Sesak yang mencekik itu mencipta luruhan bulir-bulir embun di sudut mata sang gadis. Dalam telimpuh di atas sajadahnya, ia kembali menundukkan kepala kepada Sang Maha Penyayang bersama sengguk perih yang lirih. Sekuat tenaga ia hempas dendamnya.
"Aku tak perlu menghitung-hitung dan menakar seberapa adil, sebab Engkau Maha Mengetahui, Maha Adil lagi Maha Perhitungan. Cukup kumohonkan cahaya-Mu terus menerangiku," bisik gadis itu dalam hati dengan tangan menengadah.
Kilat-kilat ingatannya berkelebat. Lalu, terhenti pada titik ketika wanita yang menjadi onak itu mencabik-cabik hatinya.
"Aku bersyukur, dia adalah lelaki yang Tuhan kirimkan untukku, walau dengan cara yang menurut kamu menyakitkan. Dan dalam waktu dekat ini, kupastikan akan menikah dengannya. Kamu, hanya masa silam yang tidak penting sama sekali."
Ada senyum sinis bercampur perih tergambar pada bibir gadis itu mengingat tulisan-tulisan yang tertera pada sebuah layar kotak. Kata-kata wanita onak itu seperti sebuah anekdot lucu. Bagaimana tidak? Yang menjadi masa silam tak pernah sama sekali mengusik mereka yang telah menera luka. Tapi, wanita onak itu sendirilah yang menghadirkan gadis itu sebagai bayang-bayang mereka.
Gadis itu masih di atas sajadah. Entah telah berapa lama ia mengadu pada Tuhan-Nya dengan linang airmata yang masih saja meruah. Dan Tuhan memang selalu romantis, Dia membelai hati sang gadis dan memberinya ketenangan.
-Vinny Erika Putri, 10.11.12.


0 komentar:
Posting Komentar