Kamis, 16 September 2021

C.A.N.D.U

 


Di pelataran sunyi, kumainkan serangkaian melodi yang menjadi detak nadiku. Senandung nadanya melepaskan rasa yang gelap, halus, jujur dan mengharu biru. Lantas, pada suatu malam, kudengar gemerasak reranting terinjak oleh derap lirih sepasang kaki milik seorang pemburu. Suaranya, merambat di udara dan bercampur dengan alunan laguku. Rupa-rupanya, nada-nada diri yang menyenandungkan misteri kehidupan telah menarik langkahmu padaku. 

Kau menemukan sosokku. Cukup lama tubuhmu membeku. Matamu berbinar terpukau. Menyaksikan seorang perempuan dalam balutan gaun hitam dan rambut panjang terurai, berdiri di bawah naungan purnama yang menyinari seluruh penjuru. 

Sirat matamu bertanya-tanya, siapa sesungguhnya diriku. Seseorang yang tak pernah kau temukan dalam gemerlap panggung dunia penuh sorot lampu. Sementara aku, tak acuh dan terus saja memainkan melodiku. Sampai, kau timpali euforia sunyiku dengan riuh tepuk tanganmu.

Lingkar matamu kurasai memburu. Kau, berusaha keras menelisik kehidupan macam apa yang berdenyut didalam diriku. Pun, telingamu terjaga mencari-cari kisahku diantara belantara kisah kehidupan manusia yang terlantun dalam melodiku. Sayangnya, tak ada rasa percaya yang bisa kubagi denganmu. Kau, tak akan bisa membaca kidung tentangku. 

Tapi, kau ... lelaki berkepala batu. Berkali-kali setelahnya, kau muncul mengacaukan malamku. Pula, membuat gaduh irama laguku. 

Hingga pada satu masa, amarahku tetas menggebu-gebu. 
Hei, kau! Apa yang membawamu kerap kali singgah melihatku?! Aku, bukanlah buruanmu!

Katamu padaku,
Kau adalah candu. Yang hadirnya tak bisa kuabaikan dalam tiap degup jantungku. Entah sejak kapan waktu.

Aku diam membisu. Candu sejenis itu pernah membuatku sekarat semasa dahulu. Dan sosokku yang sekarang, tak akan limbung terpanah oleh racun candu yang terlontar dari bibir-bibir manusia sepertimu.

Dalam-dalam kutatap matamu, lantas tersenyum dengan gumam kata-kata yang tak akan pernah kau tahu,
Kau, tidak akan kuat menghirup candu serupa diriku. Aku rumit dan sulit terdefinisikan oleh kepalamu. Kau tak akan bisa sabar untuk menerima dan memahami seluruh bagian dari diriku. Kebosanan akan mengepungmu. Atau bahkan, kengerian yang tak kau sangka bisa saja mengagetkanmu. Hingga pada akhirnya, dirimu akan mundur karena tertelan takut dan ragu.
Kau menunggu jawaban dari bibirku. Namun, kau tak mendengar kalimat apapun selain nada-nada asing yang semakin sukar dimengerti olehmu. Kata-kata hanya menggema dalam semesta batinku.

Aku, kembali memainkan melodiku. Dengan gubahan nada-nada merah, hitam, biru dan ungu. Kini, aku sudah tak lagi peduli, apakah kau masih akan singgah berdiam di sini atau perlahan-lahan pergi memunggungiku. Mataku, sudah tak lagi hirau pada sosokmu. Kita, hanya akan menjadi perulangan kisah tanpa titik temu. Seperti candu di masa lalu.


-Vinny Erika Putri, 16.09.21

0 komentar:

Posting Komentar