muda mengajarinya untuk tak terlalu mengekangku dalam menjajal segala tantangan yang ada. Ibu, menjadi dukungan terbesar untukku menapaki dunia dengan berbagai warnanya. Separuh dari sifat dan sikapku adalah penjelmaan dirinya. 

Aku jarang sekali berselisih dengan ibu. Amarah seorang berkepala batu ini akan segera melunak tatkala berhadapan dengan beliau. Terlebih lagi, beliau hanya diam tak bersuara dikala aku menyuarakan dengan lantang dan jelas betapa lelah dan penatnya batinku. Dan saat beliau memilih diam, justru gunungan rasa bersalah padanyalah yang hadir menghimpit hatiku. Aku lebih bisa menahan diri untuk tidak mendebat ibu. Tapi tak cukup sabar untuk berlama-lama menerima ocehan bapak atau dipaksa patuh pada aturan yang terlalu baku lagi merumitkan hidupku.

Aku adalah cerminan ibu yang menjadi pelindung dan penengah. Ibu, adalah seseorang yang dulu pernah satu kali kusaksikan menangis saat terjadi pertengkaran antara beliau dengan bapak di depan mata. Dan disaat itu, akulah yang menjadi penengah pasangan muda yang tengah belajar mendewasa dari pertengkaran yang ada di episode kehidupan pernikahan mereka. Ya. Aku menjadi penengah di saat masih berseragam putih merah dan usiaku masihlah terlampau kencur untuk mengenal makna pembelajaran dari perselisihan yang terjadi dalam sebuah rumah tangga. Aku menjadi pelindung yang tak menginginkan keduanya berpisah bersamaan dengan perih mengoyak hatiku dan menyisakan luka. 

Saat itu, bapak menciderai batin ibu dengan lontaran kata-kata tajam lantas meja kaca pecah dihantam tangan bapak hingga tangannya berdarah dan ibu berpamitan padaku ingin kembali ke kampung halamannya. Semuanya baru mereda setelah tangisku pecah sembari berteriak, "Sudah jangan bertengkar. Ibu jangan pergi. Nanti Puput sama siapa?" Sesudahnya, tidak ada lagi pertengkaran yang membawa kerusakan pada barang atau membuat ibu ingin pergi dari kami, keluarga kecilnya. Itu adalah hal yang kudengar dan kusaksikan pertama sekaligus terakhir kalinya. Tapi, bukan berarti tak terjadi lagi pertengkaran umum sepasang suami istri dalam suatu bahtera rumah tangga. Hingga di usiaku yang sudah sedewasa ini, aku terkadang masih menjadi penengah dan pelindung dari pertengkaran mereka saat lelah membuat keduanya tak lagi sanggup untuk berkomunikasi meluaskan sudut padang dan menyambungkan perasaan yang mereka rasa. 

Pun, ibu, adalah rem otomatis untukku mengendalikan diri dan menggunakan kejernihan akal pikiran saat bersitegang dengan bapak. Jika saja tak ada sentuhan kebijaksanaan dari ibu, saat aku bertengkar dengan bapak, aku telah menjadi seorang pemberontak yang benar-benar puas melihat bapak terpojok tak berkutik. Pemberontak yang bisa saja mengeluarkan kata-kata terkutuk. Ya. Jika saja ibu tak menjadi seorang yang mengalah, memilih diam tak membalas kata-kata yang menciderai batinnya, mungkin saja, aku akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan bapak saat amarahku pada bapak memuncak. Jika saja tidak ada ibu dan aku sebagai dua orang yang saling menengahi dan melindungi, mungkin saja, keluarga ini telah lama luluh lantak. Remuk berselirak.


Untukmu yang masih entah ...

Kau pasti bertanya-tanya padaku?
Apakah aku membenci bapakku?
Apakah aku lebih menyayangi ibuku?

Aku sempat membenci keduanya. Tapi, rasa iba dan kasih sayang untuk mereka melebihi rasa benci yang kadang-kadang datang saat mereka menempatkanku pada situasi dan kondisi yang belum sanggup kucerna, kupahami dan kuterima.

Aku, sempat membenci ibu yang selalu mengalah dan memilih diam setiap kali bapak mengoceh dengan kata-kata yang membuat telingaku terasa panas dan emosiku bergolak. Pernah suatu waktu aku bertanya soal kebertahanan ibu di sisi bapak. Mengapa ibu tak juga beranjak? Katanya, karena anak-anak. Pula, perkara perpisahan itu, bukanlah suatu penyelesaian yang baik setelah dipertimbangkannya masak-masak. Beliau telah menelan pemahaman, tak ada satu biduk rumah tangga pun yang sempurna tanpa terjangan badai juga gulungan ombak. Ibu memilih tetap bersetia selama itu bukanlah pengkhianatan dan tindak kekerasan fisik.

Aku, sempat membenci bapak ketika seringkali memaksakan kehendak dan melemparkan ceracauan kata-kata pedas pada ibu yang membuat emosiku berkecamuk. Pernah suatu saat kuberkata pada ibu bahwa aku tak ingin memiliki pasangan sepertinya yang sungguh lebih sering menyerupai orang tua berkepala anak-anak. Tapi, ibu selalu mengingatkanku akan suatu kisah latar belakang keluarga bapak agar kebencianku pada bapak tak mengerak. Bapak adalah simbol seseorang yang kurang mendapatkan kecukupan kasih sayang orang tua dan teladan yang bijak. Dari ayahnya (kakekku) yang berselingkuh hingga akhirnya menikah dengan wanita selingkuhannya setelah ibu kandung bapak meninggal karena sakit lantas bapak harus menerimanya sebagai ibu tiri, beliau belajar satu hal: tidak akan melakukan hal yang sama dengan ayahnya (kakekku) yang membuat hati perempuan tercabik-cabik. Ia, belajar untuk bersetia dengan pasangannya kelak. Itu, satu-satunya hal yang menjadikannya berpikir bijak. Pula satu-satunya yang menjadi pemakluman yang mampu membuatku sekuat mungkin mengekang mulutku yang ingin membalas ceracauan bapak dengan kata-kata yang sama pedasnya saat amarah kita benar-benar meledak.


Untukmu yang masih entah ...

Kisah ini ... belumlah usai kugelar.
Apakah ini terasa menakutkan saat terdengar di telingamu?
Apakah matamu masih ingin membaca kelanjutan kisah keluargaku?
Dari sepenggal cerita ini, bisakah kau menerka orang seperti apa diriku? 
Dan ... aku yang sekeras kepala ini, siapa yang bisa menggenggam dan bertahan melangkah bersamaku?

-Vinny Erika Putri, 21.11.20