Selasa, 18 Mei 2021

Mendamaikan dan Berseteru


Minggu, 16.05.21

Suasana Idul Fitri masih tanak terasa. Dua adik perempuan bapak (sebut saja A dan B) yang belum sempat berkunjung, datang ke rumah dalam rangka bersilaturahmi. Aku tak sempat duduk berlama-lama membersamai mereka. Hanya sekedar bersalaman lalu berpamitan dengan sopan sembari meminta maaf tak bisa menemani karena sudah memiliki janji lebih dahulu untuk menghadiri acara sunatan anak murid.

Sekitar waktu ashar, aku tiba di rumah. Isi rumah bertambah ramai dengan hadirnya adik bapak yang lainnya (sebut saja si C laki-laki dan si D perempuan). Mereka ingin menyelesaikan masalah yang mengendap entah berapa lama tak terselesaikan. Perseteruan antara saudara kakak-adik kandung yang merambat pada ranah perkara antara bibi (si A)-ponakan (anak si D).

Awalnya, sebelum kulaksanakan sholat ashar, hawa masih aman. Lantas, usai sholat, kuputuskan turut berada di tengah-tengah mereka (adik-adik bapak) yang (katanya) ingin menyelesaikan masalah. Aku merasakan gelagat bahaya yang akan muncul dari gesekan emosi antar individu. 

Aku diam, mengamati dan merasakan aliran energi masing-masing pihak yang mengeluarkan katarsisnya dengan nada ketidak-terimaan dan pembelaan diri. Napas si A tersenggal, mengandung campuran residual energi kesedihan dan kebaruan amarah sehingga nadanya bergetar meninggi lalu turun ke titik tangis yang ditahan agar tidak pecah. Si A tidak memberikan banyak celah untuk si D memberikan penjelasan tentang perlakuan anaknya kepada A sebagai keponakan A. Si B ikut terlihat ingin membuka mulut, tapi langsung distop oleh A, yang berarti, kuanggap A masih punya kontrol diri.

Si C diam. Bapak diam. Ibu berusaha mendamaikan sebagai ganti bungkamnya bapak yang seharusnya bisa berbicara dan menjadi penengah sebagai sulung laki-laki dari keluarganya. Ibu memberikan pandangan dengan posisi yang netral dengan tujuan agar masing-masing saling memahami dan tidak merasa dirinya adalah "yang paling teraniaya lagi paling benar". Ibu berusaha meluaskan persepsi orang-orang yang tengah berselisih.

Aku masih mengamati, diam mendengarkan dan merasakan pergerakan sekelilingku. Ibu masih mencari celah untuk mendamaikan. Ibu tidak didengar. Ego yang terluka milik si A masih butuh untuk dipuaskan. Si D yang tidak mendapatkan kesempatan berbicara, semakin merasa tersudut. Lantas, si B yang seharusnya bisa netral seperti bapak-ibu, melabeli anak si D (keponakan A, B dan C) dengan sebuah kalimat "kuper cuma lulusan SMA" dan menjadi trigger baru yang menambah masalah. Luka baru tertoreh di hati si D sebagai orang tua dengan perkataan si B. Si B membela si A. Salah-benar menjadi bias karena bela-membela. Padahal, mereka bertiga (A, B, D), semuanya adalah kakak-beradik perempuan kandung yang sudah berusia matang. 

Si D, melempar maskernya dan menggebrak kedua tangannya di lantai. Tetas sudah emosi masing-masing. Lepas kendali. Adu mulut, seperti sebelumnya yang sudah kuprediksikan. Sensor sarafku yang sedari tadi sudah merasakan energi-energi tersebut semakin terasa kacau balau merefleksikan kondisi batinku. Tanda-tandanya? Jemari tanganku bergetar, menahan marah atas banyak ketidaksetujuan yang lahir dari respon pemikiran dan perasaanku dalam mencerna pemikiran mereka yang bertikai selama aku memilih diam.  Aku marah, atas kemarahan mereka yang kehilangan kendali hingga memudarkan adab terhadap kakak sulungnya (bapakku). Aku marah, atas kemarahan mereka yang melenyapkan kebijaksanaan hati dan melupakan kesadaran berpikir. Aku marah atas kebisingan yang mereka ciptakan didalam rumah yang bukan rumah mereka.

Aku mulai bertengkar dengan diriku sendiri. Perasaanku berseteru dengan kebijaksanaan hati seorang manusia untuk memilih tetap menenangkan atau memperkeruh suasana. Ego terendahku sedang mengawasi kesadaran akal pikiranku dan mencari kesempatan untuk menguasainya agar egoku dibenarkan. Kesadaran jiwaku mengingatkanku akan kemungkinan ancaman ego yang bisa membuatku menjadi irrasional.

Aku bangkit dari duduk. Bergerak mendekati orang-orang yang berseteru. Aku menjadi tameng pembatas dua orang perempuan yang tengah beradu mulut. Kata "sudah" dan "tenang" beberapa kali kulontarkan, namun tak juga meredakan suasana. Energiku mulai fokus berjaga menyadari dan menstabilkan emosi yang tampak ataupun tertahan: letupan emosi mereka bertiga yang berselisih, bapak-ibuku yang dikepung kebingungan dan kemarahanku sendiri yang terasa ingin ikut ambil bagian dalam drama keluarga yang memuakkan ini.

Hingga, Ibu dengan nada agak tegas mengingatkan, 
Malu, di rumahnya Mas Pipit, gak enak sama tetangga kalau ribut-ribut di sini. Nanti tetangga yang gak suka tambah gak suka.
Mereka pun tak lagi adu mulut, dan salah satunya dengan berurai air mata memilih berpamitan sembari minta maaf kepada bapak-ibu. Walk out. Tanpa penyelesaian masalah.

Bapak-ibu mengantar sampai ke depan rumah. Di situ pun, masih saja terjadi adu mulut. Satu didalam ruangan, satu di teras rumah. Aku yang tadinya berada di posisi teras, bertukar tempat dengan si C (paman laki-laki).

Ujarku, 
Om, saya ke dalam, nenangin Tante B. Minta tolong Tante D dianterin, titip.
Aku masuk ke dalam, sebelum si B ke teras memanjangkan perang mulut. Sementara si A menyusul si D untuk kembali meminta maaf setelah siuman dari egonya. Didalam, kurangkul pundak si B, kupegang dadanya dan berkali-kali mengatakan kata "sudah" dan "tenang", sampai dia duduk dari posisi dengan sendirinya. Kuusap-usap pula bahu kanannya untuk menurunkan tensi emosinya.

Setelah si D pulang diantar si C, si A dan si B yang masih di rumah bapak, melanjutkan cerita-cerita dan argumennya. Ditimpali cerita ibu, yang menurutku semestinya tak diceritakan karena berbahaya untuk Ibu. Aku tahu benar, keluarga dari garis patrilineal (sibling father) adalah orang-orang yang mudah menceritakan keburukan orang lain, mengadu domba dan mengumbar-ngumbar kebaikan yang sudah mereka lakukan (bahkan terhadap saudara kandungnya sendiri) saat amarah menguasai mereka. Berbeda jauh dengan tatanan tata krama dan tata sosial keluarga dari garis matrilineal (sibling mother).

Sementara mereka berbicara dengan ibu-bapak, aku mengatur napas. Aku membentuk sikap tubuh seperti sikap orang yang hendak bermeditasi: menautkan erat empat jari jemariku dengan posisi kedua ibu jari saling bertemu membentuk segitiga dan kuletakkan di kaki yang duduk sila. Aku tengah berusaha menetralkan amarahku sebelum aku bicara. Aku, yang tadinya menahan diri untuk tidak bicara, tidak bisa lagi hanya diam melihat semuanya. 

Setelah kurasakan sedikit ketenangan dan kewarasan berpikir, barulah aku mengeluarkan ultimatum dengan bahasa sesopan dan sehalus mungkin yang menegaskan posisi bapak-ibu. Kukatakan pada mereka, dua bibiku (si A dan si B) yang masih berada di situ bahwa aku sendiri sudah berpesan pada bapak-ibu untuk berdiri di pihak netral tidak memihak siapapun karena posisi bapak adalah sulung laki-laki yang seharusnya bisa mengayomi dan menjadi tiang persatuan keluarga. Kusampaikan juga pada mereka, rumah ini terbuka bagi siapa saja yang memang ingin berkunjung ke sini.

Setelah masing-masing (si A dan si B) merasa lebih tenang dan tak ada lagi yang bisa dibicarakan, mereka berdua berpamitan pulang dan meminta maaf hanya pada bapak. Sepulangnya mereka, barulah aku menggelontorkan seluruh isi hati dan kepalaku. Segala ketidaksetujuanku kuutarakan pada ibu-bapak, panjang kali lebar kali tinggi. Ujaran-ujaranku tegas bergema. Tak ingin dibantah. Egoku ternyata tidak hilang. Hanya menunda kemarahannya untuk diuraikan pada saat yang tepat.

Kukatakan,
Kalau ada masalah begini, ibu jangan ngomong, biarin bapak yang ngomong. Kalau bapak gak bisa mengomunikasikan, diskusi sama ibu, apa yang nantinya mau disampaikan. Begitu pun sebaliknya, kalau ada masalah di keluarga ibu, Ibu yang ngomong. Ipar jangan ikut ngomong, bisa tambah salah nanti.
Puput gak mau ya, Bu, nanti ibu disakitin lagi, disalahpahamin lagi. Maksudnya nyampein apa yang bapak inginkan, tapi dikiranya itu keinginan ibu. Dikiranya, ibu mempengaruhi bapak. Susah buat ipar perempuan untuk bisa bersuara di keluarga suami laki-laki. Udah cukup buat Puput ngeliat apa yang mereka timpakan ke ibu. Ini Puput masih nahan diri karena masih mandang orang tua.
Percakapan lanjutan pun mengalir, kali ini bukan tentang mereka yang berseteru. Tapi, aku yang tengah mendebat dan mengeluarkan ketidaksetujuanku atas pemikiran-pemikiran serta mengoreksi perilaku mereka dengan bebas, sebebas-bebasnya, setelah mereka pergi. Bahkan, tak hanya mereka, ibu pun tak luput dari sentilanku.

Bapak masih diam, ibu memberikan penjelasan, bahwa mereka datang untuk menyelesaikan masalah secara mendadak, tidak ada pemberitahuan dulu sebelumnya. Jadi bapak dalam kondisi yang tidak siap. Tapi ibu sudah mewanti-wanti, untuk si A dan si B bisa saling mendengarkan supaya bisa dipahami apa yang menjadi kemauan masing-masing pihak (si C dan si D). Satu-satunya pertikaian yang sudah clear adalah pertikaian antara si B dan si C yang disebabkan oleh suami B.

Aku mengoreksi ibuku sendiri,
Tadi ibu tuh gak usah cerita soal kelakuan si D (adik ipar ibu) waktu dulu tinggal bersebelahan rumah dengan ibu-bapak. Semua adik bapak gak bisa dipercaya dan dipegang omongannya. Sekarang aja lagi pada gak akur begitu, saling serang. Nanti giliran akur, bisa jadi omongan ibu untuk senjata menjelekkan ibu. Puput gak mau ibu nanti disakitin lagi.

Bapak mengiyakan di bagian ini dari sekian banyak bagian bungkamnya. Lantas, ibu mengatakan sesuatu yang menampar kesadaranku:

Iya, ibu minta maaf, ibu salah di bagian itu.

Hatiku berdenyut ngilu, tersayat, karena menyadari dan mengingat satu hal bahwa ibu begitu banyak memendam rasa sakit hingga aku akhirnya berkata,

Puput paham, masih ada rasa sakit terpendam di hati ibu, makanya kelepasan bilang begitu.

Aku menarik mundur ingatanku saat ibu bercerita kelakuan si D yang saat itu sudah pulang lebih dulu. Ibu bercerita di depan dua orang bibiku (si A dan B) yang masih berada di situ. Aku bisa menangkap getar sedih yang ibu tahan agar tak menjelma bulir air. Aku menjadi saksi perjalanan rumah tangga ibu. Meski kerap disakiti adik-adik bapak dan bapak tidak berketegasan membelanya sebagai suami, ibu tidak membalas perbuatan mereka. Ibu mengubah rasa sakitnya dengan tetap berbuat baik kepada mereka yang menganiayanya. Ibu memaklumi posisi bapak sebagai lelaki sulung dalam keluarganya. Tapi aku bisa melihat dan membaca bahwa semua yang ibu lakukan belum bisa menyembuhkan rasa sakit di hatinya yang penuh dengan sayatan luka-luka. Hanya saja, kebaikan yang ibu lakukan memang sanggup membuat orang-orang yang melukainya menyadari bahwa persepsi buruknya tentang ibu selama ini salah sekaligus merasakan kebaikan ibu.

Lantas, percakapan kami terhenti saat si C yang mengantar si D datang untuk mengambil HP-nya si C yang tertinggal di rumah bapak. Kami menanyakan bagaimana kondisi si D. Kata si C, si D sudah agak tenang dan dirinya (si C) sudah berpesan kepada si D agar kejadian hari ini, termasuk kata-kata "kuper cuma lulusan SMA" tidak disampaikan kepada anaknya. Sederhananya, dipaksakan dengan kata-kata kebohongan demi kebaikan bahwa "semua baik-baik saja."

Aku sangsi, melihat dari karakter dan kondisi psikologisnya si D. Aku ragu, bahwa apa yang terjadi hari ini tidak bocor ke telinga anaknya si D.

Dan, Derrrrr! 

Benar saja dugaanku. Malamnya, sepupuku (anak si D) menghubungiku lewat WA. Dia menanyakan kondisi bapak, dan memberitahukan sesuatu hal yang cukup (lagi-lagi) menguji emosiku bahwa si A menjelek-jelekkan aku di belakangku saat berkunjung ke rumah si D (ibunya). Text message-nya tertulis:

Waktu kemarin di rumah Ibu, tante A ngomongin Mbak Puput. Katanya kerja deket rumah tante A tapi boro-boro mampir. Punya ponakan tuh gitu pisan.

Kuberitahukan pada ibu-bapak dengan perasaan mendidih. Ibu mengingatkan aku agar tidak terpancing emosi. Tanganku lagi-lagi gemertap, menahan marah agar tidak lepas kendali. Aku bolak-balik mengatur napas untuk rileksasi diri. Sembari ditemani oleh bapak-ibuku, aku bercakap-cakap dengan sepupuku lewat Voice Note Whatsapp. Sesekali diam, mengambil jeda, menjaga kesadaran diri agar lisanku dijauhi dari kata-kata yang semakin merunyamkan masalah. Meski jauh didalam sana, emosiku bergolak, mengetuk-ngetuk egoku untuk mengambil alih kesadaran berpikir.

Aku menerima perasaanku tidak baik-baik saja. Aku marah dengan perilaku si A yang menjelek-jelekanku di belakang. Tapi aku punya pilihan untuk lebih waras dari mereka yang berseteru. Aku juga tak ingin memajangkan rangkaian asumsi dan sangkaanku. Aku masih terus berupaya memutus mata rantai egoku sendiri.

Kukatakan, 

Gak apa-apa, memang bener, kok, Mbak Puput jarang main ke rumahnya walaupun jarak antara tempat kerja Mbak yang dulu di daerah Jalan Perjuangan ke rumahnya Tante A itu deket. Mbak Puput tipikal orang yang habis pulang kerja lebih seneng langsung ke rumah. Udah capek juga soalnya kerja di PAUD yang fullday sampai sore di waktu itu. Biarin ajalah, Neng. Berusaha dilegain, diikhlasin. Buat Mbak Puput, yang penting orang tua percaya dan gak nyalahin, Mbak. Karena orang tua lebih tahu kondisi Mbak gimana. Itu udah lebih dari cukup.

Dari text balasan-balasan yang dikirimkan sepupuku, aku mampu membaca bahwa dia sudah tidak sanggup lagi menolerir perbuatan si A dan si B yang sangat meremukkan harga dirinya hingga membuatnya mengambil keputusan mematikan suatu hubungan dan menggunting silaturahmi antar saudara (bibi-ponakan). Lalu, kutegaskan pula kepadanya sama seperti saat aku menyampaikan pada dua bibiku (si A dan si B),

Posisi bapak netral, Neng. Bapak sayang dengan semua adik-adiknya dan inginnya akur. Tapi kita paham, kita gak bisa memaksakan perasaan setiap orang yang tersakiti untuk bisa saling nerima lagi. Pesen bapak-ibu, kita terbuka dengan semuanya. Karena kita memang gak ada masalah dengan siapapun dan semuanya adalah adik-adik bapak. Makasih, bapak-ibu masih dianggap dan diakui sebagai kakak. Pengennya bapak hubungan kita tetap baik-baik aja. Jangan sungkan juga, tegur kita kalau ada salah, supaya silaturahmi ke depannya awet langgeng dan berkah. 

Sepupuku, beberapa kali mengucapkan terima kasih dan menyampaikan kondisi ibunya baik-baik saja saat kubertanya kondisi si D. Kukatakan sesuatu yang semoga saja bisa mengobati hatinya.

Setiap manusia diciptakan dengan kelebihannya masing-masing, Neng. Kamu itu orangnya sabar. Kamu punya kecerdasan emosi yang bagus. Mbak bisa lihat dari perjalanan lika-liku rumah tangga kamu yang sempat mendapati kenyataan kondisi suami ternyata gay. Kamu masih bersabar untuk menanti perubahan sebelum ambil keputusan cerai. Kamu juga jadi penenang dan penengah keluarga saat ibu dan dede bertengkar. Jangan minder hanya karena kamu ngerasa cuma lulusan SMA. Kamu berharga dan dibutuhkan. Sayangi diri kamu sendiri.

Setelah itu, kita mengakhiri percakapan dengan saling mendoakan untuk kebaikan masing-masing. Aku meninggalkan bapak-ibu dan kembali ke kamar. Aku membutuhkan ruang untuk sendiri tanpa siapapun. Aku hanya membutuhkan diriku sendiri untuk benar-benar melihat diriku yang (sebenarnya) sedang mengalami kewalahan secara pengalaman-pengalaman emosi baik itu emosi milikku sendiri maupun orang-orang di sekitarku. Lelah. Terkuras sangat energiku untuk bisa menampung dan memahami emosi mereka semua.

Aku mendamaikan orang lain di hari itu. Sekuat jiwa, menenangkan beberapa pihak dengan sangat terkontrol bila dilihat dari luar. Sementara didalam hatiku, terasa kisruh sekali. Aku masih berseteru dengan diriku sendiri.

Aku masih berperang dengan ego ketidakterimaan diri atas perilaku si A terhadapku yang manis di depan, menikam di belakang. Aku masih berperang dengan ego kemarahan atas ketidaktegasan bapak sebagai sulung ketika melihat si A, B dan D bertengkar di hadapannya. Aku masih berperang dengan ego kemarahanku atas ketidakmampuan si A, B, dan D menjaga kesadaran adab bahwa mereka berteriak-teriak di tempat yang bukan rumah mereka. Aku masih berperang dengan ego kemarahan pada ibu yang seharusnya menyerahkan kendali mediator kepada bapak karena aku tidak ingin melihat ibu disakiti dan disalahpahami lagi. Aku kecewa, marah, dan muak. Ketiganya bersekutu begitu kuat dan ingin membunuh tiga hal dari diriku: empati hati, kesadaran akal pikiran berpikir, kewarasan jiwaku. 

*

Senin, 17.05.21

Belum usai aku berperang dengan ego diriku, masih ditambah perkara lainnya yang memantik kembali kemarahanku. Titik awal kurasakan letikan amarah ketika pulang ke rumah dalam keadaan lelah karena menunggu servis motor hampir 5 jam. Sampai rumah, diceramahi ibu mengapa begitu lama perginya dan tidak memberikan kabar. Aku tahu, itu bukan dari ibu. Ibu merefleksikan gerutuan bapak. 

Aku menyanggah dengan nada yang meninggi. Aku bosan, setiap kali pergi dikhawatirkan dengan kecemasan berlebih yang membuatku sama sekali tidak nyaman seperti dirundung dosa. Kukatakan bahwa aku sudah mengabari, menunjukkan pesan terkirim pada bapak sebagai bukti. Pun sebaliknya bapak. Dari situ, aku baru tahu, pulsa SMS-ku habis. Dan aku memang tak pernah membeli kuota karena keseharian aku lebih banyak dihabiskan di rumah sepulang kerja.

Kataku, dengan kebutuhan ego yang masih terus ingin meyuarakan diri:

Lagian juga kayak sayanya anak begajulan yang doyan nganjal main ke mana-mana tanpa izin. Orang jelas-jelas izin mau servis motor. Lama, ngantri tadi tuh. Lima jam. Capek. Dari dulu, setiap saya pergi tuh masalahnya begitu aja.

Masih dalam keadaan kesal, aku pergi ke kamarku di lantai atas mengambil pakaian lalu turun kembali untuk mandi. Bapak berbasa-basi menanyakan biaya servis motor untuk mencairkan kejengkelanku saat aku berjalan menuju kamar mandi. Aku menjawab sekenanya, dengan nada yang tajam menekan emosi marah yang belum reda.

Usai mandi, sebelum aku kembali ke kamarku, ibu menghentikan langkahku dengan bercerita,

Tadi tuh, Si B pas kamu lagi servis motor nelpon bapak. Dia minta bapak nyampein ke si C supaya besok gak usah dateng ke nikahannya T, soalnya si R lagi begitu. Katanya si B udah telpon si C tapi gak diangkat, jadi minta bapak yang sampein. Tapi begitu dikonfirmasi ke si C, katanya gak ada telpon masuk. Gak tahu siapa yang bener. Tadi tuh sebenernya mau minta pendapat kamu, tapi kamunya gak pulang-pulang. Ditambah kamu gak ngasih kabar. Bapak kepikiran dan ngoceh aja, ibunya jadi pusing.

Belum kelar masalah pertengkaran antar saudara (si A, B dan D) di hari Minggu kemarin, muncul lagi kesalahpahaman Si B dan C yang padahal baru kemarin mereka berbaikan. Si C kembali marah sebabnya tidak diizinkan si B hadir di pernihakan T oleh si B. Alasan si B karena si R (suaminya B yang berselisih dengan si C sampai sekarang) dalam kondisi yang kurang bagus untuk si C. Padahal si C memang berniat datang bukan karena si R, tapi oleh sebab masih memandang si B sebagai kakaknya.

Lusa adalah hari pernikahan sepupuku (si T, anak angkat B). Pernikahan yang tadinya berharap bisa mempersatukan yang berselisih, malah membawa sesuatu yang merumitkan hingga memaafkan dan mendengarkan orang lain menjadi hal yang sulit.

Aku mulai bertekuk lutut pada egoku. Aku menguliti ego orang lain secara frontal-radikal demi kepuasan egoku. Egoku melawan ego mereka (adik-adik bapak) di depan bapak-ibu. Benturan ego memusnahkan kebijaksanaan diriku dalam satu rentang waktu itu. Lidahku kubiarkan liar, seliar-liarnya. Dan egoku merasakan kesenangan yang luar biasa. Merdeka sesaat dari kaidah aturan tata krama berlisan.

Kukeluarkan kekesalan dengan kata-kata tajam yang kasar dan menakutkan, 

Udahlah, TERSERAH. Orang model mereka, susah diajak mikir nyari solusi. Susah diajak ngalah dan kompromi. Yang satu pake agama untuk membenarkan egonya, yang satu pake emosi tapi berlagak kayak otaknya berisi aja kalo ngomong sampe ngerendahin orang yang notabene saudara kandungnya sendiri. Susah, gak pada bisa ngaji ke diri sendiri. Sensitif kalo harga dirinya kesinggung, tapi seenak jidatnya kalo nyenggol harga diri orang. Simpatinya pura-pura. Empatinya ada di kaki. Otaknya di pantat. Bertengkar gak inget adab lagi di rumahnya siapa, gak inget kakaknya punya penyakit jantung. Hidup kita tuh direcokin aja sama mereka yang gak bisa dewasa sama saudara sendiri. Padahal kita gak pernah ngerecokin hidup mereka. Giliran susah, yang dicari kita. Tapi masalah uang warisan mah diem-diem bae, ditelen sendiri. Dan syukur kita gak pernah utang duit sama mereka. Gak mau juga ngemis duit sama mereka. Gak butuh duit warisan. Warisan jatah bapak juga dibagi lagi ke mereka disaksikan banyak pasang mata. Allah cukupkan rezeki kita. Kita gak butuh bantuan mereka. Dari dulu, zaman orang tua bapak masih hidup, bapak-ibu apa-apanya terbiasa mandiri kok. Beda sama mereka yang disokong terus sama orang tua. Orang tua udah gak ada, terpecah belah kan akhirnya? Terus juga, selama kita susah nyungsep jempalik, peduli tah mereka sama kita? TAIKLAH mereka! BODO AMAT sekarang sih.

Bapak berujar, menimpali,

Iya, bapak juga kalau minta tolong sama mereka pasti ngasih sesuatu. Bapak gak mau punya hutang budi. Udahlah, Bu, kita gak usah dateng juga gak apa-apa. Ruwet. Kalo saya tuh gak pengen ribut-ribut, makanya diam.

Ibu masih bersikap sebijaksana mungkin untuk menjaga kesadaran diri semuanya agar tetap datang ke pernikahan tersebut demi kebersambungan tali silaturahmi keluarga. Lagi-lagi, semuanya demi menjaga bapak. Sikap hormat ibu terhadap bapak tidak pernah luntur sama sekali meski bapak tidak bisa tegas membela ibu di hadapan keluarga bapak.

Aku menutup pembicaraan dengan kata terserah. Lantas meninggalkan mereka berdua dengan kondisi diri yang masih diselimuti serangsang amarah. Aku berdiam di kamar. Kamar kukunci. Aku tak ingin diganggu siapapun. Aku ingin memberikan ruang bagi diriku sendiri untuk bernapas dan menata (lagi) diri. Semalam-malam, aku duduk berdiam di depan laptop. Kujelajahi dunia informasi yang kuharap barangkali saja mampu memberikanku sudut pandang atau cahaya ilmu yang menerangi kegelapan akal pikiran, hati dan jiwaku. Sampai akhirnya, kumerilis sebuah puisi berjudul "Dimana Ingatanku Tentang Kita" dalam blog ini dengan berair mata.

*

Selasa, 18.05.21

Dini hari. Aku baru merasakan kelegaan setelah menangis. Lantas, lelah yang teramat sangat melelapkanku di pukul 03.00 pagi. Aku, terbangun dengan subuh yang kesiangan. Lantas, menjalankan sisa hari dengan menikmati kesendirian di kamar. Kulakukan kegiatan yang apapun yang bisa memperbaiki kesehatan mentalku. Termasuk merampungkan tulisan ini.

Hingga ashar, aku masih mendamaikan dan berseteru. Ya. Aku masih mendamaikan kemarahan diriku dengan kebijaksanaan hati. Aku berseteru, mengkonfrontir egoku dengan kesadaran berpikir untuk merekonstruksi pemikiran yang sehat dan menyehatkan.

Jelang pukul 5 sore, aku baru keluar kamar dan turun ke bawah untuk makan. Ibu menanyakan padaku apakah aku jadi memberikan kado untuk pernikahan T besok. 

Kukatakan, 

Kasih aja. Udah niat ngasih dari awal. Besok saya ikut ke sana. Ke sananya habis pulang kerja aja. Jaga-jaga, barangkali si R (suami si B) macem-macem sama bapak-ibu.

Bapak membalas,

Gak usah, biar bapak sama ibu aja. Besok juga paling cuma sebentar, setor muka aja. Gak lama-lama. Ketemu langsung pulang.

Lalu Ibu kembali mengulang penjelasan dengan maksud meluruskan hal yang bagiku sudah jelas dan terdengar menjengkelkan soal perkara kemarin dimana si B menelpon bapak untuk menyampaikan si C agar si C membatalkan kedatangannya ke pernikahan T dan bla bla bla. Arahnya ibu mungkin ingin berbicara lebih jauh yang menjelaskan sambungan cerita kelanjutannya atau mungkin menasehati tentang sesuatu hal yang sudah tidak penting lagi bagiku. Aku tengah kehilangan rasa peduliku pada adik-adik bapak. 

Langsung kutegaskan tanpa tedeng aling-aling,

Terserah. Mau mereka bertengkar sampe jungkir balik pun, sekarang TERSERAH. BODO AMAT. Yang penting, JANGAN SENTUH ORANG TUA SAYA. Urusannya dengan saya kalau nanti udah kelewat batas. Dan kalau antar mereka yang bermasalah, jangan lagi diselesaikan di rumah ini. Selesaikan di rumah yang bersangkutan. Mereka gak mikir tah kalau ada apa-apa sama orang tua saya. Emang mereka bakalan tulus peduli nanti dengan keluarga ini? Mereka gak mikir tah, kita malu dengan tetangga di sini saat mereka teriak-teriak? Sekali lagi, terserah mereka urusannya mau dibawa kemana. Urusannya pihak yang bertengkar. Bukan urusan kita. BODO AMAT. Terus juga saya mau dianggap ponakan yang kurang ajar atau ponakan yang jelek di mata mereka, BODO AMAAAAT. BO-D0-A-MAT. TITIK.

Kemudian, bapak mengatakan bahwa bapak mau memblokir semua nomor adik-adiknya. Ibu masih menggunakan kebijaksanannya dengan melarang bapak memblokir nomor adik-adiknya. Aku menajamkan arah ketegasanku. Aku berkata dengan sadar, sesadar-sadarnya,

Intinya JAGA JARAK. Mau main, ya mangga. Tapi jangan bawa-bawa masalah apapun ke rumah ini. Apalagi pertengkaran antar saudara kandung.

Ibu bapak tak lagi membahas. Aku menegaskan pada mereka, tentang apa yang menjadi pilihanku demi kesehatan jiwaku dan kedamaian diriku, Sulung Perempuan dalam keluarga ini dengan tugas kekeluargaan yang dipikulnya. Setting the boundaries untuk hal-hal yang sifatnya sudah menjadi toxic.

Setelah itu, aku merasa lebih ringan, merdeka. Perang egoku selesai. Aku telah menempatkan mereka si A, B, C, D dan segala yang terhubung dengannya di luar lingkaran kehidupan diriku. Aku berlepas diri dari mereka. Mereka tidak bisa mengikat, mempengaruhi dan mengontrol apa yang ada di dalam diriku. Aku adalah variabel kontrol-terikat atas dan terhadap diriku sendiri. Tuhan adalah kurator variabelku. Bukan mereka, yang berada di luar diriku.

Aku kembali menerima diriku. Aku menerima diriku yang tidak sanggup berkebijaksanaan seperti ke-Maha Bijaksana-an-Nya. Aku menerima diriku yang belum mampu menjadi manusia beradab dan konsisten menjaga lisan sepanjang masa. Aku menerima diriku dengan merangkul amarah-amarah yang hadir sebagai bagian dari perjalanan diri yang terus beproses dalam mengenali ego diri dan trigger-nya.


-Vinny Erika Putri, 18.05.21-

0 komentar:

Posting Komentar