Sabtu, 14 November 2020

Terima kasih Telah Membuatku Hadir, Hidup dan Menghidupi Kehidupan

 




Ibu ...
Hari ini ... genap bertambah satu tahun usiaku dari bilangan sebelumnya. Dan pagi tadi, kau memelukku. Tangis kita pecah bersamaan seiring rangkaian pinta kesemogaan yang keluar dari bibirmu dengan nada bergetar. Kesemogaan yang terbungkus dalam rapal doamu kepada-Nya akan hidup yang lebih baik untuk anakmu sekaligus petuah tentang keikhlasan menjalani realita yang terkadang berselisih dengan harapan manusia dan menjadi ketentuan terbaik-Nya untuk kita.

Ibu ...
Kau usap punggungku untuk meringankan segala tanggung jawab dan amanah yang kupikul, yang kau tahu itu kadang menjadi sesuatu yang berat untuk diriku, yang bahkan kau pahami tentang apa yang kurasakan dan kupikirkan disaat-saat ini tanpa harus kuberbicara panjang lebar karena ikatan batin kita begitu kuat terhubung meski dalam diam sekalipun. Pula, kau sangat mengerti, akan ujian, cobaan dan tantangan hidup yang kuhadapi semakin kompleks dan rumit seiring bertambahnya angka usiaku.

Ibu ... 
Terima kasih telah membesarkan dan mendampingiku untuk menjadi manusia dewasa sampai detik ini. Terima kasih, telah menjadi ibu sekaligus sahabat paling pertama yang bisa kutemui kapanpun untuk berbagi cerita dan bertukar pikiran. Terima kasih, telah menjadi ibu terbaik yang kumiliki hingga saat ini. Terima kasih atas perjuangan selama 34 tahun melakukan apa yang kau sanggup lalukan, dan memberikan apa yang mampu kau berikan sebagai ibuku dan adik-adik. Ibu ... terima kasih, untuk segalanya. Panjang umur dan sehat selalu untukmu.

Simbah Putri ...
Bagaimana kabarmu di sana? Aku, di sini, masih dengan harapan yang sama: bisa bertemu dengan sosokmu dalam mimpi. Dan doaku, semoga kau mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya dan berbahagia bersama simbah kakung yang lebih dulu berada di sana.

Simbah Putri ...
Ibu semakin menua di sini, dan beliau kian menjadi seorang ibu dengan kebijaksanaan yang luas dalam menghadapi hidup. Sementara aku, semakin takut akan kehilangan pasak yang paling penting dalam hidupku setelah engkau tiada. Ibu dan engkau adalah pasak utama yang menjadi sokongan kekuatan hidupku. Tahukah, engkau, duhai Simbah? Seberapa seringpun aku mengalami perih kehilangan, hati tak selalu disiapkan untuk selalu kuat menghadapinya dan membutuhkan waktu yang entah singkat entah panjang untuk sembuh darinya. Aku, belum siap dan selalu tidak siap jikalau Tuhan mengambil ibu lebih dulu.

Simbah Putri ...
Terima kasih ... telah melahirkan seorang anak yang hebat. Anak yang sudah 35 tahun Allah pilihkan menjadi istri bapakku dan 34 tahun menjadi ibu kandung yang darahnya mengalir dalam tubuhku. Anak yang tak pernah lupa berbakti kepada orang tua hingga kini meski keduanya telah tiada. Anak yang menjadi seorang istri sekaligus ibu yang luar biasa sabar menghadapi karakter suami dan buah hatinya. Anak yang mampu dengan ikhlas menerima paketan kekurangan dan kelebihan kami. Anak yang bertumbuh dan berkembang menjadi wanita welas asih terhadap sesama. Anak yang mampu membalas keras dan sulitnya ujian, cobaan dan tantangan hidup yang dihadapi beliau dengan kebijaksanaan hati dan segala sisi kemanusiaan yang dimilikinya. Simbah Putri ... terima kasih, untuk segalanya. Sosokmu, tetap hidup di sini, di dalam dadaku, berdetak bersama jantungku.

Bapak ...
Kita lebih banyak berselisih pendapat atau memendam amarah dalam diam hingga perseteruan itu terkadang menjadi gunung es yang sulit mencair jika saja tidak ada sentuhan kebijaksanaan dari ibu. Tapi ... meski kita jarang sekali bercerita dan bertukar pikiran sampai dengan aku sedewasa ini, kau tak pernah melupakan hari ulang tahunkuHari ini pun, kau ucapkan selamat atas perulangan tanggal kelahiranku. 

Bapak ...
Terima kasih ... atas doa yang mungkin kau panjatkan kepada-Nya untukku secara diam-diam atau kau katakan terang-terangan padaku. Terima kasih, telah menjadikanku anak yang akhirnya mampu berdiri di atas kaki sendiri secara mental dalam menyelesaikan masalah demi masalah yang kuhadapi. Terima kasih telah menjadi bapak yang banyak menuntutku dengan aturan-aturan sekaligus menjadikanku tumpuan keluarga sehingga aku berani menolak orang-orang di luar sana ketika melakukan penekanan atau tuntutan yang tidak seimbang padaku. Terima kasih, telah menjadi bapak yang tak sempurna yang tetap menjalankan perannya sebagai bapak dengan cara yang sanggup kau lakukan dan berikan padaku juga adik-adik. Bapak ... terima kasih, untuk segalanya. Semoga kita bisa terus belajar saling memanjangkan sabar untuk saling berdamai dengan keberseberangan pemikiran-pemikiran kita. Jikapun tidak bisa, cukuplah kita tidak saling memaksakan saat masing-masing berkepala batu memegang pendapatnya hingga akhirnya Tuhan menggerakkan hati kita untuk tak lagi berseteru. 

Tuhan ...
Terima kasih ... untuk kehidupan yang kau berikan padaku selama 34 tahun ini. Kehidupan yang tak selalu mudah dijalani tapi juga tak mesti sulit untuk dihadapi dan diselesaikan. Terima kasih ... untuk senantiasa mengawasiku dan tak pernah berpaling dariku meski aku dalam kondisi yang terkadang sebagai manusia rapuh iman dikikis oleh ujian, cobaan dan tantangan hidup. Terima kasih ... untuk tetap bersabar membimbingku dan mengingatkanku kembali pada-Mu dengan cara-Mu saat imanku tak selalu kuat berada di atas. Terima kasih ... untuk pintu ampunan-Mu yang selalu terbuka lebar untukku, seorang manusia yang terus belajar menjadi manusia yang membawa kebermanfaatan juga keberkahan bagi diriku sendiri dan sesama. Seorang manusia yang terus berusaha dan bergerak menjadi manusia yang Engkau inginkan dimana dalam perjalanannya tak selalu mulus tanpa cela, dosa dan kesalahan saat menempuh jalan kebaikan yang Engkau peruntukkan bagiku sesuai potensi yang Engkau bekali padaku.

Hari ini ... kuhaturkan terima kasih untuk-Mu, Ibu, Simbah Putri dan Bapak. Terima kasih, 34 tahun ini, telah membuatku hadir, hidup dan menghidupi kehidupan.

-Vinny Erika Putri, 14.11.20

0 komentar:

Posting Komentar