Ketika Masaku Tak Lagi Kanak-Kanak

Ketika Anak-Anak Menjelma Dewasa dan Ibu Semakin Menua

It Is Okay Not To Be Okay

It Is Okay Not To Be Okay Eventhough You Are A Mother

Pergi Untuk Kembali

Pergilah, Untuk Kembali Tumbuh Menjadi Dirimu

Dandelion

Kebertahanan Hidup, Kenyamanan dan Kedamaian

#1. Tentang Selalu Ada dan Berdiri untuk Diriku Sendiri

Mencintai, Hadir Menerima dan Keterhubungan dengan Diri Sendiri

#2. Tentang Selalu Ada dan Berdiri untuk Diriku Sendiri

Sebuah Muara Kesadaran Kemana Seharusnya Keterhubungan Diri Terhubung

Sabtu, 26 Oktober 2013

Kesunyian Kirana



Kirana telah lupa. Bagaimana cinta dan lelaki itu terupa. Sepanjang ia mengenal cinta dan lelaki, hanya getir yang dicecapnya. Hati Kirana memati suri. Pada cinta dan lelaki.
*

Kirana menghentikan kakinya di depan pagar besi. Polesan warna di sekujur pagar mulai pudar dan mengarat. Lama-lama matanya memandang rumah di sebalik pagar. Kepenatan pada kota memulangkan Kirana ke rumah. Rumah yang menjentikkan rindu di hatinya.

Perlahan-lahan, Kirana mulai mengeja kenangan. Isi kepalanya memantulkan Kirana kecil tengah berlarian. Matanya lengah. Aral batu menjatuhkan kakinya. Lutut Kirana kecil mengucurkan darah. Dari bibirnya pecah tangisan. Baru reda setelah sang ibu mendudukkan Kirana kecil di sebuah bangku. Tangan lembut sang ibu mengobati luka Kirana. Dekapan dan senyumnya meredakan lecut kesakitan.

Denting kenangan kian menajam seiring langkah kakinya. Kirana memasuki pekarangan. Kakinya menginjak ilalang yang tumbuh setinggi betis. Beberapa bulan ke belakang, orang yang biasa dititahkannya merawat rumah itu, mengambil langkah mundur.

Kirana berjalan menuju selasar rumah. Didapatinya sebagian cat pada dinding-dinding kusam memucat. Pun kaca-kaca jendela buram berkerak debu. Kirana menyorongkan kunci ke sebuah lubang pada gagang pintu. Pintu ia dorong. Terdengar bunyi menderit. Derit memecah sunyi.

Pintu seolah mengeluhkan, “Aku bosan pada kalian. Dalam satu waktu, keberadaanku hanya untuk didatangi sekaligus ditinggalkan.”

Rumah menyambutnya dengan keheningan dan kotak kenangan lebih banyak. Memasuki ruangan, seluas mata menjala langit-langit, sesawang bergelantungan. Debu-debu tebal melumuri barang-barang. Barang-barang itu tak pernah berpindah tempat. Masih sama seperti bertahun-tahun silam sebelum kepergiannya.

Beberapa kursi kayu teronggok di ruang tamu. Di sini, Kirana kecil kerap mendapati bahu sang ibu berguncang kecil. Sengguk tetas bersama guncangan. Dari balik pintu yang terkuak, mata Kirana kecil mencuatkan kebingungan.

Sebenarnya, sewaktu itu, sang ibu kerap menyetia pada penantian. Menaruh harap pada ketukan pintu. Akan datang sosok lelakinya. Sampai sadarnya membeliak. Harapan kala itu serupa caranya mengkhianati kenyataan. Lelakinya tak pernah menjejakkan kaki di sini.

Jengkal demi jengkal kaki menyeret Kirana ke ruangan lain. Ruangan yang paling memancarkan kilau kebersamaan mereka. Adalah peraduan semasa malam melelapkannya. Pembaringan  berukiran kayu mematung di situ. Kirana membongkar gudang ingatan di kepalanya. Mencari degup kehidupan yang pernah ada.

Masih digenggamnya ingatan. Di pembaringan itu, sebelum lelap meringkusnya, sang ibu kerap mendongeng. Selama sang ibu mendongeng, khayalan negeri antah-berantah menari-nari di kepalanya. Lainnya, senandung ninabobo menyerupai kidung pengantar mimpi. Pula belai tangan sang ibu melarutkan Kirana kecil dalam kantuk.

Tatkala Kirana kecil terbangun di sepertiga malam-Nya, tubuh sang ibu tak tertangkap rabaan tangan. Dengan mata terpincing, Kirana melihat sang ibu tengah menelimpuhi kaki Tuhan dengan kepalanya. Lama. Entah apa yang dijeritkan batinnya. Air asin resap di atas sajadah menimpali sedu sedan.

Di pembaringan ini pula, Kirana kecil kerap mengurai tanya tentang sosok ayah. Lelaki yang dinamai ayah, tak pernah dilihatnya sama sekali.

“Apakah ayah membenciku, Bu?”

“Tidak, Kirana. Ayah tak membencimu.”

“Lalu, mengapa ayah tak pernah ada di sini?”

“Ayah sudah bersama Tuhan.”

“Tuhan mengambil ayah dariku?”

“Ayah memang milik Tuhan, Kirana. Kelak, kita akan menemui Tuhan untuk berjumpa dengan ayah bila saatnya tiba. Sekarang, tidurlah.”

Kirana kecil bungkam. Kebingungan tercipta di kepalanya. Bila ia menanyakan sosok ayah, genangan selalu mengada di mata ibu. Meski bibirnya menarik segaris senyum.
*
Kirana berpeluh keringat. Lesapnya debu dan sesawang menguras habis tenaganya. Letak benda-benda yang belasan tahun silam menghuni rumah itu, tak pernah diubahnya. Kirana tengah mencoba berdamai dengan kenangan. Ia telah beroleh pemahaman. Tentang cara orang-orang melawan kenangan yang menguarkan aroma luka.

Apa yang didapati dari melupakan sebagai cara melawan kenangan? Sia-sia. Nyatanya, waktu tak bisa melapukkannya. Apalagi membunuhnya. Selama jantung masih berdegup, selama kewarasan belumlah tertelan gila, sepanjang itu pula kenangan bernyawa. Utuh terbingkai dalam kepala.

Lelah meremasi persendian. Peluh melengketkan tubuh. Lelah dan peluh mengeluarkan Kirana dari rumah. Kirana berjalan menuju pancuran air terdekat. Tubuhnya perlu dibersihkan dan disegarkan.

Sepanjang kaki mengayun, senyum sapa berhamburan dari bibir-bibir yang ditemuinya. Beberapa dari mereka, berkeingin-tahuan besar tentang kabar Kirana selama di kota. Kirana mendadak seperti tetamu agung yang telah lama dinanti.
*
Panjang bayang-bayang kian memudar. Langit berangsur menghitam selaju tenggelamnya bola merah di ufuk timur. Semburat kemerahan yang melenyap, tersulihkan gelap yang pekat.

Kirana memantik api dari korek gas. Disulutkannya api pada sumbu lilin yang tergeletak di meja. Pijar api lilin menerabas gelap. Menciptakan keremangan. Dalam keremangan, Kirana hanyut meresapi keberadaan cahaya. Cahaya adalah tulang rusuk gelap. Mereka sepasang kekasih.

Cahaya menuntun gelap. Tanpa gelap, cahaya tak terasa cahaya. Terkadang, manusia melupakan keberadaan gelap yang bersembunyi dalam tiap-tiap diri. Sebagian dari mereka merasa bermandikan cahaya. Hingga cahaya yang terlampau silau, menutup mata mereka.

Kirana menjatuhkan diri di pembaringan. Ia menghirup waktu yang telah terketuk palu. Pikirannya mengelana. Menjelajahi tiap-tiap tilas yang basah. Masih tanak di pikirannya. Kali pertama ia bertanya tentang hal yang mengusik gadis seusianya.

“Cinta itu apa, Bu?”

“Cinta itu seperti ibu menyayangimu.”

“Jika cinta itu seperti ibu menyayangiku, seperti ayah menyayangi ibu jugakah?”

Sang ibu mengangguk lemah. Matanya basah. Basah mengilau. Merayap turun di wajah sang ibu. Kirana tak bertanya lagi. Kedua tangannya beranjak melingkari tubuh sang ibu. Erat-erat. Seolah tengah membagi kekuatan dan mengenyahkan duka sang ibu.
*
Kirana bangkit dari rebah. Bosan menyeretnya ke sisi jendela di samping pembaringan. Tangannya mendorong jendela. Seiring jendela terkuak, angin melesak masuk. Menawarkan silir angin pegunungan yang dingin. Binatang-binatang malam mengikrik. Kikrikan mereka laksana katarsis di pelataran sunyi yang kental.

Kirana melayangkan pandang ke arah langit. Bersama jejaring kenangan yang tak jemu menjeratnya. Di jendela ini, Kirana dan sang ibu seringkali menatapi rembulan di dua masa. Semasa lingkar rembulan memurnama langit. Dan semasa rembulan menyabit. Mereka meningkahi waktu dengan bercakap-cakap tentang segala yang bernapaskan kehidupan. Suatu masa, ketika rembulan penuh melingkar, Kirana mencari tahu bagaimana cinta itu terupa.

“Ibu, apakah debar itu serupa cinta?”

“Siapa lelaki yang mengajarimu debar, Nak? Yang pernah kau kenalkan kala itu pada ibu?”

Anggukan Kirana menandai jawaban, “Bagaimana, Bu? Bagaimana caraku menghadapinya?”

Sang ibu terdiam. Sangat lama. Betapa resah menikamnya. Waktu telah meremajakan usia anak gadisnya. Sanggupkah ia gemakan cinta sebagai mawar tanpa duri? Padahal, ia telah merasai leleran darah dari duri-duri mawar. Duri-duri yang pada akhirnya menyisakan luka.

“Kau lihat purnama itu, Nak? Purnama itu dua yang satu. Separuh adalah hatimu, separuh lagi adalah hati yang menggenapinya. Mencintalah.”

Sang ibu berhenti sejenak. Peparunya bergerak naik. Bagai menarik keluar gemuruh dari rongga dadanya. Lalu, membuangnya dengan lepasan embus napas.

“Bila suatu ketika kau dapati lingkar rembulan separuh, tetaplah benderang. Atau jadilah seperti sabit, yang tetap tersenyum kepada langit meskipun langit memberinya pekat kelam.”

“Apakah purnama itu separuh ibu dan separuh ayah?”

“Bukan, Nak. Separuh purnama itu ibu. Separuhnya lagi kau.”

“Mengapa bukan ayah?”

“Hanya napasmu yang masih jelas ibu rasakan. Adanya ibu, dititipkan Sang Kuasa untuk menjagamu.”

“Bila suatu saat aku tak di sini, apa yang akan ibu pandangi?”

“Lengkung sabit.”

“Kalau begitu, kita akan tetap memandangi purnama atau pun sabit di jendela yang sama.”

“Bagaimana caranya?”

“Aku minta lelakiku membawa serta ibu ke jendela mana pun ia membawaku.”

Sang ibu merengkuh Kirana. Serupa merengkuh harap: tak ditemurunkannya kepahitan. Akan cinta dan lelaki pada Kirana.
*
Dingin udara kian merajam tulang-belulang. Namun, Kirana enggan beranjak dari tepian jendela. Tilas yang basah masih membiusnya. Kali ini, ingatan tentang lelaki pertama yang mengenalinya debar.

Kala itu, Kirana seumpama kertas polos. Sedang lelaki pertama itu tintanya. Dan puisi-puisi yang digoreskan tinta itu merupa cinta. Lelaki pertama amatlah lihai. Ia telah mengenal rupa-rupa perempuan. Dengan sangat elok ia melambungkan hati Kirana pada keindahan.

“Berhati-hatilah, Nak. Sekalipun cinta seumpama puisi yang menebarkan wewangian dan keindahan bunga-bunga, tetaplah mengada padanya kidung yang menyairkan duri.”

Petuah itu petuah sang ibu. Namun, Kirana tetap mabuk cinta. Cinta telah melenakannya panjang-panjang. Lewat lelaki pertama, ia mencari-cari cermin ayah. Pun membentuk sosok lelaki di kepalanya. Lelaki pertama mengajarinya rasa mendamba. Apa yang telah dilakukan lelaki pertama?

Lelaki pertama mempermainkannya. Sedang Kirana terlalu lugu untuk merasai keganjilan. Sampai didapatinya nyata dengan mata kepala. Lelaki pertama tengah mengajari rabaan berujung lenguh menggelinjang. Pada seorang perempuan yang Kirana tak mengenalnya.

Kirana hancur. Hatinya mumur. Barulah ia mencelikkan matanya lebar-lebar. Ia tak mengenali lelakinya benar-benar. Cinta lelakinya sebatas rabaan. Ketika Kirana menggelengkan kepala untuk lekuk tubuhnya dipelajari, lelaki itu mencari perempuan lain sejenis itu.

Setelahnya, sang lelaki meminta jalinan tersambung kembali. Sungguh, terasa musykil dan mustahil bagi Kirana menerima. Kirana tak setunduk itu pada kebodohan. Tuak memabukkan itu telah berganti sembilu yang mengiris-ngiris hatinya. Kirana berjalan meniti waktu. Tertatih. Jatuh bangun.

Belum usai perih luka mengering. Perih baru datang menerjang. Menghempaskan Kirana pada liku yang panjang. Diteguk-paksanya kenyataan, sang ibu kehilangan degup jantung.

Jubelan orang-orang berpakaian serba hitam di tanah pekuburan seakan maklum. Akan usia yang seumpama jam pasir. Suatu waktu, detik yang berbulir akan berhenti mengalir. Sedang bagi Kirana? Menyisakan getir.

Lalu, didapatinya ia menjelma titik di dunia yang terlampau luas. 
Kecil.
Sendiri.
*
Malam kian meninggi. Lelah mengembalikan Kirana ke pembaringan. Namun, lelah tak pernah melelapkannya sungguh-sungguh. Sebab, meski malam membenamkannya pada bunga tidur, harum mimpinya tetaplah airmata. Seperti ketika ia terbangun kali ini. Sealir linang membasahi wajahnya.

Selebar-lebar Kirana membuka mata, didapatinya gelap menyergap. Lilin itu telah habis mengorbankan diri. Tangan Kirana meraba-raba pembaringan. Mencari-cari korek gas untuk menyulut lilin. Duri-duri bunga tidur menjauhkannya dari pembaringan.

Kirana memilih meringkuk di kursi dekat jendela. Aroma suram kenangan kembali menghanyutkannya. Atau seperti yang telah terkatakan sebelumnya. Kirana tengah berdamai dengan kenangan.

Kematian sang ibu melarikan Kirana ke kota rantau. Kota, tempatnya mendulang rupiah. Pula mempertemukannya dengan lelaki kedua. Lelaki kedua adalah lelaki menawan di mata Kirana. Jika lelaki pertamanya berisikan kepala laksana batu dan api. Maka lelaki kedua bagaikan tanah. Tanah mampu menjelma rupa-rupa.

Kala perih memuramkan Kirana, ia menyuguhkan lelucon-lelucon. Kala mata Kirana bertempias, tangan lelaki kedua menjadi tadahnya. Pun mahir mengubah kebosanan menjadi tetawa. Padanya, Kirana merasai debar baru. Berangsur-angsur hatinya kembali memerah jambu.

Di penghujung dua tahun usia jalinan, kegamangan menyapa. Lintas kota, akan menciptakan bentang jarak di antara mereka. Kemudian, batin Kirana menggemakan bermacam tanya.

Apa kuasa jarak terhadap cinta, duhai sang waktu? Mengeratkan jalinan? Atau mencerai-beraikannya?

Tanpa jarak yang panjang, lelaki pertama pandai membagi waktu dengan perempuan lain. Kini, dengan jarak yang membentang? Ah, Kirana memilih membunuh keraguan. Keraguan dibunuhnya dengan satu tebasan. Kepercayaan: lelaki kedua bukanlah lelaki pertama.

Seiring waktu bergulir, betapa bentang jarak menempanya pada penantian. Penantian melahirkan dera rindu. Semasa itu, keberadaan jarak serupa siksaan. Kirana hanya puas dengan suara lelaki kedua dari kejauhan. Lainnya, Kirana sadari bahwa jarak adalah celah bagi godaan bertumbuh liar. Pula membuka ruang dusta selebar-lebarnya.

Setanah-tanahnya lelaki kedua, jiwanya tetaplah lelaki. Yang oleh sebab perempuan, ia tak bisa menghindari api. Ia memerah terbakar. Kobaran api mengepulkan asap. Sangit tercium Kirana.

Rupanya, luka dari lelaki pertama mengasah kepekaan Kirana akan keganjilan. Suara lelaki kedua kian jarang menghalwa di telinga. Sekali ia didapati suara lelaki kedua, bunyinya hanyalah tumpahan serangsang amarah. Cinta lelaki kedua memucat mayat.

Puncak keganjilan tetas. Ketika suara perempuan yang menjadi onak menohok Kirana. Bagaimana dengan lelaki kedua? Lelaki kedua terlalu pengecut untuk sebuah pengakuan. Kejujuran nurani memilih bersembunyi. Ketiak perempuan onak itu tempat lelaki kedua bernaung.

Hati Kirana mengalunkan kidung yang menyairkan duri:

            Betapa... hatiku memar lebam
            Sebab hempasan luka lara
            Sekali empasan, remuk-redam
            Berkali empasan, lumat sempurna
            Kubertanya pada malam yang temaram
            Mengapa harus menoreh cecap luka
            Jika itu sebuah rasa yang mendalam
            Yang orang-orang namai cinta
*
Dari kejauhan, rembulan menyabit di angkasa. Lengkungnya menertawai kehidupan yang tengah lengah dibuai malam. Sinar terangnya bagai parang. Yang seolah ingin menyebat sisi tersembunyi manusia yang masih terjaga di sebalik jendela.

Usai perih tak menawarkan apa-apa selain caranya mengundang airmata, Kirana beranjak menuju lemari pakaian. Ia mengambil kotak yang ditemukannya ketika membersihkan debu-debu dan sesawang. Kotak yang tak terjamah semasa degup sang ibu masih ada.

Kotak itu, persemayaman rupa-rupa kisah. Tentang cinta dan lelaki yang pernah membuat purnama utuh di mata sang ibu. Tentang wewangian, cedayam bunga-bunga hingga mata pisau yang menyayati nadi. Kirana kini tahu. Apa sebab sang ibu menganggap purnama itu separuh dirinya dan separuh Kirana.

Bara merah berkobar di hati Kirana. Meletupkan kemuakan tiada tara. Kirana menyentakkan tanya di tengah gelimang kemuakan, “Dari apa hati lelaki-lelaki itu terupa, Ibu? Ataukah malah tak berhati?”

Dalam Kepala Kirana masih tertanam ingatan. Bagaimana dahulu sang ibu tersenyum saat ia memberondong tentang sosok ayah. Ah, betapa saat itu hatinya memeram reriak pedih. Kepada Kirana, ia membingkai lelakinya dalam potret ketiadaan. Sekalipun nyata, jantung lelakinya masih bedenyut. Nun jauh di sana.

Dari kotak itu, Kirana mereguk duri-duri. Duri-duri itu adalah kenyataan. Yang mengisahkan kidung petaka antara sang ayah dan ibu. Kuasa jarak dan waktu awal mulanya.

Demi mengubah gubuk menjadi dinding berkayu dan berperabot lebih banyak, demi terpenuhinya perut dengan bermacam makanan dan asap dapur tetap mengepul, sang ayah menghamba pada jarak dan waktu. Lantas, di bawah panjangnya kuasa jarak dan waktu, setia tak ubahnya telur di ujung tanduk.

Pada perempuan bergincu merah yang menawarkan ladangnya, ayah Kirana bercocok tanam. Setelahnya, bulan perempuan bergincu merah tak lagi memerah. Benih telah menjadi daging. Kehidupan kota yang gemerlap bersama perempuan bergincu merah, memalingkan ayah Kirana dari sang ibu. Ah, betapa....
*
“Bila suatu ketika kau dapati lingkar rembulan separuh, tetaplah benderang. Atau jadilah seperti sabit, yang tetap tersenyum kepada langit meskipun langit memberinya pekat kelam.”

Tilas suara menggema dari segala arah. Menyerupai dengung tawon. Kirana menjadi paham, mengapa lengkung sabit yang dipilih sang ibu ketika rembulan tak lagi melingkar penuh.

Kirana tercekik sesak. Sesak melahirkan desah. Melentingkan getar di bibir. Lirih terdengar ujar, “Aku merindukanmu, Bu. Adakah telaga cinta lain yang sejernih dirimu? Adakah yang paham tentang cecap luka-luka sedalam engkau memahamiku? Duhai Ibu..., mengapa cinta dan lelaki begitu memuakkan?”

Angin berdesing. Menggetarkan kaca jendela. Tiupannya semakin mengencang. Pucuk pepohonan meliuk-liuk. Dedaunan terputus napas. Tercerabut paksa dari reranting. Memilin, berputar. Melayang-layang. Lalu, jatuh sekehendak angin mendaratkannya.
            Tahukah kau, dedaunan yang melayang-layang?
            Meski angin memisahkanmu dari reranting
            Kau tak akan merasai sunyi panjang menjerang
            Sebab, akan ada tanah yang bersiap menampamu
            Lalu kau, reranting....
            Tahukah kau, wahai reranting?
            Kau tak pernah kehilangan dedaunan
            Dedaunan tak benar-benar pergi
            Dedaunan hanya menyulap diri
            Menjelma humus agar kau tetap berseri
            Bersama dedaunan-dedaunan baru
            Sedang rembulan sabit di angkasa sana?
            Meski bintang-bintang bertabur di sekelilingnya
            Dengan lengkung yang terang menyala
            Rembulan sabit menertawai kesunyiannya sendiri

Sinar rembulan berwujud parang berangsur lindap memudar. Pendar bintang-bintang berganti cahaya bercerambuk petir. Langit bertudung mendung. Kirana memejam mata. Hampa dan kekosongan menjelanak diam-diam.

Pelan-pelan, tanah kering beraroma basah. Lantas, membecek selaju langit mendaraskan hujan. Alam yang tak tertebak di sekarat malam, seolah membahasakan perasaan. Bersama butir-butir air di matanya yang jatuh satu-satu, Kirana lebur dalam kesunyian. Rasanya, Kirana ingin tidur... di pangkuan Tuhan.
*

Penulis : Vinny Erika Putri
*Cerpen ini masuk ke dalam 150 karya cerpen favorit kategori C (Umum/ guru/ mahasiswa) dalam LMCR ROHTO MENTHOLANUM 2013 dari (menurut informasi) 6700 naskah yang masuk.


Ketika Masaku Tak Lagi Kanak-Kanak



Ada yang mengatakan, nikmatilah menjadi ibu ketika anak-anak masih terlampau kecil untuk bisa melakukan apa-apa. Sebab, seiring waktu mendewasakan mereka, tiada rengek tangis yang merepotkan ibu seperti semasa mereka kecil. Banyak hal yang mereka sanggup lakukan sendiri. Dan tak lagi ingin diatur-atur.

Lalu, bagi anak yang telah didewasakan waktu? Ada satu titik di mana larut kesibukan menjerangkan rindu. Akan waktu-waktu bersama ibu. Sekalipun hanya mengisinya dengan perbincangan panjang yang membawa tawa renyah.

Lainnya, ketika lelah menidurkan ibu dengan lelap. Tampak kerut garis di wajahnya bertambah. Rambut putih tak lagi sehelai dua helai. Tapi telah penuh-penuh mengisi kepala. Detik demi detik yang bergulir, menyepuhkan usianya perlahan. Sesak tiba-tiba meletikkan bulir air yang jatuh satu-satu ketika aku menatapnya diam-diam.

-V.E.P, 19.09.13

Kamis, 03 Oktober 2013

Berbicara Efektif kepada Anak Usia Pra-Sekolah




Sabtu, 14 September 2013, kami mengikuti kegiatan parenting yang dipandu oleh seorang psikolog anak. Kegiatan itu telah menjadi kegiatan rutin bulanan yang diadakan lembaga kami. Acara hari itu, bertemakan "Berbicara Efektif kepada Anak Usia Pra-Sekolah".



Apa yang mengawali diangkatnya tema tersebut? Kami, lembaga yang berkecimpung di dunia Pendidikan Anak Usia Dini rentang usia 1-5 tahun, sering mengalami hal yang kami perkirakan umum dialami banyak orang tua atau lembaga serupa. Apakah itu? Pastinya, kita pernah mengalami fase di mana kita melarang anak dengan kalimat panjang-lebar ketika melakukan hal yang dinilai berbahaya di mata kita. Atau melarang hal yang semestinya tidak dilakukan oleh sebab faktor budaya kesopanan yang berlaku di tanah air atau labelitas norma yang membelit suatu kelompok/golongan.

Kami ambil beberapa contoh kasus di lingkungan kami bekerja dan mungkin hampir menjadi kasus umum di lembaga lainnya juga para orang tua.
  1. Ketika anak mendekati kompor yang sedang menyala dan di atasnya teronggok panci berisi air mendidih atau minyak yang meletik-letik, kita umumnya akan berkata, "Jangan dekat-dekat. Berbahaya. Nanti tangannya bisa melepuh kalau disentuh." Terkadang, kita hanya berbicara tanpa ada kontak fisik dan sambil tetap berkubang dengan kesibukan semisal memasak, membuat susu atau sebab tengah menangani anak lainnya. Apa hasilnya? Anak kian menjadi-jadi. Bukannya pergi menjauh, malah semakin mencoba mendekati kompor api dengan panci air di atasnya.
  2. Ketika anak bermain pasir atau batu. Kemudian melemparkannya secara sembarang atau mengarahkannya pada teman di dekatnya. Kemudian, posisi kita saat itu jauh untuk menjangkaunya dengan segera karena gerakan mereka lebih cepat dari antisipasi kita. Maka secara spontan, radar bahaya yang tertanam di otak kita meletuskan teriakan tinggi dari mulut, "JANGAAAAAN!! NOOOO!! STOOOP!!" Setelahnya, anak dimarahi lalu dilarang bermain batu dan pasir.
  3. Anak-anak terkadang melakukan hal-hal yang menurut kita tidak sopan untuk dilakukan karena berkaitan dengan ranah adab/norma yang dianut semisal norma agama, norma kesopanan dan norma-norma lain. Contoh: anak menaiki meja untuk bermain-main, anak berulah dengan membalik-balikan kursi atau merengek gaduh ketika kita sedang menerima tamu, meminta uang di depan tamu dan kelakuan lainnya yang dinilai memalukan. Saat itu, radar adab kesopanan kita akan memarahi tindak-tanduk anak dengan mulut yang mengomel panjang lebar setelah tamu pulang atau bahkan mungkin di depan tamu.
Mari kita bahas kasus-kasus yang dicontohkan di atas. Kami mengurainya berdasarkan hasil sharing dengan psikolog anak yang kami undang saat itu.

Melarang anak dengan kata "jangan" atau "tidak" tanpa alasan yang jelas, bukanlah hal yang efektif.

Apa pasal? Karena kata "jangan" atau "tidak" justru akan memancing rasa keingintahun anak lebih dalam. Bila mengatakan kata "jangan" atau "tidak," sertai alasan yang masuk akal (bukan suatu kebohongan untuk mengalihkan) atau memberikannya alternatif lain. Mengapa alasan dan alternatif lain? Satu, adanya alasan dan alternatif lain sebagai pengalihan adalah agar anak memahami konsep sebab akibat dan mampu mengambil pilihan dari alternatif yang ditawarkan. Kedua, tanyakan kepada diri kita masing-masing, ketika mendengar orang lain "menceramahi" kita dengan kalimat panjang-lebar atas sebuah kesalahan yang dilakukan tanpa memberi alternatif solusi atau sebuah arahan untuk keluar dari kesalahan tersebut, efektifkah itu? Kalau hati kecil kita mengatakan "tidak", apalagi dengan anak rentang usia 1-5 tahun yang kemampuan bahasa dan daya nalarnya masih dalam proses perkembangan.

Lantas, apa yang kita dapatkan dari repetisi larangan kepada anak yang dilakukan secara intens? Secara tidak sadar, kita telah mengikis pelan-pelan rasa keingin-tahuan anak. Kita tidak akan menyangka dampak besar seiring lenyapnya rasa keingin-tahuan anak. Individu dari setiap anak adalah manusia. Hilangnya rasa keingin-tahuan manusia menjadi kematian bagi ilmu. Mengapa? Sebab, tanpa rasa keingin-tahuan, manusia tidak akan menggunakan akal pikirannya untuk menemukan ilmu. Akal pikirannya lama kelamaan akan menjadi tumpul karena tidak ada penggerak yang mendorong dirinya menemukan suatu pengetahuan.

Lainnya, kata "jangan" atau "tidak", ditambah reaksi tak biasa berupa ekspresi wajah dan nada bicara yang meluap-luap justru menjadi sebuah ladang uji coba bagi anak.

Ladang uji coba? Kok, bisa? Bisa jadi, saat kita memberikan reaksi dari suatu aksi yang dilakukan anak, ia tengah mempelajari reaksi tersebut. Setelah anak mendapatkan reaksi yang tak biasa, ia akan mengulang atau melakukan hal lain untuk mencari tahu ragam reaksi yang akan kita berikan. Jangankan anak usia dini. Bayangkan kita orang dewasa. Kasarnya, bercerminlah pada diri. Bukankah ketika orang dewasa mendapatkan perhatian lebih atas aksi yang dilakukannya itu akan menambah amunisi semangat untuk mengulangi aksinya? Ada sebuah hukum fisika terkenal yang mengatakan, "Hukum aksi sama dengan reaksi".

Kemudian, tentang tingkah laku anak yang dirasakan kita bertentangan dengan adat-istiadat, budaya atau norma-norma tertentu. Contoh: anak ribut atau berulah, mengacak-ngacak barang yang ada ketika kita sedang menerima tamu. Dengan mengacu pada adat-istiadat, budaya atau norma yang melekat kuat, pastilah rasa malu mengisi penuh-penuh pikiran kita. Selanjutnya, rasa malu kita akan tingkah laku anak, menutup jalan pikiran kita untuk mencari tahu maksud di balik sikap yang dilakukan anak.

Di kepala kita hanya terpikirkan kata "MEMALUKAN". Padahal, mungkin saja, anak tengah meminta pengakuan dari kita atas keberadaan dirinya di hadapan tamu. Atau ia tengah mencari perhatian. Atau seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, anak tengah melakukan uji coba. Akan samakah seperti reaksi yang biasa kita lakukan ketika tidak ada tamu atau orang lain di rumah? Mereka mempelajari reaksi yang kita berikan terhadap mereka di dua situasi yang berbeda. Kami tidak mengatakan bahwa adat-istiadat, budaya atau norma yang berlaku tidak penting apalagi diabaikan dalam hal ini. Tapi, maksud kami, carilah tahu terlebih dahulu maksud di balik perbuatan yang mereka lakukan. Setelah mereka memberikan penjelasan, barulah memasukkan nilai-nilai yang berlaku di lingkungan kita. Metode seperti ini bisa dilakukan ketika anak sudah menapaki usia 3 tahun dan telah mampu berbicara dengan jelas walaupun belum bisa bercerita secara runtut.

Lalu, bagaimana cara berbicara efektif kepada anak usia pra-sekolah?

Tentang bagaimana cara berbicara efektif kepada anak usia pra-sekolah tidak ada teori yang mutlak benar. Ilmu yang mempelajari manusia, tidak pernah mengalami stagnasi pada satu titik saja. Ilmu tersebut akan terus berkembang dan mengalami modifikasi seiring perguliran zaman. Sebab, manusia itu sendiri adalah makhluk yang terus tumbuh dan berkembang sesuai dengan akal pikiran yang dianugerahi-Nya untuk menemukan ilmu-ilmuNya dan pengalaman yang didapatkannya.

Sebelumnya, konsep yang semestinya kita pahami anak usia pra-sekolah adalah anak pembelajar aktif dan berkebutuhan tinggi dalam bermain berdasarkan minatnya masing-masing. Mereka gemar mengeksplor benda-benda di sekelilingnya atau mencoba hal-hal baru atas dorongan rasa keingin-tahuan mereka yang tengah mekar-mekarnya. Adalah hal yang menjadi tidak wajar bila anak usia pra-sekolah hanya duduk diam manis, tidak lincah dan tidak menunjukkan minat pada apa pun. Hal tersebut patut dicurigai. Bisa saja gejala tersebut mengarah pada gangguan perkembangan atau psikologis.

Selanjutnya, untuk contoh kasus 1, ketika melarang anak sebab hal yang membahayakan, sebaiknya tidak hanya mulut yang berbicara panjang-lebar, sementara kita tetap tak bergeming dari kesibukan yang tengah dikerjakan. Sangat tidak efektif. Hentikan pekerjaan kita sebentar. Dekati anak itu. Ajak berbicara dengan kontak fisik. Pegang bahu atau genggam tangan anak. Sejajarkan posisi mata kita dengan mata anak. Tatap matanya. Lalu, tanyakan, "Adek mau apa dari kompor itu?" sebelum kita menggali lebih jauh lagi.

Pada contoh kasus 2, acapkali sebagian orang tua panik tak terkontrol bila melihat tingkah buah hati yang bisa melukai teman di dekatnya. Adalah hal yang lumrah dan manusiawi. Tapi, setelahnya, telisiklah lebih dalam lagi. Tanyakan pada hati kita, apa yang sesungguhnya menyulutkan kepanikan diri saat melihat tingkah anak pada kasus dua. Kekhawatiran akan temannya yang terluka atau cemoohan orang tua korban yang tidak terima anaknya dilukai?

Sebagian orang tua, ada yang tidak siap dengan lahirnya cemoohan dari lingkungan atas ulah buah hati. Efeknya, terkadang rasa malu membuat kita menjadi hakim yang menjatuhkan punishment pada anak tanpa menelusuri lebih dalam akar permasalahannya. Bahkan terkadang kita lupa memahami bahwa anak-anak kita adalah makhluk kecil yang tengah mekar berkembang, bukan makhluk dewasa dalam tubuh anak kecil. Orang dewasa saja tak luput dari yang namanya kesalahan, apalagi anak-anak yang masih membutuhkan bimbingan dan arahan orang dewasa.

Lainnya, untuk contoh kasus 3, berkaitan dengan hal-hal yang dilakukan anak yang bertentangan adat-isitiadat, budaya atau norma-norma. Semisal, anak tak mau pergi ketika kita sedang menerima tamu meski kita sudah menyuruhnya, libatkan anak dalam komunikasi wajar bersama tamu.

Kita ambil contoh, anak menjungkir-balikkan kursi di depan tamu. Ajak anak berbicara, "Kursinya mau dibikin apa, Dek? Mau kasih tahu ke teman mama, ya? Tapi, maaf ya, Dek, sekarang mama lagi ada tamu. Adek mainnya gak di sini dulu." Kemudian contoh lainnya, saat anak tengah bermain lego dan tak henti-hentinya mengajak kita bicara, coba katakan, "Waaah, lagi bikin apa, Dek? Mau kasih lihat ke temen mama, ya? Kalau sudah dikasih lihat, adek mainnya gak di sini dulu, ya. Mama lagi ada tamu." Contoh lainnya juga, ketika anak meminta uang, kita bisa katakan, "Udah salam belum sama tamunya, Mama/Papa? Nanti ya, Dek, minta uangnya. Mama/Papa lagi ada tamu."

Berikan anak ruang beberapa menit untuk berinteraksi dengan tamu baru setelahnya diberikan pemahaman bahwa ia tidak bisa lama-lama berada di ruang tersebut. Hal itu menjadi bentuk pengakuan atas keberadaan anak di hadapan orang lain. Juga bisa menjadi salah satu wahana anak belajar berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain.

Pada akhirnya, dari hasil diskusi dan sharing pengalaman di hari Sabtu, 14 September 2013, kami simpulkan, sesungguhnya tak ada cara berbicara efektif pada anak usia pra-sekolah. Tapi, lebih kepada bagaimana kita memilih respon dari dalam diri atas tiap-tiap aksi yang dilakukan anak. Untuk menyiasati respon dari sebuah aksi butuh kreativitas dan kesabaran. Kreativitas dan kesabaran menyiasati adalah kunci dari efektifitas itu sendiri. Sulit dan butuh tempaan panjang. Tak semudah membalikkan telapak tangan atau minum air sekali teguk. Itulah yang dinamakan pembelajaran seumur hidup.

Rabu, 25 September 2013

Kiran untuk Kirana


Suara keributan di luar kamar Kiran telah mengusir lelap tidurnya. Entah sejak kapan keributan itu menembusi gendang telinganya. Kiran tak bisa mengingatnya. Apa yang bisa diingat dari seorang anak seusianya? Usia hanya mengenalinya pada dua bahasa. Tangis dan tawa.

Mulanya, tangis Kiran acap pecah. Sebab, suara keributan menjentikkan ketakutan di hatinya. Pelan-pelan, Kiran menjadi terbiasa. Kini, suara keributan itu bagai kidung pembuka pagi baginya.

Kiran seolah telah dipahamkan oleh waktu. Bahwa ketenangan akan kembali menimangnya. Setelah terdengar bunyi gesekan pintu gerbang dan deru mesin mobil menjauh.

Lalu, seperti pagi yang berkesudah. Kirana datang membuka jendela kamar Kiran. Bersamaan dengan jendela yang terkuak, udara pagi melesak masuk. Lantas, Kirana menghampiri Kiran di pembaringan dan memberinya kecupan.

“Sudah bangun, Nak.”

Kiran memandang Kirana sejenak. Bibir Kirana melengkungkan senyum. Tangannya membelai kepala Kiran. Sedang matanya menghangat. Hangat menjelma sebulir kilau. Jatuh mengenai wajah Kiran

Ujar Kirana, “Ayo, kita pergi ke taman, Nak. Sambil bunda suapi Kiran makan, kita berjemur di sana.”

Kirana menggendong Kiran. Dalam gendongannya, tulang-tulang Kiran terasa kaku. Tak luwes menyatu dengan pinggangnya. Keluar dari kamar, ia bersama Kiran berjalan melewati ruang makan.

Di sana, serpihan-serpihan beling berserakan di lantai. Tampak berkilau. Tak sekali-dua kali lantai menampa serakan beling. Serpihan yang mengilau itu terlihat menarik di mata Kiran. Namun, karena serpihan-serpihan itu juga Kirana pernah meneriakinya.

“JANGAN KIRAAAN!!! BERHENTIIIII!!!”

Kiran abai dengan teriakan Kirana saat itu. Ia terus merangkak. Beberapa jengkal lagi, seserpih beling nyaris menyayat kulit Kiran. Dengan gegas berlari Kirana menghampirinya.

“Maaf, Nak. Benda ini berbahaya untuk Kiran. Kiran bisa terluka.”

Kirana melembutkan suara sembari menatap Kiran. Kiran hanya membalasnya dengan pandangan kosong.

*

Sinar mentari tampak lurus menjuntai dari balik gumpalan-gumpalan awan putih. Sebagian sinarnya menyorot bumi. Meresapkan perlahan sisa-sisa embun di pucuk dedaunan dan rerumputan ke udara. Lainnya, membagi hangat pada atap-atap rumah

Taman telah ramai oleh beberapa anak-anak seusia Kiran. Kebanyakan dari mereka dalam gendongan entah sang ibu atau baby sister-nya. Sisanya, para manula yang tengah menyambut kehangatan pagi dengan olah tubuh atau duduk-duduk.    
  
“Kiran sudah tak sabar ingin segera berjalan, Nak,” ucap Kirana saat merasakan kaki Kiran melonjak-lonjak dalam gendongannya.

Kirana menurunkan Kiran. Kedua tangannya menggenggam jemari Kiran. Lantas menuntun langkah kecil Kiran. Baru beberapa depa kaki menjejak tanah, jejaring pandang Kiran mendapati sepasang burung kecil terbang merendah sambil berputar-putar. Gerakannya membesarkan kegembiraan Kiran. 

Kiran tertawa senang. Langkah kakinya menjadi serampangan. Sepasang burung itu terburu ingin dijangkaunya. Namun, begitu Kiran mendekat, sepasang burung itu terbang kian tinggi.

Kiran menangis sejadinya. Tangisnya bercampur dengan letupan amarah. Tangan Kirana tak siap dengan amukan yang terjadi tiba-tiba. Jemari Kiran terlepas dari genggamannya. Kiran menggelusurkan diri ke tanah. Ia membenturkan kepalanya. Dengan tangis yang masih kencang.

Tangis Kiran menyeret kaki Kirana ke bangku taman. Kirana mendudukkan Kiran di pangkuannya. Tangannya mengusap-ngusap punggung Kiran. Pun bibirnya mengecup kepala Kiran lama.

Selama ini, amarah adalah cara Kiran berbicara bila keinginannya tak terpenuhi. Amarahnya adalah amukan yang menyakiti diri sendiri. Tak hanya ketika berada di luar. Di rumah, lantai juga tak jarang menerima hantaman dari kepalanya.

Setelah tangis Kiran reda, Kirana menghadapkan wajah Kiran ke wajahnya. Dilihatnya mata Kiran sembari berkata, “Nak, burung itu bersayap. Sayap membawa mereka terbang tinggi. Kiran tak bisa-”

Kalimat Kirana terpangkas oleh ulah Kiran. Kiran menundukkan kepalanya. Tubuhnya berontak menggeliat. Tangis kembali pecah setelahnya. Kirana tak lagi berbicara. Hanya dekap hangat dan belai lembut pada Kiran yang ditumpahkan Kirana dalam diam.

Kirana paham. Betapa Kiran sulit mengendalikan diri. Pun memusatkan perhatian pada satu titik tertetu dalam jangka waktu lama. Bertatapan mata dengan Kiran lebih dari lima detik adalah hal yang musykil.

“Kita pulang sekarang, Nak. Mentari sudah semakin panas. Sudah bukan waktunya lagi untuk Kiran berjemur.”

*

Rembulan menyabit di angkasa. Kirana hanyut meresapi termaramnya. Bersama sunyi yang mengepung hatinya, Kirana merenungkan keganjilan-keganjilan. Akan perubahan lelaki yang menikahinya empat tahun silam.

Selain keributan yang kini kerap mewarnai pagi, didapatinya lelaki itu kian menghambar. Rumah tak lebih dari sebuah wahana penenggat lelah sekehendak suaminya datang. Kesibukan lebih sering melarutkan suaminya di luar kota.

Sewaktu ranjang menjadi tempat peraduan bersama, seringkali hanya kebekuan yang menyelimuti. Rengkuhan telah jarang didapatinya. Perbincangan hangat begitu sulit mengalir. Masih tanak dalam ingatan Kirana tentang percakapan lalu. Ketika di atas ranjang, punggung sang suami membelakanginya.

“Adakah wanita lain yang memalingkanmu dariku, Mas?”

“Aku bosan. Sudah berapa kali pertanyaan itu aku dengar dari mulutmu!"

“Aku merasakan perubahan itu. Kapan terakhir kali kita berbicara dengan hati, Mas? Kamu lebih sering memilih amarah untuk menghindari perbincangan.”

“Aku hanya lelah! Pekerjaan-pekerjaanku sudah terlampau menyita pikiran! Pahamilah!”

Tempias menampa rinai gerimis. Rinai gerimis menciptakan suara gemericik. Gemericik menderas. Menyadarkan Kirana dari kelana waktu lampau. Dipandanginya Kiran yang tertidur pulas. Tepukan tangannya telah mengantarkan Kiran pada bunga tidur.

Lirih terdengar ujar, “Bunda menyayangimu. Lebih dari bunda menyayangi diri sendiri, Kiran.”

*


Waktu terus menumbuh-kembangkan Kiran. Tak terasa, usianya telah menapaki empat tahun. Jalan kehidupan Kirana kian berliku dan cadas berbatu seiring pertambahan usia Kiran. Kiran tumbuh menjadi anak yang “istimewa”. Lainnya, bahtera rumah tangganya semakin dirasainya oleng.

“Kamu berkelahi lagi?! Berapa pot bunga tetangga yang kamu pecahkan?! Haaah?!!!”

“Tapi ayah-”

“Kamu ini!! Selalu saja menyusahkan! Berapa kali ayah menerima keluhan dari orangtua teman-temanmu! Pagi ini, tak cuma pot bunga yang hancur. Kamu juga melukai temanmu! Lagi dan lagi!”

“Tapi ayah-,” sebuah tamparan mendarat di pipi Kiran. Dari seorang lelaki yang Kiran panggil ayah.

“Bundaaaaaa!”

Mendengar teriak kesakitan Kiran, perih menikam-nikam hati Kirana. Pun memanaskan matanya. Kirana kekang setengah mati agar panas di matanya tak leleh melinang. Bukan keluhan-keluhan tentang Kiran yang memerihkan hatinya. Tetapi apa yang barusan dilakukan oleh suaminya.

Bagi Kirana, keluhan-keluhan dari bibir para tetangga tak lagi dirasainya tajam menusuk. Keluhan yang baru saja didapati atau keluhan lainnya serupa itu sudah sering Kirana reguk.

Semenjak Kiran berusia dua tahun, keluhan demi keluhan telah berguliran. Mereka katakan, Kiran acap tak terkendali saat bermain dengan teman seusianya. Kiran menjambak, mendorong, memukul dan mengigit anak-anak mereka.

Semasa itu, Kirana kerap menghaturkan maaf atas tingkah polah buah hatinya. Selaju aliran waktu, keluhan-keluhan yang melahirkan cemoohan dari banyak bibir, menempa Kirana menjadi kebal. Cemoohan-cemoohan telah membentuk antibodi di hatinya.

Kirana mendekati Kiran, “Kiran, pergi ke kamar dulu, Nak. Dan tolong tutup pintunya,” titah Kirana sembari menatap Kiran.

Kiran tak bergeming sampai Kirana mengulang perintah dan menegaskannya dengan isyarat tangan, “Ayo, Nak. Kiran pergi ke kamar duluan. Tutup pintunya. Nanti bunda susul.”

Kiran berlalu dari hadapan mereka. Seiring pintu kamar melesapkan punggung Kiran dari pandangan Kirana, adu mulut pun dimulai.

“Tak seharusnya kamu lakukan itu! Kamu tak pernah memberinya kesempatan untuk menjelaskan! Cobalah memahami Kiran!” cetus Kirana.

“Kamu selalu membelanya!” nada suara suaminya tidak kalah tinggi.

“Lalu, kamu? Bisakah mencoba sedikit saja bersabar menghadapi Kiran?”

“Anak itu hanya membawa keluh-kesah para tetangga ke sini! Dia terlalu nakal.”

Pecah sudah wadah hati Kirana menampung kesabaran. “Kamu bahkan tak tahu seberapa istimewanya anakmu sendiri! Dan kamu sendiri? Terlalu tempramental,” balas Kirana dengan sengit lantas meninggalkan suaminya

Kirana melangkahkan kaki ke kamar Kiran. Di dalam kamar Kiran, kertas-kertas dengan bermacam coretan warna berselirak di lantai. Gambar-gambar buatan Kiran menempeli dinding kamarnya penuh-penuh. Itulah Kiran. Gambar adalah caranya membahasakan rasa. Kiran terlahir dengan anugerah berdaya imaginasi tajam, melebihi anak seusianya.

Di sisi pembaringan, Kiran duduk menelungkupkan kepala di atas kedua kakinya yang menekuk. Badannya berguncang-guncang. Sengguk tetas bersama guncangan.

“Kiran....”

Kirana mengangkat kepala Kiran. Didapatinya airmata Kiran menganak sungai. Dahinya masih melelerkan darah.

“Mengapa ayah selalu marah pada Kiran, Bunda? Ayah juga selalu bilang Kiran anak nakal. Kiran nakal, ya, Bunda?” tanya Kiran.

Kirana menatap Kiran dalam-dalam, “Kiran tidak nakal, Nak.”

“Mereka mendorong Kiran duluan, Bunda. Mereka marah karena bola yang Kiran lempar kena muka mereka. Kiran sudah bilang tidak mau main bola. Tapi mereka paksa Kiran.”

Kirana mengerti. Benda apa pun yang dilemparkan Kiran, jarang sekali tepat mengenai sasaran. Kejanggalan itu telah dirasai Kirana. Kala Kiran mulai berjalan di usianya yang menginjak dua tahun. Saat berjalan, Kiran kerap menabrak apa-apa yang ada di hadapannya. Otaknya seolah tak bisa memperkirakan adanya aral yang merintangi langkahnya. Kiran tak bisa mengira-ngira jarak dan kecepatan. Sepanjang usianya, Kiran tak pernah bermain bola.

“Mereka bilang, ‘Kiran bodoh’.”

Kirana menghapus airmata Kiran. Lalu membersihkan luka di dahi Kiran. Ucapnya, “Biarkan saja mereka berkata begitu pada Kiran. Apa pun yang mereka katakan, Kiran tetap anak bunda. Bunda selalu sayang Kiran. Kiran tidak bodoh, Nak. Dengan belajar dan berlatih, Kiran bisa pintar.”

Kirana mendekap Kiran. Lama. Hingga Kirana meneteskan airmata. Sejauh ini, selancarnya Kiran berbicara, Kirana dapati dengan perjuangan dan gumam doa-doa di sepertiga malam-Nya. Masih tertanam ingatan dalam Kepala Kirana. Ketika Kirana mengajarkan satu kata “meja” kepada Kiran. Saat itu, Kiran berusia dua tahun.

“MEJA. M-E-J-A,” eja Kirana dengan mata yang tak lepas menatap Kiran. Pula sembari tangannya menunjuk benda yang dinamai meja.

Bagi anak seusianya, mengeja benda bersuku kata minimal dua, tak begitu sulit diucapkan. Sedang bagi Kiran, adalah teramat kerja keras untuk rahangnya bergerak dan matanya berkonsentrasi.

Hari-hari milik Kirana tercurah habis untuk menerapi Kiran. Kirana merutinkan terapi bicara untuk Kiran. Selama empat jam per hari. Berbagai kosakata Kirana kenalkan pada Kiran.

Buku bergambar tanpa huruf-huruf atau angka-angka memperkaya isi kepala Kiran akan kosakata dan imaginasi. Gambar dengan warna terang mencolok lebih menarik di mata Kiran daripada deretan huruf-huruf atau angka-angka. Kirana melakukannya sepanjang dua tahun.

*


Kiran mendapati tubuh Kirana tak tertangkap rabaannya. Matanya membuka sesaat. Dilihatnya Kirana tengah telimpuh di atas sajadah. Selebihnya, kantuk berat melelapkan Kiran kembali.

Sesungguhnya, batin Kirana tengah menjerit. Katarsis perih dilepaskannya bersama reratap yang lirih sepanjang sujud. Tetas sudah keganjilan yang selama ini direnunginya. Terkuak sudah bangkai yang suaminya pendam.

Di suatu siang, mata kepalanya mendapati sang suami mematahkan setia. Suami Kirana bermain api dengan wanita yang dikenalnya. Sembilu melumat pertahanan Kirana dengan sempurna. Hatinya remuk-redam. Mumur tak bersisa.

Kirana menghujani-Nya bertubi-tubi ampun dalam sujud panjangnya. Sisi manusia Kirana tak sanggup untuk menambal sulam mahligai rumah tangganya. Komitmen tanpa setia, baginya terasa percuma. Luka telah mengoyak parah hatinya.

Usai kucuran reratap memberinya kelegaan, ia rebah di pembaringan. Direngkuhnya Kiran dengan perasaan bersalah yang mendalam. Matanya masih saja basah. Pun hatinya berdarah. Batinnya menggemakan permohonan maaf. Atas apa yang akan diberikannya kepada Kiran: sebuah keluarga yang tercerai-berai.

Dari sebalik jendela, lengkung rembulan membentuk parang yang terang. Lingkarnya tak lagi penuh. Seperti hati Kirana yang tak lagi utuh.

*


Perubahan status memaksa Kiran membanting tulang demi menjaga asap dapur tetap mengepul. Pun membiayai sekolah Kiran. Kiran telah bersekolah di Taman Kanak-Kanak tak jauh dari kantor Kirana bekerja.

Sejauh Kirana telah mengambil pilihan, Kiran tak pernah mempersalahkan dirinya. Meski tak bisa disangkal, hati kecil Kirana tetap merasai, anak adalah korban terbesar perceraian.

“Kiran baik-baik saja, Bunda. Selama ada bunda bersama Kiran,” ujar Kiran ketika Kirana menjelaskan perpisahannya dengan sang ayah.

Kiran tak pernah mengeluhkan apa-apa di depannya. Sampai suatu ketika, Kirana mendapati keluhan dari salah satu guru di sekolah Kiran.

“Anak Anda sulit untuk diarahkan membaca dan menulis. Ia cenderung memilih bermain sendiri atau berulah saat kami menegaskan sikap padanya. Kiran sering menunjukkan pengulangan kesalahan yang sama dalam menulis. Entah dia sengaja melakukannya atau tidak.”

“Kesalahan bagaimana, Bu?” tanya Kirana.

“Contoh: Huruf ‘b’ dan ‘d’ sering tertukar. Lalu, angka 7 ditulis terbalik ke bawah seperti gambar hidung. Kiran juga masih kesulitan memegang pensil dengan benar di lima tahun usianya.”

Keluhan yang sampai ke telinga Kirana membuka pembicaraan antara dirinya dan Kiran di suatu malam.

“Kiran... Kiran tidak suka dengan pelajaran baca tulis di sekolah?”

Kiran mendadak kaget. Kekagetan membisukan mulutnya cukup lama. Sepanjang kebisuan Kiran, hening meraja.

“Bunda tidak marah, Nak. Bunda hanya ingin tahu mengapa Kiran tak suka dengan pelajaran baca tulis,” Kirana memecah hening dengan suara lembutnya.

“Angka-angka dan huruf-huruf itu seperti menari-nari di mata Kiran, Bunda. Kepala Kiran pusing.” Kiran akhirnya bersuara. 

Kirana terdiam sesaat. Kepalanya mengail bermacam kotak ingatan dan mencocokkan dengan beragam kemungkinan. Kemudian melepaskan senyum pada Kiran. Kirana melihat ketegangan teraut di wajah Kiran.

Setelah wajah Kiran mencair, Kirana menatapnya, “Kiran, tolong letakkan tas bunda di kamarmu, Nak. Lalu, tolong ambilkan minum untuk bunda, sama piring untuk wadah kue brownies yang bunda beli. Nanti kita makan bersama-sama di sini. Tapi, setelah piring dan minumnya diletakkan di sini, Kiran ambil buku PR Kiran dulu.”

Kiran mematung sesaat. Lantas, mengangguk. Kiran menyambar tas yang disodorkan Kirana dan pergi ke kamarnya. Beberapa menit kemudian, Kiran kembali hanya membawa piring. Tanpa minum dan buku PR di tangannya.

“Terima kasih, Nak. Bagaimana kalau kita bercerita tentang teman-teman Kiran di sekolah. Siapa saja teman-teman Kiran?”

“Teman-teman Kiran banyak, Bunda. Yang paling lucu itu teman laki-laki Kiran. Orangnya berkepala bulat dan berpipi gemuk. Kiran paling suka dengan teman perempuan yang kulitnya putih. Rambutnya juga hitam lurus,” celoteh Kiran antusias.

Dari celotehan yang mengalir, tak satu pun terucap sebuah nama. Kiran hanya menyebutkan teman-temannya dengan karakteristik tertentu. Padahal, Kiran sudah setengah tahun bersekolah. Cukup sudah analisa yang dilakukan Kirana. 

Huruf-huruf dan angka-angka membuat Kiran tertekan. Kiran tak bisa mengingat nama-nama temannya. Kiran kebingungan menerima empat perintah dalam satu kalimat panjang. Latar belakang keilmuan yang pernah dicecap Kirana, mengarahkannya pada sebuah indikasi: Kiran mengidap disleksia.

*


Segala cara Kirana tempuh. Sepagi-pagi Kirana bangun, disiapkannya makanan berbentuk huruf atau angka untuk Kiran. Kirana melafalkan bunyi huruf atau angka itu sebelum Kiran menyantapnya.

Kirana menjejali buku cerita bergambar yang menarik perhatian Kiran. Bila Kiran merasa bosan, Kirana membiarkan Kiran berkutat dengan game di notebook-nya. Kiran tak memainkan sembarang game. Kirana menyuguhkan game ketangkasan yang melatih Kiran membedakan kanan-kiri, atas-bawah.

Pasir dan playdough juga tak luput dari bidikan Kirana sebagai media belajar. Kirana menuntun jemari Kiran menuliskan huruf-huruf dan angka-angka di atas pasir. Sedangkan ketika bermain playdough, Kirana mengajari Kiran cara membentuk huruf-huruf dan angka-angka. Lalu, dari huruf-huruf yang terbentuk, disusunnya menjadi beberapa kata.

Lainnya, Kirana memakai media yang paling disukai Kiran. Mereka melukis bersama. Usai melukis, Kiran akan menceritakan apa yang dilukisnya. Setelahnya, dengan kuas berpoles warna dalam genggaman, Kiran menggoreskan judul pendek di atas lukisan kanvasnya.

*


Tanggal merah meliburkan Kirana dari pekerjaan. Ketika tanggal memerah, Kirana kerap mengajak Kiran pergi ke taman. Di sana, sebelum terik menyengat kulit, mereka melakukan ritual: lari-lari kecil dan bermain bola.

Lepas mengolah si kulit bundar, Kiran belajar berhitung sambil bermain. Anak tangga yang dinaungi pepohonan menjadi alatnya. Kirana menuliskan angka-angka di setiap undakan anak tangga. Mulai dari nol sampai  sepuluh. Kirana meminta Kiran berdiri di undakan anak tangga yang bertuliskan angka nol.

“Kiran, Kalau bunda bilang tambah, berarti Kiran naik. Kalau bunda bilang kurang, berarti Kiran turun.”

“Tambah-naik. Kurang-turun. Begitu, ya, Bunda?” Kiran mencoba mengingat dan mengulang perintah.

“Ya, Nak. Mulutnya juga ikut menghitung.”

“Siap, Bunda.”

“Sekarang, mulai dari nol ditambah dua.”

Kiran menghitung langkah. Kakinya menaiki anak tangga sebanyak dua. Berhenti tepat di anak tangga yang bertuliskan angka dua.

“Ditambah lagi lima.”

Kiran kembali naik. Sebanyak lima anak tangga.

“Jadi berapa sekarang, Kiran?”

Kiran terdiam. Dalam diam, ia memperhatikan lama angka yang tertera. Kepalanya menggali-gali ingatan dari ragam angka yang pernah dikenalnya, “Tujuh, Bunda.”

“Hebat. Sekarang, dikurangi tiga.”

Kiran turun tiga langkah. Berhenti tepat di anak tangga bertuliskan angka empat. Ketika Kirana menanyainya, Kiran menjawab dengan benar angka yang tertera di anak tangga tempatnya berdiri. Berulang-ulang mereka melakukan permainan itu. Hingga Dahaga Kiran menghentikan permainan. Pula dirasai Kirana matahari kian terik.

Terik dan dahaga menyeret langkah kaki mereka menuju bangku taman. Kerumunan orang-orang terkumpul di sana. Termasuk penjaja makanan dan minuman.

Semilir angin sejuk menyapu kulit. Tiupannya menggemerisikkan dedaunan. Gemerisik dedaunan mengiringi perbincangan dua bibir.

“Bunda.... Kiran mau sekolah lagi. Kiran mau lanjut ke Sekolah Dasar.”

Lidah Kirana kelu kebas. Hatinya mengharu-biru. Kirana tersenyum. Lantas memberikan anggukan sebagai jawaban.

*


Kirana merasai kegelisahan erat meringkusnya. Pikirnya, ujian masuk SD yang tengah dihadapi Kiran adalah musabab kegelisahannya. Sebanyak ayunan kaki membawa Kirana ke tempat kerja, hatinya tak henti menabur doa-doa. Kegelisahan membuatnya pikun. Bahwa kantornya akan kedatangan karyawan baru hari ini.

Sesampainya di kantor, karyawan baru tengah memperkenalkan diri kepada seluruh karyawan, “Perkenalkan, nama saya...,”

Mendadak, dunia tak berjalan normal bagi Kirana. Adanya wanita itu menghempaskan Kirana pada tilas yang basah dan berdarah. Wanita itu bekas temannya. Yang pernah menjadi onak dalam rumah tangganya. Yang akhirnya meluluh-lantakkan rumah tangganya. Yang telah bersuamikan mantan suaminya.

Sekejap, Kirana tak tahu bagaimana menamai keadaan. Juga bagaimana ia membahasakan rasa dengan kata. Lidahnya kaku beku. Kepalanya bagai terhantam godam besar. Melayang berputar. Lemas melunglai. Hati Kirana tercabik-cabik. Lagi. Ah, betapa....

*

Pintu gerbang menyangga tubuh Kirana yang berdiri. Entah berapa menit Kirana habiskan untuk menanti Kiran. Penantiannya tetas setelah ia melihat Kiran. Kiran berlari ke arahnya. Senyum riang terukir di sana. Sedang Kirana memalsukan senyum untuk menirai sebatan perih yang memecut hatinya.

“Bagaimana tesnya, Nak?”

“Guru laki-laki dan perempuan di ruangan itu bilang, Kiran bisa sekolah di sini, Bunda,” ujar Kiran sambil terlonjak-lonjak.

Hati Kirana gerimis. Dalam satu waktu, didapatinya getir-duka dan riang-bahagia datang bersamaan. Kirana melingkarkan tubuh Kiran dalam rengkuhannya. Erat-erat. Seolah tengah menyadap kekuatan darinya.

“Mengapa bunda menangis?” tanya Kiran ketika mendapati sealir linang di sudut mata Kirana.

“Bunda senang, Nak. Bunda terharu,” Kirana menyeka wajahnya yang basah, “kita pulang sekarang, Nak,” lanjut Kirana.

Seiring anggukan Kiran, dua pasang kaki berjalan. Hati Kirana menelan entah pada keadaan esok. Di atas bayang luka yang kembali koyak menganga, Kirana membajakan hati untuk bertahan. Demi Kiran yang dititipkan-Nya. Dan Sang Kuasa tak pernah salah memilihkan Kirana suratan: Kiran untuk Kirana.

*
Cerpen ini masuk 35 besar dari 500-an naskah cerpen yang masuk di cyberdakwah.com