Sarung itu ia dekap erat-erat dengan kedua lengannya. Lalu, ia benamkan wajahnya pada sarung itu. Dua lubang udara menghirup dalam-dalam aroma yang tertinggal di tiap serat-serat kainnya. Dari situlah ia mengeja kenangan.
Matanya membasah. Ada kerinduan yang mengental dan menggumpal di dada. Kerinduan yang musykil mengecupi pertemuan. Kerinduan yang terbaca jelas oleh airmata.
Pada sarung itu, tertinggal aroma. Aroma ibunya. Dari situlah ia mengeja kenangan. Ia dan ibunya telah lama terpisah oleh satu batas: kematian.
-Vinny Erika Putri, Cirebon, 26.11.12.
-Vinny Erika Putri, Cirebon, 26.11.12.


0 komentar:
Posting Komentar