Tentang selesai dengan diriku sendiri
Aku bertanya pada diriku sendiri ketika kalimat ini terlintas di benakku. Aku mengajukan pertanyaan, atau malah terdengar seperti mempertanyakan diriku sendiri mengenai sebuah kalimat yang berbunyi, "Apakah aku telah benar-benar selesai dengan diriku sendiri?"
Tentang selesai dengan diriku sendiri
Aku menjelajahi kotak demi kotak ingatanku untuk menemukan makna melalui realita pengalamanku dan orang-orang di lingkungan sekitarku.
Aku, mengingat-ingat, banyak sosok di lingkungan sekitarku yang bisa dibilang mereka tampak sangat humanis dengan berbagai pola perilaku mereka yang kuamati. Pula, aku merefleksikan pengalaman diriku sendiri tentang memori yang berkaitan dengan kata kunci rela berkorban dan suka menolong. Sebabnya, banyak orang yang menjadikan kedua sikap tersebut sebagai parameter seseorang telah selesai dengan dirinya ataukah belum.
Tentang selesai dengan diriku sendiri
Aku menemukan tiga pola mereka yang awalnya kukira telah selesai dengan dirinya sendiri karena sikap rela berkorban dan suka menolong tampak menjadi laku hidup mereka. Tiga pola yang kuuraikan ini berada diluar konteks dorongan bakat bawaan empati yang dianugerahi-Nya pada orang-orang semacam "caretaker" atau profesi yang berhubungan dengan kemanusiaan.
Pola pertama, mudah mengiyakan ketika membantu orang lain tapi abai dengan kebutuhan mereka sendiri. Sederhananya, mereka timpang dengan diri sendiri. Mereka menolong orang lain dan mengorbankan diri habis-habisan sampai mereka "bingung" dengan diri mereka sendiri. Bingung tentang kesesuaian diri mereka dengan apa yang mereka korbankan untuk kehidupan orang-orang diluar diri mereka. Lebih jelasnya, mereka bisa tampak selaras dengan orang lain, tapi tidak bisa selaras dengan suara diri mereka.
Pola kedua, antusias dengan semangat rela berkorban untuk melayani hidup orang lain, menjelajahi banyak tempat untuk menolong dan membersamai orang-orang yang membutuhkan bantuan "caretaker" ini. Tapi, begitu "caretaker" dalam kesendirian, waktu tak bisa lagi mereka nikmati karena dera kesepian yang menikam-nikam hati mereka.
Pola ketiga, ironikal dimana banyak "caretaker" yang berhasil membantu orang-orang diluar sana, tapi jiwa mereka begitu rumit saat menghadapi masalah mereka sendiri. Sehingga makna hidup "caretaker" menjadi bias, antara seorang relawan yang melarikan diri dari kompleksitas masalah mereka sendiri dengan seorang relawan yang murni mengabdikan diri untuk menolong orang-orang.
Ketiga pola ini, pada akhirnya hanya menyisakan lubang kekosongan di hati mereka seperti juga mungkin lubang kosong yang sesekali kurasakan.
Tentang selesai dengan diriku sendiri
Aku pun bertanya-tanya, tentang mereka, juga tentangku yang (kata banyak orang) tampak dari luar sebagai manusia humanis yang sangat mudah untuk dimintai pertolongan.
Apakah mereka benar-benar sudah selesai dengan diri mereka sendiri?
Apakah aku termasuk bagian dari orang-orang yang belum selesai dengan diriku sendiri?
Tentang selesai dengan diriku sendiri
Kubiarkan hati dan pikiran saling melengkapi, bersuara memberikan jawaban.
Ketika aku telah "selesai" dengan diriku sendiri, aku telah selesai dengan egoku, yang artinya egoku berada di tanganku, bukan di hati dan kepalaku.
Ketika aku telah "selesai" dengan diriku sendiri, artinya, aku sangat mudah memaafkan dan menerima diriku sebagai manusia dengan segala kemanusiawiannya. Sederhananya, aku telah mampu memanusiakan diri secara utuh dan penuh.
Ketika aku telah "selesai" dengan diriku sendiri, artinya, aku sudah sembuh dari luka-luka batin atau luka emosional lainnya sehingga aku tidak terjebak pada lingkaran setan yang kerapkali melampiaskan atau memproyeksikan luka pribadiku dalam bentuk perilaku menyalahkan orang lain atas ketidaknyamanan perasaan yang kurasakan atau kesalahan yang kulakukan. Aku sudah sanggup bertanggung jawab pada diriku sendiri atas bentuk-bentuk emosi yang kualami atau tindakan-tindakan yang kulakukan.
Ketika aku telah "selesai" dengan diriku sendiri, artinya aku mudah memaafkan orang-orang yang menciderai hati dan jiwaku semudah aku memaafkan kesalahan diriku serta mampu menghormati orang-orang yang tidak selaras dengan hati, jiwa dan akal pikiranku sendiri sebagai manusia.
Ketika aku telah "selesai" dengan diriku sendiri, artinya, aku sudah tidak terpengaruh oleh penilaian atau tingkah laku orang yang merupakan proyeksi mereka terhadap dirinya sendiri dari pancaran luka batin mereka yang belum selesai atau oleh sebab pola asuh yang ditemurunkan. Sederhananya, pujian atau hinaan dari orang lain, tidak mengurangi sedikit pun mentalitas dan karakter diriku.
Ketika aku telah "selesai" dengan diriku sendiri, artinya aku sudah cukup mencintai diriku dengan segala sikap hormatnya tanpa tapi, tanpa syarat, dan mampu mensyukuri apapun pemberian-Nya kepada diriku.
Ketika aku telah "selesai" dengan diriku sendiri, artinya, aku tidak mudah menjadi orang yang tendensius pada perkara apapun dan melihat persoalan dari titik keseimbangan dan kenetralan.
Ketika aku telah "selesai" dengan diriku sendiri, hidup bukan lagi tentang bagaimana aku hidup menghidupi hidupku. Tapi tentang bagaimana aku meninggalkan jejak makna dalam kehidupan orang-orang melalui laku hidup dan kebaikan-kebaikan diri yang terus kuberusahakan ada sebagai bentuk penghambaanku kepada-Nya.
Tentang selesai dengan diriku sendiri
Aku bertanya kembali pada diriku, "Apakah aku telah benar-benar selesai dengan diriku sendiri?" Aku diam, mengatur napas, mengambil jeda. Lantas, sesak menjelanak. Hangat merebak di sepasang mataku. Ada sesuatu yang membuatku terasa ingin menangis. Entah apa. Sesuatu yang ingin terus kucari dan kukenali untuk kuselesaikan dengan pemaafan.
Aku belum "selesai" dengan diriku sendiri. Ada pemberian-Nya yang mungkin saja masih berproses dalam penerimaan. Ya, berproses, belum benar-benar diterima dengan ikhlas. Atau ada bagian dari diri yang belum kumaafkan sepenuhnya. Aku ingin "selesai" dengan hal-hal yang belum selesai dalam diriku. Oleh sebab itu, Duhai Rabb Penguasa Alam Semesta, kulakukan perjalanan diri dengan memohon bimbingan-Mu di setiap depa langkah hidupku.
-Vinny Erika Putri, 25.06.21
0 komentar:
Posting Komentar