Bulan ke-12.
Kau menengok ke belakang, memundurkan ingatan. Kejadian demi kejadian berlintasan dengan membawa jejak rasa masing-masing.
Ingatanmu berpijak pada satu masa, saat kau kehilangan beberapa anggota terbaik timmu setelah bulan keenam kau menjalani tanggung jawabmu yang baru.
Meski sudah cukup lama kau mempersiapkan diri untuk keadaan ini... tetap saja, kepincangan begitu terasa. Langkah menjadi tidak seimbang. Rasanya seperti memulai kembali dari awal. Kacau-balau. Karut-marut. Tertatih-tatih, kau meyakinkan diri bahwa keadaan ini bisa kembali kau tundukkan dengan anggota tim yang tersisa.
Kerapkali kau katakan pada diri sendiri, “Kuatlah.”
Atau kau menantang kepenatan itu dengan pertanyaan sekaligus jawaban, “Keadaan sulit? Aku lebih sulit lagi untuk menyerah.”
Lalu, ingatan membawa pada saat-saat dimana mau tidak mau kau menjadi orang yang kerap diandalkan.
Entah berapa kali tampungan emosimu pecah. Katarsis yang kau peram meledak dan segala isinya berebut keluar dari tempatnya. Tangis. Amarah. Kekecewaan.
Lalu, ingatan membawa pada saat-saat dimana mau tidak mau kau menjadi orang yang kerap diandalkan.
Entah berapa kali tampungan emosimu pecah. Katarsis yang kau peram meledak dan segala isinya berebut keluar dari tempatnya. Tangis. Amarah. Kekecewaan.
Ledakan tangis ketika pundakmu mulai terasa letih memikul dan kakimu terlampau kebas untuk melangkah; ketika kau rasakan keadaan kian memburuk dan sulit untukmu membuatnya sedikit lebih baik; ketika kau sadari begitu banyak kesalahan terjadi.
Ledakan amarah ketika kau membutuhkan uluran tangan tapi kau dapati dirimu bagai sebuah titik kecil di semesta yang terlampau luas; ketika banyak hal di luar dirimu yang bertentangan dengan isi kepala dan hatimu.
Kekecewaan ketika kau dapati ketidak-sesuaian antara tindakan dan perkataan orang-orang yang menjadi junjunganmu hingga rasa hormatmu meluntur. Kekecewan pada dirimu ketika kau lupa satu hal bahwa bergantung kepada orang lainlah yang kerap melahirkan kekecewaan itu sendiri.
Dan disaat yang bersamaan juga kau merasakan penerimaan diri, tekad untuk tetap berjuang, kekeras-kepalaan untuk tidak kalah dan menyerah pada keadaan.
Penerimaan diri ketika kau berusaha tidak kehilangan dirimu di titik-titik tersulit yang harus kau lalui; ketika kau mengakui kelemahan diri dengan ketidak-berdayaanmu dan menemukan ruang untuk berdialog dengan-Nya; ketika kau mulai memahami dan menerima apa yang tengah dirimu rasakan; ketika kau bisa kembali bersahabat dengan dirimu sendiri dan berdamai dengan keadaan.
Tekad untuk berjuang ketika kau telah bisa menertawai diri sendiri dan kembali menjadi orang yang keras kepala untuk tidak kalah dan menyerah pada keadaan.
Dan ingatan menggiringmu disaat-saat kau belajar memahami apa itu “leadership”... hingga kini.
Leadership mengajarimu berkata-kata lewat sikap dan tindakan. Bukan berkata-kata menegaskan di mana posisi dirimu berada.
Leadership bukan banyak-banyak menggunakan dan mengarahkan telunjukmu pada orang lain. Ia merangkul semua lapisan dengan segala kerendahan hati. Ia menggandeng erat untuk maju bersama.
Dan kau merasakan masih belum layak di posisi itu. Sungguh, kau masih sangat-sangat jauh dari kata layak untuk itu dengan segala emosimu yang mudah sekali meledak. Bahkan, kau bersedia, untuk menyerahkannya pada yang berpembawaan tenang atau “bertangan dingin” bila memang perlu.
Selama ini, yang kau lakukan hanyalah berusaha menciptakan “suasana rumah” di tempat kau mendulang rupiah; dan menganggap orang-orang yang berada didalamnya lebih sering bagai adikmu sendiri, bagai anggota keluarga.
Ledakan amarah ketika kau membutuhkan uluran tangan tapi kau dapati dirimu bagai sebuah titik kecil di semesta yang terlampau luas; ketika banyak hal di luar dirimu yang bertentangan dengan isi kepala dan hatimu.
Kekecewaan ketika kau dapati ketidak-sesuaian antara tindakan dan perkataan orang-orang yang menjadi junjunganmu hingga rasa hormatmu meluntur. Kekecewan pada dirimu ketika kau lupa satu hal bahwa bergantung kepada orang lainlah yang kerap melahirkan kekecewaan itu sendiri.
Dan disaat yang bersamaan juga kau merasakan penerimaan diri, tekad untuk tetap berjuang, kekeras-kepalaan untuk tidak kalah dan menyerah pada keadaan.
Penerimaan diri ketika kau berusaha tidak kehilangan dirimu di titik-titik tersulit yang harus kau lalui; ketika kau mengakui kelemahan diri dengan ketidak-berdayaanmu dan menemukan ruang untuk berdialog dengan-Nya; ketika kau mulai memahami dan menerima apa yang tengah dirimu rasakan; ketika kau bisa kembali bersahabat dengan dirimu sendiri dan berdamai dengan keadaan.
Tekad untuk berjuang ketika kau telah bisa menertawai diri sendiri dan kembali menjadi orang yang keras kepala untuk tidak kalah dan menyerah pada keadaan.
Dan ingatan menggiringmu disaat-saat kau belajar memahami apa itu “leadership”... hingga kini.
Leadership mengajarimu berkata-kata lewat sikap dan tindakan. Bukan berkata-kata menegaskan di mana posisi dirimu berada.
Leadership bukan banyak-banyak menggunakan dan mengarahkan telunjukmu pada orang lain. Ia merangkul semua lapisan dengan segala kerendahan hati. Ia menggandeng erat untuk maju bersama.
Dan kau merasakan masih belum layak di posisi itu. Sungguh, kau masih sangat-sangat jauh dari kata layak untuk itu dengan segala emosimu yang mudah sekali meledak. Bahkan, kau bersedia, untuk menyerahkannya pada yang berpembawaan tenang atau “bertangan dingin” bila memang perlu.
Selama ini, yang kau lakukan hanyalah berusaha menciptakan “suasana rumah” di tempat kau mendulang rupiah; dan menganggap orang-orang yang berada didalamnya lebih sering bagai adikmu sendiri, bagai anggota keluarga.
Kau tertawa terbahak-bahak bersama mereka; merangkul dan mengacak-ngacak kepala mereka saat dirimu begitu senangnya; dan terkadang berkelakuan “sedikit gila” di depan mereka ketika beban pekerjaan begitu menekan tanpa mengkhawatirkan sebuah “harga wibawa”.
Tapi, ketika suatu target telah kau tetapkan dan dibutukan kerjasama tim untuk mencapainya atau situasi mengharuskanmu memberikan arahan, bimbingan dan perintah... kau bisa menjadi begitu serius. Kau juga tak menampikkan kesalahan-kesalahan yang kau lakukan dan segala kekurangan yang kau miliki selama melewati banyak hal bersama mereka. Karena itu lebih melegakan bagimu.
Dan saat bersama mereka, kau menjalankan tanggung jawabmu tanpa sering menegaskan siapa mereka dan siapa dirimu; di mana posisimu dan di mana posisi mereka. Kau berusaha memberikan stimulus yang berbeda... dengan cara pandang yang berbeda pula. Karena itu lebih menyamankan bagimu.
Karena kau berpikir, “Apa yang akan dibawa setelah kau tak lagi tinggal seatap dengan mereka? Dan apa yang akan kau tinggalkan di sana? Bukankah struktural itu hanya label yang nantinya tergantikan? Bukankah yang langgeng terbawa adalah kenangan jalinan pertemanan yang kuat?”
Bulan ke-12.
Tapi, ketika suatu target telah kau tetapkan dan dibutukan kerjasama tim untuk mencapainya atau situasi mengharuskanmu memberikan arahan, bimbingan dan perintah... kau bisa menjadi begitu serius. Kau juga tak menampikkan kesalahan-kesalahan yang kau lakukan dan segala kekurangan yang kau miliki selama melewati banyak hal bersama mereka. Karena itu lebih melegakan bagimu.
Dan saat bersama mereka, kau menjalankan tanggung jawabmu tanpa sering menegaskan siapa mereka dan siapa dirimu; di mana posisimu dan di mana posisi mereka. Kau berusaha memberikan stimulus yang berbeda... dengan cara pandang yang berbeda pula. Karena itu lebih menyamankan bagimu.
Karena kau berpikir, “Apa yang akan dibawa setelah kau tak lagi tinggal seatap dengan mereka? Dan apa yang akan kau tinggalkan di sana? Bukankah struktural itu hanya label yang nantinya tergantikan? Bukankah yang langgeng terbawa adalah kenangan jalinan pertemanan yang kuat?”
Bulan ke-12.
Langkah kaki tidak berhenti sampai di sini. Dan kau hanya memiliki satu pilihan: terus melangkah ke tujuan-tujuan yang telah kau pancangkan.


0 komentar:
Posting Komentar