Ketika Masaku Tak Lagi Kanak-Kanak

Ketika Anak-Anak Menjelma Dewasa dan Ibu Semakin Menua

It Is Okay Not To Be Okay

It Is Okay Not To Be Okay Eventhough You Are A Mother

Pergi Untuk Kembali

Pergilah, Untuk Kembali Tumbuh Menjadi Dirimu

Dandelion

Kebertahanan Hidup, Kenyamanan dan Kedamaian

#1. Tentang Selalu Ada dan Berdiri untuk Diriku Sendiri

Mencintai, Hadir Menerima dan Keterhubungan dengan Diri Sendiri

#2. Tentang Selalu Ada dan Berdiri untuk Diriku Sendiri

Sebuah Muara Kesadaran Kemana Seharusnya Keterhubungan Diri Terhubung

Sabtu, 15 Januari 2022

#2. Maaf dan Terima Kasih Untuk Diriku


Maafkan Aku, Wahai Diriku.
Saat ini, aku mengambil pilihan berada di area abu-abu yang ambigu. Aku memutuskan tidak keluar dari perasaan yang sekompleks ini dengan justifikasi benar-salah. Aku membuang semua hitam putih hasil produk pemikiran-pemikiranku yang terlahir dari pengalaman-pengalaman yang berkesudah, dogma-dogma ataupun doktrin-doktrin yang terlanjur masuk di kepalaku. Aku membiarkan perasaanku tetap terbuka tanpa kesimpulan apapun. Aku ingin merasakannya dengan manusiawi sebagai manusia biasa sampai aku menemukan ujung muara dari semua ini.

Maafkan Aku, Wahai Diriku.
Saat ini, aku mengambil pilihan berada di area abu-abu yang ambigu. Aku (lagi-lagi) akan membuatmu berada dalam kesulitan dengan pilihanku. Pilihan ini, mungkin, akan memaksa daya kebertahanan hidupmu pada gulungan ombak dengan pasang surut emosi yang intens dimana kau bisa saja terhempas dan terlempar menghantam karang cadas berbatu hingga hancur lebur atau tersedot semakin dalam ke lautan batinmu sendiri yang entah kau masih bisa bernapas didalamnya atau justru mati tenggelam di sana.

Maafkan Aku, Wahai Diriku.
Saat ini, aku mengambil pilihan berada di area abu-abu yang ambigu. Aku membuatmu bersedih dan menangis untuk hal-hal yang sebelumnya tak pernah kau rasakan sedemikian pelik. Aku membuatmu berjuang setengah mati untuk tetap berjaga di garis batas kesadaran diri dengan kegilaan atas apa yang kupilih kali ini. Aku memekakan telingamu dengan jeritan-jeritan sunyi yang tak terdengar oleh siapapun diluar sana, namun begitu jelas bergema di palung batinmu yang terdalam.

Maafkan Aku, Wahai Diriku.
Saat ini, aku mengambil pilihan berada di area abu-abu yang ambigu. Aku membuat navigasimu terkadang mengalami kekacauan arah untuk beberapa waktu sebab kesulitan mengontrol diriku yang semacam ini. Aku membuatmu kewalahan dengan segala hal yang tidak kau prediksikan sebelumnya dan masih kau eja dengan terbata-bata atas gejolak batin yang tak pernah kau lihat semendidih ini.

Maafkan Aku, Wahai Diriku.
Saat ini, aku mengambil pilihan berada di area abu-abu yang ambigu. Aku menantangmu dengan tingkat kerumitan yang paling kau takuti dan hindari sesoal kompleksitas perasaanmu yang tidak ingin menjamah area abu-abu dimana moralitas dengan segala macam sifat welas asihmu terhadap orang lain telah amat sangat banyak menahannya.

Terima Kasih, Wahai Diriku.
Saat ini, aku mengambil pilihan berada di area abu-abu yang ambigu. Dan kau tidak menghakimiku dengan benar-salah meski kau tahu pilihanku saat ini akan banyak menyulitkanmu. Kau tak pernah meninggalkanku sesalah apapun diriku atau dunia luar menilai kanvas kehidupanku dengan warna hitam-putih. Kau tak pernah jera untuk selalu memahamiku dan tetap berdiam di kedalaman sana membersamai seluruh perjalanan hidupku untuk menemukan, mengenali dan mengutuhkan bagian dari keping-keping diri yang hilang.

Terima Kasih, Wahai Diriku.
Saat ini, aku mengambil pilihan berada di area abu-abu yang ambigu. Dan kau memberikanku kesempatan untuk tidak berlari darinya. Kau mengizinkanku bernapas sesadar-sadarnya merasakan abu-abu yang ambigu sampai kumenemukan makna warna yang tengah kurasakan.

Terima Kasih, Wahai Diriku.
Saat ini, aku mengambil pilihan berada di area abu-abu yang ambigu. Dan tetaplah di sini, di kedalaman batinku. Tetaplah di sini, menemaniku menangis, menjerit, terjatuh, tersungkur, terluka, hancur-lebur, remuk-redam, luluh-lantak hingga menuntunku menemukan titik terang melewati semuanya dengan kesadaranmu yang selalu berjaga di tengah-tengah lautan ketidaksadaran dan intensitas perasaanku yang masih belum bisa kukenali secara utuh-penuh bentuk manifestasinya dalam tindakan-tindakanku. 

Terima Kasih, Wahai Diriku.
Saat ini, aku mengambil pilihan berada di area abu-abu yang ambigu. Dan, kumohon, tetaplah di sini, jangan pernah pergi, agar, apapun yang membuat perasaanku hancur-lebur, remuk-redam, luluh-lantak ... tak akan membuatku kehilangan diriku sendiri atau melenyapkan segala kewarasan yang diberikan-Nya kepada hamba-Nya yang benar-benar manusia. Sebab yang kutakuti saat ini, adalah, aku takut akan kehilangan diriku sendiri tanpa bisa menjadi pemenang atas perjalanan hidupku dalam menaklukkan area abu-abu yang ambigu. Ketika aku kehilangan diriku sendiri ... aku akan kehilangan dirimu, kemudian, aku tak lagi bisa melihat petunjuk-Nya. Kehancuran hidup semacam itu, adalah hal yang paling mengerikan bagiku. Lebih mengerikan dari kehancuran akibat luka batin yang pernah mencabik-cabik sekujur jiwaku hingga koyak-moyak menanah darah.


-Vinny Erika Putri, 16.01.22, ketika aku tak tahu dengan kata-kata apa aku mesti mengurai dan menamai perasaan semacam ini.

Saat Ini, Aku Memilih Abu-abu Yang Ambigu



Saat ini, Aku Memilih Abu-abu yang Ambigu.
Aku tak lagi memikirkan hitam putih atas banyak hal yang masih tidak kumengerti dengan berbagai alasan yang belum bisa kucerna. Aku tengah membungkam pertanyaan yang diajukan diri sesoal, "Apakah ini salah? Apakah ini benar?"

Saat ini, Aku Memilih Abu-abu yang Ambigu.
Aku tak lagi berperang dengan pusarannya seperti pengalaman yang berkesudah di rentang masa yang berbeda. Entah kemana rasa takut yang pernah melekat dari pengalaman sebelumnya.

Saat ini, Aku Memilih Abu-abu yang Ambigu.
Aku menantang keberanianku sendiri akan suatu ketidakpastian yang bisa saja meremuk-redamkan (lagi) sekujur jiwaku. Aku bertaruh dengan bekas luka-lukaku sendiri dengan memasuki pusarannya di kedalaman batinku. Berayun dan berputar dari satu titik ke titik lainnya, untuk mengurai banyak gradasi warna abu-abu yang ambigu.

Saat ini, Aku Memilih Abu-abu yang Ambigu.
Aku tidak akan menghindarinya lagi. Sampai ... abu-abu yang ambigu tidak lagi kutakuti untuk kujelajahi. Sampai ... semesta menunjukkan abu-abu yang ambigu dengan warna yang lebih tajam dan jelas. Sampai ... aku sanggup keluar sebagai pemenang atas perjalanan hidupku sendiri di area abu-abu yang ambigu, dengan ataupun tanpa luka-luka.


-Vinny Erika Putri, 15.01.22

Minggu, 02 Januari 2022

Mencintai Dengan Sadar Dan Kesadaran Penuh

 

Mencintai dengan sadar dan kesadaran penuh.
Sadar dan berkesadaran penuh bahwa cinta tidak akan menjauhkan diri kita dari Sang Maha Cinta Sejati, Pemilik dan Penggenggam Hakiki hati manusia.

Mencintai dengan sadar dan kesadaran penuh.
Sadar dan berkesadaran penuh bahwa cinta tidak memutuskan keterhubungan individu dari dirinya sendiri untuk terus menerus bersama kita hanya demi memenuhi kekosongan jiwa kita.

Mencintai dengan sadar dan kesadaran penuh.
Sadar dan berkesadaran penuh bahwa cinta tidak mengambil paksa apa yang bukan haknya untuk dijadikan suatu legalitas kepemilikan individu.

Mencintai dengan sadar dan kesadaran penuh.
Sadar dan berkesadaran penuh bahwa cinta tidak akan membenarkan apa yang salah atau menghalalkan ketidakbenaran dengan pembenaran ego pribadi.

Mencintai dengan sadar dan kesadaran penuh.
Sadar dan berkesadaran penuh bahwa cinta tidak mengubah paksa orang-orang yang kita cintai menjadi diri kita atau menjadikan diri kita seperti orang-orang yang mencintai kita.

Mencintai dengan sadar dan kesadaran penuh.
Sadar dan berkesadaran penuh bahwa cinta bukanlah perwujudan obsesi kepemilikan atas kontrol hidup orang-orang yang kita cintai.

Mencintai dengan sadar dan kesadaran penuh.
Sadar dan berkesadaran penuh bahwa cinta bukanlah selalu mengiyakan apapun keinginan dan tuntutan orang-orang yang kita cintai, atau sebaliknya, memaksakan idealisme dan ekspektasi-ekspektasi kita kepada mereka yang kita cintai.

Mencintai dengan sadar dan kesadaran penuh.
Sadar dan berkesadaran penuh bahwa cinta bukanlah tali pengikat abadi antara orang-orang yang saling mencintai dalam garis waktu mereka.

Mencintai dengan sadar dan kesadaran penuh.
Sadar dan berkesadaran penuh bahwa cinta adalah energi dinamis yang membutuhkan pengaturan kata kerja "saling" sebagai jembatan menuju kondisi selaras dan harmonis.

Mencintai dengan sadar dan kesadaran penuh.
Sadar dan berkesadaran penuh bahwa cinta adalah sikap hormat, kejujuran, dedikasi dan kesediaan upaya diri untuk mewujudkan kata "saling" yang membawa pertumbuhan kedewasaan dan kematangan individunya dalam berspiritual, berpemikiran, berperasaan dan bertindak demi menjaga siklus regenerasi dan nyala energinya.

Mencintai dengan sadar dan kesadaran penuh. 
Sadar dan berkesadaran penuh bahwa cinta yang sejati dengan segala bentuknya akan selalu bermuara pada puja puji keagungan dan kemurnian cinta-Nya yang tak pernah berkhianat kepada hamba-Nya.

Sudahkah aku mencintai dengan sadar dan kesadaran penuh?

-Vinny Erika Putri, 02.01.22

Senin, 22 November 2021

Meskipun Begitu, Selamat Atas 35 Tahun Kehidupan Yang Sudah Dijalani

 



Hai ... Vinny Erika Putri.
Bagaimana setahun belakangan ini? Apakah menjadi tahun-tahun yang masih sama sulitnya bagimu seperti tahun-tahun berkesudah? 
Sulit. Sama sulitnya. Vinny Erika Putri membutuhkan kaki yang lebih kuat untuk melangkah; bahu yang lebih lebar untuk memikul; hati yang lapang untuk menerima takdir; jiwa yang tenang untuk menjalani kehendak-Nya tanpa tapi; dan ketajaman akal pikiran untuk memaknai setiap hikmah peristiwa yang terjadi didalam hidupnya.
Meskipun begitu, aku berterima kasih padamu yang memilih tidak menyerah dan tetap melangkah. Tantangan dan kesulitan tidak membuat jiwamu mati. Dan aku tak pernah meninggalkanmu. Aku didalam sini, memeluk seluruh bagian dari dirimu.

Hai ... Vinny Erika Putri.
Bagaimana perasaanmu setahun belakangan ini? Apakah kamu masih merasakan keterasingan dalam kesendirian? 
Entahlah, rasa nyaman akan kesendirian sekarang jauh lebih besar daripada sebelumnya. Dan terkadang membuat Vinny Erika Putri bertanya-tanya, apakah dirinya seorang manusia egois yang tidak membutuhkan orang lain dalam hidupnya atau memang kebergantungan adalah hal yang paling ditakutinya. Vinny Erika Putri yang sekarang, begitu mudah memutuskan hubungan atau menutup jalur untuk orang-orang yang sudah tidak lagi bisa dipercaya atau tidak masuk dalam "lingkar wilayah" kepeduliannya.
Meskipun begitu, aku berterima kasih atas sifat welas asihmu terhadap orang-orang terdekat dalam lingkar wilayah kepedulianmu, yang bahkan kepada mereka, kamu masih melakukan pengorbanan diri.

Hai ... Vinny Erika Putri.
Apa harapanmu ke depan menapaki usia 36 tahun? Adakah hal-hal yang ingin kamu capai?
Entahlah, rasanya tidak ada. Vinny Erika Putri seperti kehilangan ambisi yang menggebu-gebu. Vinny Erika Putri ingin lebih benar-benar menghidupi apa yang bisa dihidupi, merasakan apa yang sedang dijalaninya di saat ini, dan membiarkan masa depan mengalir begitu saja bersama Semesta-Nya.
Meskipun begitu, aku berterima kasih padamu yang tetap tidak menolak penglihatan-penglihatanmu dalam rancangan visi masa depan. Kamu hidup menetapkan tujuanmu dari kemampuan itu. 

Hai ... Vinny Erika Putri.
Hidup memang tak selalu menempatkanmu pada rentang masa baik-baik saja. Hidup terkadang memaksamu bertumbuh dan bertransformasi dari penerimaan kepahitan-kepahitan yang ada. Hidup pula yang membentuk kelenturan dan ketahanan mentalmu. Dan aku paham benar, rentang waktu 35 tahun adalah sekumpulan masa-masa yang tidak selalu membahagiakan bagimu.

Meskipun begitu, selamat atas 35 tahun kehidupan yang sudah dijalani.

Tetaplah hidup dengan baik. Hidup menghidupi hidupmu sehidup-hidupnya. Temukan selalu pelita didalam dirimu dari setiap episode kegelapan yang menghampiri hidupmu. Aku, didalam sana, selalu terjaga membersamaimu setiap saat.


-Vinny Erika Putri, 23.11.21 yang semestinya ucapan selamat ini diberikan di tanggal 14.11.21 dari diriku, untuk diriku.