Sulung.
Menyentak kata-kata: Baca pesan ini!
Sulung.
Tegas berucap: Saya sudah menemukan nomornya. Sekalian menghubungi yang bersangkutan!
Laki-laki, kepala yang tak berjiwa pemimpin dan pendidik, diam menekuri pesan di layar telepon, lantas, meminta sulung menyampaikan akhir keputusan.
Perempuan ekor yang kerap mengalah pada kepala, mengatur napas yang mulai terdengar pendek-pendek
Perempuan ekor bicara soal prediksi dari watak si tengah, kekhawatiran ini dan itu, yang kesemuanya sudah sulung pahami tanpa dijabarkan.
Sulung.
Menyodorkan telepon genggam: Bicara, sekarang! Hadapi! Ribut sekalian, hayuk!
Dua-duanya menjauhi telepon genggam.
Sulung.
Marah tak terbedung.
Lagi-lagi, dirinya menjelma tameng.
Sulung.
Menegaskan melalui pesan suara: cukupkan sampai di sini, demi kebaikan keluarga, kalau masih juga belum bisa, mari bertemu, selesaikan!
Sulung.
Melihat kepala dan ekor.
Dua orang tua berusia setengah abad lebih
Yang satu, seorang anak kecil terperangkap dalam tubuh tua laki-laki
Yang satu, terpasung dalam kepasrahan dan kemengalahan sebagai istri
Sulung.
Bergumam tanpa suara, di ruang batin, "Kalian, Pengecut!"
Sulung.
Sesuatu terbanting dari genggaman tangan
Seketika, terdiam semuanya.
Sulung.
Kalimat penutup, "Tengah, Bungsu, mesti nurut dengan sulung. Jika sulung masih dianggap sulung."
Sulung.
Memecah es batu, menuang kopi
Lalu pergi dari mereka
Pintu kamar ditutup, kunci diputar
Sulung.
Punggung ini menanggung tiga
Atau mungkin malah empat
Sulung.
Diam, memeluk dirinya sendiri
Menelusuri detak jantung yang damai
Untuk bisa menemukan seseorang
Yang bercahaya jauh di dalam sana
Yang paling menerima dan memahami dirinya
Tanpa atribut apapun
Sulung.
Menyeka pipi yang basah
Menatap dinding dengan mata yang tajam
Membatin, "Kini, sudah tak ada lagi hal-hal di luar diriku yang kutakuti, sejak kumemahami bagaimana caraku bertahan hidup di atas kegagalan fungsi kepala dan ekor."
Sulung.
Kehilangan diri sendiri, lebih menakutkan daripada kehilangan orang-orang
Melepaskan orang-orang, lebih mudah daripada menggadaikan diri sendiri
Sulung.
Mengerikan bukan?
Karenanya, sulung tak memaksa siapapun bisa bertahan disisinya
Untuk menerima dan memahaminya tanpa melihat "siapa sulung"
Atau alasan cara bertahan hidup yang dipilihnya
Sulung.
Telah sangat cukup, dengan dirinya sendiri
Aku, Sulung!
-Vinny Erika Putri, 02.03.21


0 komentar:
Posting Komentar