Ketika Masaku Tak Lagi Kanak-Kanak

Ketika Anak-Anak Menjelma Dewasa dan Ibu Semakin Menua

It Is Okay Not To Be Okay

It Is Okay Not To Be Okay Eventhough You Are A Mother

Pergi Untuk Kembali

Pergilah, Untuk Kembali Tumbuh Menjadi Dirimu

Dandelion

Kebertahanan Hidup, Kenyamanan dan Kedamaian

#1. Tentang Selalu Ada dan Berdiri untuk Diriku Sendiri

Mencintai, Hadir Menerima dan Keterhubungan dengan Diri Sendiri

#2. Tentang Selalu Ada dan Berdiri untuk Diriku Sendiri

Sebuah Muara Kesadaran Kemana Seharusnya Keterhubungan Diri Terhubung

Senin, 23 Januari 2017

Arti Sebuah Tim Kerja



Apa itu tim kerja?
Pertama kali, yang terbayang dalam benakku adalah sekumpulan orang-orang yang bekerja untuk mencapai tujuan perusahaan. Dan aku harus bisa mengandalkan diriku sendiri dengan segala potensinya di permulaan mengenali medan pekerjaan. Sebab, tidak semua orang mau membimbing, mengarahkan dan mengajari bagaimana bekerja di dalam sistem suatu perusahaan. Pekerjaan bukanlah dunia kuliah. Tapi dunia aplikasi yang memaksa kita mengandalkan potensi diri sendiri. Itu saja yang terpikirkan olehku.

Lalu, apa itu arti sebuah tim kerja?
Satu tahun pun berlalu, anak-anak di PAUD sekaligus daycare tempatku bekerja mulai membanyak. Aku bersejajar dengan rekan kerja yang lain mendampingi anak-anak sesuai kelompok usianya. Tarik-ulur emosi, silang pendapat, tukar pikiran mulai intens terbuka antar rekan kerja. Kedekatan emosi antar personil pun mulai terjalin. Biasanya, secara psikologis, orang yang berkarakter mirip, memiliki magnet yang (secara natural) akan mendekatkan satu sama lain. Kemudian, aku mulai berpikir, tim kerja bukan sekadar bekerja untuk mencapai tujuan perusahaan. Tapi juga tempat kita berbagi pemikiran dan perasaan (bahkan terkadang keluh-kesah) tentang pekerjaan atas dasar rasa senasib sepenanggungan.

Selanjutnya, apa arti sebuah tim kerja untukku?
Dua tahun melangkah di jalan yang sama, banyak warna dan suasana yang terbangun. Lantas, aku mulai berpikir, tim kerja adalah keluarga kedua. Di mana kami sudah saling memahami kekurangan dan kekuatan masing-masing. Di mana kami mulai sering berkompromi untuk mencapai titik temu atau kesepakatan bila pendapat, tindakan, dan pemikiran setiap anggotanya tidak sealur. Di mana kami tidak merasakan jarak terbentang lebar dan tidak perlu lagi malu menutupi bagian dari kebiasaan-kebiasaan terburuk sekalipun. Adakalanya, kejengkelan-kejengkelan terjadi. Atau terjebak dalam kondisi-kondisi tertentu yang memancing kemarahan. Tapi dengan mudahnya kami tertawa-tawa kembali. Setiap merasakan tekanan dan tuntutan pekerjaan, kita sama-sama menggila demi menjaga kewarasan. Karena bila terlalu lama serius, akan terlihat tidak menyenangkan bagi anak-anak. Kita akan memberikan dunia yang muram bagi mereka bila itu terjadi.

Sekarang, apa arti sebuah tim kerja untukku?
Lalu, 3,5 tahun berlalu. Beberapa anggota tim potensial mulai pergi. Pekerjaan menekan kami lebih keras. Kritik tanpa solusi yang membangun semakin membanjir. Sistem seringkali lupa mengapresiasi, semakin memperbesar tuntutan dan mewajarkannya sebagai timbal balik dari gaji. Tanggung jawab yang bertumpu padaku semakin menggembung. Rumah terkadang kusulap menjadi kantor. Waktu untuk berkumpul dengan keluarga mulai kehilangan haknya. Segalanya mulai terasa tidak seimbang. Aku pun mulai merasa sama jenuhnya dengan mereka yang memilih pergi. Tapi, kucoba untuk tetap bertahan. Berharap segala bisa membaik.

Sedih, itu pasti. Meski beberapa anggota potensial pergi, kami masihlah keluarga yang tetap menjalin komunikasi dengan baik.

Aku limbung sesaat. Sebagai ujung tombak yang diamanahi untuk mengelola, butuh waktu untukku siuman dan menata kekuatan diri. Dengan tertatih-tatih aku tetap berjalan. Aku begitu merasakan, betapa tidak mudah mengikat tim baru dalam kekompakan. Seperti memulai dari nol. Begitu menguras tenaga, pikiran dan emosi.

Banyak kesalahan terjadi dalam situasi-kondisi yang serba baru. Selama proses adaptasi, idealisme yang sudah tertanam di sistem lembaga kerap kubenturkan dengan pemakluman-pemakluman yang menyesuaikan situasi-kondisi tersebut, terutama yang berkaitan dengan kebelum-pahaman anggota baru dengan sistem, pola dan cara kerja kami. Rasa keluarga kedua dalam bekerja sudah terpola dalam kepalaku. Kutahan kata-kata atas segala kesalahan terjadi sampai batas-batas tertentu. Kuberusaha memberikan contoh melalui tindakan terlebih dahulu sebagai cara pertama untuk mengingatkan dan memperbaiki kesalahan sekaligus bentuk aktif dari sebuah arahan.

Di waktu-waktu yang lain, kurangkul mereka. Kupendekkan jarak agar mereka tidak kaku memandangku seperti label yang tercantum dalam struktur organisasi lembaga. Terkadang, kuturunkan standarku setara dengan tingkat kedewasaan usia mereka. Aku berusaha masuk ke dalam dunia mereka untuk menyelami dan memahami bagaimana karakter mereka; apa kekuatan dan kelemahannya. Karena itulah yang nantinya akan membantuku untuk bisa mencapai tujuan-tujuan dari rencana-rencana yang telah dirancang lembaga.

Kuciptakan suasana "rumah" terlebih dahulu. Bukan kantor. Kuanggap mereka sebagai anggota keluarga baru sekaligus mitra. Pula melalui seni tarik-ulur memahami situasi-kondisi setiap personil, aku tahu kapan harus bersikap sebagai teman, mitra kerja atau pucuk komando dalam struktural organisasi. Itulah stimulus membangun kenyamanan kerja bagiku.

Tidak mudah. Sangat tidak mudah. Ada air mata yang secara sembunyi-sembunyi mewarnai prosesnya. Dan aku tidak mengatakan ini sudah berhasil. Tapi... aku mulai merasakan hasilnya sedikit demi sedikit. 

Sekarang, apa arti sebuah tim kerja untukku? Masih tetap keluarga kedua. Dan mungkin tetap begitu, sekalipun pada saatnya nanti aku juga akan memilih pergi dari atap yang menaungi kebersamaan kami...

Apa arti tim kerja?
Tim kerja bukanlah mesin, robot, sapi perah, alat keuntungan perusahaan atau sejenisnya. Karena yang seperti itu, cepat atau lambat suatu waktu akan menimbulkan pemberontakan. Bagai bom waktu yang siap meledak kapan saja. Memendekkan jarak antar anggota tim bukan berarti membiarkan diri kita dikontrol oleh orang lain atau menghilangkan ketegasan yang ada dalam diri. Tapi, setidaknya, secara alamiah dan halus, suasana kekeluargaan yang tercipta, akan mendorong masing-masing untuk berbuat maksimal sesuai dengan potensinya.

Selasa, 10 Januari 2017

#2. Memoar Bulan Ke-12



Bulan ke-12.
Kau menengok ke belakang, memundurkan ingatan. Kejadian demi kejadian berlintasan dengan membawa jejak rasa masing-masing.

Ingatanmu berpijak pada satu masa, saat kau kehilangan beberapa anggota terbaik timmu setelah bulan keenam kau menjalani tanggung jawabmu yang baru.

Meski sudah cukup lama kau mempersiapkan diri untuk keadaan ini... tetap saja, kepincangan begitu terasa. Langkah menjadi tidak seimbang. Rasanya seperti memulai kembali dari awal. Kacau-balau. Karut-marut. Tertatih-tatih, kau meyakinkan diri bahwa keadaan ini bisa kembali kau tundukkan dengan anggota tim yang tersisa.

Kerapkali kau katakan pada diri sendiri, “Kuatlah.” 
Atau kau menantang kepenatan itu dengan pertanyaan sekaligus jawaban, “Keadaan sulit? Aku lebih sulit lagi untuk menyerah.” 

Lalu, ingatan membawa pada saat-saat dimana mau tidak mau kau menjadi orang yang kerap diandalkan.

Entah berapa kali tampungan emosimu pecah. Katarsis yang kau peram meledak dan segala isinya berebut keluar dari tempatnya. Tangis. Amarah. Kekecewaan.

Ledakan tangis ketika pundakmu mulai terasa letih memikul dan kakimu terlampau kebas untuk melangkah; ketika kau rasakan keadaan kian memburuk dan sulit untukmu membuatnya sedikit lebih baik; ketika kau sadari begitu banyak kesalahan terjadi.

Ledakan amarah ketika kau membutuhkan uluran tangan tapi kau dapati dirimu bagai sebuah titik kecil di semesta yang terlampau luas; ketika banyak hal di luar dirimu yang bertentangan dengan isi kepala dan hatimu.

Kekecewaan ketika kau dapati ketidak-sesuaian antara tindakan dan perkataan orang-orang yang menjadi junjunganmu hingga rasa hormatmu meluntur. Kekecewan pada dirimu ketika kau lupa satu hal bahwa bergantung kepada orang lainlah yang kerap melahirkan kekecewaan itu sendiri.

Dan disaat yang bersamaan juga kau merasakan penerimaan diri, tekad untuk tetap berjuang, kekeras-kepalaan untuk tidak kalah dan menyerah pada keadaan.

Penerimaan diri ketika kau berusaha tidak kehilangan dirimu di titik-titik tersulit yang harus kau lalui; ketika kau mengakui kelemahan diri dengan ketidak-berdayaanmu dan menemukan ruang untuk berdialog dengan-Nya; ketika kau mulai memahami dan menerima apa yang tengah dirimu rasakan; ketika kau bisa kembali bersahabat dengan dirimu sendiri dan berdamai dengan keadaan.

Tekad untuk berjuang ketika kau telah bisa menertawai diri sendiri dan kembali menjadi orang yang keras kepala untuk tidak kalah dan menyerah pada keadaan. 

Dan ingatan menggiringmu disaat-saat kau belajar memahami apa itu “leadership”... hingga kini. 

Leadership mengajarimu berkata-kata lewat sikap dan tindakan. Bukan berkata-kata menegaskan di mana posisi dirimu berada. 

Leadership bukan banyak-banyak menggunakan dan mengarahkan telunjukmu pada orang lain. Ia merangkul semua lapisan dengan segala kerendahan hati. Ia menggandeng erat untuk maju bersama.

Dan kau merasakan masih belum layak di posisi itu. Sungguh, kau masih sangat-sangat jauh dari kata layak untuk itu dengan segala emosimu yang mudah sekali meledak. Bahkan, kau bersedia, untuk menyerahkannya pada yang berpembawaan tenang atau “bertangan dingin” bila memang perlu.

Selama ini, yang kau lakukan hanyalah berusaha menciptakan “suasana rumah” di tempat kau mendulang rupiah; dan menganggap orang-orang yang berada didalamnya lebih sering bagai adikmu sendiri, bagai anggota keluarga.

Kau tertawa terbahak-bahak bersama mereka; merangkul dan mengacak-ngacak kepala mereka saat dirimu begitu senangnya; dan terkadang berkelakuan “sedikit gila” di depan mereka ketika beban pekerjaan begitu menekan tanpa mengkhawatirkan sebuah “harga wibawa”.

Tapi, ketika suatu target telah kau tetapkan dan dibutukan kerjasama tim untuk mencapainya atau situasi mengharuskanmu memberikan arahan, bimbingan dan perintah... kau bisa menjadi begitu serius. Kau juga tak menampikkan kesalahan-kesalahan yang kau lakukan dan segala kekurangan yang kau miliki selama melewati banyak hal bersama mereka. Karena itu lebih melegakan bagimu.

Dan saat bersama mereka, kau menjalankan tanggung jawabmu tanpa sering menegaskan siapa mereka dan siapa dirimu; di mana posisimu dan di mana posisi mereka. Kau berusaha memberikan stimulus yang berbeda... dengan cara pandang yang berbeda pula. Karena itu lebih menyamankan bagimu.

Karena kau berpikir, “Apa yang akan dibawa setelah kau tak lagi tinggal seatap dengan mereka? Dan apa yang akan kau tinggalkan di sana? Bukankah struktural itu hanya label yang nantinya tergantikan? Bukankah yang langgeng terbawa adalah kenangan jalinan pertemanan yang kuat?” 

Bulan ke-12. 
Langkah kaki tidak berhenti sampai di sini. Dan kau hanya memiliki satu pilihan: terus melangkah ke tujuan-tujuan yang telah kau pancangkan.

Minggu, 04 September 2016

Anak Perempuan Penjual Kerupuk



Seorang anak perempuan dengan jinjingan plastik hitam besar di tangannya, lewat di depanku. Wajah anak itu tak asing lagi bagiku. Beberapa kali menikmati semangkuk bakso di kantin dekat masjid, ia sempat singgah ke mejaku untuk menawarkan kerupuk yang dalam plastik hitam besar itu. Begitu pun yang terjadi kali ini. Di suapan kedua kala kumenikmati bakso, ia datang menghampiriku. Ia menjual kerupuknya dan aku membelinya seperti yang sudah-sudah. Setelah aku membelinya, ia lanjut berkeliling dari meja ke meja lantas pergi entah kemana.

Lama melenyap dari pandanganku, kembali kulihat ia berdiri mematung tak jauh dari mejaku.

“Sini, duduk, De,” kataku.

Anak itu berjalan mendekati mejaku dengan senyum malu-malu. Ia letakkan plastik berisi kerupuk yang dijinjingnya lalu duduk di hadapanku. Di pertemuan sebelumnya, sepintas aku pernah berbicara dengannya. Informasi yang masih kuingat dari pertemuan kami sebelumnya hanya dua. Pertama dia masih SD. Entah kelas berapa. Aku tidak bertanya padanya saat itu. Kedua, dia berjualan kerupuk setelah pulang sekolah. Namanya? Aku lupa.

Setelah kami saling memberitahukan nama masing-masing, aku baru ingat kalau ia pernah menyebutkan namanya di pertemuan sebelumnya. Aku mudah lupa dengan nama. Lebih gampang merekam wajah dalam jangka waktu lama daripada mengingat sebuah nama. Apalagi bila seseorang itu sudah lama tidak berinteraksi denganku. Kecuali nama orang-orang terdekat dan orang-orang yang menorehkan dua momen berharga dalam hidupku. Momen membahagiakan dan menyedihkan. Nama-nama di dua momen itu, terpatri dalam ingatan.

“Nur, ibunya mana?”

“Lagi jagain adik, Kak.”

“Berarti Nur ke sini sendiri?”

“Sama ibu. Tapi, ibunya lagi di masjid. Ngajar ngaji.”

“Ngajar ngaji sambil jagain adik?”

Nur mengangguk. Ada magnet yang membuatku tertarik untuk bercakap-cakap dengannya. Semacam rasa simpati dan empati. Dan secara sosial-emosi, bisa kurasakan, ia lebih matang dari anak-anak seusianya. Inilah yang mendorongku untuk mengulik lebih jauh kehidupan anak perempuan kelas 2 SD ini. 

“Eh, pelajaran apa yang Nur suka? Di sekolah teman-temannya gimana? Baik-baik gak?”

“Nur suka sama pelajaran Pendidikan Agama Islam, Kak. Teman-temannya ya ada yang baik dan ada yang gak,” katanya.

Aku hanya bertanya sedikit, ia menjawab dengan begitu banyak cerita. Cerita dimulai dari teman sekelas yang menurutnya “paling bandel”. Namanya (sebut saja) Emon. Kata Nur, Emon pernah menukar buku PR miliknya dengan buku PR milik (sebut saja) Jensen. Alasannya, karena Emon belum mengerjakan PR. Saat Emon menukar buku PR itu, Jensen sedang tidak berada di kelas.

WOW?! Apakah itu efek dari bombardir media elektronik yang menampilkan tayangan-tayangan kurang mendidik bagi anak-anak? Terutama anak-anak yang ketika menontonnya tidak ada arahan dan pendampingan dari orang tua. Kalau iya, selamat! Saya tidak heran. Tapi, prihatin.

“Terus, dia suka nyontek kalau ulangan. Bukunya, tuh, diumpetin di bawah kertas ulangannya. Nur, sih, gak mau kayak gitu. Curang namanya,” tambah Nur.

Dulu, semasa SD, ibu tidak memarahiku bila aku mendapat nilai ulangan jelek. Nilai ulangan jelek bukan masalah selama hasil usaha sendiri dengan tetap menjunjung tinggi prinsip kejujuran. Ibu mengajarkan, nilai jelek artinya, aku harus berusaha lebih gigih dan giat lagi untuk mendapat nilai yang lebih baik tanpa harus mencoreng prinsip kejujuran. Ibuku justru akan lebih marah bila aku mengganti nilai asli yang diberi guru di kertas ulangan atau buku PR-ku.

“Iya, bener, Nur. Gak apa-apa nilai ulangan jelek yang penting jujur hasil sendiri. Lebih baik lagi kalau nilai ulangannya bagus tapi tetap jujur. Bukan dari hasil menyontek,” tanggapku.

Ada dua perasaan yang bercokol di hatiku. Miris sekaligus tersentuh. Miris karena, kecurangan sudah tertanam di usia sedini itu. Tersentuh, karena masih ada anak-anak yang memegang prinsip kejujuran. 

“Ketahuan gak sama bu guru?”

“Ketahuan.”

“Terus, akhirnya gimana?”

“Emonnya dimarahi.”

“Dijewer juga gak?” tanyaku lagi.

“Iya,” jawab Nur.

Deg! Ada yang berteriak tidak setuju di dalam hatiku ketika mengetahui hukuman apa yang diberikan guru kepada Emon. Cerita pun berlanjut. Masih tentang Emon. Dari yang diceritakan oleh Nur, aku mendapat gambaran soal Emon.

Emon dididik dengan kekerasan secara fisik dan verbal. Nur mendapatkan cerita dari ayahnya yang berteman dengan ayah Emon. Ayah Emon tak segan-segan menendang Emon. Dan mulutnya mendadak menjadi kebun binatang. Segala binatang tercurah keluar untuk Emon saat emosinya meledak. Pernah Ayah Nur menasehati Ayah Emon agar tidak seperti itu. Tapi hanya dianggap angin lalu olehnya.

“Ibunya Emon kerja apa?”

“Nelembuk. Kawin-cerai. Anaknya banyak. Bapaknya gak tahu siapa aja,” kata Nur dengan polosnya.

Sampai di bagian ini, mirisku bertambah-tambah. Maksud “nelembuk” di sini adalah melacur. Aku bisa membayangkan di lingkungan bagaimana Emon bertumbuh. Keluarga yang seharusnya menjadi madrasah pembelajaran, pelindung, benteng pertahanan pertama dan utama, malah menciptakan situasi-kondisi pelik yang memberi pengaruh buruk bagi anak.

Aku tidak bisa menghakimi bahwa orang tua Emon adalah orang tua yang tidak benar. Karena segala akibat pasti ada sebabnya. Orang tua Emon sendiri adalah produk pola asuh dan pola didik dari orang tua terdahulu. Bisa dibilang, orang tua Emon adalah korban sekaligus pelaku.

Mereka korban dari kesalahan pola asuh dan pola didik di zaman orang tua terdahulu. Pula pelaku dari kekerasan fisik dan verbal terhadap anak mereka sendiri ketika mereka menjadi orang tua di zamannya. Korban sekaligus pelaku tak ubahnya seperti warisan yang ditemurunkan dan terus berputar bagai siklus lingkaran setan. Dan akan terus begitu bila tidak ada yang berani memutusnya.

Tak terasa bakso di mangkokku sudah tandas. Kulirik bungkusan plastik yang kubawa. Aku sempat membeli seblak sebelum ke kantin Masjid. Tadinya, mau kumakan di rumah. Tapi, melihat anak perempuan yang ada di hadapanku, alih-alih memperpanjang percakapan kami, mendadak aku ingin berbagi makanan ini bersamanya.

“Nur, kamu suka seblak, gak?”

“Suka sih. Tapi yang kering.”

“Ini seblak kering, gak berkuah. Mau?”

“Gak ah, Mbak.”

“Kenapa?”

“Malu.”

“Gak apa-apa. Atau gini aja, deh. Kalau kamu malu, kita makannya bareng-bareng,” bujukku.

Akhirnya, ia mau makan seblak yang kutawarkan.

“Eh, tapi agak pedes seblaknya, gak apa-apa? Nur suka pedes gak?” tanyaku ketika teringat seblak yang kupesan pedas.

“Suka,” jawabnya.

Baru beberapa suap, aku melihat keringat di hidungnya dan suara desah kecil kepedasan.

“Sebentar, kakak ambilkan minum.”

Kubuka lemari pendingin yang berada tak jauh di belakangku. Kuambil sebotol minuman teh dan memberikannya kepada Nur.

“Makasih, Kak.”

Cerita pun kembali bergulir. Kali ini tentang kisahnya sendiri. Katanya, ia pernah dimintai uang oleh temannya terus-menerus. Awalnya, Nur memberikan sebesar Rp. 3.000. Nur masih menyisakan uang untuk dirinya sendiri sebesar Rp. 2.000 dari total uang sakunya yang sebesar Rp. 5.000. Dari apa yang Nur lakukan, aku menemukan kecerdasan strategi seorang anak dalam menghadapi masalah ‘pemalakan’.

“Temannya sampai ngancam kamu, gak, Nur?”

“Gak, sih, Kak.”

“Kalau sampai dia main pukul, lapor aja ke bapak atau ibu guru,” saranku.

“Saya juga udah bilang ke anaknya.”

“Bilangnya gimana?”

“Jangan mintain uang saya terus. Kamu, tuh, udah dikasih uang sama bapak kamu 7.000, sama nenek kamu juga 5.000, masih minta aja minta,” kata Nur pada temannya pada waktu ia dipalak.

Lagi, intuisiku terbukti. Salah satu kematangan emosi pada dirinya tampak. Ia berani menolak saat kelakuan temannya sudah tidak bisa ditolerir atau sudah merujuk pada penindasan. Ia mencoba jalur diplomasi ala anak SD. Ia menolak dengan kata-kata yang lebih mirip mengingatkan temannya itu akan konsep bersyukur akan uang yang dimilikinya.

“Tapi, akhirnya kamu lapor ke bapak atau ibu guru?” tanyaku masih penasaran.

“Lapor. Sampai akhirnya orang tuanya dipanggil ke kantor. Baru dianya berhenti minta uang.”

“Orang tuanya dibilangin apa sama gurunya?”

“Katanya, kalau masih minta-minta uang, orang tuanya disuruh bayar kaos olahraga. Kaos olahraganya gak jadi dikasih gratis.”

Lalu dia bercerita tentang jadwal olahraga kelasnya. Sementara, pikiranku masih mencerna cara penyelesaian yang dilakukan oleh sang guru. Terngiang-ngiang kalimat KALAU MASIH MINTA-MINTA UANG, KAOS OLAHRAGANYA GAK JADI DIKASIH GRATIS. 

Hatiku berbicara, otakku berpikir, tidak bisakah mencari alternatif-alternatif solusi lain yang mengedepankan komunikasi efektif dan tepat sasaran tanpa ancaman serta lebih memanusiakan manusia? Tidak bisakah mencoba bersinergi dengan orang tua untuk menemukan akar masalah sebenarnya? Bukankah solusi seperti itu hanya akan menyelesaikan masalah dengan melahirkan masalah baru? Dari sudut pandang yang kutangkap, akar masalahnya bukan pada pelanggaran finansial orang tua. Tapi lebih kepada masalah psikis anak yang butuh pertolongan dan penanganan secara tepat.

Lamunanku buyar. Seorang ibu separuh baya yang sehat walafiat datang dengan meminta-minta. Aku sudah menangkupkan tangan sebagai permintaan maaf tidak bisa memberi. Tapi, ia begitu ngotot tetap berdiri di situ. Akhirnya, aku keluarkan sedikit uang untuknya.

Setelah pengemis itu pergi, cerita Nur pun beralih topik tentang pengemis di sini. Ia mengenal wanita paruh baya itu. Wanita itu kerap berkeliaran di sini. Bahkan sempat merasa iri dengan Nur.

“Iya, Kak. Dia bilang, katanya saya sih enak. Ada yang ngasih 50.000. Pernah juga ada yang ngasih 100.000. Kalau ke dia, paling, orang ngasihnya 500.”

Aku tak heran bila ada orang yang memberi Nur uang lebih banyak dari harga jual kerupuknya. Dua alasan yang kupikir sama seperti yang kurasakan ketika melihat Nur menawarkan kerupuknya. Simpati dan empati untuk seorang anak perempuan yang bekerja keras di usia dini.

“Saya bilang aja sama dia, ‘kan saya jualan, bukan minta-minta’,” kata Nur.

“Iya. Itu orangnya sehat tapi ngemis. Lebih baik jualan kayak Nur daripada ngemis-ngemis. Pantang untuk ngemis-ngemis sama orang dalam hidup, Nur,” ujarku sedikit memanasinya.

“Iya. Saya juga gak suka, Kak. Yang tambah bikin gak suka, mereka suka bawa anak.”

Matanya lalu mengedarkan pandang ke sekeliling. Entah apa yang dicarinya.

“Anaknya seumur itu, tuh, Kak,” tandasnya sembari menunjuk seorang anak kecil tak jauh dari tempat kami duduk. Aku perkirakan anak itu berusia sekitar 4 tahunan.

“Masa anaknya ngemis gak tahu sampai ke mana, tapi, ibunya cuma ongkang-ongkang. Duduk-duduk. Saya marahin aja.”

“Marahin gimana?” pancingku.

“Ya saya bilangin, ‘eh, itu anaknya ngemis, ibunya malah duduk-duduk’.”

“Kadang-kadang, anak yang mereka bawa juga itu bisa jadi sewaan, loh,” aku menambahkan.

“Iya. Malah ada yang usianya lebih kecil dari anak yang tadi, Kak.”

“Memang, segimana usianya?”

“Ya masih ngerondang. Masih ngerangkak. Kalau ada orang lewat, tangannya diajarin kayak orang minta-minta gitu,” ujar Nur sembari memperagakan dengan gerakan tangan meminta, “ya orang yang ngelihat gimana ya. Pasti ngasihnya karena kasihan. Anaknya pernah ngerangkak sampai hampir ketabrak mobil juga,” lanjutnya.

“Astaghfirullah, jahat sekali mereka,” geramku.

“Iya, Kak.”

Kuperhatikan sedari tadi makan seblak bersamanya, ia sama sekali tak menyentuh sosis, bakso, makroni atau kerupuk basah yang ada dalam campuran seblak.

“Kamu gak suka makroni sama kerupuk basahnya? Atau baksonya gitu?”

“Gak, Kak. Kalau makan kerupuk basahnya bikin perut enek.”

“Sukanya kubis sama telur ya?”

“Iya.”

“Eh, ngomong-ngomong, itu kerupuk yang Nur jual itu hasil bikinan sendiri?”

“Bukan. Itu punya orang lain. Saya bantu jual. Uangnya kadang buat beliin adik bakso. Bakso kering 3.000. Adik saya suka bakso kering.”

Ah, anak ini. Aku begitu terenyuh dan merasa kecil di hadapannya. Disamping karena kemandiriannya, Nur mungkin sudah banyak melihat fenomena memprihatinkan secara langsung dan nyata di depannya. Tak heran bila pola pikirnya lebih matang dan dewasa dibanding anak seusianya.

“Aku juga pernah diajak naik ke mobil orang yang gak aku kenal, Kak.”

“Kamu pernah mau diajak ngemis juga?” tanyaku sedikit terkejut.

“Gak tau mau diajak ke mana. Sayanya nolak. Takut nanti dijual organ tubuhnya.”

Lagi-lagi, aku menemukan sisi kematangan sosial-emosi pada dirinya. Ia peka terhadap perkembangan berita sosial-kriminal. Juga sikap waspada yang sudah tertanam pada dirinya. Orang tuanya mungkin sudah memberikan bekal pengetahuan yang cukup untuk ia menjaga dirinya dari orang asing yang mencurigakan. Aku sungguh penasaran, bagaimana pola asuh dan pola didik yang diterapkan orang tua Nur.

“Cara ngajaknya gimana?”

“Tangan saya ditarik. Dipaksa ikut.”

“Terus, gimana caranya kamu bisa lolos?”

Nur memperagakan cara ia menolak orang yang memaksanya ikut ke dalam mobil. Ia mengibas-ngibaskan tangannya kuat-kuat. Dan berulang kali berteriak mengatakan tidak mau.

“Alhamdulillahnya ada satpam yang datang waktu itu. Gara-gara ada satpam juga, akhirnya ketahuan kalo mobil mereka itu mobil curian.”

“Terus, akhirnya gimana?”

“Akhirnya diserahin ke polisi.”

Tanpa terasa, seblak di hadapan kami sudah habis. Selang beberapa menit setelah seblak habis, ia mengakhiri cerita dan berpamitan.

“Kak, aku mau keliling lagi, ya. Makasih minuman sama seblaknya.”

“Oke. Kapan-kapan kita bisa cerita bareng lagi di sini.”

“Pamit ya, Kak.”

“Ya.”

Aku pun pergi ke kasir. Sebelum aku menuju parkiran motor, lingkar mataku masih mencari sosok Nur. Tampak ia tengah menjual kerupuknya kepada orang yang berada di sebelah meja tempat kami berbincang tadi. Aku mendekatinya untuk berpamitan.

“Nur, Kakak pulang, ya.”

“Iya, Kak. Makasih.”

“Sama-sama.”

Ada sebuah pembelajaran yang kubawa siang tadi. Aku pulang dengan perasaan yang... ah, katakanlah campur-campur. Melalui media elektronik, aku sudah sering mendengar realita-realita yang diceritakan Nur. Pula aku kerap membaca realita-realita seperti itu dalam buku-buku atau media cetak. Tapi, berinteraksi langsung dengan orang yang mengalaminya, rasanya jauh lebih menyentuh daripada mengetahuinya lewat media-media tersebut. Nur adalah anak yang sudah mengakrabi fenomena tersebut dalam kesehariannya.

Pulang meninggalkan masjid yang berdiri megah di alun-alun kota, sebuah pertanyaan besar mengusikku, kontribusi apa saja yang bisa kulakukan untuk menjadi bagian dari gerakan perubahan sesuai dengan kapasitas dan kemampuanku?

Teringat sebuah petikan puisi karya Chairil Anwar
KAMI SUDAH COBA APA YANG KAMI BISA/ TAPI KERJA BELUM SELESAI/ BERJAGALAH TERUS DI GARIS BATAS PERNYATAAN DAN IMPIAN/
Jadi, kamu mengeluhkan apa kali ini?

-Vinny Erika Putri, Cirebon, 28-08-16, penjelajahan “menepi sejenak”

Sabtu, 09 Juli 2016

Hari Tua Ibu, Simbah dan Rumah Sakit


Sekitar sebulan setelah aku menuliskan catatan hati berjudul "Tentang Hari Tua dan Bulir Air Mata Yang Jatuh", kondisi simbah putri semakin drop. Simbah putri divonis terkena gejala stroke dan harus dirawat di rumah sakit.

Mendengar kabar itu, aku sekeluarga langsung meluncur ke sana. Dan hal yang patut aku syukuri ketika aku mendapatkan kabar itu adalah, tiga hari ke depan, tanggal memerah. Bertepatan dengan hari libur nasional. Betapa Allah memberiku kemudahan dalam hal ini. 

Tatkala dalam perjalanan menuju ke sana, aku dan ibu mengatakan kepada bapak bahwa akan menginap di rumah sakit menemani simbah di sana. Kami sekeluarga tiba di Wonosobo sekitar ba'da ashar.

Aku sempat bingung. Melihat kondisi bapak yang lelah dan tidak adanya respon dari beliau untuk langsung pergi ke rumah sakit, aku tidak tahu apakah aku bisa langsung menginap di rumah sakit malam itu. Ibu yang paham akan kondisi dan respon bapak pun akhirnya membatalkan menginap di rumah sakit malam itu. Kata ibu, ibu akan menginap di rumah sakit besok malam.

Alhamdulillah, ba'da magrib tanteku mengatakan akan menginap di rumah sakit. Tanpa berpikir lagi, aku mengatakan padanya bahwa aku ingin ikut. Dan tanteku mengiyakan. 

Kupinjam jaket tanteku. Tanpa membawa pakaian ganti dan hanya membawa sedikit uang di dompet juga smartphone, aku pun berangkat naik motor bersama tanteku. Aku tidak sempat bersiap-siap. Kupikir, biar besok bapak dan ibu yang membawakanku pakaian ganti. Karena mereka baru akan menjenguk simbah esok harinya. Untungnya, sore tadi aku sudah mandi. Kami bisa langsung berangkat ke rumah sakit tanpa acara menungguku mandi terlebih dahulu.

Sampai di rumah sakit, aku bertemu dengan adik ibu yang nomor satu dan suami tanteku (adik bungsu ibu). Aku bersalaman dengan mereka. Lantas, berjalan menghampiri simbah. 

Ada yang teriris di dada ini. Aku melihat seorang wanita yang kian sepuh, terbaring lemah, tak berdaya. Kutatap matanya. Kuraih tangannya dan kuletakkan di pipiku. Setelahnya, kubelai lembut kepalanya.

"Ini Puput, Mbah."

Simbah mengangguk, lalu dengan lirih bertanya, "Sama siapa?"

"Sekeluarga, Mbah. Tapi, semuanya masih di rumah simbah. Besok pagi ke sini. Malam ini, puput nginep di sini."

Simbah mengangguk. Lalu, kembali memandangiku dengan pandangan kosong. Dan memejamkan mata sesudahnya. Kemudian, aku pun larut mendengarkan perbincangan orang-orang dalam ruangan itu.

Malam pertama di rumah sakit, aku menginap bersama dengan tante dan adik ibuku yang nomor satu. Tidak banyak yang kulakukan di malam pertama aku menginap. Kebanyakan, waktu kuhabiskan hanya dengan duduk di samping pembaringan simbah sembari membaca ayat-ayat Alquran. Lalu, tidur di pembaringan yang sama dengan tanteku ketika badanku sudah terasa lelah.

Esok paginya, sekitar pukul 9 pagi, tamu-tamu mulai berdatangan silih berganti. Aku turut menemani tante dan omku mengobrol ngalor-ngidul dengan para tamu. Diantara para tamu, orang yang paling kutunggu kedatangannya saat itu adalah keluargaku. Aku sudah tidak betah dengan tubuhku dan ingin segera mandi. Begitu keluargaku datang, aku bersorak gembira dalam hati. Akhirnya aku bisa mandi juga. 

Selepas ibuku tiba, aku lebih banyak menyingkir dari hiruk-pikuk tamu-tamu yang datang. Aku memilih duduk di kursi yang terletak di dekat pintu belakang ruangan yang sepi orang. Kubuka notebook yang sengaja kubawa untuk mengerjakan pekerjaan kantor. Beberapa kali, aku mengambil jeda untuk sekedar menikmati hawa rumah sakit dan sudut-sudut yang tak jauh dari tempatku duduk. 

Sudut yang kusukai adalah jendela. Entah mengapa, rumah sakit ini terasa begitu match dengan sisi yang diriku miliki. Asri. Hangat. Ramah. Tapi juga memiliki sisi sunyinya sendiri. Sangat jauh bila dibandingkan dengan figur dan landscap rumah sakit yang ada di kota tempatku dibesarkan.

Aku melangkah mendekati tepi jendela yang letaknya selang satu ruangan dari ruang tempat simbah dirawat. Aku berdiri di sana, melihat apa saja yang tertangkap lingkar mata. Pun melamunkan kejadian sedari aku berada di sini sejak semalam. 

Semalam, aku tak bisa tidur dengan tenang. Aku terbangun saat perawat masuk ke dalam ruangan untuk mengecek infus atau keperluan pemeriksaan. Aku kembali terbangun ketika tante dan omku berusaha menenangkan simbah yang ngeyel sampai nyaris bangun dari pembaringan karena beliau ingin ke belakang untuk BAB. 

Bolak-balik, tante dan omku memberitahukan bahwa dokter belum memperbolehkan simbah bangun dari tempat pembaringan. Berbahaya bagi saraf-saraf simbah yang masih dalam tahap pemulihan. Mereka juga mengatakan, tidak apa-apa simbah BAB di pembaringan. Tapi, tetap saja simbah tidak mau. Katanya, kalau tidak di WC tidak bisa BAB. Simbah masih menganggap dirinya sehat. 

Sampai, tanteku akhirnya mengiyakan.

"Sebentar, ya, Mbah. Tak panggil Sumini. Kula mboten kuat nek piyambek ngeterke simbah teng kamar mandi,"1 ujar tanteku.

Tentu saja tanteku tidak sungguh-sungguh akan mengangkat simbah ke kamar mandi. Dan tidak mungkin tanteku meminta Bulik Sumini ke rumah sakit sekitar jam 2 dini hari hanya untuk mengangkat simbah ke kamar mandi. Itu bagian dari cara meredam ke-ngeyel-an simbahku. Tanteku pergi ke kamar mandi mengambilkan pispot untuk BAB dan menempatkannya di pantat simbah.

"Mbah, sekarang simbah sudah di kamar mandi. Ini sudah duduk di WC. Simbah bisa BAB sekarang."

Simbah pun buang angin. 

"Simbah sampun BAB, nggih?"2 ujar tanteku.

Simbah pun mengangguk dan kembali tenang. Ia tidak menyadari kalau dirinya hanya buang angin, bukan BAB. Dan pagi ini, ketika ditanya oleh anggota keluarga yang lainnya, simbah mengiyakan kalau beliau sudah BAB di WC. Mungkin karena pispot itu dingin, jadi beliau merasa sudah berada di WC. 

Aku menyadari sebuah kondisi yang dialami simbah sejak aku berada di rumah sakit. Simbah berada di ambang batas sadar dan tak sadar. Bahkan, ketika omku yang nomor tiga menanyakan keberadaannya, simbah mengatakan bahwa beliau berada di rumah. Simbah bukan tidak bisa mengingat orang-orang yang dikenalnya. Ingatannya tentang nama dan wajah orang-orang yang dikenalnya masihlah kuat. Hanya saja, tentang keberadaan ruang, baginya terasa samar, di batas nyata dan tidak nyata.

Aku melamunkan segala kejadian yang telah lewat, lalu pikiranku kembali ke masa yang sedang aku pijaki sekarang dan aku kembali berlari menembus masa depan dengan sebuah tanya, "Bagaimana hari tua ibuku nanti?" 
Dan setelah pertanyaan itu melesat, aku kembali mengharapkan hal yang sama dalam sebuah balutan doa. Aku ingin ada di samping ibu di masa tuanya. Sertakan selalu ibu bersamaku hingga akhir hayatnya. Bosan berdiri di tepi jendela, aku kembali duduk di kursi dan mengerjakan pekerjaan kantor. Entah mengapa, rumah sakit ini seperti mengikatku. Terasa akrab, seperti sudah lama aku mengenal rumah sakit ini. Aku merasakan kenyamanan berada di sini.

Mungkin karena rumah sakit dan atmosfer yang berada di sini mengerti apa yang kurasakan. Layaknya sahabat karib yang sedemikian dalam mengenalku. Bahkan, hal yang kusukai pun hadir di sini. Hujan. Ya. Menjelang sore, hujan pun turun. Hujan yang turun, menarikku untuk mengalihkan pandangan dari layar notebook ke kolam ikan yang tak jauh dari kursi tempatku duduk.

Kolam itu terletak di tengah-tengah rumah sakit. Aku melihat tetesan air hujan turun dari atap-atap lalu jatuh membentuk riak-riak lingkaran kecil di permukaan kolam. Kecil mula-mula lantas membesar kemudian dan perlahan menghilang. Riak membuat ikan-ikan menggeliat, mereka berenang kesana kemari. 

Entah berapa lama, aku duduk berdiam di belakang ruangan. Dan entah sudah berapa banyak tamu yang berkunjung di dalam ruangan. Simbah dirawat di rumah sakit dengan ruang jenis VIP kelas 2. Setiap orang bebas menjenguk tanpa batasan jam jenguk.

Sampai, seorang saudara yang datang, ikut duduk bersamaku dan berbincang ringan denganku. Aku berhenti mengerjakan pekerjaan kantor ketika hari menjelang ashar. Aku memilih untuk bergabung dengan saudara-saudaraku dan bermain-main dengan adik sepupuku yang masih kecil. 

Jelang magrib, bapak dan adik-adikku kembali ke rumah simbah. Ibu menginap di rumah sakit bersamaku. Ba'da magrib, tamu-tamu yang datang sudah mulai sedikit. Hanya tinggal empat orang sampai dengan isya. Selepas isya, tamu-tamu pun pulang. Tersisa aku dan ibu.

Aku begitu mensyukuri keadaan ini. Mensyukuri bukan berarti senang dengan penyakit yang sedang diderita simbah. Tapi, aku mensyukuri, 

Momen terindah dan mungkin tidak akan terulang seumur hidupku, saat aku berada dalam satu ruangan bersama dua orang yang paling kusayangi, dua orang yang paling berharga dalam hidupku, dua orang yang menjadi kekuatan hidupku. Ibu dan simbah putri. Kami berada dalam satu ruangan. Hanya kami bertiga. Betapa ini semakin menguatkan ikatan batin kami. Aku dan ibu bergantian shalat isya. Usai shalat isya, ada kelucuan yang membuatku tersenyum-senyum sendiri. Kelucuan saat ibu memintaku untuk SMS bapak. Ibu meyuruhku untuk menanyakan bapak apakah beliau sudah makan atau belum. Meski terkadang ibu mengeluhkan soal bapak padaku, tetap saja, bila berjauhan ibu mengkhawatirkan bapak.

Malam itu, kami memutuskan untuk giliran berjaga.

"Ibu istirahat duluan aja. Sekarang puput yang jagain simbah. Nanti, habis itu gantian," ujarku.

Sebelum ibu berbaring, simbah mengangkat tangan kanannya seperti ingin menggapai sesuatu. Aku dan ibu saling berpandangan, sama-sama tidak mengerti apa yang diinginkan simbah.

"Simbah arep opo?"3 tanya ibu. 

Sampai, simbah berkata dengan lirih, "Nyong arep ndelok TV."4

"Oalah, simbah arepan ndelok TV,"5 ujar ibuku.

Aku dan ibupun tertawa, lalu ibu pun mengambil remote TV dan menyalakannya. 

Ibu merebahkan diri di kasur yang letaknya di sisi kiri pembaringan simbah. Sementara aku menyorong meja yang ada di sisi kanan pembaringan simbah untuk disatukan dengan kursi agar aku bisa duduk berselonjor. Sembari berjaga, aku kembali mengerjakan pekerjaan kantor.

Ibu dan aku sepertinya sama-sama tidak ingin tidur malam itu. Ibu bolak-balik bangun dari rebahnya. Tak kudapati beliau terlelap sedikit pun. Beberapa kali, ibu menanyakan apakah pekerjaanku sudah selesai atau belum, dan menyuruhku untuk beristirahat. Pula mata beliau selalu awas mengamati simbah yang tengah terbaring. 

Berkutat dengan editing sound untuk persiapan drama musikal acara tutup tahun sekolah membuat telingaku menjadi panas. Lelah dan jenuh membuatku mengakhiri sementara pekerjaan itu. Aku merefresh kepala dengan menonton film sampai akhirnya meringkuk tertidur. Dalam kondisi setengah sadar, aku merasakan, ibu menyelimuti tubuhku. 

Ah, ibu... saat itu, jiwaku mendadak bayi. Rasanya, aku ingin tanganmu membelai kepalaku yang terasa panas. Aku ingin kau menepuk-nepuk pundakku hingga aku tertidur pulas. Bu... bila aku bisa mengeluh, ingin kukatakan bahwa tumpukan pekerjaan ini sangat menguras energi dan pikiranku. Tapi, kematangan usia menahanku untuk mengeluh di hadapan ibu. Aku merasakan kedamaian malam itu. Dan ingin waktu berhenti saat itu juga. Agar kita terus bertiga. Tapi, waktu terus berjalan. Menggerus malam. Dan menggantikannya dengan pagi.

Pagi, artinya aku sekeluarga harus kembali ke Cirebon. Saat-saat terberat untuk kaki ini melangkah, terulang kembali.

Berpamitan pada orang yang sangat kita sayangi ketika ia masih terbaring lemah tak berdaya adalah hal yang menyakitkan. Betapa dadaku terasa diremas perih. Pun ibu. Meski beliau tidak menampakkan perasaan itu, aku bisa merasakan perasaan yang disembunyikannya. Tapi, bagaimanapun menyakitkannya, ibu dan aku harus tetap kembali. Kembali ke Cirebon. Kembali ke rumah bapak. Bapak tidak terbiasa melewati hari tanpa ibu, sehari pun. Pula tidak bisa bila sekeluarga tinggal lebih lama lagi menemani simbah. Ibu harus kembali ke kehidupan sebagai seorang istri. Itulah sebuah konsekuensi berkeluarga. Di mana seorang perempuan tidak lagi sepenuhnya milik orang tuanya.

Melihat kenyataan ini di usiaku yang kian matang, semakin membuatku bertanya-tanya tentang konsep berumah tangga dan berbagai konflik keadaan di dalamnya. Dan aku sendiri? Aku harus kembali menjalani kehidupanku. Berjuang meraih apa yang menjadi impian-impianku. 

Aku memandangi wajah yang kian keriput. Aku sungguh tidak tega meninggalkannya.
Inikah yang dinamai siklus hidup? Ketika waktu terus memaksa kita berjalan. Bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Berpindah dari satu tujuan ke tujuan lain. Hingga akhirnya siklus berhenti di titik seperti yang tengah simbah jalani? Titik di mana kunamai "hari tua". 
Mataku mulai berembun. Kutahan-tahan. Tak ingin kumenangis di hadapan siapapun. Aku membiarkan yang lain berpamitan sambil menunggu emosiku sedikit reda. Bapak lebih dulu berpamitan. Disusul ibu. 

"Mbah, Puput pamit, ya, Mbah. Cepet sembuh. Biar simbah bisa terus doain Puput. Sehat-sehat. Biar bisa lihat jodohnya Puput," ujarku seceria mungkin seraya mengelus kepala simbah.

Kukecup kening simbah. Lantas berlalu dari hadapannya.

"Titip simbah, ya, Dek Tari. Maaf, jadi ngerepotin, Dek Tari," ujar ibu pada adik iparnya yang tinggal serumah dengan simbah.

"Iya, Budhe. Jangan ngomong gitulah. Gak ngerepotin. Lah simbah juga orang tua kulo, Budhe."

"Terima kasih banyak, Dek Tari."

"Pamit, ya, semuanya," aku turut berpamitan dengan yang lainnya.

"Iya, Put. Hati-hati dijalan," sahut tanteku. 

Dengan langkah yang berat, aku melangkah keluar ruangan menyusuri koridor rumah sakit. Rumah sakit yang hangat, ramah dan terasa begitu akrab denganku. 

Sepanjang perjalanan, bayang-bayang simbah tak lepas dari kepala. Kenangan dua malam menginap di rumah sakit tak henti-hentinya melintas. Sesekali ibu dan aku membumbui perjalanan dengan cerita yang mengundang tawa selama kami berada di rumah sakit. Ibu dan aku sama-sama mengkhianati perasaan kami. Kami sama-sama mencari cara untuk tidak menangis. Kami memutuskan untuk tertawa. Itulah cara yang kadang kami lakukan untuk mengurangi himpitan di dada.

Meski dari sebalik kacamata cokela tua yang kukenakan aku menitikkan air mata, aku tetap terdengar seperti tertawa. 
------------------------------------------------------------------
Catatan:
1. "..... Saya tidak kuat kalau sendirian mengantar simbah ke kamar mandi."
2. "Simbah sudah BAB, ya?"
3. "Simbah mau apa?"
4. "Simbah mau lihat TV."
5. "Oalah, simbah mau lihat TV."