Sabtu, 04 April 2020

#4. Hai... Bagaimana Kabarmu, Kau Yang Ada Di Dalam Cermin?


Hai... Bagaimana Kabarmu, Kau Yang Ada Di Dalam Cermin?

Maret-April 2020

Aku sedang tidak baik-baik saja. Dunia pun begitu. Sebagian manusia mengatakan, bumi tengah berduka oleh sebab wabah. Tapi, mungkin, bumi tengah menyembuhkan dirinya sendiri dengan menghadirkan wabah untuk mengurangi polusi termasuk populasi manusia.

Tapi, apapun alasannya, sungguh, ini sedikit ataupun banyak membuatku kacau. Sekolah diliburkan sebagai antisipasi penyebaran wabah supaya tidak semakin menggila. Penelitianku pun kacau balau. Pengambilan sampel butuh sedikit lagi penyelesaian agar data untuk bisa kuolah dan kuanalisis.

Aku resah. Khawatir tidak bisa lulus tepat waktu. Terlalu recehkah kegelisahanku? Ah, biarkanlah jika orang berpikir begitu. Aku hanya tidak ingin lama-lama menjadi mahasiswa di sana. Aku sudah cukup menjadi beban orang tua karena belum bisa sepenuhnya membiayai kuliahku sendiri. Memalukan bukan? Seharusnya, bagiku, perempuan matang seusiaku, sudah bisa berdiri di atas kaki sendiri soal finansial.

Keyakinanku seakan goyah. Keyakinanku pada diriku sendiri tengah menipis. Lelah berulangkali menimpali tanya. Bisakah aku bisa lulus tepat waktu seperti yang aku inginkan? Aku tengah tidak yakin dengan diriku sendiri. Aku membutuhkan tangan dan hati yang lebih kuat untuk menarikku kembali berdiri dengan tegak.

Adakah manusia yang mampu melakukannya untukku?

Entahlah.

Selama ini, kesendirian telah membuatku lebih banyak tak bergantung pada orang lain. Apakah itu terdengar suatu kesepian yang menyedihkan? Ataukah terkesan angkuh? Bukan. Aku tak mengabaikan sama sekali dukungan tulus segelintir orang-orang terdekatku. Sungguh, aku berterima kasih pada mereka. Mungkin, aku terlalu individualis. Wanita independen dalam hal pemikiran, bahkan, kesedihan yang tengah menyelimuti perasaan.

Karena, setulus apapun dukungan itu ... aku menyadari bahwa pada akhirnya, tetap aku harus menyelesaikan jalan takdirku sendiri. Menyelesaikan jalan yang telah kupilih. Sesulit apapun.

Saat ini... yang kubutuhkan adalah tangan-Mu untuk menarikku agar pikiran tak tertelan kegilaan dan hati tetap dalam kewarasan.

Aku lagi-lagi bertanya pada diri sendiri. Pertanyaan yang lebih mirip dengan pernyataan mungkin.
Masalah membuka banyak variabel dalam hidup untuk dipahami dan diterima bukan? Masalah mengajari manusia makna harapan dan keajaiban doa ditengah-tengah keterbatasan daya upaya bukan? Masalah adalah anak tangga untuk mendekati-Nya bukan?

0 komentar:

Posting Komentar