Hai, Vinny Erika Putri.
Kamu, kembali pada fase tidak baik-baik saja. Sore tadi, awal mulanya. Dan malam ini, marah, sedih menggabungkan diri menjadi air mata. Tangismu pecah. Kencang, dalam benaman bantal dengan detak jantung yang cepat dan napas yang terasa sesak. Tak apa. Aku tak ingin mengganggu katarsismu sampai kamu benar-benar lega dan datang kepadaku.
Hai, Vinny Erika Putri.
Aku sudah berjanji, akan selalu ada, membersamaimu, saat kamu bisa menemukan detak jantung yang damai. Kamu sudah berada bersamaku sekarang. Kita sudah bisa bicara dengan lebih tenang.
Hai, Vinny Erika Putri.
Sebelumnya, biar kupeluk erat dirimu, yang telah menyandang gelar sulung selama 34 tahun dengan versi sabar yang kamu sanggup lakukan. Aku tahu, bukan waktu yang singkat dan mudah bagimu untuk mencerna dan menerima semuanya karena kamu terlahir di keluarga yang "istimewa" dalam hal bonding baik antara pasangan suami istri (kedua orang tuamu) maupun antara anak dan orang tua; riwayat pola asuh orang tua laki-laki yang bermasalah; dan salah satu adik dengan kondisi berkebutuhan khusus. Kesemuanya terasa berdampak pada apa yang kamu pikul mulai di usia 20 tahunan. Lantas, semakin memberat ketika kedua orang tuamu yang berusia nyaris kepala 6, meletakkan penyelesaian masalah demi masalah pada punggung, bahu dan kepalamu.
Hai Vinny Erika Putri.
Predikat sulung. Suatu waktu, kamu bisa memakluminya dengan hati yang lapang. Predikat sulung juga, membuatmu paham alasan munculnya sebuah arketipe pahlawan, yang menjadi mekanisme perlindungan otomatis bagimu untuk melindungi orang-orang terdekatmu. Tapi, setelah kamu berusia semakin matang, tak jarang juga batas toleransi yang tercederai memaksamu berbicara tegas, bulat, kukuh, tanpa memberikan ruang bantahan meskipun kamu berhadapan dengan orang tuamu sendiri. Jika berada di titik terendah, kamu akan melakukan mekanisme pengabaian dimana kamu benar-benar menjadi tidak peduli dengan semuanya kecuali menyelamatkan dirimu sendiri yang nyaris menadir kepayahan sebelum terjadi kerusakan parah pada dirimu.
Hai, Vinny Erika Putri.
Matamu masih berembun saat mengingat masa-masa sulit soal predikat sulung yang sudah banyak kamu lalui dan sembuhkan pelan-pelan. Tak apa. Manusiawi. Tak perlu disangkal. Kamu tidak akan bertambah lemah hanya karena mengalirkan sedih atau emosi apapun yang kamu rasakan. Kamu bukan sedang berkompetisi untuk berlaga kuat di hadapan orang lain. Kamu juga tidak meminta dirimu dikasihani atau dimaklumi. Kamu berharga karena kamu menghargai dirimu sendiri. Utuh. Penuh. Perlakuan orang lain tak mengurangi nilai apapun dari dirimu. Kamu independen, merdeka dari validasi orang lain. Hidupmu tak bergantung dan tak terpenjara pada sudut pandang mereka. Hidupmu soal adaptasi, ketahanan dan transformasi dari setiap jalan yang kamu pilih. Pula dari takdir mutlak yang tak bisa kamu perkarakan.
Hai, Vinny Erika Putri.
Malam ini, kamu bersedih. Esok pun, kamu tak mesti sudah membaik. Sekali lagi tak apa. Meski belum membaik, aku masih berada bersamamu, menggenggammu untuk tetap melihat dirimu menapaki hari. Lalu, bertepuk tangan gembira saat kamu berhasil melewati hari sulitmu.
Hai, Vinny Erika Putri.
Kuberitahukan sesuatu. Salah satu nilai yang aku hargai dan banggakan darimu. Aku bangga padamu, yang ketika berada di luar rumah, apapun masalahnya yang kamu tengah hadapi, kamu masih tetap bisa menjalani aktivitas pekerjaanmu dengan profesional. Tuhan masih membersamaimu dan menjaga kewarasanmu sehingga kamu masih bisa melihat sudut pandang yang jernih terhadap orang-orang yang berada di luar wilayah masalahmu.
Hai, Vinny Erika Putri.
Apapun yang tengah kamu rasakan, tak akan menghalangi langkahmu untuk tetap bergerak bukan? Karena aku tahu, kamu tak semudah itu menyerah.
Peluk sayang, untukmu dariku, bagian dari dirimu.
It is okay not to be okay at one time. I'm always there with you all the time to guide you to find God's message inside of it.
-Vinny Erika Putri, 03.03.21


0 komentar:
Posting Komentar