Tentang menikah sebagai prolog Perempuan dalam Rumah Tangga.
Wahai, Vinny Erika Putri, kumulai dari pertanyaan-pertanyaan dasar untuk membantumu menemukan alasan dan tujuanmu menikah.
Apa alasanmu berkeinginan menikah? Melegitimasikan rasa cinta terhadap seorang manusia yang kau impikan untuk menjadi pasangan sehidupmu sesurgamukah? Idealisme keindahan cita-cita berkeluarga yang akan kau rancang-bangun dalam rumah tanggakah? Desakan, tuntutan atau harapan dari lingkungan keluarga dan sosialkah? Egomu yang terlukakah melihat perempuan seusiamu telah menikah dan dikaruniai anak sehingga terburu ingin menyamai fase hidup mereka? Renungilah pertanyaan ini benar-benar, rasakanlah rasa dalam batinmu, sejujur-jujurnya, barulah kau menjawabnya.
Aku berulang-ulang menarik napas panjang-panjang lalu mengembuskannya pelan-pelan. Sejenak, kuberdiam untuk benar-benar merasakan seluruh bagian diriku. Seutuhnya. Sepenuhnya. Aku mulai memundurkan ingatanku ke masa lalu. Kunapak-tilasi perjalanan diri masa demi masa untuk mencari titik awal dimana konsep pernikahan hinggap di benakku. Lantas, ingatanku mendiami masa mudaku. Lama. Sampai aku menyadari. Bahwa keinginan akan sebuah pernikahan bermula ketika usia menapaki kepala 2. Masa dimana untuk pertama kalinya kehidupan mengenaliku pada rasa cinta, mencintai dan dicintai oleh lawan jenis. Konsep pernikahan dalam kepalaku pun masihlah sesederhana rasa cinta yang kurasakan pada saat itu. Aku masih terlalu utopis. Ya. Utopis muda yang belum bisa berkaca dari realita rumah tangga bapak-ibuku tentang perjalanan pasca menikah.
Lalu, apa yang kau dapati?
Aku mendapatkan kekecewaan. Cinta pertamaku semasa perkuliahan mengenaliku pada rasa sakit akan pengkhianatan. Aku terluka. Dia, meluluh-lantakkan perasaanku sebelum aku sampai pada pernikahan itu sendiri. Ah, mungkin, aku belum mengerti sesoal jatuh cinta semasa itu. Kemudian, mataku perlahan-lahan terbuka. Aku mulai mampu menghubungkan dan memaknai cinta dengan melihat realita rumah tangga ibu-bapakku sendiri dan mencerna banyak hal dari perjalanan mereka berdua. Aku menyaksikan perjuangan ibu sebagai wanita yang menjalani kehidupan perempuan dalam rumah tangga. Pula bapakku yang menjalani kehidupan lelaki dalam rumah tangga. Dari jatuh-bangunnya mereka berdua sebagai pasangan yang menjaga dan menghidupi keberlangsungan rumah tangga, aku mulai bisa memahami bahwa rumah tangga tak sesederhana rasa cinta yang dipunyai masing-masing individu. Aku pun bertanya pada diriku sendiri, saat itu, cukupkah rasa cinta mengikat suatu pernikahan tetap utuh?
Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Apakah kau telah menemukan jawaban tentang alasanmu berkeinginan menikah?
Pasca gagal di hubungan pertama, membuatku berpikir bahwa suatu hubungan tidak selalu akan berujung pada pernikahan. Luka-luka memberikanku pembelajaran dan pendewasaan dalam mengenali karakter lawan jenis. Luka-luka pula yang membuatku semakin memperhatikan, memikirkan dan mencerna hubungan ibu-bapak sebagai pasangan dalam rumah tangga. Sampai, datanglah seseorang yang sanggup membuat luka-lukaku merasa terobati dan membangunkan kembali konsep pernikahan yang sempat mati suri. Harapan-harapan datang bersamaan dengan kehadiran dan keseriusannya yang tampak ia tunjukkan pada orang tuaku. Kemudian, cita-cita, cinta dan idealisme diri tentang rumah tangga mulai kurancang-bangun dalam hatiku. Tapi, lagi-lagi, cinta sendirilah yang membuktikan, bahwa cinta tak cukup kuat mengikat dua jiwa yang menjalin hubungan cinta. Bentang jarak mematahkan kesetiaan. Lagi, aku dikhianati dan mendapatkan luka yang tikamannya lebih dalam dari sebelumnya, di tempat yang sama, dengan orang yang berbeda. Tapi, aku berterima kasih pada perjalanan hidupku di bagian ini. Sebab, di titik inilah perjalananku mencari, mengenali dan memahami kepingan-kepingan diriku dimulai. I'm on my healing journey to find who i am as a person, and life as God wants me to live.
Kutanya lagi, apakah kau telah menemukan jawaban tentang alasanmu berkeinginan menikah setelah luka hati terhebatmu yang kedua?
Belum. Tapi, aku memahami satu hal. Bahwa mencintai (dan dicintai) seseorang beserta idealisme sebuah cita-cita pernikahan yang ditanamkan didalamnya, tak cukup kuat mengantarkan manusia untuk mempertahankan keberlangsungan suatu hubungan. Bahkan sangat bisa layu, kering dan hancur lebih dulu sebelum pernikahan itu terjadi.
Kini, sudahkah kau menemukan jawaban tentang alasanmu berkeinginan menikah?
Masih belum. Bahkan, perjalanan menemukan jawaban itu baru saja kumulai di kala usiaku genap kepala 3. Tapi, tahukah kau? Aku menjadi lebih peka terhadap keinginan menikah yang muncul dari dalam diriku. Tak jarang pula aku mempertanyakan keinginan itu. Aku sempat terjebak pada egoku yang terluka seperti yang tadi kau tanyakan di awal kalimat pertanyaan pembuka. Hatiku perih tersayat saat melihat teman-teman seusiaku telah menikah, dikaruniai anak yang lucu-lucu dan kuanggap telah menjalani fase normal dari siklus kehidupan manusia. Mereka bukanlah penyebab mendung pekat di hatiku. Tapi akulah yang belum menerima kondisi diriku bahwa Tuhan memberikanku fase pengalaman hidup yang berbeda dengan mereka. Aku, lagi-lagi, belajar menerima dan berdamai dengan diri sendiri di fase yang tengah aku jalani. Bersyukurnya, aku memiliki ibu-bapak yang tidak menuntut aku untuk segera menikah dan melindungiku dengan jawaban yang bijaksana dalam menanggapi pertanyaan keluarga besar atau teman-teman mereka yang rajin menanyakan "kapan nikah?" di kala kami berkumpul atau mereka bertamu. Ibu-Bapak tidak terganggu sama sekali dengan ocehan orang-orang. Dalam diam, yang mungkin sama menyayatnya bagi mereka, mereka sangat mengerti dan menerima kondisiku saat ini.
Dari kepekaanku atas kondisi diriku pulalah, saat menghadiri pernikahan teman-temanku atau ketika mendengar kabar bahagia kelahiran anak-anak mereka membangkitkan keinginanku untuk menikah, aku telah menyadari dan mampu merasakan kehadiran egoku yang terluka karena adanya keinginan diri yang belum terpenuhi. Kini, aku bertanya balik padamu, apa alasan dan tujuan manusia menikah sebenarnya? Ajang pamer perubahan status sosial dalam society? Alat untuk beregenerasi atau memperbaiki keturunan? Sarana penguat hubungan diplomatik sosial, ekonomi, ideologi dan politik? Mendapatkan tempat yang tepat lagi halal untuk pemuasan syahwat manusia? Tempat melarikan diri dari kerumitan keluarga yang kurang harmonis? Sandaran bagi diri yang kesepian? Memenuhi desakan keluarga sebagai bentuk bakti kepada mereka? Mematuhi anjuran ajaran tokoh-tokoh agama? Dan mengapa kebanyakan orang yang ingin menikah banyak termanipulasi oleh pandangan diluar dirinya tentang alasan dan tujuan mereka menikah? Yang pada akhirnya, memburamkan pandangan jujur diri sendiri tentang alasan dan tujuan yang mendorong mereka menikah.
Apakah pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan kemarahanmu? Atau malah keputusasaanmu atas keadaanmu? Jangan bilang, kau sudah tidak berkeinginan menikah.
Kau tidak menjawab. Malah bertanya lagi. Kujawab pertanyaanmu. Aku tidak putus asa. Aku tetap berkeinginan menikah. Hanya saja, aku sedang berpikir sembari berkaca pada kegagalanku menjalin hubungan dan melihat pernikahan banyak orang di masa kini. Dari kalangan manapun dengan strata sosial, pendidikan dan profesi apapun.
Banyak orang yang menikah untuk menguatkan status sosial-politik-ekonomi kedua belah pihak atau melindungi hierarki keluarga mereka dalam society.
Banyak orang produk broken home (yang tidak sehat jiwanya) memandang bahwa pernikahan akan menyelamatkan mereka dari rasa kesepian dan membayangkan adanya tempat bersandar bagi jiwa mereka yang "sakit", lalu kenyataan yang mereka dapatkan justru mengkhianati ekspektasi mereka sendiri. Padahal yang menjadi penyebabnya adalah mereka sendiri yang belum selesai dengan luka batin mereka, namun dengan bodohnya menggantungkan penuh kebahagiaannya pada pasangan.
Banyak orang yang saling mencintai memutuskan menikah. Lantas, dalam perjalanannya mereka tak dikaruniai anak atau dititipkan-Nya anak yang tidak sesuai dengan harapan mereka, berujung pada keributan yang mewarnai rumah tangga mereka dengan banyak campur tangan keluarga dari kedua belah pihak dan lambat laun merasakan pernikahan mereka tak lagi bermakna bahkan entah kemana visi misi yang sempat mereka bangun, yakini, amini dan hidupi bersama.
Banyak orang yang dengan khidmat dan khusyu menjalankan pernikahan sebagai perintah agama yang mereka pahami setengah-setengah. Sehingga, khususnya perempuan, banyak yang termanipulasi dan bertahan dalam siksaan oleh dominasi suaminya sendiri yang kerap menggunakan ajaran agama sebagai kedok nafsu dan kontrolnya atas diri perempuan. Padahal, suaminya sudah berkata-kata kasar, memiliki istri lain selain dirinya dan bertindak tidak adil terhadapnya.
Hei, yang kau terangkan menggambarkan kemarahanmu dengan sangat jelas. Kau tidak memandang pernikahan segelap dan sekelam itu bukan?
Ya, aku memang marah, di bagian penindasan terhadap perempuan. Tapi, aku tidak memandang pernikahan segelap dan sekelam itu. Aku akan melanjutkan bagian positif lainnya dari pernikahan orang-orang yang REAL, jauh dari PENCITRAAN. Aku melihat mereka adalah orang-orang yang autentik. Mereka telah menemukan diri asli mereka dimana dalam perjalanan rumah tangganya tetap memanusiakan diri layaknya manusia biasa. Mereka merasa aman untuk "berbagi borok"-nya satu sama lain dengan pasangannya. Berani mengakui kesalahan masing-masing. Tidak merasa turun harga dirinya ketika meminta maaf. Bersetia dan bertanggung jawab terhadap komitmen yang dibuat. Saling menerima, menghargai dan memberikan ruang untuk pertumbuhan masing-masing individu. Di depan layar ataupun dibalik layar, mereka tetaplah individu yang jujur. Aku belajar dan mempelajari sebagian sikap-sikap tersebut dari contoh terdekat pertama: ibu-bapakku. Rumah tangga mereka tidak sempurna dan memang tidak akan sempurna. Tapi, mereka terus bertumbuh untuk saling memahami melalui sesi pertengkaran demi pertengkaran yang terjadi hingga usia mereka menua dengan inner child masing-masing yang mungkin saja mereka juga tidak sadari. Lainnya, aku melihat pola yang sama pada rumah tangga teman-teman dekatku yang kerap bertukar cerita denganku perihal kelanggengan rumah tangganya. Kau tahu? Dari sampel yang belum berhasil (menurut pandanganku) pastinya ada sampel yang sudah berhasil yang bisa kupelajari bukan? Dan, hei, pertanyaanku belum kau jawab?!
Baiklah. Kujawab, dengan jawaban yang banyak kau dengar dari mulut orang-orang, bahkan dari ibumu sendiri. Alasan dan tujuan menikah adalah KARENA ALLAH.
Benarkah? Haha! Maaf, aku ingin tertawa. Karena aku sudah sampai pada makna itu entah kapan tepatnya bahkan sebelum ibuku mengatakannya. Makna yang orang-orang menyebutnya dengan kata lillah. Tapi belum bisa kuamalkan sepenuhnya menjadi laku hidup. Aku masih berada pada spektrum manusia biasa. Kata yang masih sering kupertanyakan dengan melihat realita perasaan para perempuan yang mengatakan lillah. Jika manusia sudah mencapai laku hidup lillah, apapun pemberian-Nya pasti bisa diterima. Individu tersebut tidak akan terpengaruh dengan apa yang ada diluar dirinya karena ia bergantung dan yakin sepenuhnya pada Allah semata.
Ketika berada di fase perang batin karena mendapati kenyataan berhadapan dengan mertua yang cerewet, berlidah tajam, bermuka masam setiap kali berusaha didekati; atau ketika suami adalah anak sulung yang menjadi tumpuan keluarga sehingga mau tidak mau mesti belajar menerima bahwa waktunya bukan hanya untuk pasangan; atau ketika perekonomian keluarga inti berada pada masa-masa sulit dan ditimpa kepailitan; atau ketika rumah tangga ditakdirkan tidak dikaruniai anak; atau ketika pasutri dikaruniai anak yang tidak sesuai harapan; atau ketika anak tumbuh menjadi individu yang dianggap keluar jalur; atau ketika mendapati suami yang ternyata berselingkuh dengan segala bentuk perselingkuhannya; atau ketika anak mendewasa dan mulai sibuk menghidupi kehidupannya sehingga diri kembali menghabiskan sisa waktu hidup dengan pasangan; atau ketika pasangan lebih dulu meninggal lantas satu lainnya hidup sendirian tanpa anak-anaknya karena anak-anak mereka pun sudah berkeluarga dan tinggal berjauhan. Melewati fase demi fase tersebut, tidak munafik bahwa setiap individu dengan beragam perjalanan hidup yang diberi-Nya sempat kehilangan makna lillah itu sendiri bukan? Bahkan, dari fase-fase yang telah kusebutkan di atas, kuyakin, mereka yang telah menikah akan mempertanyakan arti pernikahan mereka sendiri entah saat mereka berada di fase mana. Mengapa aku sedemikian yakin? Karena hidup tak sesempurna kisah negeri dongeng ala putri kerajaan. Life is not a perfect fairytale. Dan apa yang ditampilkan perempuan-perempuan di depan publik tidak semuanya mewakili realita kehidupan mereka di belakang layar. Sederhananya, dunia ini adalah ladang ujian.
Jadi, apa alasan dan tujuan menikah bagimu?
Aku menikah karena diriku adalah manusia ciptaan-Nya. Tujuanku menikah adalah menjadi manusia utuh yang sanggup memanusiakan diri dan orang-orang sekitar.
Kalau begitu, kau tidak memiliki pedoman yang jelas dan akan lebih mudah berantakan jika kau tak menyandarkan alasan dan tujuan menikah karena lillah?
Aku bertanya balik padamu, apakah lillah mengajarkan manusia menerima begitu saja dogma atau doktrin yang tidak masuk akal lagi tidak dipercayai hati untuk diimani? Apakah lillah mengiyakan manusia untuk tidak melawan kezholiman atas diri perempuan? Apakah lillah membatasimu untuk melakukan perubahan apapun pada sesuatu yang memang perlu suatu gerakan perubahan? Apakah lillah menyebabkan perempuan kehilangan hak-haknya mendapatkan kasih sayang utuh, kebebasan bersuara, sikap respect dan keamanan dalam mengekspresikan ragam bentuk aktualisasi diri? Bagaimana seorang manusia bisa memaknai lillah jika ia tidak bisa melihat dirinya sebagai manusia ciptaan-Nya? Lillah adalah bagian dari perjalanan manusia untuk mendekatkan diri dan terhubung dengan-Nya ketika manusia telah memahami, meresapi serta mengamalkan laku hidup memanusiakan diri dan orang-orang di sekitarnya. Lillah bukanlah kata-kata pemanis yang hanya berhenti di bibir. Kau, perlu menjadi manusia yang mengenali dirimu dan orang-orang sekitarmu secara utuh untuk sampai pada laku hidup lillah.
Jadi ... wahai perempuan yang tengah mempersiapkan diri dalam fase pernikahan. Sadarilah, sesadar-sadarnya, kau manusia. Kau menikah karena kau manusia ciptaan-Nya. Tujuanmu menikah adalah memanusiakan dirimu dan orang-orang di sekitarmu melalui babak demi babak kehidupan pernikahan yang kau jalani. Sehingga kelak ketika bahtera rumah tanggamu terombang-ambing gulungan ombak yang mengerikan, dirimu bisa tetap kukuh menjaga kapalmu dari karam. Kau tidak kehilangan navigasi batinmu sendiri sebagai manusia dan kau tidak kehilangan kemanusiaan dalam dirimu. Kau akan lebih mudah berproses untuk menerima dirimu seasli-aslinya (tanpa tapi, tanpa syarat) dan berani mengambil keputusan apapun di setiap ketidakpastian dan ketidaknyamanan hidup atau bahkan ketika dalam situasi kondisi asing yang sama sekali tak kau kenali petunjuk apapun di sana. Makna lillah akan kau temukan dalam manifestasi yang beragam bersamaan dengan pengalaman yang kau rasakan selama kau tidak kehilangan kemanusiaan dalam dirimu. Pula, kau tidak akan kehilangan jiwamu atau menempatkan jiwa manusia lain untuk menggantikan diri aslimu ketika kau telah berhasil memanusiakan dirimu sebelum kau memanusiakan orang-orang di sekitarmu.
-Vinny Erika Putri, 16.06.21-


0 komentar:
Posting Komentar