Ketika Masaku Tak Lagi Kanak-Kanak

Ketika Anak-Anak Menjelma Dewasa dan Ibu Semakin Menua

It Is Okay Not To Be Okay

It Is Okay Not To Be Okay Eventhough You Are A Mother

Pergi Untuk Kembali

Pergilah, Untuk Kembali Tumbuh Menjadi Dirimu

Dandelion

Kebertahanan Hidup, Kenyamanan dan Kedamaian

#1. Tentang Selalu Ada dan Berdiri untuk Diriku Sendiri

Mencintai, Hadir Menerima dan Keterhubungan dengan Diri Sendiri

#2. Tentang Selalu Ada dan Berdiri untuk Diriku Sendiri

Sebuah Muara Kesadaran Kemana Seharusnya Keterhubungan Diri Terhubung

Minggu, 27 Agustus 2017

Sebuah Rumah



Aku memimpikan sebuah rumah, yang ketika berada di sana, diri ini utuh terhubung dengan segala kealamian alam. Kealamian alam yang tak pernah membosankan untuk dinikmati dan diakrabi.

Aku memimpikan sebuah rumah, yang ketika kuterbangun, kesejukan udara dari hijau pegunungan atau perbukitan menjadi napas pertama yang kuhirup. Yang ketika kuberanjak keluar menyambut mentari pagi, kaki-kaki ini bisa merasakan lembutnya bulir-bulir embun. Yang ketika kumelangkah keluar depa demi depa darinya, kutemukan hijau persawahan terbentang luas sejauh mata memandang. Yang ketika kumemejam mata, kurasai debur aliran sungai jernih dan kicau burung terdengar serupa melodi. Melodi terbaik yang mengalahkan karya seni terbaik bentukan manusia.

Aku memimpikan sebuah rumah, yang ketika berada di sana, tak kutemui kebisingan atau hiruk-piruk metropolitan, tapi keheningan yang menjernihkan. Yang ketika berada di sana, tak kurasakan sesaknya tempat dengan gedung-gedung pongah yang saling berkompetisi menawarkan berbagai macam etalase gaya hidup untuk manusia-manusia urban. Atau sibuknya manusia-manusia dengan berbagai kepentingan dunianya hingga kehangatan tak lebih dari sekedar rutinitas senyum-sapa.

Aku memimpikan sebuah rumah, yang ketika aku tak berada di sana, aku tahu ke mana aku harus kembali. Yang ketika aku membutuhkan ruang untuk "menepi sejenak", tempat itu menjadi tempat yang pertama kali kuingat dan kuinginkan. Yang ketika aku tak berada di sana dan tengah menghadapi dunia dengan segala kepenatannya, aku tahu ke mana aku harus pulang.

Aku memimpikan sebuah rumah. Lalu kusadari, ternyata, aku tengah didera kerinduan yang amat sangat pada tanah lahir.

Semoga, beberapa puluh tahun ke depan, bahkan seterusnya, rupamu tetaplah sama: hijau alami nan menyejukkan. Usah menjelma gedung-gedung pongah yang saling bersaing menunjukkan kehebatannya.

-Vinny Erika Putri, 13.06.16

Satu Jam, Rasa Menepi Sejenak



Duduk, "menepi sejenak". Mengamati lalu-lalang orang-orang, merasai gerak halus semesta, menghubungkan diri secara utuh dengan keadaan sekitar dan tak berpikir apapun selain menikmati waktu bergulir begitu saja.

Duduk, "menepi sejenak", keluar dari "arena kehidupan" dalam sebuah lintasan waktu. Dan diam menyaksikan pergerakan hidup dari belakang layar. Bersama diri sendiri sebagai sahabat setia.

Duduk, "menepi sejenak", melepaskan apa yang terlalu diinginkan pikiran. Terbang dari sempitnya kotak-kotak pikiran ke lingkaran yang lebih luas dan meleburkan diri dengan keadaan sekitar.

Sesederhana itu. Untuk menemukan perspektif baru.

Sesederhana itu. Untuk tetap mensyukuri segalanya.

Sesederhana itu. Untuk memulihkan kekuatan diri hingga siap kembali ke "arena kehidupan" dalam sebuah lintasan waktu.

-Vinny Erika Putri, 27.05.2016

Selasa, 22 Agustus 2017

Harapan, Ruang Kosong dan Kesunyian


Harapan datang
Meyakinkanmu akan kebahagiaan sekaligus menyelipkan keraguan
Akankah berakhir di ujung yang sama?
Seberapa lama harapan ini bisa bertahan untuk tidak mati?

Harapan datang
Bersamaan dengan ruang kosong yang dibawanya
Ruang kosong dimana kau berpikir kembali tentang sebuah harapan itu sendiri
Ruang kosong dimana kau merasakan keraguan yang begitu menyesakkan dan memedihkan
Ruang kosong dimana kau bertanya-tanya tentang apa yang membuat harapan tetap hidup
Ruang kosong ketika kau bertanya pada dirimu sendiri: berhenti di sini atau tetap melangkah? Benarkah ini yang kuinginkan?
Ruang kosong yang akrab dengan cecap asin air mata sekaligus gema doa-doa
Ruang kosong tempat kau mengambil jeda, suri dari keramaian hidup dan membebaskan segala isi kepalamu juga perasaanmu

Hingga ketika kau berada di ruang kosong ini, kau menyadari sesuatu
Bahwa kau tidak bisa berlari dari kesunyian dan akan selalu membutuhkannya untuk menemukan makna.
Kesunyian adalah pecahanmu, bagian dari dirimu, tempat kau bertanya banyak hal, menyenandungkan luka-luka, kerapuhan sekaligus mengumpulkan keping-keping kekuatan untuk sembuh darinya
Dan dalam kesunyianlah, kau bisa merasakan harapan juga ruang kosong yang dibawanya untuk menyadarkanmu akan realita

-Vinny Erika Putri 22.08.17

Rabu, 19 Juli 2017

#2. Anak-anak?



Anak-anak?
Hai, apa kabarnya, kalian? Bagaimana 3 hari ini dengan suasana baru? Apakah guru-guru yang baru juga menyenangkan? Apakah kalian bertanya tentangku yang tak lagi terlihat di tempat kalian bermain? Ah, mungkin kalian menanyakan hal itu. Mungkin juga keheranan. Tapi... kurasa ini tidak akan lama. Karena seiring berjalannya waktu, kalian mampu beradaptasi dengan sendirinya melalui bimbingan orang-orang dewasa di sekitar kalian.

Anak-anak?
Ketika aku masih merindukan kalian, masih mengingat kalian... aku tidak tahu, apakah di kepala kalian masih menyimpan memori tentangku. Karena dunia kalian sangatlah unik. Kalian tidak akan berlarut-larut dalam kesedihan. Pertengkaran yang menimbulkan kemarahan mampu kalian lupakan begitu saja ketika telah mendapat penyelesaian. Dan tidak ada kehilangan secara mendalam selama dekapan hangat orang tua masih melindungi kalian.

Anak-anak?
Ketika bahkan aku meridukan kalian hingga detik ini dan merasakan ada rongga kosong di dadaku, kalian tetap anak-anak yang tak pernah hilang keceriaannya. Kalian tetaplah akan baik-baik saja karena dunia kalian tetaplah dunia anak-anak. Bukan dunia orang dewasa yang begitu dalam merekam kehilangan karena telah mengerti rasa dan makna kehilangan.

Anak-anak?
Meski kalian tidak terlahir dari rahimku, membersamai kalian adalah anugerah yang tak bisa kunilai dengan apapun. Dan karena itu, aku bersyukur kepada-Nya. Tapi, seberapa lama pun aku di sisi kalian, aku menyadari satu hal: kalian tidak terlahir dari rahimku. Hak asuh kalian bukan padaku. Darahku tidak mengalir dalam darah kalian. Pada akhirnya, kalian akan pergi dan menjadi potongan kenangan dalam kepalaku.

Anak-anak?
Aku pergi dengan langkah yang begitu berat. Aku tidak bisa lagi bertahan di atap yang sama bersama kalian karena beberapa hal. Beberapa hal yang merupakan urusan dunia orang dewasa. Urusan di mana tumbukan-tumbukan yang terjadi di dunia orang dewasa tidak sesederhana dunia kalian, dunia anak-anak.

Anak-anak?
Malam ini tak seperti malam kemarin. Saat mengingat kalian, kubiarkan bulir-bulir di mataku meluruh. 

Anak-anak?
Aku hanya perlu waktu, untuk terbiasa tanpa kalian. Aku hanya perlu waktu untuk membuka hati bagi anak-anak lainnya di tempat yang baru. Aku hanya perlu waktu, untuk mengingat kalian tanpa sebuah tangis ketika rindu ini mendera hati. Kita tidak bisa bertemu setiap hari di atap yang sama. Tapi, ketika kalian keluar, melihat langit yang memayungi bumi, kalian akan menemukanku. Karena aku akan selalu menatap langit yang sama dengan kalian. Kalian akan selalu mendapatkan tempat dalam duniaku.

VEP, Cirebon, 190717