Rabu, 17 Maret 2021

Kamu (Tanpa) GPS Peta Hidup?


Kamu (tanpa) GPS peta hidup, apa kabarnya?
Aneh, rasanya. Mungkin, ini menandakan, aku sedang berproses keluar dari zona nyaman. Aku, orang yang terbiasa dengan merancang planning hidup secara global-mendetail dan berjalan di track yang hampir-hampir lurus mengikuti rencana dalam menjalani daily activity-nya. Kemudian ingin berputar arah 360 derajat dengan alur yang berbeda dari sebelumnya. Rasa-rasanya, ketika mendengar kalimat ini dari dalam pemikiranku, terasa seperti bukan diriku.
Tapi, aku merefleksi diri, lebih dalam lagi bertanya pada diri sendiri, benarkah ini bukan diriku?
Nyatanya, aku sering merasakan stres yang kuciptakan sendiri dengan GPS peta hidup yang kurancang sedemikian apik, bergerak dengan kecepatan yang terkadang "dipaksakan", memenuhi target satu ke target berikutnya. Sampai, kadang antara merancang impian dengan overachiever terasa seperti tak ada bedanya. 

Kamu (tanpa) GPS peta hidup, apakah karena telah banyak merasakan kekecewaan?
Mungkin, salah satunya. Dan sudah menjadi coping mechanism manusia pada umumnya, untuk tidak lagi merasakan kecewa adalah don't ever expect every dream you plan to come true as you want, just do as best as you can, then let God take the final decision.
I'm really working hard since i was young both in academic and job, dengan segala impian yang ingin kucapai, menetapkan limitasi jangka waktu untuk bisa menyamai kecepatan orang-orang diluar diriku agar tak merasa tertinggal. Sebagian banyak yang berhasil dicapai, dan sebagian lagi tak kalah banyak menelan kekecewaan ketika melewati batas waktu yang kutentukan sendiri atau tidak sesuai ekspektasi.
Lantas, aku semakin ketat dalam limitasi waktu pengerjaan suatu hal yang ingin kucapai. And sometimes, I push myself too hard without taking the rest.
Bukankah yang seperti ini dinamakan menganiaya diri sendiri tanpa kusadari? Sudah berapa lama, aku melakukan ini pada diriku sendiri?
Kukatakan kini dengan tegas-sadar, ya, aku telah cukup lama menganiaya diriku. Dan, diriku yang ada di dalam sana, saat ini, tengah menyampaikan kelelahan dan kejenuhannya.

Kamu (tanpa) GPS peta hidup, apakah tidak takut hilang arah dan hidup sia-sia?
Tidak.
Kurunut ingatanku, mundur kebelakang, di tahun 2011. Disaat aku hidup tanpa GPS Peta Hidup.
Aku, belum lama lulus dari dari sebuah universitas negeri dan mengalami yang dinamakan kegamangan hidup untuk benar-benar memaknai dan mencari kemana tujuan yang benar-benar mewakili inti nilai dari diriku. Di tahun yang sama, aku mengalami luka patah hati, kedua kalinya, dengan penyebab yang sama. Menyembuhkan luka pertama butuh waktu cukup lama, setelah sembuh, kembali dicabik dengan cara yang sama. Tak hanya itu, aku banyak menelan kekecewaan dari orang-orang terdekat. Aku berada pada titik dimana aku mesti berpijak di atas kakiku sendiri (lebih tepatnya sendirian) untuk semua hal yang terjadi dalam hidupku di masa itu. Aku, pada akhirnya, tidak lagi mendikte diriku soal bagaimana aku mesti menjalani hidup. Kubiarkan diriku bersedih dan kecewa dengan hidup untuk bisa memaknai setiap tetes air mata yang jatuh dan rasa sakit yang tertoreh.
Sampai, keadaan ini membawaku pada suatu doa, "Ya Allah, tempatkanlah aku, pada tempat yang membuatku semakin mendekati-Mu."
Doa itulah, yang kurasa mengantarkanku pada titik ini: bekerja di dunia PAUD, kembali menempuh pendidikan kesarjanaan di bidang PAUD dan lulus tepat waktu, menempati posisi kepemimpinan di tempatku bekerja yang tak terpikirkan sama sekali olehku. Lalu, di titik itu, aku mulai menggunakan GPS Peta hidup menjalani tanggung jawab yang dipikulkan di pundak kepemimpinanku. Sampai akhirnya, aku kewalahan. Aku memutuskan keluar dan memulai bekerja lagi dari nol sebelum bahuku retak meremuk parah. Tapi, Tuhan masih memberikanku takdir yang sama, di tempat yang berbeda, kembali berada di titik puncak amanah terberat yang sebelumnya pernah kualami. Juga pola peristiwa yang nyaris mirip saat aku menjalani hidup tanpa berpegang pada rancangan GPS peta hidup beberapa tahun silam.
Kali ini, dengan doa dan alasan yang sama, aku menonaktifkan GPS peta hidupku. Aku ingin lebih ramah kepada diriku sendiri. Aku sanggup mengontrol diri untuk tak menuntut orang lain begitu tajam, tapi kurang bisa fleksibel terhadap diri sendiri soal idealisme hidup yang ingin dibangun.
Bukankah tidak ramah terhadap diri sendiri sama kejamnya dengan seseorang yang menuntut banyak hal kepada orang lain?
Aku mengambil pilihan ini justru untuk kembali menemukan arah.

Kamu (tanpa) GPS peta hidup, akan jadi apa dirimu?
Aku, tanpa GPS peta hidup bukanlah suatu kematian gerak diri untuk berbuat atau seorang makhluk tanpa tujuan hidup. Aku, tanpa GPS peta hidup adalah manusia yang mencoba berlepas diri dari jeruji besi perbudakan bernama ekspektasi dalam hal apapun dari siapapun (diri sendiri ataupun orang lain). Aku, tanpa GPS peta hidup, tetap akan hidup dengan kesadaran, sesadar-sadarnya. GPS peta hidup bukanlah definisi baku gambaran hidupku yang akan menentukan akan menjadi apa diriku. Ada Tuhan di sana, yang menjadi kiblat GPS alam semesta, yang lebih mutlak tepat kebenaran dan kebaikan-Nya dari akurasi GPS peta hidup siapapun.

Kamu (tanpa) GPS peta hidup, akankah kehilangan apa yang selama ini menjadi bagian karakter dari dirimu?
Aku tanpa GPS peta hidup, tidak akan kehilangan diriku. Aku, tanpa GPS peta hidup, tetap akan menjadi aku, seorang Vinny Erika Putri. Karena fase ini, adalah bagian dari perjalanan hidupku, untuk kumaknai sebagai proses penerimaan diri atas perubahan-perubahan yang terjadi.

Dan aku tidak tahu, hal apa yang nanti akan mengaktifkan kembali GPS peta hidup yang tengah dalam kondisi deactivated demi sebuah "perlambatan" untukku bisa lebih ramah terhadap diriku sendiri sekaligus mendidik diri agar bisa lebih lentur terhadap ketidakpastian hidup. Dengan begitu, aku bisa menghayati sesoal kalimat: live here and now.

So, for now, I just want to live without GPS limitations dictate. Freedom to feel the life. Freedom for loving myself and others with a genuine heart. And freedom to feel GOD WILLING more than my dreams that I put on my GPS.

-Vinny Erika Putri, 17.03.21

0 komentar:

Posting Komentar