Senin, 10 Mei 2021

R.28-2021

 


Hai, Ramadhan!
Setelah kau berlalu, apakah pijar spiritual manusia akan kembali redup menghilang? Seperti megah riuhnya pesta kembang api yang memercikkan terang api sesaat, lantas, gelap kemudian?

Hai, Ramadhan!
Aku memilih buta pengetahuan akan nilai pahala dari suatu ibadah. Aku tidak memilih ibadah apapun yang dispesialkan hanya demi takaran pahala. Pahala membuatku mempertanyakan niat dan ketulusanku menyembah-Nya pada diriku sendiri. Bagiku, pahala seperti surga dan neraka. Pahala, adalah sesuatu yang berada di luar kontrol diri manusia. Pahala, adalah sesuatu yang berada dalam kehendak mutlak Tuhan. Pahala, adalah sesuatu yang eksistensinya menjadi hak prerogatif Tuhan.

Hai, Ramadhan! 
Aku sama sekali tak mempertanyakan ibadah lahiriyahku yang bernapaskan ritual keagamaan. Tapi, di tahun ini, aku acap melemparkan beberapa pertanyaan pada-Nya, dalam perenunganku. Pertanyaan yang orang lain belum tentu sanggup menjawab secara batin, bahkan oleh diriku sendiri:
Tuhan, apakah perjalanan akal pikiran, hati dan jiwaku telah banyak berpaling dari-Mu?
Tuhan, apakah kesadaran diriku sudah cukup mengenali "setan" yang hidup dalam alter egoku dan mengendalikan hawa nafsu yang ditimbulkannya?
Tuhan, apakah aku telah menjadi manusia yang sanggup memanusiakan diri dan sesama makhluk hidup?
Hai, Ramadhan! 
Orang-orang bersedih. Katanya, kehadiranmu tinggal menghitung hari. Tapi ... aku tidak. Meski aku tak tahu apakah kelak kita akan berjumpa kembali. Meski aku tak tahu apakah Tuhan menyucikanku di hari raya. Aku tak memilih bersedih seperti yang dilakukan orang-orang. Biarlah aku bergembira untuk menyeimbangkan orang-orang yang kabarnya berat melepaskanmu. Aku berterima kasih padamu, dengan hati yang haru bahagia atas banyak warna kenangan yang berbeda setiap tahunnya. Dan ... aku bersyukur kepada-Nya yang telah memanjangkan hidupku sampai sekarang hingga aku bisa bertemu denganmu yang ke-34 kalinya.

Hai, Ramadhan! 
Setiap pertemuan akan ada perpisahan bukan? Jika Tuhan berkehendak, aku akan menemuimu kembali di tahun berikutnya. Jika pun Tuhan tidak berkehendak, semoga kelak ketika aku berpulang kembali kepada-Nya, seluruh bagian dari diriku dalam keadaan yang diridhoi-Nya.

Hai, Ramadhan! 
Bertemu kembali ataupun tidak, bersama rentang waktu, perjalanan spiritualku dalam mengenal diri sendiri dan diri-Nya akan terus kau saksikan bukan?

-Vinny Erika Putri, Ramadhan ke-28, 10.05.21

0 komentar:

Posting Komentar