Ketika Masaku Tak Lagi Kanak-Kanak

Ketika Anak-Anak Menjelma Dewasa dan Ibu Semakin Menua

It Is Okay Not To Be Okay

It Is Okay Not To Be Okay Eventhough You Are A Mother

Pergi Untuk Kembali

Pergilah, Untuk Kembali Tumbuh Menjadi Dirimu

Dandelion

Kebertahanan Hidup, Kenyamanan dan Kedamaian

#1. Tentang Selalu Ada dan Berdiri untuk Diriku Sendiri

Mencintai, Hadir Menerima dan Keterhubungan dengan Diri Sendiri

#2. Tentang Selalu Ada dan Berdiri untuk Diriku Sendiri

Sebuah Muara Kesadaran Kemana Seharusnya Keterhubungan Diri Terhubung

Sabtu, 30 Juni 2018

Pergi Untuk Kembali


Ketika kaki-kaki manusia menginjakmu
Dan kau tetap berada di tempat yang sama
Tumbuhlah kembali sebanyak mereka menginjakmu

Ketika angin meniupmu dengan kencang 
Dan mencerabutmu dengan paksa dari tangkainya
Terbanglah dengan bahagia
Lalu bertumbuhlah di tempat yang baru

Pergilah, untuk kembali menjadi dirimu
Pergilah, untuk memberikan kehidupan di tanah yang baru
Pergilah, untuk kembali menatap matahari yang sama
Pergilah, untuk mengatakan pada dunia bahwa kau kembali

Pergilah untuk kembali!

-V.inny Erika Putri, 01.07.18

#2. Apakah Kau Merindukan Ayah?



Apakah kau merindukan ayah?
Bagaimana rasanya merindukan ayah?

Aku memilikinya
Darahnya mengalir dalam tubuhku
Tapi, jiwa ini terkadang merasa yatim

Aku kepala batu
Yang kadang membencinya dalam diam
Ketika terpaksa mengalah dan mengubur pilihan-pilihanku
Ketika dia menggunakan otoritas kepemimpinannya
Ketika dia selalu merasa paling benar

Aku kepala batu
Yang kadang membencinya dalam diam
Ketika dia melimpahkan amarahnya pada ibu
Bersebab kubantah dan kupatahkan kediktatorannya

Aku kepala batu
Yang tak suka mendengar suara kerasnya meledak-ledak di telingaku
Ketika terjadi pertengkaran antara ibu dan dirinya
Yang terpaksa melunak dan menurunkan egoku
Untuk memadamkan bara yang berkobar-kobar
Ketika melihat kerumitan tercipta di sana

Aku kepala batu
Yang kadang mengasihaninya dalam diam
Seiring tubuhnya yang tak lagi sekuat dulu
Seiring rambut putih di kepalanya kian membanyak
Seiring kulitnya yang kian kerut keriput

Aku kepala batu
Yang kadang mengasihaninya dalam diam
Ketika melihat luka yang dibawanya sedari kecil
Luka yang tak disadarinya menyisakan lubang di hatinya hingga ia menua

Aku kepala batu
Yang kadang berterima kasih padanya dalam diam
Ketika mengingat peras keringatnya menghidupi keluarga ini
Hingga membuat daging-daging dan otot-otot dalam tubuh ini terus tumbuh sehat

Aku kepala batu
Yang kadang mengasihinya
Ketika aku menyadari dia adalah bagian dari takdirku
Takdir bahwa dirinya ikut andil membuatku terlahir ke dunia ini
Takdir bahwa dirinya adalah lelaki yang kusebut ayah

Dia kepala batu
Yang berusaha memenuhi semua kebutuhan keluarganya
Karena orang tuanya tak banyak melakukan itu untuknya

Dia kepala batu
Yang merasa buah hatinya harus selalu dilindungi
Sehingga buah hatinya tak boleh berada terlalu jauh dari jangkauan matanya
Karena orang tuanya tak banyak melakukan itu untuknya

Dia kepala batu
Yang tak merasakan kasih sayang penuh kedua orang tuanya
Karena dia berulang-ulang menjadi kakak di setiap tahun kelahiran adik-adiknya sepanjang sembilan tahun
Sehingga nenek dan kakeknya menjelma perpanjangan tangan kasih sayang

Dia kepala batu
Yang bersandar pada kegigihan di tengah pergumulan sifat pemalunya
Ketika menghadapi lingkungan sosialnya
Ketika darahnya yang masih muda harus menghadapi dunia
Dan merasakan dirinya bukanlah siapa-siapa

Dia kepala batu
Yang memegang teguh kesetiaan pernikahan juga hatinya 
Karena ia mengingat suatu takdirnya yang pahit:
dia melihat ayahnya sebagai orang yang memberi ibunya luka pengkhianatan
Hingga penyakit membawa ibundanya kembali ke tanah
Meninggalkan dirinya di usia yang masih labil
Lalu, ia harus menelan takdir
Perempuan duri itu menjadi ibu tirinya yang baik hati

Aku
Dia
Kami berdua
Kepala batu

Yang kerap berseteru panas dan perang dingin lalu cair dengan sendirinya
Yang kadang menyimpan lukanya masing-masing ketika saling melukainya
Yang saling mengasihani dan mengasihi dalam diam
Pula saling melindungi dengan caranya masing-masing

Apakah kau merindukan ayah?
Bagaimana rasanya merindukan ayah?

Kami, dua kepala batu masih saja sering berselisih untuk bisa saling memahami. Bahkan, di usianya yang semakin menua.

Apakah kau merindukan ayah?
Bagaimana rasanya merindukan ayah?

-Vinny Erika Putri, 01.17.18

Apakah datangnya kerinduan itu harus menunggu salah satu dari kami kembali ke tanah terlebih dahulu?

Kalau memang begitu, maka, wahai Bumi, panggilah aku lebih dulu untuk berbaring di pelataranmu. Aku tak ingin menanggung kerinduan itu.

-V.E.P, 01.07.18-

Jumat, 29 Juni 2018

#2. Hai, Diriku, Dengarlah Suara-Suara Ini


Sisakan ruang hati untuk dilukai agar lebih mudah berdamai dengan luka. Hati yang hidup tak mungkin tak pernah mengalami luka setitik pun. -Yanti, Psikolog.

Malam ini, sebuah catatan lama mengingatkanmu akan seseorang. Ia wanita bemandikan kegetiran sekaligus ketangguhan.

Apa yang dilakukannya adalah mengobati jiwa orang-orang yang sakit, jiwa orang-orang yang terluka. Orang-orang menamainya psikolog.

Apa yang dilakukan Tuhan adalah mengujinya apakah ia bisa mengobati luka-luka pada dirinya sendiri seperti ia mengobati orang lain.

Tuhan memberikannya takdir:

Takdir pertama, anaknya terlahir dengan cahaya bintang berbeda dari cahaya pada umumnya. Tuhan menganugerahinya anak yang mengidap disleksia dan kelemahan otot-otot tangan.

Takdir kedua, sang suami menceraikannya. Lalu, takdir kedua membawanya pada takdir ketiga.

Takdir ketiga, ia menjadi seorang single mother. Ia membesarkan anak lelakinya seorang diri. Anak yang terlahir istimewa ia terima dengan segala warnanya. Kecerdasannya sekaligus kekurangannya. Kesedihan sekaligus kebahagiannya. Cemoohan bibir-bibir tetangga akan anaknya yang hanya larut dengan dunianya sendiri. Cibiran nyinyir orang-orang ketika anaknya berbeda dari keumuman anak-anak lainnya. Sanjungan orang-orang yang terasa bagaikan penjilat kala anaknya pada akhirnya menunjukkan prestasi di balik segala kekurangan. Ia melewati semuanya di fase itu.

Di takdir ketiga yang mengakumulasi takdir-takdir sebelumnya. Ia berhasil memenangkan masa-masa sulit itu. Pun memetik buah kesabarannya.

Hingga ia akhirnya memahami, makna pekerjaan dimana ia begitu hidup didalamnya. Tuhan benar-benar membentuknya menjadi psikolog sejati di takdir ketiganya. Sebab, ia tak hanya melihat rasa sakit dari berpasang-pasang hati yang berusaha ia sembuhkan. Ia juga melihat rasa sakitnya sendiri yang membuatnya menyadari satu hal bahwa untuk bisa menyembuhkan dan benar-benar memahami luka yang orang-orang rasakan, ia harus berdamai dengan lukanya sendiri. Tepatnya berdamai dengan diri sendiri.

Lalu, bagaimana dengan takdir milik wanita itu selanjutnya? Kau tak tahu. Kau tak lagi mendengar kabarnya. Tapi, kau mengingat nama panggilannya: Bu Yanti. Dimana pun beliau berada, kau berterima kasih padanya karena telah meninggalkan pembelajaran berharga bagimu.

Maka, malam ini, ingatlah suara-suara ini, suara dari dalam hatimu, wahai diriku:
Berdamailah dengan luka untuk berdamai dengan dirimu sendiri.
Ketika kau telah mampu berdamai dengan luka, saat kau mengingatnya, luka itu tak lagi terasa tajam. Kau akan menikmatinya itu bagian dari takdirmu. 
Ketika kau telah mampu berdamai dengan luka, kau akan kembali menemukan dirimu. Dan kau akan bisa melanjutkan hidupmu. 
Luka mengajarimu cara untuk sembuh.

-V.E.P, 29.06.18

#3. Kita



----------
People changed, life changed and world changed
But... the hope of me about our friendship it still the same
I hope... the time can't change it

----------

Nia...

Tahun 2018, dua tahun berlalu sejak pertemuan kita di hari pernikahanmu.

Waktu terus berjalan.
Diri kita berubah dengan bertambahnya usia.
Juga kehidupan kita.

Nia, dua tahun lalu, kamu seorang istri. Kini, kamu adalah seorang istri juga seorang ibu. Aku turut bahagia.

Abizard Pradipta Ahza Tsaqib.
Nazran Ghani Dzakiandra Ramadhan.

Dua jagoan kecilmu, yang melengkapi hidupmu sekarang. Nazran lahir kurang lebih setahun setelah Abizard lahir. Dan aku belum sekalipun menjenguknya. Aku memohon pada-Nya, suatu saat, aku bisa melihat dua jagoan kecilmu, memeluk dan membelai kepala mereka. Juga membisikkan kata, jadilah jagoan yang tangguh, lebih tangguh ibumu.

Nia, lepas pertemuan kita di pernikahanmu, bagaimana kamu menjalankan hidup sekarang, aku semakin jarang menanyai kabarmu. Kita jarang bertukar kabar. Kabar terakhir yang kutahu, kelahiran Nazran, membawamu pada keputusan untuk menyerahkan waktumu secara penuh sebagai ibu rumah tangga. Kamu melepaskan pekerjaanmu. Saat kamu mengabarkan itu, aku mengatakan setuju dan sependapat denganmu.

Nia, dunia yang kita jalani, arus kesibukan yang telah menjadi pilihan hidup dan tanggung jawab yang kita pikul masing-masing membuat kita kerap tak memiliki kesempatan untuk memanjang-manjangkan waktu untuk saling bertukar cerita. Bentang jarak kian menambah sulitnya pertemuan. 

Nia, dunia yang kita jalani telah berbeda. Kamu sekarang seorang istri sekaligus ibu. Terkadang, aku ingin menanyakan lebih sering tentang bagaimana hidup yang kamu hadapi di posisimu yang sekarang. Tapi, suara hatiku lebih banyak menahannya. Aku merasakan sebuah dinding pembatas yang mengingatkanku sejauh mana aku bisa melihat hidupmu. Aku tak berani melangkahi apa yang menjadi privasimu. 

Bagiku, selama kamu belum bercerita apapun padaku, artinya kamu lebih memilih menyimpannya sendiri. Kamu terus berusaha untuk tangguh dengan keadaan apapun. Itulah dirimu sedari dulu. Tidak berubah. Dan kamu salah seorang yang mengajari ketangguhan itu padaku.

Saat kita bertukar kabar, akulah yang bercerita. Daridulu memang selalu begitu. Akulah yang pertama memulai bercerita, baru kamu menimpali dengan cerita-cerita serupa tentangmu. Aku bercerita, saat kondisi hatiku di ujung kebingungan tentang seorang lelaki yang tengah melakukan pendekatan denganku. Aku bercerita tentang keluargaku ketika aku tak mampu lagi membendung pendaman amarahku pada bapak yang akhirnya pecah menjadi tangis. Aku mengatakan bahwa kamu seperti kompas bagiku.

Sampai, suatu ketika kamu yang lebih dahulu memberiku kabar duka. Nenekmu meninggal.

Kala itu, dari tempat yang jauh, aku ikut menangis diam-diam. Firasatku telah mendapatkan jawabannya seiring kabar kematian nenekmu. Firasat yang kurasakan adalah kesedihanmu di hari itu. Firasat yang baru kusadari dimulai saat kamu mengunggah foto keluargamu yang menemani nenekmu di rumah sakit. Puncaknya, saat aku melihat foto nenekmu yang tengah terbaring kritis di rumah sakit yang kamu unggah di status whatsapp, ada kesedihan yang menghinggapi hatiku. 

Keadaan nenekmu yang mirip dengan keadaan simbah putriku saat kritis menghempaskanku pada ingatan yang terasa selalu tanak hingga kini. Ingatan tentang kehilangan seseorang yang memiliki ikatan emosi mendalam denganku. Ingatan yang selalu membasahkan mataku saat kumengenangnya. Mataku basah saat aku berterima kasih pada-Nya karena telah memberikan kesempatan padaku ada di saat kondisi kritisnya, menemaninya dan menuntunnya dengan kalimat talqin hingga embus napas terakhirnya. Mataku basah saat aku merindukannya dan meminta-Nya menghadirkannya dalam mimpiku meski hanya sekali.

Apa yang kurasakan, kamu pun menyusul merasakannya. Apakah takdir 11-12 kita masih berlaku, Ni? Entahlah. Kita jarang bertukar kabar. Namun, terkadang, aku merasa kita terhubung oleh semacam firasat-firasat yang saling memperlihatkan kabar masing-masing dari kita. 

Saat aku mengabarimu tentang kecelakaan yang kualami yang menyisakan luka ringan di tangan kananku dan membutuhkan waktu seminggu untuk pemulihannya, katamu, kamu bermimpi mengunjungiku dengan membawa buah pisang. Meski aku tertawa dan bertanya padamu hubungan buah pisang itu dengan kecelakaanku, hatiku mengatakan, itu firasatmu tentangku. Saat aku merasakan kesedihan dan yang terlintas di benakku adalah kamu, lalu kutanyakan kabarmu, kudapati jawaban: Abizard dalam kondisi sakit. Saat perasaan antara bahagia dan kesedihan bercampur tak keruan di hatiku dan yang muncul di hati adalah pertanyaan kapan kehamilanmu jelang HPL, kudapati jawabannya di akun instagramku: foto anak keduamu yang baru lahir yang kamu unggah muncul di kabar berita. Juga firasat lainnya yang tak bisa kuutarakan dengan kata-kata dan kuceritakan di sini.

Firasat-firasat itu, atau apapun namanya, aku berterima kasih pada-Nya. Keberadaan firasat-firasat itu, bagiku, seperti bentuk lain dari jalinan komunikasi tak langsung yang kadang tidak kita sadari.

Dan ketika aku tak merasakannya untuk beberapa waktu yang lama, semoga artinya kamu bisa menaklukkan badai-badai kecil maupun besar dalam hidupmu dan menghadapi hidupmu dengan baik. 

------------------------------------------------

Ida...

Tahun 2018, dua tahun berlalu sejak pertemuan kita di hari pernikahan Nia. Komunikasiku denganmu terjalin lebih intens dibandingkan dengan Nia. Mungkin, sebabnya, dunia yang kita pijaki masih sama. Kita sama-sama masih menunggu satu pintu terbuka. Pintu yang sudah lebih dulu Nia buka.

"Kapan, ya, Vin, bahagia untuk kita akan datang?" tanyamu kala itu.

Pertanyaan yang kupahami maksud dari kata 'bahagia' dari kalimatmu.

"Indah pada waktu-Nya, Da," jawabku terdengar klise.

Ida, saat itu, kita terkadang memandang indah pintu menuju dunia baru yang kini tengah dijalani Nia. Tapi, terkadang lukamu dan lukaku mempertanyakan kembali takdir tentang siapa lelaki yang mengulurkan tangannya, menggenggam kita dan membawa kita pada pintu itu. 

Lukamu adalah dua kali menjalani hubungan dengan lelaki yang berujung pada kegagalan dan kembali menorehkan luka yang sama padamu. Kau sekarat tiga kali karena cinta. Sementara aku, memilih tak mengulang ketiga kalinya setelah luka terakhir di tujuh tahun lalu sempat meremas hatiku hingga remuk berkeping-keping.

Lukaku adalah masa laluku dan luka orang-orang di sekelilingku yang memantul ke dalam hatiku dan kadang menjelmakan diri menjadi pemikiran-pemikiran dan pertimbangan-pertimbangan. 

Aku melihat bagaimana potret kehidupan orang-orang yang awalnya menikah dengan bahagia lalu berujung pada pertengkaran yang lebih sering mewarnai hari-hari mereka bahkan hingga di masa tua dan tak sedikit juga yang berujung pada perceraian. Potret di mana bagian kehidupan yang kulihat itu juga menjadi lukamu, lukaku, luka seorang sahabatku yang lainnya. 

Lukamu dan luka seorang sahabatku yang kuanggap bagai adik sendiri adalah luka perceraian. Lukaku adalah ingatan tentang pertengkaran-pertengkaran yang kulihat dimasa kecil dan bagaimana diriku yang dengan gemetar berusaha jadi penengah kala pertengkaran hebat terjadi. Meski tak pernah terjadi kekerasan fisik semasa itu, tapi bising dan tajamnya lidah-lidah yang beradu kata bagai pedang yang menancapkan luka dan menyisakan lubang di sana. Lubang itu masih menganga sekalipun aku telah memahami bahwa saat itu mereka masihlah terlalu muda dan itulah bumbu rumah tangga. Pula lukaku adalah menyaksikan bagaimana ibu harus kerap kali mengalah untuk meredam keegoisan serta kekeras-kepalaan bapak yang kadang sungguh kekanakkan bahkan hingga di usianya yang nyaris menginjak kepala 6 di setiap permasalahan rumah tangga. 

Ibuku mengajariku ketabahan yang kadangkala aku membenci ketabahan itu sendiri dan menerjemahkannya sebagai bentuk penindasan ego lelaki terhadap perempuan. Ketabahan ibu yang kadangkala kubenci dan ingin membuatku lari walaupun kutahu yang dilakukan ibu adalah untuk menjaga biduk rumah tangganya agar tetap bisa berlayar. Ketabahan ibu yang kubenci sekaligus kutelan bahwa tidak ada rumah tangga sesempurna negeri dongeng.

Potret-potret itu memahamkanku bagaimana kehidupan perempuan juga laki-laki setelah menikah. Potret-potret itu memahamkanku bahwa pernikahan itu tidak hanya sekadar kebahagiaan. Pernikahan lebih pelik dari cecap rasa madu yang kebanyakan dibayangkan oleh para lajang. 

Saat pintu itu terbuka, dunia baru pun terbuka. Lalu, kita masuk untuk menempuh perjalanan yang baru pula. Semasa kita menempuh perjalanan itu, kita akan mendapati dalam badai kecil maupun besar bahwa cinta saja tidak cukup kokoh untuk menopang keberlangsungan pernikahan. Ketegaran dalam berjuang dan keyakinan memenangkan masa-masa sulit selama berada dalam pusaran badai-badai itu harus lebih besar dari cinta itu sendiri. Dan badai-badai itu adalah paketan yang Allah sediakan dalam sebuah biduk yang dinamai rumah tangga untuk menguji kesetian pernihakan sekaligus keimanan kita pada-Nya.

Itulah, Da. Yang ada di benakku. 

Kini, aku sudah jarang mempertanyakan kepada diri sendiri kapan waktunya tiba. Mungkin karena semua alasan dan pemikiranku yang kujelaskan sebelumnya. Mungkin karena aku sudah terlampau lelah dengan repetisi pertanyaan dan airmata yang sama. Mungkin juga karena ada kenangan tentang simbah putri didalam pertanyaan itu yang lebih menyakitkan dari luka-luka itu.

Setahun sebelum simbah putriku meninggal dan terkena stroke yang membuatnya hanya bisa duduk dan berbaring di tempat tidur, aku sekeluarga menjenguk beliau di waktu liburku. Diam-diam tanpa sepengetahuanku beliau menanyakan pada ibuku. Soal jodoh. Apa aku sudah mempunyai seseorang atau belum. Bahkan dari cerita saudara ibu, sempat terpikir oleh beliau akan menjodohkanku dengan sepupu yang masih terhitung saudara (meski tak sedarah) dalam silsilah keluarga. Aku tertawa sekaligus terenyuh. Beliau begitu memikirkanku dan ingin melihatku menikah. Doanya tak putus-putus untukku soal itu.

Lalu aku mengingat, jawaban yang kuberi saat berpamitan padanya di akhir kepulanganku, aku membelai rambutnya sembari berkata, "Mbah, yang sehat-sehat. Yang panjang umur. Biar bisa lihat siapa jodohnya, Puput (nama panggilanku di lingkungan keluarga)."

Kenyataannya, takdir tidak menginginkan itu terjadi. Kematian merenggutnya lebih dulu.

*

Ida...

Kita terkadang mengeluhkan hal yang sama. Penat. Jenuh. Dan terasa ingin mati dengan hidup yang kadang begitu memuakkan.

Tapi, diantara dua orang yang tengah berada dalam lautan kebosanan hidup, aku berusaha sekuat mungkin menarikmu untuk keluar bersama-sama dari lubang keputus-asaan. Aku mohon maaf bila terkadang nasehatku terkesan menggurui. Aku sendiri tidak lebih baik dari apa yang kadang kunasehatkan padamu. Terkadang, aku pun membutuhkan nasehatmu, seperti tanganmu yang juga pernah mengulurkan bantuan ketika aku pertama kali terluka.

Sejalan semakin matangnya usia kita, masing-masing dari kita jarang saling memperlihatkan air matanya. Kita telah pandai mencari pengalihan perasaan. Menenggelamkan diri dengan berbagai kesibukan. Menghibur diri dengan berbagai tontonan film atau kesenangan lainnya untuk melupakan sejenak peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita.

Terakhir kali, tangisan yang kudengar adalah ketika kamu mendapati kenyataan firasatku tentang laki-laki bernama B (sebut saja begitu) benar adanya. Kamu akhirnya menjadi orang yang paling terluka. Lelaki sampah itu menambah daftar panjang lukamu. Dan saat itu, aku berharap, hal seperti itu tidak lagi menimpamu. Jangan terjatuh di lubang yang sama. Bisakah? Meski aku paham, terkadang, perasaan perempuan lebih kuat daripada rasionalitasnya, cobalah berjuang dengan rasionalitas itu untuk tidak kembali terluka.

"Berpura-pura kuat sampai kamu kuat dengan sendirinya. Berpura-pura baik-baik saja, jangan menangis di depan lelaki brengsek itu," kataku padamu di saat itu.

"Iya. Aku ketawa-ketawa, padahal hatinya sakit. Kayak gini banget, ya, Vin rasanya. Aku ngeliat B dengan perempuan itu. Aku pengen pindah kerja," balasmu dengan sengguk.

Aku paham situasi sulit yang kamu hadapi saat itu. Dimasa-masa itu, kadang aku menyemangatimu dengan nasehat-nasehat yang mungkin tidak ingin kamu dengar. Kadang tak menasehati apapun saat merasakan kamu lebih butuh didengarkan. Kadang hanya diam saat tak tahu harus mengatakan apalagi. Hingga akhirnya, aku benar-benar diam. Bukan aku tak lagi peduli padamu, tapi aku rasa dan aku pikir, kamulah yang bisa menolong dirimu sendiri.

Dan sekarang, kamu sudah benar-benar bisa melewati masa sulit itu bukan? Kamu mendapatkan pekerjaan baru di tempat yang baru. Sesak yang kamu rasakan saat menatap mentari pagi karena kamu sadar akan kembali menjalani hari dengan rasa sakit berulang kini perlahan lenyap. Meski luka itu masih terasa, setidaknya, kamu tidak akan melihat laki-laki brengsek itu di hari-harimu. 

Ingat-ingat, ini, ya, Da:
Kamu tangguh. Kamu sudah bisa melewati itu. Kamu lebih tangguh dari apa yang kamu kira. Saat tak kuat lagi dengan apa yang harus kau hadapi, tetaplah berpura-pura kuat sampai kuat dengan sendirinya. Bangkit. Dan kembali melangkah. Karena kamu tidak tahu bila ada seberkas cahaya yang menunggumu di ujung lorong perjuanganmu bila kamu memilih berhenti menghadapinya.

Kalau aku terlupa dengan nasehat-nasehatku padamu, tolong kembali ingatkan aku dengan kata-kataku sendiri.
-------------------------------------------------

Sepanjang kurang lebih 15 tahun terakhir, kalian adalah sahabat yang tersimpan kuat dalam ingatan hidupku. 

Kalian... mungkin salah satu alasan keberadaan firasat yang mengingatkanku pada kalian.

Saat kesibukan telah lama membekukan perbincangan kita, firasat hadir untuk mencairkan kebekuan itu dan memintaku, meminta kita untuk tidak saling melupakan satu sama lain.


V.E.P, 06.29.2018