Selasa, 07 September 2021

Garis Batas

 



Matanya mendapati sosokmu
Berdiam di belantara sunyi yang tak bisa dicernanya

Dipanggilnya dirimu dengan tiga huruf "H-e-i" 
Lantang dan dipanjangkan, berulang-ulang
Lantas, langkah kakinya memendekkan jarak kalian

Ia menghampirimu dengan wajah riang bagai anak kecil
Yang menemukan teman berpetualang untuk memecahkan teka-teki kehidupan

Lambat laun, sesuatu kau rasakan berbeda
Kau menyadari, jiwa anak-anaknya telah ia tanggalkan pelan-pelan
Ia menujumu dengan perasaan yang sungguh tak ingin kau definisikan

Bibirmu melengkungkan seulas senyum padanya
Sembari memundurkan langkah depa demi depa
Ketika garis batas hendak ia lampaui tanpa sadar

Keningnya berkerut, mata lelakinya seolah bertanya, 
Mengapa aku tak pernah benar-benar tahu bagaimana diriku di dalam dirimu?
Kau hanya memberikan tatapan mata yang tak bisa ia tebak
Di belakang sana, dalam dunianya, seseorang yang terkulai lemah membutuhkannya sebagai pijakan dan topangan
Ah, tak hanya seseorang, tapi berorang-orang yang dalam tubuh mereka mengalir darah dirinya

Diammu membuat alisnya semakin bertaut, hingga kau, lagi-lagi, mengatakan hal yang sama kepadanya,
Pulanglah, aku sedang tak ingin mengurai teka-teki apapun.
Ia pun pergi, memunggungimu untuk pulang
Lalu, kau mengembuskan napas yang terdengar berat

Hatimu tahu, sementara hatinya tidak
Kau, pernah mendapatkan sebuah tikaman luka
Yang rasa sakitnya melekat kuat dalam ingatan
Dan membuatmu berjanji pada dirimu sendiri
Bahwa ... belati itu, tak akan kau tancapkan 
Pada hati yang lain dari jenis yang sama seperti dirimu
Tidak akan pernah!

Ujarmu, padanya, dalam ruang batinmu yang kedap suara,
Kau, tolong ... bantu aku tuk memegang janjiku erat-erat
Kita, tetaplah melihat garis batas sebagai keindahan
Dan cara kita menjaga apa yang semestinya terjaga
Agar semesta tak mengutukku sebagai seorang yang ingkar


-Vinny Erika Putri, 07.09.21

0 komentar:

Posting Komentar