Sabtu, 14 Agustus 2021

#8. Surat Untuk Diriku Tentang Berita Hari Ini

  


Hai, Vinny Erika Putri.
Aku tahu, hari ini kamu sedang tidak baik-baik saja. Adakah hal yang ingin kamu ceritakan tentang bagaimana rasamu melihat pemakaman rekan kerjamu hari ini? Aku di sini, hadir mendengarkanmu dan membersamai perasaanmu.
Tepatnya jelang tengah malam, hari Jum'at, aku dikagetkan dengan berita kematiannya. Aku memang tak mengenal dekat sosok dirinya. Tapi, ia tetaplah bagian dari anggota keluarga besar Yayasan Pendidikan Islam yang menaungi kami. Kami amat sangat jarang bertemu dalam keseharian karena kami bekerja di satuan pendidikan yang berbeda. Beliau di satuan pendidikan MDTA, sementara aku di satuan pendidikan PAUDQ. Momen pertemuan dan kebersamaan kami hanya pada saat acara besar akhirussannah dan pelepasan siswa yang menjadi agenda rutin tahunan di yayasan tempat kami bekerja.
Lalu, apa yang membuatmu setertohok itu?
Kisah-kisah dari para tetangganya, tentang kehidupannya yang baru kuketahui siang tadi. Beliau adalah tulang punggung keluarga, yang memiliki cita-cita tinggi untuk bisa menjadi sarjana. Beliau membiayai dirinya, juga adik perempuannya yang tengah berkuliah di semester 2. Beliau berusaha begitu keras selepas kakak pertamanya telah lebih dulu tiada. Beliau melupakan kebutuhan jiwa dan raganya demi cita-cita dalam hidup dan kesejahteraan keluarganya. Dan ketika seorang tetangga mengatakan, bahwa dosennya datang membawakan selempang bertuliskan Alfiyah, S,Pd., hatiku tertikam perih. Beliau baru saja menyelesaikan sidang skripsinya.  
Lantas, saat keranda jenazahnya mulai dipandu orang-orang, aku berdiri disusul rekan kerjaku yang berada disampingku. Tangan kami saling menggenggam bersamaan dengan embun yang membulir di sepasang mata kami. 
Lebih dari itu, sepanjang aku melangkah, kilatan rasa bersalah menyambar-nyambar hatiku. Aku marah pada diriku sendiri. Aku pernah menghakiminya diam-diam. Saat beliau sempat menolak ditugaskan sebagai MC cadangan jelang acara besar akhirussanah dan pelepasan siswa lintas satuan pendidikan, sekitar 3 bulan lalu, aku menjadi teramat sangat kesal dan memintanya secara tegas tetap menugaskannya MC cadangan. Secara sembunyi-sembunyi, aku yang pada saat itu menjadi ketua panitia, melabelinya sebagai seseorang yang tidak bisa diajak bekerjasama secara tim dan tidak memiliki inisiatif untuk berkontribusi dalam organisasi pendidikan tempatnya bekerja yang sedang mempersiapkan acara besar gabungan dari 3 jenis satuan pendidikan. Bahkan, aku berasumsi sendiri, bahwa beliau tidak benar-benar peduli dengan acara wisuda gabungan tahunan yang rutin diselenggarakan yayasan kami. Aku mengambil kesimpulan tanpa tahu bagaimana latar belakang kehidupannya karena jarangnya komunikasi dan pertemuan yang terjalin diantara kami. Aku terlambat menyadari bahwa ada kebutuhan hidup yang memang penting-mendesak dan menjadi skala prioritas utama baginya dikala itu. Aku sempat kehilangan sisi kemanusiaanku.
Ketika kami telah sampai pada tanah pekuburan, dan jenazahnya diturunkan, rekan kerjaku semakin kencang memegang lenganku. Aku merangkulnya. Butiran air mata kami semakin mengalir deras. Dalam hatiku menjerit dan memohon maaf atas segala prasangka burukku padanya. Aku terisak lirih. Pun rekan kerjaku. Dengan penyebab yang berbeda. Hanya diriku sendiri yang tahu alasanku menangis. Sebuah tangis penyesalan. 
Dan saat penggali kubur melilitkan selempang bertuliskan Alfiyah, S.Pd., hatiku semakin tersayat pedih. Aku menyaksikan bagaimana gelar itu mengantarkannya hingga ke liang lahat. Gelar yang diperolehnya dengan perjuangan antara hidup dan mati.  
Maafkan aku. Atas buruk sangka yang pernah kulabelkan padamu. Hidup yang begitu keras, telah kamu lewati di usia yang sangat muda. Dan 23 tahun sudah, kamu memperjuangkan hidup. Sekarang, Allah menginginkanmu kembali. Semoga Allah peluk dan dekap erat dirimu di alam sana dengan kasih sayang-Nya.
Hai, Vinny Erika Putri.
Apakah kamu masih menyalahkan dirimu sendiri sampai dengan saat ini? 
Entahlah. Aku masih merasakan sedikit ketidaknyamanan dan menyesalinya karena tidak pernah mengenal lebih dekat sosoknya selama ini.
Hai, Vinny Erika Putri.
Tidak apa-apa untuk merasakan perasaan seperti itu. Beri dirimu waktu untuk menerima. Lantas, beranjaklah memahami dengan kesadaran diri bahwa menyalahkan dirimu terus-menerus tidak akan mengembalikan segalanya. Kamu bisa lebih mengambil pembelajaran untuk dirimu sendiri. Selain perasaan bersalah yang muncul, apalagi yang kamu pikirkan saat berada di area pemakaman?
Suasana pekuburan begitu lengang. Ada damai yang sempat menelusup saat melihat pepohonan yang mengelilingi area tanah pekuburan bergemerisik dedaunan tertiup angin sendu. Setelah air mataku mereda, aku melamun sembari menatap tanah pusaranya dan bertanya-tanya dalam batinku, "Pergi dalam keadaan tenangkah dirimu? Bagaimana nanti kondisi hati dan jiwaku ketika kematian datang menjemput? Akankah setenang aliran angin di tanah pekuburan ini?"
Orang-orang sebagian ada yang sempat tertawa-tawa, entah menertawai apa. Sebagian terdiam sepertiku. Dan tak tampak pula air mata pada kedua orang tuanya. Entah sedemikian mudahkah mereka mengikhlaskannya atau justru mereka masih mencerna kehilangan yang masih tanak terjadi. Ah, aku tak tahu. Kemudian, saat doa dibacakan, aku hanya menundukkan kepala dan masih menyisir kelebatan ingatanku tentang segala kesalahan yang pernah kuperbuat kepadanya. 
Ya Allah ... ampunilah aku. Berikanlah beliau tempat terbaik di sisi-Mu.
Hai, Vinny Erika Putri. 
Bagaimana perasaanmu sekarang? Apakah sudah lebih lega? Atau masih ada yang menjadi beban pikiranmu?
Aku sudah lebih ringan dan lega setelah menguak sisi jahatku dan kesalahan yang pernah kulakukan padanya. Aku ingin terus mengutuhkan diri dengan mengakui bagian-bagian gelap dari diriku yang mungkin sempat tertolak oleh diriku sendiri atau orang-orang terdekatku. Aku ingin selesai dengan diriku sendiri, mengenali dan mendidik ego tergelap dan terendahku agar setiap penderitaan hidup bukanlah lagi menjadi sebuah penderitaan karena jiwaku sudah bisa menerimanya dengan tenang; dan, agar aku bisa terus berproses lebih baik lagi dalam memanusiakan diriku dan orang-orang di sekitarku. Aku ingin, kelak, ketika aku berpulang kepada penciptaku, Dia tidak memunggungiku dengan kemurkaan-Nya dan benar-benar menantiku di sana dengan riang. 
Hai, Vinny Erika Putri. 
Terima kasih, telah mengungkapkan kejujuranmu dengan terang yang mungkin sulit pada awalnya kamu akui. Sini, biar kupeluk erat jiwamu. Teruslah bertumbuh menjadi versi terbaik, asli dan utuh Seorang Vinny Erika Putri, dari masa ke masa. Aku, kesadaran tertinggimu tak pernah pergi dari dalam hatimu. Aku terus menyaksikanmu bertumbuh sebagai dan menjadi manusia utuh paripurna dengan gembira. Dan selalu menerima apapun proses yang memang menjadi bagian dari warna perjalanan yang mesti kamu lalui.


-Vinny Erika Putri, 14.08.21 

0 komentar:

Posting Komentar