Kamis, 16 September 2021

Yang Kutakutkan Dari Kematian

 


Kematian ... apa yang kutakutkan darinya? Sakitnya sakaratul maut? Tidak bisa lagi melihat orang-orang yang kusayangi karena telah berpindah dunia? Menjalani kehidupan asing yang menakutkan di alam kubur sambil menunggu hari kebangkitan? Siksa kubur karena mati dalam keadaan tercela? Bayangan neraka yang sudah diperlihatkan di alam kubur karena timbangan dosaku lebih berat? 

Bukan. 

Ada banyak hal yang lebih mengerikan daripada itu. Tahukah kau, Wahai Dunia Fatamorgana, apa yang kutakutkan dari kematian?

Adalah kematian dalam beberapa keadaan: 
Mati meninggalkan janji yang belum sempat kupenuhi. Mati tanpa pernah mengetahui di jalan kehidupan mana yang sebenarnya Sang Maha Cahaya inginkan untuk diriku menghaluskan lelaku dan berwelas asih terhadap sesama. Mati dengan kebodohan karena terlambat menyadari bahwa aku telah lama menjadi mayat hidup di tempatmu yang sekarang tengah kupijaki. Mati sebelum berhasil menemukan makna keberadaan diri.

Tapi, lagi-lagi, aku bertanya-tanya, pada diriku yang ada di dalam sana ... benarkah itu adalah hal-hal yang paling kutakutkan dari kematian? Sepertinya bukan.

Ada hal yang paling gelap, hitam dan mengerikan dari sebuah kematian. Lebih dari semua hal yang telah kupikirkan sebelumnya. Dan rasanya bisa menjadi siksaan terberat bagiku ketika aku tahu akan menjalani kehidupan baru yang asing sama sekali kelak di alam sana.

Aku takut. Sangat takut.

Aku, takut mati dalam keadaan amnesia terhadap diriku sendiri. Aku, takut mati dalam keadaan bertengkar dengan seluruh bagian dari diriku. Aku, takut mati dalam keadaan terputus dari diriku sendiri. Aku amat sangat takut kehilangan keterhubungan dengan diriku yang ada didalam sana. Hal semacam itu, lebih membingungkan dan mengerikan dari apapun. Bahkan dari kematian itu sendiri.

Karena ... saat aku terputus dari diriku sendiri, aku tak akan mampu lagi merasakan cinta kasih-Nya yang lebih besar dari murka-Nya. Aku akan kehilangan tali pegangan dan nyala pelita-Nya yang membuat kematian tampak menakutkan dan tak pernah kuingini.

Aku takut ... saat aku terputus dari diriku sendiri, aku tak bisa menemukan jalan pulang kembali menuju-Nya dan hanya berputar-putar dalam labirin tanpa ujung jalan keluar. Siksaan dan hal-hal mengerikan yang para pendogma agama katakan tentang azab dan dosa ... aku tak peduli. Bahkan, penilaian dan timbangan manusia tentangku yang lahir dari labelitas profesi atau penokohan masyarakat setingkat ustadz, kyai atau pemuka agama sekalipun, entah itu baik ataupun buruk ... pahala ataupun dosa ... aku sungguh tak peduli!

Bagiku, asalkan Sang Maha Penyayang masih sudi melihat, mengawasi dan tidak mengabaikanku ... aku tak akan merasakan kematian yang dingin lagi menakutkan.


-Vinny Erika Putri, 16.09.21

0 komentar:

Posting Komentar