Jumat, 14 Mei 2021

#8. Aku (bukan) Orang yang Sama dalam Satu Rentang Waktu

 


Beberapa hari lalu, lekat-lekat kupandangi diriku di depan cermin. Aku tersenyum. Bayangan di hadapanku ikut tersenyum.

Lantas kubertanya padanya, "Bagaimana diriku kini?"

Tak ada jawaban, hanya pancaran matanya yang membahagia.

Kemudian, di hari ini, aku duduk di depan laptop mengambil waktu entah sampai berapa lama untuk benar-benar ada membersamai diriku, lebih tepatnya batinku. Berkarib musik yang mengalun berseleras dengan diri, kuamati dan kurasakan seluruh bagian dari diriku: hela-embus napasku, ritme detak jantungku, persepsi pikiranku, perasaan hatiku dan pengalaman hidupku.

Hari ini, adalah Idul Fitri kedua. Rumahku senyap dari kedatangan sanak saudara yang sudah dihabiskan satu hari kemarin, ditambah lagi dengan dampak pandemi COVID-19 yang masih belum juga beranjak hingga tahun ini. Kebanyakan orang, memilih berdiam di rumahnya masing-masing.

Hari ini sunyi menghangat. Hawanya, seteduh matahari sore yang bersiap tenggelam.

Kemudian, dalam diam, kuulangi pertanyaan pada diriku beberapa waktu lalu. Bedanya, aku tak sedang berhadapan dengan bayanganku sendiri di depan cermin. Tapi, duduk dengan tenang, menelisik lebih jauh kedalam batinku.

Kubertanya pada diriku sendiri, mengajak batinku berdialog, dengan sedikit tambahan kalimat, "Bagaimana diriku kini? Apakah lebih baik dari masa-masa yang berkesudah?"

Dan mulailah dialog batinku dari pertanyaan di atas:
Aku (bukan) orang yang sama dalam satu rentang waktu. Kamu akan mendapatiku berubah-ubah dari masa ke masa. 
Berubah? 
Ya. Berubah oleh banyak hal, dari cara berpikir, merasakan pengalaman dan memandang kehidupan. 
Kalau begitu, kamu bukan orang yang berpendirian teguh dan tidak memiliki nilai diri yang valid-autentik? 
Tidak, bukan itu titik poinnya. Aku tetap diriku secara sifat bawaan dasar dan karakter yang aku percaya bahwa Tuhan menciptakan diriku demikian untuk maksud dan tujuan tertentu. Yang berubah adalah cara kerja, perluasan fungsi dan kematangan seperangkat alat yang Tuhan berikan padaku untuk menavigasi diri dalam memaknai kehidupan, bertumbuh menjadi dan sebagai manusia bersama kedinamisan hidup yang dunia suguhkan. 
Alat seperti apa yang kamu maksud?
Alat yang mirip dengan apa yang kamu katakan sebelumnya: akal pikiran untuk mempersepsikan suatu hal dan menghasilkan produk pemikiran tertentu, hati untuk merasakan dan memandang suatu hal yang tak tampak secara penglihatan mata inderawi, jiwa untuk menghayati keterhubunganku dengan diriku sendiri dan diri-Nya serta sebagai sensor batinku dalam merespon dunia luar yang bersentuhan dengan kedirianku.
Baiklah, kalau begitu apa yang kamu rasakan sekarang, hari ini, detik ini? 
Aku merasa lebih lega dan ringan dengan mengusahakan pikiran dan perasaanku hidup di hari ini, detik ini, yang para profesional di bidang psikologi menamainya "mindfulness". 
Benarkah selega dan seringan itu dirimu kini? Bukankah visimu selalu "melihat" dirimu dan dunia sekitarmu dalam cakrawala masa depan? Kamu selalu berbicara dan mengagungkan rencana-rencanamu di masa depan yang kamu rancang sedemikian apik tertata dan terkonsep. Kamu seringkali bermimpi dan berpikir tentang pencapaian cita-cita besarmu di masa depan yang menjadi roda energi untukmu tetap bisa berjalan dan menghidupi hidupmu. Sekarang, kamu membuang semua itu? Apakah kamu telah merasakan sedemikian dikecewakan oleh realita hidup yang hadirnya acapkali mengkhianati harapan atau ekspektasi-ekspektasimu? 
Aku tidak lari dari kekecewaan tersebut. Justru karena aku telah menerima keberadaan realita hidup dan menghargainya, aku bisa lebih menghayati persepsi pikiran, perasaan hati dan pengalaman diri "di sini dan saat ini". Itulah yang melegakan dan meringankan hatiku. Satu lagi, aku tidak membuang kekuatan/kelebihan yang Tuhan karuniakan padaku berupa ketajaman visi dalam "melihat" kebutuhan manusia dan bagaimana dunia bersinergi dengan jiwa manusia di masa depan. Aku menarik visiku untuk bisa lebih hidup dan menghidupi suatu realita waktu "di sini dan saat ini". Itu adalah caraku menyeimbangkan antara kekuatan imajinasi pikiran (soal cita-cita di masa depan), intuisi diri dan kesadaran realita waktu yang bisa kuhidupi; caraku menetralkan kecemasan yang ditimbulkan akibat intensitas pikiran yang terlampau sering berkelana ke masa depan; dan caraku memaafkan diriku sendiri atau orang-orang di sekitarku atas kesalahan-kesalahan yang terjadi di masa lalu. Penting untuk diingat, bahwa aku tak membunuh visiku sama sekali. Visiku tetap hidup membersamai waktu "di sini dan saat ini" menuju apa yang kurancang di masa depan. Visiku, terus menjadi saksi perjuangan sunyi yang kubangun bersama realita waktu "di sini dan saat ini".
Kuulangi pertanyaanku, "Bagaimana diriku kini? Apakah lebih baik dari masa-masa yang berkesudah?" Pertanyaan ini, apakah kamu bisa jawab dengan lebih jelas?
Lebih spesifik, hari ini, detik ini, aku menjawab tentang bagaimana diriku. 
Aku mensyukuri diriku. Aku tidak lagi bertanya, mengapa aku dilahirkan sebagai sulung yang memikul tugas berat dengan kondisi keluarga yang "spesial" dalam banyak hal; tidak lagi mencemaskan atau menangisi soal pasangan hidup yang belum kumiliki di usia yang sudah menjadi keumuman suatu keluarga kecil telah dibangun; tidak lagi bertanya apakah kelak pasangan hidupku bisa menerima dan memahami tugas kesulunganku yang menjadi tiang pondasi keluarga ini; tidak lagi mengharapkan apalagi menuntut perhatian dan pengertian dari sekelilingku; tidak lagi mengorbankan diri secara membabi buta dan sanggup berkata "tidak" dengan tegas pada sesuatu yang membahayakan atau mencederai bagian dari diriku (fisik maupun psikis). Aku, mencintai diriku sendiri lebih dari sebelumnya untuk bisa memahami suatu makna berjalan menuju-Nya, memanusiakan diri dan memanusiakan sesama makhluk. Aku membebaskan diri dari belenggu limitasi apapun yang mengerdilkan kekuasaan Tuhan. Aku bersandar pada ketakterbatasan kekuatan Tuhan dalam 99 sifat-Nya yang menjabarkan segala ke-Maha Digdaya-an-Nya.
Soal apakah aku lebih baik dari masa ke masa, aku tak tahu. Aku tak ingin memutlakan nilai diri pada standar-standar tertentu buatan manusia. Yang pasti, aku merasakan terus bertumbuh dan berkembang menjadi seseorang yang berbeda dari masa ke masa. Setiap masa-masa sulit atau buruk yang kerap membunuh kekuatan akal pikiran, hati dan jiwaku justru membuatku terlahir dan terlahir kembali dengan sisi diri yang baru. Transformasi kebijaksanaan hati, kesadaran jiwa, persepsi pikiran, mentalitas diri, pesat berkembang setelah "bangkit dari kematian" sehingga mempengaruhiku dalam memandang pengalaman hidup yang berkesudah (baik pengalaman milikku sendiri maupun milik orang lain) dan menjadi pijakan untuk diriku menjalani fase kehidupan selanjutnya. Karena itulah, aku bisa mengatakan, bahwa aku (bukan) orang yang sama dalam satu rentang waktu. Kamu akan mendapatiku berubah-ubah dari masa ke masa secara berpemikiran, berperasaan dan bertindak.

Berarti kamu tidak punya standar baik-buruk, gagal-berhasilnya suatu perkembangan diri dalam satu rentang waktu? Bagaimana kamu bisa tahu arah perkembanganmu baik atau buruk, gagal atau berhasil kalau kamu tidak berpegang pada standar-standar tersebut?
Hari ini, detik ini, aku menjawab tentang standar baik-buruk, gagal-berhasil dalam satu rentang waktu. Rentang waktu merdeka dari limitasi apapun, termasuk baik-buruk, berhasil-gagal atau dualitas apapun yang dianggap saling menyelisihi. Rentang waktu berjalan netral, selaras dan harmonis dengan alam semesta di bawah kehendak-Nya. Tak ada rentang waktu berstandar baik-buruk, gagal-berhasil, dan semacamnya jika diri memandang kehidupan dengan dua pegangan: 1) Tuhan memperjalankan kehidupan manusia dengan roda perputaran yang seimbang agar kenetralan alam semesta tetap terjaga pada porosnya, 2) Hidup adalah rangkaian pembelajaran untuk mengutuhkan diri. 
Konsep pertama, Tuhan memperjalankan kehidupan manusia dengan roda perputaran yang seimbang agar kenetralan alam semesta tetap terjaga pada porosnya. Konsep ini, kumaknai, bahwa Tuhan tetap memberikan hikmah, ilmu dan pertolongan-Nya (halus ataupun terang) dalam suatu peristiwa/kejadian yang dianggap dan dirasakan manusia sebagai keburukan. Hal-hal tersebut apabila mampu disadari dan dipahami dengan akal pikiran, hati dan jiwa yang jernih, sejatinya akan mengubah keadaan manusia kembali ke titik netral, merdeka dari asumsi keburukan apapun yang memenjarakan dirinya. Lainnya, Tuhan menyelipkan peringatan kepada manusia untuk tetap waspada ketika kebaikan-Nya tercurah berlimpah dalam berbagai bentuk yang dianggap dan dirasa menyenangkan (akal pikiran, hati, dan jiwa) agar manusia tetap memijak bumi, tidak berlebih-lebihan dan berdiri di titik netral dengan penuh kesadaran diri, sesadar-sadarnya. Jika manusia mampu menjaga kebersadaran dirinya, manusia akan sampai pada pemahaman bahwa dalam satu rentang waktu, standar baik-buruk, berhasil-gagal dan sejenisnya adalah dua entitas yang saling membersamai untuk menjaga keseimbangan hidup manusia.
Konsep kedua, hidup adalah pembelajaran untuk mengutuhkan diri. Ketika berpegang bahwa hidup adalah pembelajaran untuk mengutuhkan diri, suatu keburukan (misalkan: kesalahan, kegagalan) di masa lalu pun bisa menjelma harta berharga yang mampu mengubah individu menjadi diri terbaiknya, apapun versinya. Pengkotak-kotakan standar baik-buruk, gagal-berhasil dan sejenisnya adalah produk-produk pemikiran manusia yang masih buta dengan kemampuan manusiawinya untuk bertumbuh dan berkembang sebagai dan menjadi manusia paripurna yang diinginkan-Nya. Pengkotak-kotakan tersebutlah yang menyulitkan individu untuk menerima dirinya sendiri karena tertolak oleh standar-standar tertentu yang notabene produk pemikiran manusia, bukan Tuhan. Dan pada akhirnya, banyak individu yang memilih berhenti bersabar dalam menjalani proses pembelajaran diri yang (padahal) tidak mengenal kata "baik-buruk", "gagal-berhasil" kecuali manusia telah sampai pada ajalnya dimana standar-standar tersebut secara utuh-mutlak diputuskan oleh Sang Pencipta. 
Baiklah, aku paham sekarang. Lantas, apakah kamu akan berhenti menjawab ketika aku mengulang pertanyaan yang sama?  
Tidak, aku akan tetap menjawabnya. Karena ... aku (bukan) orang yang sama dalam satu rentang waktu. Mungkin saja, aku akan memberikan sudut pandang baru dan berbeda dari sebelumnya. Satu hal yang tidak berubah dariku adalah, seorang manusia pembelajar yang belajar dan mempelajari setiap denyut nadi kehidupan dimana dalam proses pembelajarannya kuupayakan berarah menuju-Nya. Dan, perjalanan spiritual menuju-Nya tidaklah sesederhana standar-standar apapun yang dibuat oleh manusia.

Baiklah diriku, kututup percakapan kali ini dengan hati riang gembira. Bahwa, aku (bukan) orang yang sama dalam satu rentang waktu. Dan satu-satunya yang tidak berubah dari diriku adalah ketetapan perjalanan spiritual diri menuju-Nya. 


-Vinny Erika Putri, 14.05.21-

0 komentar:

Posting Komentar