Hai... Bagaimana Kabarmu, Kau Yang Ada Di Dalam Cermin?
Februari-Maret 2020
PPL berakhir. Setelah laporan PPL terselesaikan, aku dan teman dekatku sudah semakin jarang bertemu. Aku semakin jarang memintanya menemaniku ke kampus. Sementara ini, kupikir itu baik untukku. Aku membutuhkan waktu untuk bisa menetralisir kembali rasa kekecewaanku padanya akan banyak hal selama PPL. Juga apa yang dia lakukan padaku sebelum PPL. Dia memakai uang patungan buku kelas untuk remedial suatu mata kuliah yang kutitipkan padanya tanpa izinku meski aku paham bahwa pada saat itu kebutuhan menghimpitnya dan memaksanya melakukan itu. Dia baru mengakuinya setelah uang itu kuminta sekembalinya aku dari Wonosobo.
Aku marah, tapi masih bisa kuredam saat itu dan memberikan waktu untuknya segera mengembalikannya. Karena aku pun nanti harus mempertanggung jawabkan uang itu pada kelas. Nyatanya, sampai dengan PPL selesai pun, belum dikembalikan. Dan lagi-lagi aku masih berkompromi atas dasar rasa kasihan dengan kondisi keuangannya yang memang tengah kering.
Aku marah, tapi masih bisa kuredam saat itu dan memberikan waktu untuknya segera mengembalikannya. Karena aku pun nanti harus mempertanggung jawabkan uang itu pada kelas. Nyatanya, sampai dengan PPL selesai pun, belum dikembalikan. Dan lagi-lagi aku masih berkompromi atas dasar rasa kasihan dengan kondisi keuangannya yang memang tengah kering.
Kupikir, ini akan menjadi masalahku dengannya saja. Ternyata, emosi-emosi yang kurasakan juga tak hanya soal ini. Berawal dari beberapa orang yang tengah mengalami perasaan yang sama denganku, intensitas tukar pikiranku pun menjadi sering dengan mereka. Banyak obrolan yang kita bangun hingga kadang ketika kami ingin ke kampus untuk mengurus beberapa kepentingan di hari yang sama, kami kerap saling memberitahu.
Petaka kecil pun dimulai. Petaka yang terlalu receh dan kekanakkan menurutku untuk orang-orang yang berusia jauh lebih tua dibandingkan aku. Bahkan sudah berkeluarga beranak pinak.
Beberapa orang yang bisa dibilang cukup sering berkomunikasi denganku selama perkuliahan masih aktif, mencurigaiku membuat grup di belakang mereka. Dan akhirnya, bertingkah seperti anak-anak kecil yang tengah berseteru dengan permainan "bala-balaan". Saling sindir dan mempertontonkan kebersamaan mereka. Yang kusesalkan, teman dekatku, ikut dalam permainan kubu-kubuan. Teman dekatku, yang masih kupedulikan perasaannya dengan tidak membeberkan uang kelas yang dipinjamnya, kian menunjukkan bagaimana dirinya.
Beberapa orang yang bisa dibilang cukup sering berkomunikasi denganku selama perkuliahan masih aktif, mencurigaiku membuat grup di belakang mereka. Dan akhirnya, bertingkah seperti anak-anak kecil yang tengah berseteru dengan permainan "bala-balaan". Saling sindir dan mempertontonkan kebersamaan mereka. Yang kusesalkan, teman dekatku, ikut dalam permainan kubu-kubuan. Teman dekatku, yang masih kupedulikan perasaannya dengan tidak membeberkan uang kelas yang dipinjamnya, kian menunjukkan bagaimana dirinya.
Aku ternganga. Aku marah. Egoku mulai bermain. Sedemikian kerdilkah pikiran mereka? Bisakah mereka pahami pengorbananku selama tiga tahun ini untuk kelas? Bisakah mereka memahami bagaimana aku jatuh bangun, menangis diam-diam memikul tanggung jawab sebagai kosma? Kosma, yang selalu ingin semuanya mencapai hal terbaik dari diri mereka. Kosma, yang siap sedia membantu, membimbing dan mengarahkan mereka ketika mengalami kesulitan dengan tugas-tugas perkuliahan.
Aku berusaha keras menyingkirkan egoku, mengalah untuk meminta maaf jika memang membuat kelas seperti terpecah belah karena kekurang-pedulianku sebulan belakangan pada kelas juga masih menghormati hubungan pertemanan yang dibangun oleh kami semua selama tiga tahun. Bahkan, aku dengan tegas, mempersilakan posisiku digantikan oleh siapapun. Sedari dulu pun, aku tidak menginginkan posisi ini dan sudah beberapa kali minta digantikan oleh yang lain. Tapi mereka sendiri yang tetap mempertahankan aku di posisi ini.
Ada satu jawaban dari wajah yang mencurigaiku, membuatku cukup sakit meski itu benar, "Sudah jadi kewajiban untuk yang mampu membimbing yang tidak mampu. Kebaikan sekecil biji zahrah pun akan mendapatkan balasan dari Allah. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan."
Bahasa itu, bukanlah ceramah keagamaan. Aku lebih bisa mengartikannya dan membaca maksud di belakangnya sebagai senjata untuk memojokkanku. Aku bahkan telah memahami ceramah keagamaan itu jauh sebelum kata-kata itu keluar dari mulutnya. Aku mengalaminya langsung bagaimana di posisi yang ia katakan. Dia tidak di posisiku. Dan dari banyak kasus yang kulihat selama perkuliahan, dia memang sering berseteru dengan banyak orang. Egonya terlalu tinggi untuk ditundukkan oleh orang lain, bahkan oleh dirinya sendiri.
Pikiranku kian mengeruh. Kabut hatiku mengental dengan emosi negatif yang membuatku tidak stabil dalam melihat masalah. Dan aku lebih banyak menyalahkan pikiran orang-orang dari sudut pandang yang kuambil saat itu. Ditambah lagi, ketika aku masih dalam pertimbangan untuk memperbaiki hubungan pertemanan kami, teman dekatku telah lebih dulu memperjelas di mana posisiku untuknya. Bersama dengan teman "bala-bala"-an, dia menuliskan "story WhatsApp". Salah satu temanku yang belakangan sering bertukar pikiran denganku mengirimkannya padaku. Aku sendiri sedang dalam posisi membisukan status-status bernada kebencian atau sindirian yang merupakan prasangka buruk para pemilik status. Entah ditujukan untuk siapapun itu.
Story WhatsAppnya berisi foto kawanan bala-balaannya dengan caption tulisan:
Lebih baik menjadi musuh yang nyata daripada teman yang palsu.
Aku tahu arah pikiran teman dekatku menuju kemana.
Terasa sakitkah untukku?
Pasti.
Dan itu menjadi memori yang lekang dalam kepalaku.
Di titik ini, aku mulai menandai, siapa saja yang mesti kubuat batasan jarak untuk mendekatiku. Dan mungkin, disadari atau tidak, mereka akan mendapati, aku tidak akan sedemikian peduli seperti dulu. Aku akan lebih banyak menghindari kontak dengan mereka. Kalaupun masih tampak peduli, kepedulianku hanya berada pada batas kewajaran yang umum. Bukan lagi empati personal yang tulus mendalam. Bahkan, seiring berlalunya waktu dan tunai sudah segala tanggung jawabku yang berkaitan dengan kelas, mungkin, kita akan menjadi orang asing satu sama lain. Itulah aku, ketika kepercayaan telah dicabik-cabik dan hati begitu tersayat, aku akan berbalik untuk melindungi hatiku sendiri dari paparan racun atau apapun yang bisa membuatku mendendam. Karena... aku manusia biasa dengan segala emosi yang kupunya dan ingatan yang tak mungkin dilupakan.
*
Sebagian teman-teman yang percaya padaku, secara pribadi dengan tulus memberikan dukungan dan penguatan. Kuceritakan hanya pada sedikit orang dengan hitungan tiga jari untuk membagikan bagaimana perasaanku juga alur cerita yang kuhadapi. Kuhargai penghiburan mereka. Tapi pada akhirnya, seperti biasa, aku lebih suka menyendiri untuk menenangkan diri.
Saat sendiri, aku memikirkan banyak hal. Aku berkontempelasi. Aku merefleksi dan mengevaluasi diriku agar bisa memandang masalah lebih adil dan bijaksana.
Aku berusaha memandang dengan sudut pandang yang seimbang. Bahwa tidak hanya sikap mereka yang menyakitiku tapi mungkin juga sikapku pernah menyakiti mereka yang mencurigaiku tanpa kusadari. Bahwa bukan hanya mereka yang berprasangka buruk, tapi mungkin juga aku berprasangka yang sama buruknya. Bahwa aku harus menyadari pengorbananku tak lagi tulus ketika aku menuntut dipahami dan dimengerti. Bahwa aku masih menyimpan pamrih tanpa kusadari.
Endingnya, aku tak mengatakan diriku bahwa aku sudah bisa ikhlas dengan perlakuan mereka. Tapi, aku berusaha untuk menemukannya hikmah kebaikan didalamnya. Berusaha untuk tetap berbuat baik pada mereka yang membutuhkan bantuanku meski sempat menggoreskan rasa sakit hati.
Jujur, untuk melupakan apa yang telah mereka lakukan padaku... aku tidak bisa. Bersebab itulah, jarak akan tetap ada. Demi melindungi hatiku dan menjauhkanku dari emosi yang buruk bagi kesehatan mentalku.
Kita, akan tetap berjarak. Dan segalanya, takkan lagi sama. Aku melepaskan semua ikatan pertemanan itu. Kubiarkan menguap terbang begitu saja. Seperti embun yang turun dari kabut semalam-malam lalu perlahan lenyap terhisap sinar matahari seiring datangnya pagi yang cerah. Di situlah, letak kemerdekaan dari rasa sakit. Juga memahami kembali, tentang orang-orang yang datang dan pergi, yang pada akhirnya semua bermuara pada satu kalimat: Allah yang menitipkan semuanya padaku, termasuk teman-temanku, dan Allah berhak mengambilnya kembali kapanpun, dengan cara apapun, yang terbaik menurut-Nya.Mungkin, ini yang terbaik untukku kembali memaknai titipan.


0 komentar:
Posting Komentar