Sabtu, 15 Januari 2022

#2. Maaf dan Terima Kasih Untuk Diriku


Maafkan Aku, Wahai Diriku.
Saat ini, aku mengambil pilihan berada di area abu-abu yang ambigu. Aku memutuskan tidak keluar dari perasaan yang sekompleks ini dengan justifikasi benar-salah. Aku membuang semua hitam putih hasil produk pemikiran-pemikiranku yang terlahir dari pengalaman-pengalaman yang berkesudah, dogma-dogma ataupun doktrin-doktrin yang terlanjur masuk di kepalaku. Aku membiarkan perasaanku tetap terbuka tanpa kesimpulan apapun. Aku ingin merasakannya dengan manusiawi sebagai manusia biasa sampai aku menemukan ujung muara dari semua ini.

Maafkan Aku, Wahai Diriku.
Saat ini, aku mengambil pilihan berada di area abu-abu yang ambigu. Aku (lagi-lagi) akan membuatmu berada dalam kesulitan dengan pilihanku. Pilihan ini, mungkin, akan memaksa daya kebertahanan hidupmu pada gulungan ombak dengan pasang surut emosi yang intens dimana kau bisa saja terhempas dan terlempar menghantam karang cadas berbatu hingga hancur lebur atau tersedot semakin dalam ke lautan batinmu sendiri yang entah kau masih bisa bernapas didalamnya atau justru mati tenggelam di sana.

Maafkan Aku, Wahai Diriku.
Saat ini, aku mengambil pilihan berada di area abu-abu yang ambigu. Aku membuatmu bersedih dan menangis untuk hal-hal yang sebelumnya tak pernah kau rasakan sedemikian pelik. Aku membuatmu berjuang setengah mati untuk tetap berjaga di garis batas kesadaran diri dengan kegilaan atas apa yang kupilih kali ini. Aku memekakan telingamu dengan jeritan-jeritan sunyi yang tak terdengar oleh siapapun diluar sana, namun begitu jelas bergema di palung batinmu yang terdalam.

Maafkan Aku, Wahai Diriku.
Saat ini, aku mengambil pilihan berada di area abu-abu yang ambigu. Aku membuat navigasimu terkadang mengalami kekacauan arah untuk beberapa waktu sebab kesulitan mengontrol diriku yang semacam ini. Aku membuatmu kewalahan dengan segala hal yang tidak kau prediksikan sebelumnya dan masih kau eja dengan terbata-bata atas gejolak batin yang tak pernah kau lihat semendidih ini.

Maafkan Aku, Wahai Diriku.
Saat ini, aku mengambil pilihan berada di area abu-abu yang ambigu. Aku menantangmu dengan tingkat kerumitan yang paling kau takuti dan hindari sesoal kompleksitas perasaanmu yang tidak ingin menjamah area abu-abu dimana moralitas dengan segala macam sifat welas asihmu terhadap orang lain telah amat sangat banyak menahannya.

Terima Kasih, Wahai Diriku.
Saat ini, aku mengambil pilihan berada di area abu-abu yang ambigu. Dan kau tidak menghakimiku dengan benar-salah meski kau tahu pilihanku saat ini akan banyak menyulitkanmu. Kau tak pernah meninggalkanku sesalah apapun diriku atau dunia luar menilai kanvas kehidupanku dengan warna hitam-putih. Kau tak pernah jera untuk selalu memahamiku dan tetap berdiam di kedalaman sana membersamai seluruh perjalanan hidupku untuk menemukan, mengenali dan mengutuhkan bagian dari keping-keping diri yang hilang.

Terima Kasih, Wahai Diriku.
Saat ini, aku mengambil pilihan berada di area abu-abu yang ambigu. Dan kau memberikanku kesempatan untuk tidak berlari darinya. Kau mengizinkanku bernapas sesadar-sadarnya merasakan abu-abu yang ambigu sampai kumenemukan makna warna yang tengah kurasakan.

Terima Kasih, Wahai Diriku.
Saat ini, aku mengambil pilihan berada di area abu-abu yang ambigu. Dan tetaplah di sini, di kedalaman batinku. Tetaplah di sini, menemaniku menangis, menjerit, terjatuh, tersungkur, terluka, hancur-lebur, remuk-redam, luluh-lantak hingga menuntunku menemukan titik terang melewati semuanya dengan kesadaranmu yang selalu berjaga di tengah-tengah lautan ketidaksadaran dan intensitas perasaanku yang masih belum bisa kukenali secara utuh-penuh bentuk manifestasinya dalam tindakan-tindakanku. 

Terima Kasih, Wahai Diriku.
Saat ini, aku mengambil pilihan berada di area abu-abu yang ambigu. Dan, kumohon, tetaplah di sini, jangan pernah pergi, agar, apapun yang membuat perasaanku hancur-lebur, remuk-redam, luluh-lantak ... tak akan membuatku kehilangan diriku sendiri atau melenyapkan segala kewarasan yang diberikan-Nya kepada hamba-Nya yang benar-benar manusia. Sebab yang kutakuti saat ini, adalah, aku takut akan kehilangan diriku sendiri tanpa bisa menjadi pemenang atas perjalanan hidupku dalam menaklukkan area abu-abu yang ambigu. Ketika aku kehilangan diriku sendiri ... aku akan kehilangan dirimu, kemudian, aku tak lagi bisa melihat petunjuk-Nya. Kehancuran hidup semacam itu, adalah hal yang paling mengerikan bagiku. Lebih mengerikan dari kehancuran akibat luka batin yang pernah mencabik-cabik sekujur jiwaku hingga koyak-moyak menanah darah.


-Vinny Erika Putri, 16.01.22, ketika aku tak tahu dengan kata-kata apa aku mesti mengurai dan menamai perasaan semacam ini.

0 komentar:

Posting Komentar