Ketika Masaku Tak Lagi Kanak-Kanak

Ketika Anak-Anak Menjelma Dewasa dan Ibu Semakin Menua

It Is Okay Not To Be Okay

It Is Okay Not To Be Okay Eventhough You Are A Mother

Pergi Untuk Kembali

Pergilah, Untuk Kembali Tumbuh Menjadi Dirimu

Dandelion

Kebertahanan Hidup, Kenyamanan dan Kedamaian

#1. Tentang Selalu Ada dan Berdiri untuk Diriku Sendiri

Mencintai, Hadir Menerima dan Keterhubungan dengan Diri Sendiri

#2. Tentang Selalu Ada dan Berdiri untuk Diriku Sendiri

Sebuah Muara Kesadaran Kemana Seharusnya Keterhubungan Diri Terhubung

Jumat, 11 Juli 2014

Lelaki-lelaki Penghuni Gudang Ingatan Kepalaku, Kesetiaan dan Kemarahanku



Satu malam ini, aku marah! Kepada pengadilan kesetiaan, aku menggugat lelaki-lelaki yang menghuni gudang ingatan di kepalaku.

Kau, bekas lelaki sahabatku, aku ingat betul bagaimana kau mencabik hatinya hingga lumat sempurna. Kau tertawan permainan gincu merah teman perempuan yang seatap denganmu, denganku dan sahabatku. Sampai akhirnya, kalian mendendangkan kidung pernikahan dengan aroma melati. Sementara sahabatku, mencium semerbak kamboja. Aroma perkabungan.

Kau, perempuan yang dulu temanku juga teman sahabatku! Apakah kau setuju cinta hadir tak tepat waktu? Atau cinta hadir tanpa bisa kita menolaknya? Aku setuju. Tapi tahukah kau? Cinta itu juga pilihan. Pilihan untuk kau menodai cinta dengan mengorbankan hati wanita yang lain. Atau setia pada kesucian cinta itu sendiri dengan menyimpannya dalam diam. Kau memilih menodai kesucian cinta.

Lalu, kau! Lelaki pertama yang mengenaliku pada cecap rasa yang dinamai cinta. Cecap rasa yang darinya juga kau menyadap getah awar-awar untuk kureguk. Ya getah awar-awar. Kau tahu apa rasa getah awar-awar? Pahit. Itulah rasa pengkhianatan yang kau ukir di kelindan ingatanku. Lalu, cinta menjadi hitam. Lebih hitam dari bubuk kopi.

Kau, perempuan biang duri dari lelaki pertamaku, aku tak mengenalmu. Untungnya kau tak berulah padaku. Dan kita tak pernah bertemu. Jadi, perihku tak bertambah-tambah.

Terakhir, Kau! Lelaki kedua yang berhasil menyatukan serpihan hatiku. Kau kembali memutih-utuhkan cintaku yang hitam-hancur. Kurasai harapan yang koma telah siuman. Kemudian, kau menjadi lelaki berperangai sama seperti lelaki pertamaku. Apa yang kau beri kepadaku lebih dari getah awar-awar. Kau memberiku duri bergetah awar-awar. Jarak berhasil mengkalkulasikan harga kesetiaanmu. Kau kalah. Jarak menguasaimu. Sandaran yang lebih dekat kau terima di belakangku. Lalu menikahlah kau setelah hatiku kalian habisi!

Kau, perempuan biang duri dalam pintalan jalinanku dan lelaki kedua. Aku tak mengenalmu. Tapi kau berulah padaku. Dengan perkasanya, kau pasang badan terhadap lelaki kedua saat jalinan kami belum terputus. Kau menamengi kepengecutannya untuk sebuah pengakuan. Lalu, membawa-bawa nama Tuhan dalam masalah ini. Rasanya, aku mau muntah. Tapi, yang kumuntahkan justru butiran embun dari mataku. Kupersembahkan pada Tuhan kita, yang lebih tahu ukuran setimpal atas caramu mendaras lumbung air mataku.

Kau, lelaki pertama dan lelaki kedua, telah lama menjadi penghuni kotak masa lalu. Begitu juga kau, bekas lelaki sahabatku. Sahabatku menguburmu pada pusara masa lalu.

Lalu, satu malam ini, aku marah! Sebabnya kau, bekas lelaki sahabatku. Mengapa kau usik sahabatku dengan rayuan loakan. Tak ada kata maaf terlontar atas sembilu yang kau tancapkan padanya di masa silam. Kau seorang pria beristri, beranak satu. Urat saraf malumu telah putus. Kau tahu, kau hanya sebuah kotak masa lalu yang kenangannya tak layak diingat barang secuil pun. Apa yang kau inginkan darinya? Menggodanya? Atau menjadikannya sebuah permainan kesenangan? Kalau kau ingin tunjukkan kejantanan, sungguh, dalam kacamataku kelaminmu perempuan.

Satu malam ini, aku marah! Kepada pengadilan kesetiaan, aku menggugat lelaki-lelaki yang menghuni gudang ingatan di kepalaku.

Selasa, 17 Juni 2014

Catatan Sunyiku untuk-Mu



Rasanya terlampau lancang aku merangkai dua yang berbeda menjadi kata kita. Kau bukanlah diri. Kau adalah Dzat yang tak mengenal kata mati. Dzat yang memegang kendali hidupku.

Kali ini, izinkan kumenyebut-Mu dalam kata kita. Kita yang romantis. Ah, bukan kita. Tapi, Kau. Kau yang romantis.

Luput ataupun tidak, entah seberapa sering aku menggugat pada hidup. Mengukirnya dengan keluh. Tapi, Kau tak pernah bosan mendengar. Telinga-Mu selalu terbuka. Kau memaklumi hatiku yang manusia. Bahkan, Kau merahasiakan segala keluhku.

Sampai di suatu titik puncak kepalaku terasa penuh, segala keluh menjelma airmata. Ketika itu, sunyi menjadi pelataran terbaik untuk kita berdua. Hanya Kau dan aku.

Lalu, dalam sunyi yang berlinang perih, Kau memandangku lebih dekat. Kau tak menghapus buliran bening di mataku. Kau paham aku butuh itu. Itu sebabnya, kau hadirkan air mata. Bukan untuk sebuah kecengengan atau tanda kerapuhan. Tapi untuk memberiku lega.

Kepalaku telungkup, lelah untuk tegak. Aku terus mengaliri sunyi dengan sengguk dan sembab. Kau masih tak menghapus basah di mataku. Tapi, Kau menungguiku hingga sesakku menguap dan linang mengering dengan sendirinya.

Setelahnya, aku kerap mempertanyakan hal yang sama, "Tak apakah aku begini pada-Mu? Mengeluh lantas menangis."

Kau membelai kepalaku. Damai menelusup. Kepalaku terangkat. Kau tersenyum dan mengulurkan tangan mengajakku berdiri. Berdiri dan tak langsung berlari.

Kau tunjukkan langit-Mu, dimana catatan doa-doaku begitu jelas terlihat. Pula dimana aku menggoreskan cita dan impian. Kau menggenggam tanganku. Mengajakku melangkah setapak demi setapak untuk kembali memulai siklus hidup.

Itu Kau. Yang selalu romantis.

Malam ini, seperti malam yang berkesudah. Kau menungguiku sampai buliran embun di mataku meruap tiada bersisa. Bersama gelap yang kental, kutuliskan catatan sunyiku untuk-Mu.

Satu dari sekian banyak keromantisan-Mu malam ini. Kau paham, aku tak suka purnama. Bagusnya, purnama tak pernah menengokku di sudut jendela. Kau beri aku temaram sabit. Sabit yang lengkungnya bagai senyum di tengah pekat malam.

-On the corner of window, seeing moonlight in silence, Vinny Erika Putri

Masih antara Aku dan Ibu: Bagianmu Saja



"Sudah. Bagianmu saja yang kau proritaskan. Jalani dengan tanggung jawab. Yang bukan bagianmu, biarkan."

"Tapi, akankah aku terkesan egois?"

"Jangan mengambil terlalu banyak tanggung jawab dalam satu waktu. Prioritas dan fokus perlu. Membiarkan yang bukan bagianmu bukan berarti kamu tak peduli. Tapi, itu memberikan kesempatan bagian lainnya untuk menjalani tanggung jawab masing-masing. Kalau bola itu bukan kamu yang seharusnya pegang, arahkan dan lempar ke yang seharusnya memegang bola."

Aku merasai nada tegas dalam saranmu. Itulah kau. Tahu kapan bersikap bagai ibu dan kapan bagai sahabat bagiku. Dan dari nada tegas itu, artinya aku harus mempertimbangkannya baik-baik. Kau berbicara sebagai ibu. Kau paham, cara mengontrol batas inisiatifku agar tak semua beban pekerjaan terlimpah padaku.

"Kepalaku pening."

"Kamu terlalu pemikir dan akan mendadak ruwet di saat-saat begini. Satu lagi, hindari menangani anak yang tengah bermasalah saat ritme emosimu tak stabil. Kalau dipaksakan, kamu akan dominan menggunakan ketidak stabilan emosimu, bukan ketepatan berpikir. Menjauhlah sesaat dari anak-anak dan hiruk-pikuknya daripada kamu memperbesar energi negatifmu. Menjauh dan diam. Atur napas dan jernihkan pikiran."

Ah, ibu, kau paham, aku kerap butuh sunyi di sela-sela keruwetan itu. Ya. Saat-saat itu aku sungguh ingin bersembunyi dari hiruk-pikuk meski hanya beberapa jenak untuk menyederhanakan pikiranku.

Ibu, kepalaku hanya berisi benang kusut bila tak sering bertukar pikiran denganmu. Kau akan menawariku bermacam solusi saat kugelontorkan ganjalan-ganjalan isi kepalaku. Selama kepalaku belum penuh, kau biarkan aku menyelesaikannya sendiri. Meski aku tahu, pengalaman-pengalamanmu bisa membantuku. Katamu, kau ingin aku merasai tempaannya. Merasai likunya. Mempelajarinya. Lantas mengambil mana yang tepat dan tidak untuk diterapkan sebagai sebuah solusi.

Ibu, aku ingin meleluconi diriku sendiri saat ini. Seperti ini lelucon itu: santai dan banyak-banyak mengamati hiruk-pikuk dalam diam.

Mungkin, dengan begitu aku bisa menertawai keadaan. Menertawai sifat manusiawi bagian lainnya yang tengah bergulat dengan keadaan dalam satu ruang. Tapi sepertinya, alisku akan tetap mengernyit seperti alis wajah orang serius. Mengernyit mencari sebuah gagasan untuk diuji-cobakan pada sehiruk-pikuk keadaan.

Ibu dan Hari Sibukku



Ibu, aku tahu lelahmu meski bibirmu tak berkeluh. Aku menggugat tumpukan sibuk hariku. Sebab, tak enak hati melihatmu kelelahan. Kau bilang, "Jalani bagianmu dengan tanggung jawab. Tak perlu pikirkan urusan rumah."

Aku mengkhawatirkan sehatmu. Memasak, mencuci, menyetetika, menggalang usaha warung kelontong dan urusan rumah tangga lainnya, kau lakoni sendiri saat hariku sibuk. Aku sempat memendam gusar saat kedapatan pakaianku sendiri yang telah kucuci kau seterika. Aku bukan tak tahu cara berterima kasih. Aku hanya ingin meringankan pekerjaanmu di sela sibukku dengan mengerjakan apa yang seharusnya kukerjakan. Sebenarnya, aku ingin sedikit membalikkan kata-katamu, "Biarkan. Ini bagian anakmu. Anakmu ingin menjalani tanggung jawabnya." Tapi, aku tak setega itu menyinggungmu. Mungkin, niatmu sama seperti niatku. Sama-sama ingin meringankan.

Dari dulu, kau tak pernah mengandalkan khodimat. Semasa kecil, saat kau masih berkarir sebagai praktisi pendidikan, khodimat kau tugaskan hanya untuk menjagaku dan adik selama kau mengajar. Kau membawaku, adikku dan khodimat ke tempat kerjamu. Selebihnya, usai bergulat dengan kewajiban pekerjaan, waktumu untuk kami dan melakoni pekerjaan ibu rumah tangga. Sampai, kau dihadapkan pada pilihan ketika berada di puncak karir. Kau mengerti, sakit-sakitannya adik keduaku merupa petunjuk-Nya untuk kau menentukan pilihan. Dengan lapang dada, kau lepaskan puncak karir. Pula lepaslah peran khodimat menjaga kami. Ya. Menjaga. Bukan mendidik. Saat itu, aku mungkin belum genap lima tahun. Sebab, saat aku TK, kau menemani hari-hariku di sekolah.

Kau menjadi ibu rumah tangga yang handal. Sehandal saat kau masih berkarir. Melihat penampilanmu sekarang, mungkin, orang-orang takkan percaya bahwa kau pernah bertemu dengan orang-orang besar di zamanmu. Katamu, tak penting orang-orang tahu, apalagi percaya. Orang-orang percaya atau tidak, pengalaman-pengalaman itu tetap milik ibu. Dan membagi kisah pengalamanmu padaku, bagimu, itu sudah cukup. Tapi, malam ini, kumeluaskan kabar.

Aku melihat fotomu dengan Kak Seto di albummu yang masih terawat baik. Baik Kak Seto dengan dirimu atau bersama rekan-rekan kerjamu terdahulu. Atas izinmu, aku mengambil fotomu bersama Kak Seto yang ada di albummu, lalu menyimpannya. Katamu juga, cucu-cucu petinggi negara menjadi murid-murid sekolahmu kala itu. Kau juga pernah berkesempatan terlibat dalam kegiatan mengajar di sekolah berkebutuhan khusus yang dinaungi Almarhumah Bu Kasur. Lingkungan pergaulanmu luas. Meski kau hanya mengantongi ijazah SMA dan berasal dari kampung pelosok. Itu masa mudamu, saat aku belum ada di rahimmu. Sebelum ada kata "kita" dalam janur kuning antara kau dan ayah.

Lantas, setelah kau mengambil pilihan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya? Bau dapur dan deterjen menjadi wewangian harimu. Daster menjadi pakaian favoritmu, pakaian ibu rumah tangga yang kadang masih dijadikan lelucon oleh orang-orang. Tapi, bagimu itu tak penting. Biarkan saja. Pernah mencecapi masa-masa hingar-bingar kejayaan, tak lantas membuatmu "gila sosialita". Petuahmu, "Takkan ada yang abadi dari masa. Setiap masa mengalami perguliran. Dan di setiap perguliran selalu terbentang pilihan yang perlu keputusan."

Ibu, kini kau beranjak menua. Setengah abad lebih usiamu. Fisikmu tak seterusnya handal. Sedangkan waktu meringkusku dengan bermacam kesibukan. Kesibukan yang akan terus bertumbuh tiap jenjang masanya. Acap aku berkeinginan menundukkan hari sibuk. Lalu menjadikannya di atas kendaliku. Saat itu, aku akan menyerahkan waktuku untukmu. Kupegang semua pekerjaan yang hari-hari kau lakoni agar napasmu lebih panjang.

Malam ini, saat tubuhku terasa remuk-redam, aku melihat ibu jarimu bengkak. Dan entah sakit apa lagi yang kau pendam. Mukamu pucat. Ya. Kau memang sering menahan sakit. Bahkan beraktivitas seperti biasa disaat demikian. Kau lebih tahan banting dari ayah. Mental. Pula Fisik.

Di lain sudut, kumelihat ember-ember penuh pakaian kotor masih terbengkalai. Dua kamar mandi yang biasa kubersihkan sudah terasa licin. Aku khawatir kau terpeleset.

Ibu. Ibu. Ibu.

Jangan terlampau lelah. Biar badanku saja yang remuk-redam. Dan, hei kau hari sibuk! Aku akan jalani bagianku dengan tanggung jawab. Ya. Bagianku saja.

-Vinny Erika Putri-