Ada berlaksa-laksa kata tertahan. Mengental dan menggumpal dalam dada. Hingga menjadi bongkah-bongkah yang menyempitkan celah bagi udara tuk mengisi peparu. Sesak. Mencekik.
Jerat matanya terus mengarah ke langit malam. Didapatinya rupa rembulan yang separuh, dan akan tetap separuh dalam jejaring pandangnya. Ia telah lupa, bagaimana cara merefleksikan jelma purnama. Sebab, hati gadis itu tak lagi utuh. Kembali separuh, seperti rembulan itu, dengan nganga luka yang tak kunjung mengatup. Luka itu mencabik-cabik hatinya yang dulu memerahjambu oleh cinta bertuak.
-Vinny Erika Putri, 01.11.12


0 komentar:
Posting Komentar