Aku teringat sebuah percakapan singkat yang mengena dengan rekan kerja. Dia menceritakan kilas balik trauma akan suara sirene ambulans dan IGD rumah sakit karena mengingatkan akan kematian kakak ke-3-nya. Aku bisa merasakan gambaran kondisi batinnya saat itu dimana dengan semua hal yang serba mendadak, dia mesti menguatkan dirinya sendiri sekaligus merangkul emosi banyak orang sekelilingnya untuk ditenangkan tanpa sempat mencerna emosinya sendiri. Dari pengalaman dirinya, aku mendapatkan suatu insight yang cukup terkoneksi dengan pengalaman batin yang kurasakan sehingga bisa menjelaskan kepadanya tentang gambaran singkat "Hati yang Terlambat Bersedih".
Untuk Hati yang Terlambat Bersedih
Aku paham ... dalam perjalanan hidupmu, kau telah banyak merangkul dan menguatkan jiwa-jiwa orang-orang di sekitarmu lebih dulu ketimbang jiwamu sendiri ketika di titik tergetir dalam hidupmu.
Aku paham ... betapa kacaunya pergolakan batinmu jauh didalam sana. Kau belum bisa mencerna dan menentukan harus dengan tindakan apa dirimu menunjukkan atau menangani emosi aslimu sebab kau menjadi tumpuan banyak orang yang memaksamu untuk berpura-pura tabah dan tegar sementara waktu di banyak chapter buku takdirmu.
Aku paham ... kekalutan batinmu yang kau tekan, seringkali membuatmu terlambat bersedih. Lalu, saat kau menepi sejenak untuk berlepas diri dari kelekatan emosi jiwa orang-orang di sekelilingmu, barulah kau menyadari keberadaan rasa sakit yang menghujam dalam-dalam ke dadamu hingga tangis yang pecah terasa sesak mencekik dengan jeritan-jeritan yang semakin menyayati hatimu.
Untuk Hati yang Terlambat Bersedih
Aku paham ... dalam perjalanan hidupmu, kau banyak mewarisi ketidaksadaran kolektif dari sebuah budaya patrilineal atau matrilineal dimana laki-laki tempatnya kekuatan dan air mata adalah kebodohan, sementara perempuan tempatnya kelembutan dan air mata adalah hal lumrah, atau hierarkhi-hierarkhi lainnya yang diciptakan lingkungan sosialmu, dan kau berada di area abu-abu dimana kau tidak tahu harus mengekspresikan emosi yang bagaimana ketika realita hidup membuatmu memilih harus berdiri kuat atau mengakui kerapuhanmu.
Aku paham ... betapa sedemikian lelah-penat batinmu untuk bahkan melihat kedalam dirimu sendiri ditengah-tengah hiruk-pikuk jiwa orang-orang di sekitarmu hingga acapkali mengaburkan makna bersedih bagimu. Lalu, saat kau menelisik batinmu, betapa lubang kosong dalam jiwamu menyedot habis daya hidupmu. Kau menjadi sedemikian sakit bahkan untuk bisa mencerna dan memaknai air mata.
Untuk Hati yang Terlambat Bersedih
Aku paham ... dalam perjalanan hidupmu, kau banyak dihadapkan pada kesulitan dan tantangan dimana kau banyak berjuang keras untuk menaklukkannya sebab kau tak menemukan orang yang bisa melihat diri aslimu juga kerap disalahpahami oleh lingkungan eksternalmu sebagai orang yang kuat, cerdas dan mampu melakukan segalanya sendirian hingga kau mengabaikan kebutuhan emosimu sendiri dengan berlagak kuat seperti yang lingkungan sosial labelkan padamu.
Aku paham ... remuk-redam, hancur-lebur, luluh-lantak jiwa yang kau alami berkali-kali membuatmu mengalami siklus kebangkitan hidup sebanyak kau ingin mati atau rasa ingin mati sebanyak kau hidup, sehingga hatimu acapkali terlambat atau bahkan tak mengerti bagaimana caranya menerima dan menangani kesedihanmu sendiri.
Untuk Hati yang Terlambat Bersedih
Dimana dalam perjalanan hidupmu, kau begitu banyak berkorban untuk orang-orang terkasih, pula mengalami getir pahit kehidupan hingga kau lemparkan banyak tanda tanya pada kehidupan untuk menemukan makna hidupmu, aku ingin mengatakan sesuatu.
Terlambat bersedih tak apa ... asalkan kesadaran dirimu tetap terjaga bahwa jiwamu tengah bersedih dan membutuhkan dirimu sendiri untuk hadir membersamainya. Menangis dengan jeritan keras pun tak apa. Kau butuh menerima kesedihan bukan menundanya yang bisa membuatmu tak menyadari emosimu sendiri. Bersedih itu bukan suatu dosa yang memalukan ... menangis saat dirimu ingin menangis juga bukanlah kelemahan. Sebab, kita adalah MANUSIA. Jadi tak apa. Tak apa untuk bersedih. Perasaan dengan segala emosi yang kita rasakan didalamnya adalah bagian dari diri kita yang menjadikan kita MANUSIA. Lepaskanlah kesedihan itu agar kau lebih lega.
-Vinny Erika Putri, 20.01.22, teruntukmu sahabat yang dititipkan-Nya padaku di fase perjalanan 2022

0 komentar:
Posting Komentar