Minggu, 27 Agustus 2017

Sebuah Rumah



Aku memimpikan sebuah rumah, yang ketika berada di sana, diri ini utuh terhubung dengan segala kealamian alam. Kealamian alam yang tak pernah membosankan untuk dinikmati dan diakrabi.

Aku memimpikan sebuah rumah, yang ketika kuterbangun, kesejukan udara dari hijau pegunungan atau perbukitan menjadi napas pertama yang kuhirup. Yang ketika kuberanjak keluar menyambut mentari pagi, kaki-kaki ini bisa merasakan lembutnya bulir-bulir embun. Yang ketika kumelangkah keluar depa demi depa darinya, kutemukan hijau persawahan terbentang luas sejauh mata memandang. Yang ketika kumemejam mata, kurasai debur aliran sungai jernih dan kicau burung terdengar serupa melodi. Melodi terbaik yang mengalahkan karya seni terbaik bentukan manusia.

Aku memimpikan sebuah rumah, yang ketika berada di sana, tak kutemui kebisingan atau hiruk-piruk metropolitan, tapi keheningan yang menjernihkan. Yang ketika berada di sana, tak kurasakan sesaknya tempat dengan gedung-gedung pongah yang saling berkompetisi menawarkan berbagai macam etalase gaya hidup untuk manusia-manusia urban. Atau sibuknya manusia-manusia dengan berbagai kepentingan dunianya hingga kehangatan tak lebih dari sekedar rutinitas senyum-sapa.

Aku memimpikan sebuah rumah, yang ketika aku tak berada di sana, aku tahu ke mana aku harus kembali. Yang ketika aku membutuhkan ruang untuk "menepi sejenak", tempat itu menjadi tempat yang pertama kali kuingat dan kuinginkan. Yang ketika aku tak berada di sana dan tengah menghadapi dunia dengan segala kepenatannya, aku tahu ke mana aku harus pulang.

Aku memimpikan sebuah rumah. Lalu kusadari, ternyata, aku tengah didera kerinduan yang amat sangat pada tanah lahir.

Semoga, beberapa puluh tahun ke depan, bahkan seterusnya, rupamu tetaplah sama: hijau alami nan menyejukkan. Usah menjelma gedung-gedung pongah yang saling bersaing menunjukkan kehebatannya.

-Vinny Erika Putri, 13.06.16

0 komentar:

Posting Komentar