Kamis, 03 Oktober 2013

Berbicara Efektif kepada Anak Usia Pra-Sekolah




Sabtu, 14 September 2013, kami mengikuti kegiatan parenting yang dipandu oleh seorang psikolog anak. Kegiatan itu telah menjadi kegiatan rutin bulanan yang diadakan lembaga kami. Acara hari itu, bertemakan "Berbicara Efektif kepada Anak Usia Pra-Sekolah".



Apa yang mengawali diangkatnya tema tersebut? Kami, lembaga yang berkecimpung di dunia Pendidikan Anak Usia Dini rentang usia 1-5 tahun, sering mengalami hal yang kami perkirakan umum dialami banyak orang tua atau lembaga serupa. Apakah itu? Pastinya, kita pernah mengalami fase di mana kita melarang anak dengan kalimat panjang-lebar ketika melakukan hal yang dinilai berbahaya di mata kita. Atau melarang hal yang semestinya tidak dilakukan oleh sebab faktor budaya kesopanan yang berlaku di tanah air atau labelitas norma yang membelit suatu kelompok/golongan.

Kami ambil beberapa contoh kasus di lingkungan kami bekerja dan mungkin hampir menjadi kasus umum di lembaga lainnya juga para orang tua.
  1. Ketika anak mendekati kompor yang sedang menyala dan di atasnya teronggok panci berisi air mendidih atau minyak yang meletik-letik, kita umumnya akan berkata, "Jangan dekat-dekat. Berbahaya. Nanti tangannya bisa melepuh kalau disentuh." Terkadang, kita hanya berbicara tanpa ada kontak fisik dan sambil tetap berkubang dengan kesibukan semisal memasak, membuat susu atau sebab tengah menangani anak lainnya. Apa hasilnya? Anak kian menjadi-jadi. Bukannya pergi menjauh, malah semakin mencoba mendekati kompor api dengan panci air di atasnya.
  2. Ketika anak bermain pasir atau batu. Kemudian melemparkannya secara sembarang atau mengarahkannya pada teman di dekatnya. Kemudian, posisi kita saat itu jauh untuk menjangkaunya dengan segera karena gerakan mereka lebih cepat dari antisipasi kita. Maka secara spontan, radar bahaya yang tertanam di otak kita meletuskan teriakan tinggi dari mulut, "JANGAAAAAN!! NOOOO!! STOOOP!!" Setelahnya, anak dimarahi lalu dilarang bermain batu dan pasir.
  3. Anak-anak terkadang melakukan hal-hal yang menurut kita tidak sopan untuk dilakukan karena berkaitan dengan ranah adab/norma yang dianut semisal norma agama, norma kesopanan dan norma-norma lain. Contoh: anak menaiki meja untuk bermain-main, anak berulah dengan membalik-balikan kursi atau merengek gaduh ketika kita sedang menerima tamu, meminta uang di depan tamu dan kelakuan lainnya yang dinilai memalukan. Saat itu, radar adab kesopanan kita akan memarahi tindak-tanduk anak dengan mulut yang mengomel panjang lebar setelah tamu pulang atau bahkan mungkin di depan tamu.
Mari kita bahas kasus-kasus yang dicontohkan di atas. Kami mengurainya berdasarkan hasil sharing dengan psikolog anak yang kami undang saat itu.

Melarang anak dengan kata "jangan" atau "tidak" tanpa alasan yang jelas, bukanlah hal yang efektif.

Apa pasal? Karena kata "jangan" atau "tidak" justru akan memancing rasa keingintahun anak lebih dalam. Bila mengatakan kata "jangan" atau "tidak," sertai alasan yang masuk akal (bukan suatu kebohongan untuk mengalihkan) atau memberikannya alternatif lain. Mengapa alasan dan alternatif lain? Satu, adanya alasan dan alternatif lain sebagai pengalihan adalah agar anak memahami konsep sebab akibat dan mampu mengambil pilihan dari alternatif yang ditawarkan. Kedua, tanyakan kepada diri kita masing-masing, ketika mendengar orang lain "menceramahi" kita dengan kalimat panjang-lebar atas sebuah kesalahan yang dilakukan tanpa memberi alternatif solusi atau sebuah arahan untuk keluar dari kesalahan tersebut, efektifkah itu? Kalau hati kecil kita mengatakan "tidak", apalagi dengan anak rentang usia 1-5 tahun yang kemampuan bahasa dan daya nalarnya masih dalam proses perkembangan.

Lantas, apa yang kita dapatkan dari repetisi larangan kepada anak yang dilakukan secara intens? Secara tidak sadar, kita telah mengikis pelan-pelan rasa keingin-tahuan anak. Kita tidak akan menyangka dampak besar seiring lenyapnya rasa keingin-tahuan anak. Individu dari setiap anak adalah manusia. Hilangnya rasa keingin-tahuan manusia menjadi kematian bagi ilmu. Mengapa? Sebab, tanpa rasa keingin-tahuan, manusia tidak akan menggunakan akal pikirannya untuk menemukan ilmu. Akal pikirannya lama kelamaan akan menjadi tumpul karena tidak ada penggerak yang mendorong dirinya menemukan suatu pengetahuan.

Lainnya, kata "jangan" atau "tidak", ditambah reaksi tak biasa berupa ekspresi wajah dan nada bicara yang meluap-luap justru menjadi sebuah ladang uji coba bagi anak.

Ladang uji coba? Kok, bisa? Bisa jadi, saat kita memberikan reaksi dari suatu aksi yang dilakukan anak, ia tengah mempelajari reaksi tersebut. Setelah anak mendapatkan reaksi yang tak biasa, ia akan mengulang atau melakukan hal lain untuk mencari tahu ragam reaksi yang akan kita berikan. Jangankan anak usia dini. Bayangkan kita orang dewasa. Kasarnya, bercerminlah pada diri. Bukankah ketika orang dewasa mendapatkan perhatian lebih atas aksi yang dilakukannya itu akan menambah amunisi semangat untuk mengulangi aksinya? Ada sebuah hukum fisika terkenal yang mengatakan, "Hukum aksi sama dengan reaksi".

Kemudian, tentang tingkah laku anak yang dirasakan kita bertentangan dengan adat-istiadat, budaya atau norma-norma tertentu. Contoh: anak ribut atau berulah, mengacak-ngacak barang yang ada ketika kita sedang menerima tamu. Dengan mengacu pada adat-istiadat, budaya atau norma yang melekat kuat, pastilah rasa malu mengisi penuh-penuh pikiran kita. Selanjutnya, rasa malu kita akan tingkah laku anak, menutup jalan pikiran kita untuk mencari tahu maksud di balik sikap yang dilakukan anak.

Di kepala kita hanya terpikirkan kata "MEMALUKAN". Padahal, mungkin saja, anak tengah meminta pengakuan dari kita atas keberadaan dirinya di hadapan tamu. Atau ia tengah mencari perhatian. Atau seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, anak tengah melakukan uji coba. Akan samakah seperti reaksi yang biasa kita lakukan ketika tidak ada tamu atau orang lain di rumah? Mereka mempelajari reaksi yang kita berikan terhadap mereka di dua situasi yang berbeda. Kami tidak mengatakan bahwa adat-istiadat, budaya atau norma yang berlaku tidak penting apalagi diabaikan dalam hal ini. Tapi, maksud kami, carilah tahu terlebih dahulu maksud di balik perbuatan yang mereka lakukan. Setelah mereka memberikan penjelasan, barulah memasukkan nilai-nilai yang berlaku di lingkungan kita. Metode seperti ini bisa dilakukan ketika anak sudah menapaki usia 3 tahun dan telah mampu berbicara dengan jelas walaupun belum bisa bercerita secara runtut.

Lalu, bagaimana cara berbicara efektif kepada anak usia pra-sekolah?

Tentang bagaimana cara berbicara efektif kepada anak usia pra-sekolah tidak ada teori yang mutlak benar. Ilmu yang mempelajari manusia, tidak pernah mengalami stagnasi pada satu titik saja. Ilmu tersebut akan terus berkembang dan mengalami modifikasi seiring perguliran zaman. Sebab, manusia itu sendiri adalah makhluk yang terus tumbuh dan berkembang sesuai dengan akal pikiran yang dianugerahi-Nya untuk menemukan ilmu-ilmuNya dan pengalaman yang didapatkannya.

Sebelumnya, konsep yang semestinya kita pahami anak usia pra-sekolah adalah anak pembelajar aktif dan berkebutuhan tinggi dalam bermain berdasarkan minatnya masing-masing. Mereka gemar mengeksplor benda-benda di sekelilingnya atau mencoba hal-hal baru atas dorongan rasa keingin-tahuan mereka yang tengah mekar-mekarnya. Adalah hal yang menjadi tidak wajar bila anak usia pra-sekolah hanya duduk diam manis, tidak lincah dan tidak menunjukkan minat pada apa pun. Hal tersebut patut dicurigai. Bisa saja gejala tersebut mengarah pada gangguan perkembangan atau psikologis.

Selanjutnya, untuk contoh kasus 1, ketika melarang anak sebab hal yang membahayakan, sebaiknya tidak hanya mulut yang berbicara panjang-lebar, sementara kita tetap tak bergeming dari kesibukan yang tengah dikerjakan. Sangat tidak efektif. Hentikan pekerjaan kita sebentar. Dekati anak itu. Ajak berbicara dengan kontak fisik. Pegang bahu atau genggam tangan anak. Sejajarkan posisi mata kita dengan mata anak. Tatap matanya. Lalu, tanyakan, "Adek mau apa dari kompor itu?" sebelum kita menggali lebih jauh lagi.

Pada contoh kasus 2, acapkali sebagian orang tua panik tak terkontrol bila melihat tingkah buah hati yang bisa melukai teman di dekatnya. Adalah hal yang lumrah dan manusiawi. Tapi, setelahnya, telisiklah lebih dalam lagi. Tanyakan pada hati kita, apa yang sesungguhnya menyulutkan kepanikan diri saat melihat tingkah anak pada kasus dua. Kekhawatiran akan temannya yang terluka atau cemoohan orang tua korban yang tidak terima anaknya dilukai?

Sebagian orang tua, ada yang tidak siap dengan lahirnya cemoohan dari lingkungan atas ulah buah hati. Efeknya, terkadang rasa malu membuat kita menjadi hakim yang menjatuhkan punishment pada anak tanpa menelusuri lebih dalam akar permasalahannya. Bahkan terkadang kita lupa memahami bahwa anak-anak kita adalah makhluk kecil yang tengah mekar berkembang, bukan makhluk dewasa dalam tubuh anak kecil. Orang dewasa saja tak luput dari yang namanya kesalahan, apalagi anak-anak yang masih membutuhkan bimbingan dan arahan orang dewasa.

Lainnya, untuk contoh kasus 3, berkaitan dengan hal-hal yang dilakukan anak yang bertentangan adat-isitiadat, budaya atau norma-norma. Semisal, anak tak mau pergi ketika kita sedang menerima tamu meski kita sudah menyuruhnya, libatkan anak dalam komunikasi wajar bersama tamu.

Kita ambil contoh, anak menjungkir-balikkan kursi di depan tamu. Ajak anak berbicara, "Kursinya mau dibikin apa, Dek? Mau kasih tahu ke teman mama, ya? Tapi, maaf ya, Dek, sekarang mama lagi ada tamu. Adek mainnya gak di sini dulu." Kemudian contoh lainnya, saat anak tengah bermain lego dan tak henti-hentinya mengajak kita bicara, coba katakan, "Waaah, lagi bikin apa, Dek? Mau kasih lihat ke temen mama, ya? Kalau sudah dikasih lihat, adek mainnya gak di sini dulu, ya. Mama lagi ada tamu." Contoh lainnya juga, ketika anak meminta uang, kita bisa katakan, "Udah salam belum sama tamunya, Mama/Papa? Nanti ya, Dek, minta uangnya. Mama/Papa lagi ada tamu."

Berikan anak ruang beberapa menit untuk berinteraksi dengan tamu baru setelahnya diberikan pemahaman bahwa ia tidak bisa lama-lama berada di ruang tersebut. Hal itu menjadi bentuk pengakuan atas keberadaan anak di hadapan orang lain. Juga bisa menjadi salah satu wahana anak belajar berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain.

Pada akhirnya, dari hasil diskusi dan sharing pengalaman di hari Sabtu, 14 September 2013, kami simpulkan, sesungguhnya tak ada cara berbicara efektif pada anak usia pra-sekolah. Tapi, lebih kepada bagaimana kita memilih respon dari dalam diri atas tiap-tiap aksi yang dilakukan anak. Untuk menyiasati respon dari sebuah aksi butuh kreativitas dan kesabaran. Kreativitas dan kesabaran menyiasati adalah kunci dari efektifitas itu sendiri. Sulit dan butuh tempaan panjang. Tak semudah membalikkan telapak tangan atau minum air sekali teguk. Itulah yang dinamakan pembelajaran seumur hidup.

0 komentar:

Posting Komentar