Tentang makna menjadi orang tua ...
Tahukah, wahai Dunia? Aku mulai mempertanyakan makna menjadi orang tua ketika aku masih baru-barunya mengenakan seragam putih-merah dimana aku telah memiliki adik laki-laki yang berbeda sekitar tiga tahun dari usiaku. Pada saat itu, aku berbagi peran dengan ibuku yang memilih berhenti bekerja ketika adik laki-lakiku sakit-sakitan.
Aku bertugas menjaga adik laki-lakiku dan melakukan beberapa pekerjaan rumah tangga lainnya yang mampu dikerjakan anak seusiaku seperti mengelap debu-debu perabotan rumah, mencuci piring, menyapu pekarangan, menyapu dan mengepel lantai rumah, membersihkan kamar mandi. Bahkan, ketika adikku masuk di SD yang sama denganku, aku hampir setiap jam istirahat berkunjung ke kelas adikku untuk melihat dan memastikannya dalam kondisi aman. Terutama di awal-awal dia masuk sekolah, masa dimana cukup sulit untuknya beradaptasi dengan teman-temannya.
Semasa aku SD, kondisi perekonomian orang tuaku Alhamdulillah kami katakan cukup. Cukup ada sesuai kebutuhan saat itu. Kami diajari untuk tidak boros menggunakan uang. Menabung adalah kata-kata yang sering digaungkan ibu. Pernah suatu ketika, aku berkeinginan mendapatkan uang jajan lebih, dan membelikan adikku mainan yang banyak diminati anak-anak di SD-ku waktu itu. Apa yang kulakukan? Aku mengamati barang apa yang dijual oleh pedagang yang mudah aku tiru. Lantas, tercetuslah ide dari pikiranku untuk membuat gambar di kertas HVS dengan mencontoh gambar-gambar Mickey Mouse yang kudapatkan dari majalah anak. Gambar itu dijual kepada teman-teman yang sedang gemar-gemarnya mewarnai gambar. Hasilnya, lumayan, bisa untuk menambah jajan untukku dan membelikan adikku mainan.
Ibu, kerap memberikan petuah-petuah tentang tugas seorang sulung. Bahwa, sulunglah yang nanti akan menjaga adik-adiknya. Dan saat itu, pemikiranku masih sesederhana usiaku. Yang artinya, menjaga adikku adalah melindungi dia dari orang-orang yang berniat menjahatinya.
Ibu, dalam kondisi tertentu, kadang memintaku mengalah saat aku dan adik laki-lakiku bertengkar. Kadang juga, ibu tidak memihak pada siapapun. Pernah suatu ketika, entah karena berebut apa, kami berseteru. Lantas, ibu mengurung kami berdua di kamar sampai kami berbaikan kembali, barulah kami boleh keluar dari kamar. Yang kulakukan saat itu untuk bisa keluar dari kamar, mengatakan pada ibu dari balik pintu bahwa kami sudah bermaaf-maafan dan tidak lagi berselisih dengan adikku.
*
Di usia SD pulalah, aku mulai melihat pertengkaran ibu-bapak di hadapanku. Perang mulut. Beradu argumentasi. Tapi aku tidak mendengar isi kandang binatang terlepas dari mulut mereka saat mereka berselisih. Hanya lengkingan-lengkingan nada tinggi yang saling bersahutan. Pertengkaran sering terjadi di masa usia pernikahan mereka yang mungkin masihlah muda dan penuh ujian yang belum bisa kucerna.
Pertengkaran hebat yang paling kuingat adalah ketika aku dari dalam kamar mendengarkan mereka ribut, lantas ibu mengetuk kamarku dan mengatakan ingin pergi kembali ke Wonosobo meninggalkan kami. Aku keluar kamar dan melihat bapak sudah memecahkan meja kaca hingga tangannya berdarah. Tuhan masih melindungi adikku saat itu. Adikku tidur pulas hingga pertengkaran mereka tak terdengar.
Saat itu, aku menangis, sambil berujar "Sudah, jangan bertengkar lagi. Ibu jangan pergi. Nanti Puput sama siapa?" Dan mereka terdiam. Kemudian saling mendiamkan entah berapa hari meski ibu tetap melaksanakan pekerjaan rumah tangganya. Dimasa-masa mereka "perang dingin", akulah yang mengasuh adikku dan menyiapkan beberapa kebutuhannya.
Lalu, aku pun mulai bertanya-tanya tentang makna menjadi orang tua ...
Usiaku saat itu memasuki tahun pertama berseragam putih-biru. Aku mulai menjadi remaja dewasa yang kerap dijadikan teman curhat ibuku tentang perjalanan rumah tangga beliau termasuk perlakukan-perlakuan adik-adik iparnya. Aku tahu benar, ibuku tidak memiliki teman curhat siapapun selain diriku. Entah mengapa ibu mulai menceritakan biduk rumah tangganya kepadaku. Mungkin, ibu menganggap aku sudah mulai bisa mengerti banyak hal dengan cukup dewasa.
Aku mulai merasakan hidup semakin rumit sejak aku menjadi tempat yang ibu percaya untuk bercerita. Perlahan-lahan, diriku "dipaksa" tumbuh mendewasa dalam menengahi pertengkaran ibu-bapak ketika ibu dalam kondisi manusiawinya yang tidak lagi sanggup menanggung beban perasaan karena kekurangdewasaannya bapak dalam menyikapi masalah.
Kemudian, adik perempuanku lahir. Masih di masa aku mengenakan seragam putih-biru. Kuterima kehadirannya dengan suka cita. Setiap kali ibu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, aku tanpa disuruh ibu, akan menjaga adik perempuanku atau mengeloninya sampai tidur. Kadang, diam-diam, tanpa sepengetahuan ibu, aku kerap menggendongnya. Padahal waktu itu, ibu sudah melarangku karena khawatir aku salah posisi dalam menggendong adik perempuanku yang bisa membahayakannya.
Waktu terus berjalan. Kami terus bertumbuh. Aku mulai bisa melihat kejanggalan pada adikku. Tatapan matanya berbeda dengan anak-anak lainnya. Polos dan terasa kosong. Tapi, pemahamanku belum sampai sejauh yang sudah ibu pahami saat itu.
Tumbuh kembang adik perempuanku tidak seperti anak normal lainnya. Ia mengalami keterlambatan bicara juga gerak motoriknya. Terlepas dari apapun kondisi adikku, aku masih merasakan semuanya terasa biasa saja dan bisa diterima. Sebab, tidak ada beban yang dipikulkan padaku kala itu.
Ada satu hal yang membuatku haru dari perjalanan adik perempuanku. Aku adalah orang yang pertama kali melihatnya bisa berjalan dengan tertatih-tatih. Saat aku mengajaknya bermain di luar rumah, di setapak jalan perumahan yang sepi dari lalu lalang orang, aku dengan berani melepaskan gandenganku dari tangannya. Lalu, aku berjongkok beberapa depa di hadapannya. Kurentangkan tangan sambil berkata, "Adek, ayo sini, Jalan." Pelan-pelan, adikku berjalan dengan langkah kaki yang belum seimbang. Ya, dia mulai bisa berjalan di usia yang terlambat jika melihat acuan tingkat pencapaian perkembangan anak seusianya. Mungkin sekitar 3 tahunan usianya pada saat itu, dimana bicaranya pun belum jelas sama sekali.
Kupeluk dirinya saat dia berhasil menggapai tanganku. Lalu kami pun pulang ke rumah. Aku menyampaikan kabar ini dengan gembira kepada ibu-bapak. Mereka pun bersuka cita. Sejak kelahiran adik perempuanku, pertengkaran ibu-bapak sudah tidak seintens dulu.
Pada akhirnya, aku mulai menemukan tentang makna menjadi orang tua ...
Menginjak usia kepala 2, aku mulai merasakan tanggung jawab yang kupikul dalam keluarga ini begitu besar.
Adik-adikku memasuki usia remaja kecil. Kompleksitas masalah semakin bertambah. Adik laki-laki yang mulai nakal layaknya kenakalan remaja yang membolos sekolah, sempat mendapat lingkungan pergaulan yang tidak baik, dijerumuskan pada obat-obatan level ringan oleh temannya sampai tidak lulus SMA dan akhirnya kejar paket C untuk mendapatkan ijazah. Saat adik laki-lakiku putus asa, akulah yang diminta orang tua untuk merangkul dan menyemangatinya.
Ya, aku yang saat itu tengah menempuh pendidikan S1 Teknik Sipil, sudah mulai merasakan pikulan-pikulan sebagai sulung perempuan dan mampu melihat kenyataan bahwa adikku bukan orang yang sanggup mematahkan badai di sekitarnya. Mereka membutuhkan pertolongan orang selain dirinya untuk keluar dari badai itu sendiri. Adik-adikku bukan orang berotak cerdas yang bisa bertahan dan memiliki ketahanan dalam menghadapi lingkungan sosialnya. Adik-adikku bukan orang yang berdaya nalar tinggi dalam menyerap ilmu pengetahuan sehingga sedemikian sulit bagi mereka untuk bisa menyelesaikan pendidikan akademiknya. Dan kami semua bukanlah anak-anak yang mendapat pengasuhan yang tepat dari seorang bapak dimana bapak sendiri juga anak yang mengalami kecacatan pola asuh dari orang tuanya. Di saat aku masih menempuh pendidikan S1 Teknik Sipil di Purwokerto pulalah, bapakku terkena serangan jantung, mengalami masa kritis dan sempat dirahasiakan ibu jika saja adik laki-lakiku tidak membocorkan kabar bapak padaku. Bapakku menderita lemah jantung.
Kemudian, tahun 2010, aku lulus kuliah S1 Teknik Sipil. Adik laki-lakiku dikuliahkan di sebuah sekolah tinggi di Cirebon (STTC) dengan mengambil program profesi D1 broadcasting dimana aku banyak terlibat membantunya mengerjakan tugas-tugas yang tidak dia mampu juga melobi dosennya untuk meminta kebijakan dalam bentuk tugas-tugas perkuliahan macam apa yang bisa dipenuhi agar adikku bisa lulus. Ibu-bapak menguliahkannya di kota domisili dengan harapan, dunia perkuliahan mampu sedikit memberikannya pengalaman hidup.
Bagaimana dengan adik perempuanku? Adik perempuanku saat itu sudah berseragam putih-biru. Suatu anugerah bukan? Bahwa anak berkebutuhan khusus bisa bersekolah di sekolah umum swasta sampai dengan SMP? Yang tentunya ibu-bapak tidak menyekolahkan adik perempuanku di sekolah swasta yang berkualitas baik karena sadar diri. Tapi tahukah, meskipun begitu, untuk sampai di sana, didalamnya ada perjuangan ibu, bapak dan aku. Terutama sejak SD, dimana ibu (yang lebih sabar dariku ketika mengajari adik-adik) membekalinya dengan kemampuan membaca, menulis dan berhitung dasar. Kami mesti menerima kenyataan pahit saat tes IQ menetapkan bilangan 50 sebagai nilai IQ adik perempuanku yang baru aku tahu sekarang artinya adik perempuanku mengalami Distabilitas Intelektual atau retardasi mental tingkat ringan.
Semasa adik perempuanku SMP, bapaklah yang mengantar jemputnya bersekolah disela-sela waktu kerjanya. Dulu, sebelum aku lulus kuliah, saat aku bisa mudik ke rumah di waktu-waktu libur semester perkuliahan, aku yang menggantikan tugas bapak mengantar jemput adik perempuanku. Sementara ibu, mengurus pekerjaan rumah tangga lainnya.
Setelah aku lulus kuliah S1 Teknik Sipil, tugas mengantar jemput adik perempuanku beralih ke tanganku. Bahkan, ketika adikku mogok sekolah, atau mengamuk di sekolah karena teman-temannya meledek dan mengejeknya dengan kata-kata "idiot". Aku yang menghadap gurunya untuk menjelaskan kondisi adikku dan meminta pemaklumannya. Bersyukurnya aku, pada saat itu, gurunya memahami. Dan adikku masih dikelilingi beberapa teman yang cukup bisa menerima kekurangannya.
Lantas, pendidikan adik perempuanku hanya berhenti sampai dengan SMP. Adik perempuanku tidak lagi melanjutkan sekolah. Ibu tidak mau memaksakan sesuatu yang tidak dia mampu. Hidupnya sampai dengan sekarang hanya di rumah saja bersama kami. Adik perempuanku mempelajari pekerjaan-pekerjaan rumah yang bisa dia kerjakan sesuai dengan kemampuan motoriknya dan belajar hal-hal yang bisa dijamah sesuai kapasitas nalarnya. Satu-satunya pembelajaran yang bisa dia ikuti adalah bermain alat musik gitar dan keyboard.
Bagaimana kelanjutan hidup adik laki-lakiku? Lulus dari pendidikan D1-nya dia sempat bekerja di outlet kebab. Berangkat jam 12 siang, pulang jam 12 malam. Diantar jemput bapak. Sampai akhirnya, dia keluar dari tempat kerjanya karena tidak sanggup lagi bekerja. Entah berapa kali dia dibodohi tentang keuangan yang tidak dia mengerti. Mengurus kembalian saja masih bingung. Apalagi perhitungan uang yang jumlahnya besar. Sekarang? Dia hanya menjadi pengangguran yang berdiam diri di rumah.
Lalu, apakah ibu pernah mengeluh? Tidak. Ibulah yang paling sabar dan menerima kondisi anak-anaknya; menerima bapak sebagai suaminya meski pertengkaran terkadang masih terjadi; dan, tetap berbuat baik pada adik-adik bapak yang dulu kerap bertindak semena-mena kepadanya. Ibu berbeda denganku dimana aku sempat mengalami fase "tidak menerima" ketika aku telah memahami kompleksitas masalah dan beban-beban hidup yang kuhadapi sebelum aku bisa berproses untuk menerima.
Ya. Aku sempat pada fase tidak menerima dan menyalahkan keadaan. Dimulai saat aku belajar dan menempuh keilmuan bidang pendidikan. Tepatnya, ketika aku mulai mempelajari banyak hal yang membuka mataku akan luka batin yang selama ini tidak kusadari dari perilaku diriku.
Aku mengoreksi kesalahan pola asuh bapakku yang tidak mampu membangun bonding dengan anak-anaknya. Bahkan untuk mengelola emosinya sendiri (terutama dalam hal kekecewaan dan kemarahan) pun masih terbata-bata. Bapakku belum selesai dengan dirinya sendiri.
Aku memeram jengkel atas diri ibu yang banyak mengalah terhadap keegoisan bapak dan terlalu baik pada keluarga bapak yang dulu sering menyakitinya. Aku memendam kebencian ketika ibu-bapak tengkar beradu kata-kata seperti anak kecil dan aku mesti berdiri menjadi penengah dengan hati yang tersayat. Juga hal-hal lainnya yang pada akhirnya menuntun jiwaku mencari makna tentang menjadi orang tua.
Aku telah menjadi orang tua ...
Seiring perjalanan hidupku, aku terus bertumbuh dan berkembang menjadi manusia yang mendewasakan diri dengan segala luka batin yang berusaha kusembuhkan. Kepala 3 usiaku kini. Adik-adikku pun memasuki usia quarter crisis of life. Bapak-ibu semakin menua. Kompleksitas masalah kami semakin besar. Pikulanku semakin terasa berat.
Tapi ... aku telah menemukan jawaban. Bahwa menjadi orang tua bukan terbentuk dari sebuah ikatan pernikahan ataupun dihasilkannya anak dari rahim seorang wanita. Bahwa aku telah menjadi orang tua sejak aku dikaruniai adik laki-laki hingga usiaku kini.
Aku, telah menjadi orang tua bagi diriku sendiri. Yaitu, ketika aku belajar menerima, mencintai dan mengasihi diriku sendiri dengan segala pemberian Tuhan yang dilekatkan-Nya padaku. Termasuk takdir terlahir di keluarga seperti ini. Juga luka-luka batin yang masih terus kurangkul, kuterima, kupahami, dan kuobati.
Aku, telah menjadi orang tua bagi adik-adikku. Yaitu, ketika aku sadar bahwa aku adalah orang yang mereka tuakan saat ibu-bapak berselisih. Pula ketika aku sadar bahwa mereka memiliki keterbatasan kecerdasan dan pengalaman yang mempengaruhi kemampuan mereka dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup.
Aku, telah menjadi orang tua bagi orang tuaku. Yaitu, ketika aku menengahi perseteruan mereka dan berusaha berdiri di posisi netral tidak memihak salah satunya. Juga ketika bapak-ibu selalu melibatkan pertimbanganku dalam setiap keputusan keluarga.
Hai, Vinny Erika Putri, peluk sayang dariku, diri yang ada didalam hatimu ... yang telah menjadi orang tua.
-Vinny Erika Putri, 11.06.21


0 komentar:
Posting Komentar