Ketika Masaku Tak Lagi Kanak-Kanak

Ketika Anak-Anak Menjelma Dewasa dan Ibu Semakin Menua

It Is Okay Not To Be Okay

It Is Okay Not To Be Okay Eventhough You Are A Mother

Pergi Untuk Kembali

Pergilah, Untuk Kembali Tumbuh Menjadi Dirimu

Dandelion

Kebertahanan Hidup, Kenyamanan dan Kedamaian

#1. Tentang Selalu Ada dan Berdiri untuk Diriku Sendiri

Mencintai, Hadir Menerima dan Keterhubungan dengan Diri Sendiri

#2. Tentang Selalu Ada dan Berdiri untuk Diriku Sendiri

Sebuah Muara Kesadaran Kemana Seharusnya Keterhubungan Diri Terhubung

Rabu, 06 Juni 2018

Aku Bukan Orang Baik



Gurat wajah yang kutampilkan begitu mahir berpura-pura

Haha hihi
Tertawa
Tersenyum
Mengangguk mengiyakan
Sementara hati terasa bersembilu
Ketika kepala mampu mencerna ke mana arah pembicaraan itu

Apakah aku tidak tahu cara berterima kasih?
Mungkin iya
Mungkin juga letak perkaranya pada seberapa dalam dua orang manusia lintas generasi saling mengenal hingga ke titik saling memahami

Aku.
Ya.
Aku.

Seseorang yang mudah berkenalan dan membuka komunikasi dengan orang baru
Seseorang yang mudah membentuk sebuah hubungan pertemanan
Seseorang yang banyak menadah cerita-cerita kehidupan orang lain di sekitarnya

Sekaligus
Seseorang yang sulit untuk menceritakan tentang kisah hidupnya
Seseorang yang sulit untuk membagi perasaannya kecuali pada orang terdekat
Seseorang yang sulit untuk memperlihatkan airmatanya pada sembarang orang ketimbang kemarahannya
Seseorang yang berjuang dengan waktu untuk bisa mempercayai orang lain soal perasaannya setelah beberapa kali pengkhianatan mencabik-cabik kepercayaan
Seseorang yang berkali-kali menelan pemahaman bahwa ketulusan tak selamanya berbalas dengan perasaan yang serupa
Seseorang yang sebisa mungkin lebih memilih mengandalkan diri sendiri agar tak lagi-lagi merasakan kecewa 
Seseorang yang begitu menghindari apa yang dinamai hutang budi
Seseorang yang lebih memilih lingkaran kecil ketimbang lingkaran besar untuk sebuah hubungan persahabatan yang mendalam lagi kuat terikat

Aku.
Ya.
Aku.

Apakah aku orang yang tidak tahu terima kasih?
Apakah aku orang yang tidak tahu cara menghargai orang?
Mungkin iya
Sebab, kita tak memiliki kelekatan ikatan emosi dan hubungan yang mendalam
Sehingga sudut pandangmu hanya bertemu di kulit terluarku

Aku.
Ya.
Aku.

Apakah aku orang yang mudah melupakan orang lain?
Mungkin iya
Sebab tidak pernah ada ikatan emosi yang terjalin
Sebab ia yang lebih dulu menghilang dari hidupku
Sebab tak ada kabar terdengar tentangnya
Sehingga ia hanya berada di lingkaran terluar dari ingatanku
Pula aku telah memahami
Orang-orang datang, singgah lalu pergi adalah hal biasa
Dan hanya segelintir yang ditakdirkan menetap dalam hidupku

Aku.
Ya.
Aku.

Salahkah ketika radarku mengeliminasi secara otomatis objek yang perlahan menjauh dari jangkauanku lalu melesap tanpa jejak setitik pun?

Atau ketika radarku tak mampu memahami objek yang muncul tiba-tiba lalu menghilang bersembunyi entah dimana?
Salahkah?

Aku.
Ya.
Aku.

Mengapa kata-kata selembut kapas terasa bagai beling ketika sampai di hati?

Bukankah kata-kata itu adalah oase hikmah yang disampaikan oleh seorang panutan banyak orang?

Atau mungkinkah hatiku sedang keruh dan sempit?

Aku.
Ya.
Aku.

Aku bukan orang baik

Aku tak tahu cara berterima kasih

Malam ini, setidaknya, begitulah yang kuterjemahkan dan kupahami dari makna kalimat itu

Aku.
Ya.
Aku.

Itulah salah satu pecahanku yang mungkin terlintas di benakmu

Aku.
Ya.
Aku.

Aku bukan orang baik

Aku manusia dengan segala aib dan kekurangannya

Tak apa, jika memang itu yang mungkin terlintas di benakmu

Aku.
Ya.
Aku.

Memang bukan orang baik.

Tak ingin merasa telah menjadi orang baik.
Atau bahkan merasa lebih baik dari orang lain.

Terima kasih, kuhaturkan untukmu.

-Vinny Erika Putri, 06.06.18

Kamis, 26 April 2018

Tentang Teman dan Seorang Gadis Penyendiri



Gadis itu kerap pergi mengunjungi kesunyian
Ia berdiam di sana lalu pergi sekehendak hatinya
Ada ragam rasa dan pemikiran yang ia sembunyikan di sana
Kali ini, ia mempertanyakan kembali, "Apa itu teman?"
Pertanyaan yang pernah ia lontarkan entah kapan waktu
Dan yang ke sekian kalinya

Ah, tapi sepertinya itu bukan pertanyaan
Lebih tepatnya, mengingat kembali makna teman

Gadis itu bukanlah seorang yang terisolir dari lingkungan sosialnya
Juga bukan orang yang tidak punya teman

Telah banyak rentang waktu yang ia lewati
Orang-orang yang dinamakan teman, datang dan pergi dalam hidupnya
Terkadang merupa repetisi yang sama
: mereka datang, mengatakan gadis itu cerdas, andal lalu mengandalkannya
Setelah itu, waktu akan membuktikan
Bagaimana wajah-wajah pertemanan itu
Dan landasan apa yang menopangnya
Kepentingan ataukah ketulusan

Waktu menyadarkannya akan satu hal
: ketulusan adalah seleksi alam terbaik
Tentang siapa yang akan menetap tinggal
Seiring tunainya segala kepentingan
Tentang siapa yang akan bertahan di sisi
Seiring jarak dan waktu tergelar

Waktu memahamkannya akan satu hal
Ketulusan terkadang menyisakan luka-luka
Ketika gadis itu berusaha menerima
Dan berdamai dengan dirinya
Bahwa ketulusan itu tak membutuhkan balasan

Waktu pulalah, yang mengajarkannya 
Cara mengenali wajah-wajah asli
Dari sekian banyak topeng orang-orang
Yang berada dalam aliran hidupnya
Dan akan berujung ke mana muara pertemanan itu
Apakah kepentingan atau ketulusan

Karena, untuk melindungi hatinya dari luka-luka
Ia kerap menyinggahi kesunyian
Sendirian
Bahkan, ketika ia berjuang untuk memenangkan masa-masa sulitnya

Di sini pulalah, ia menghadirkan batas
Sejauh mana pertemanan itu ia izinkan menyentuh hidupnya
Juga bagian mana yang harus dilindungi dari dirinya

-Vinny Erika Putri, 26.04.18

Minggu, 21 Januari 2018

Sunyi Yang Hangat



Apa yang menakutkan dari sunyi?
Yang menakutkan dari sunyi adalah bila aku tak menemukan Tuhan di sana.
Sunyi menjadi dingin, hilang kehangatan karena kasih sayang-Nya tak lagi menerangi.
Pada saat itu, air mata bukan lagi air mata syukur atau pengaduan ternikmat atas segala ketidak-berdayaan diri.
Tapi berubah menjadi sebuah ratapan pilu yang mengasihani diri sendiri hingga lupa menghargai diri sendiri.

Apa yang menakutkan dari sunyi?
Yang menakutkan dari sunyi adalah bila Tuhan tak merentangkan tangan-Nya di sana untuk merengkuhku.
Sunyi menjadi gelap muram karena kehilangan secercah cahaya Tuhan.
Pada saat itu, jiwa yang menjelajahi sunyi bukan lagi jiwa yang berusaha menadah tetes-tetes hikmah dari setiap catatan takdir yang telah digariskan.
Tapi menjelma menjadi sebuah rasa kesepian yang kian memerihkan hati.

Apa yang menakutkan dari sunyi?
Yang menakutkan dari sunyi adalah bila Tuhan memunggungi dan berpaling dariku dengan murka.
Sunyi tak bisa lagi menjadi tempatku bersembunyi menikmati jeda untuk menyeduh bulir-bulir ketenangan dari-Nya.
Saat itu terjadi, maka itulah kehancuran sempurna untuk hidupku.

Karena itu... agar sunyi tak terasa menakutkan, saat kutenggelam dalam sunyi, aku kerap menanam doa dan pinta: sebuah sunyi yang hangat dimana diri-Nya selalu menanti dengan cahaya kasih sayang-Nya.

-Vinny Erika Putri, 21.01.18

Kamis, 28 Desember 2017

#3. Untukmu Yang Masih Entah



Untukmu yang masih entah...

Surat ketiga untukmu
Bagaimana keadaanmu sekarang?
Sejauh mana impian-impianmu telah kau genggam?
Apakah langkahmu semakin dekat menujuku?

Aku masih di sini
Menunggumu
Kali ini, dengan kepala tegak
Dan harap yang tak lagi berdarah
Aku telah berpasrah pada waktu dan takdir yang ditetapkan-Nya untukku

Lalu, bagaimana denganku sekarang?
Aku sekarang?
Masih sama: merindukanmu
Impianku?
Jelang akhir tahun ini, aku membulatkan sebuah tekad
: melahirkan sebuah buku
Tentang anak-anak di mana dunia mereka menjadi salah satu kebahagiaanku
Tentang dunia saat-saat diriku larut bersama mereka

Tapi... mengapa rasanya sesulit ini?
Kerapkali aku merasa bagai pejuang yang kalah sebelum berperang atau mundur sebelum perang selesai
Aku melihat jauh di dalam sana, salah satu pecahanku terkungkung kekhawatiran
Kepercayaan diri yang biasanya melekat padaku seolah-olah mendebu
Yang bahkan debunya tak berani mendekati kungkungan itu 

Dalam kungkungan kekhawatiran, kudapati kegelisahan acap meletik-letik 
Hingga, kadang kegelisahan memaksa jeda yang terlalu lama untukku membekukan kata-kata
Mungkin, ada benarnya sebuah ungkapan: mengawali sesuatu membutuhkan keberanian besar, sementara menjaga keberanian dan tekad tetap menyala ketika kita telah berhasil memulai butuh keyakinan yang kuat.

Aku telah memulai
Tapi masih jatuh bangun membangun keyakinan untuk mempercayai diriku sendiri
Terkadang... disaat-saat seperti ini
Aku membutuhkan cermin yang mampu memperlihatkan pancaran sinarku lebih terang dari cerminku sendiri
Saat-saat seperti ini, memaksa rinduku pecah begitu saja
Rindu akan berakhirnya penantian ini
Hingga tak terasa pandangan mata ini mengabur
Ada hangat yang mengembun di sana 
Dan luruh tanpa bisa kukekang

-Vinny Erika Putri, 28.12.17