Selasa, 10 Agustus 2021

#1. Maaf Dan Terima Kasih Untuk Diriku

 


Maafkan aku, Wahai Diriku. 
Atas kesulitan-kesulitan yang kuberikan padamu sebagai seseorang dengan banyak warna dan intensitas kedalaman perasaan yang kualami. Seseorang dengan banyak label pemberian dari lingkaran kehidupan sosialku dan kausalitas yang ditimbulkannya.
Diriku, seseorang bernama SULUNG yang berjuang sedemikian keras untuk tidak limbung dengan banyak tanggung jawab keluarga yang dipikulkan sejak kecil hingga kini dan menjadi tumpuan harapan kedua orang tua kelak ketika mereka berpulang lebih dulu. Yang sudah tidak asing menerima amanah dan bayangan kematian dari lontaran kata-kata orang tua sejak kecil dan mulai terdengar lebih sering sejak 7 tahun silam. Mereka berkata, "Kalau ibu-bapak meninggal duluan, kamu yang akan mengurus dan mengatur keluarga ini. Jaga adik-adikmu dan terima kekurangannya. Yang pada akur satu sama lain." 
Diriku, seseorang bernama SULUNG yang telah banyak diajari cara menghadapi dan menangani semua permasalahan hidupku oleh "aku kecil", "aku remaja" dan "aku dewasa" dengan ketidaksempurnaanku selama bertumbuh menjadi dan sebagai manusia utuh. Yang nyaris selalu disodorkan pada pilihan berpikir untuk menghadapi segala kemungkinan terburuk dari apa yang diberikan kehidupan kepadaku. Yang dipaksa berhadapan dengan ketakutanku sendiri sejak kecil dengan kondisi disfungsional keluarga dimana terjadi kecatatan pola asuh ayah. Beliau tidak bisa mencerna dan mengatasi emosinya sendiri dengan tenang selayaknya seorang ayah sebagai manusia dewasa dan kerap melemparkan kekesalannya kepada ibu dengan verbalisme kekanak-kanakannya. Dan seorang ibu over-independent yang kerap berkata, "Kamu harus bisa menolong dirimu sendiri, karena orang tua tidak selamanya bisa hidup mendampingi." 
Seseorang bernama SULUNG yang sejak berseragam putih-merah telah dikenalkan sesoal makna menjadi "orang tua" bagi diriku, adik-adikku dan kedua orang tuaku. Yang dalam kesendirian panjang, melakukan rentetan perjalanan diri, menaklukan ketakutan-ketakutan akan banyak hal tidak familiar yang hadir di setiap linimasa kehidupanku sebagai sulung perempuan.
Diriku, seseorang bernama PENDENGAR YANG BAIK yang kerap menyediakan telinga dan hatinya untuk mendengarkan luka-luka emosional orang lain pula memberikan mereka kelegaan perasaan. Sementara, aku sendiri belum menemukan seorang manusia pun yang sanggup mendengarkan dengan penuh makna dan benar-benar menghadirkan dirinya untuk membersamai hati dan jiwaku. Tidak semua orang mampu menyelami dan memahami intensitas perasaanku bahkan memberikan respon yang tepat sesuai yang aku butuhkan.
Diriku, seseorang bernama KERAS KEPALA. Yang memiliki caranya sendiri untuk bertahan hidup. Yang sulit dan sangat selektif untuk mengungkapkan apa yang kurasakan kepada orang lain bahkan lebih cenderung menyimpannya sendiri. Yang lebih memilih berdiri dan percaya penuh pada diriku sendiri ketimbang bergantung pada uluran tangan orang lain. Yang semasa bertumbuh, aku telah banyak membunuh ekspektasi-ekspektasi egoku terhadap timbal balik dari orang lain dengan memanusiakan semua respon yang mengalir dan tidak menuntut mereka mesti memahamiku ketika aku berkisah tentang diriku sendiri.
Diriku, seseorang bernama ANDAL. Yang acapkali dipercaya banyak orang untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan mereka atau tempat mereka bertukar saran bahkan terkadang meminta persetujuan keputusan hidup mereka sendiri. Seseorang ANDAL, yang tak jarang mendorong diriku terlalu keras untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai meski artinya aku berjalan seorang diri di jalan asing yang belum pernah kutempuh sebelumnya.
Diriku, seseorang bernama SENSITIF. Yang amat peka dengan berbagai pancaran perasaan orang-orang di sekitarku. Yang mudah mengalami kewalahan emosi disaat orang-orang begitu ribut dan bising meminta dengan teriakan untuk ego-ego terendah mereka dipenuhi. Seseorang SENSITIF, yang mudah menyerap dan memahami berbagai emosi kepedihan orang lain serta menggambarkan perasaan mereka dengan tepat. Yang sangat berselaras dengan pergeseran atau naik-turunnya perubahan emosi diri.   
Diriku, seseorang bernama SURVIVOR yang terus berproses untuk merangkul luka-luka batinku sendiri, menyembuhkan diri dan bertumbuh dengan baik selayaknya manusia dewasa yang matang secara akal pikiran, hati dan jiwa dari masa ke masa. 
Diriku, seseorang bernama KESUNYIAN. Yang padanyalah jiwaku menenggat atau menepi sejenak ketika dunia terlampau pelik, rumit dan melelahkan untuk kupahami. Yang didalamnya, aku menemukan ketenangan diri dan merasakan kehadiranmu, Wahai Diriku. Yang di pelatarannya, aku bisa mengeluarkan perasaan asliku, menanggalkan topengku dan mengekspresikannya dengan jelas-bebas, dari yang tergelap hingga yang paling terang, dari yang terjahat sampai yang tersuci, dari sisi iblis hingga sisi malaikat. Yang ketika berdiam lama di sana, bersamamu, aku mampu berdamai dan mendamaikan jiwaku sendiri. 
Dan seseorang-seseorang lainnya, bagian dari diriku yang membuatmu tak bosan-bosannya untuk berkali-kali belajar memahamiku, mengenaliku dan bersama-sama menjalani proses mengutuhkan diri. 

Maafkan aku, Wahai Diriku. 
Yang masih kerap memaksakan diri memasang badan untuk orang-orang diluar diri ini dengan mengatasnamakan tanggung jawab. Yang sesekali masih memunggungi dan melarikan diri dari perasaanku sendiri. Yang terkadang menutup telinga dari suara teriakan jiwa yang sebenarnya tengah merasakan lelah. 

Maafkan aku, Wahai Diriku. 
Yang tak pernah bisa melepaskan kelekatan jiwa dan perasaan denganmu lebih dari manusia manapun sejak aku memahami bahwa dirimu adalah bayangan yang paling setia dan tak pernah berkhianat padaku. Yang masih sulit memberikan kesempatan untukmu bergantung pada pertolongan orang lain dalam menghidupi kehidupanku. Yang kini semakin tak ingin kehilangan eksistensi dirimu sebab luka-luka pengabaianku atas dirimu masih erat melekat ketika aku membabi buta melakukan apapun untuk orang-orang yang kusayangi dengan meniadakan begitu saja kebutuhan jiwamu hingga sempat membuatnya mengalami kerusakan.

Terima kasih, Wahai Diriku. 
Untuk selalu ada bersamaku. Saat di titik tergelapku. Saat di titik terapuhku. Saat di titik sesak penatku. Saat di titik tergamangku. Saat di titik tergila jiwa dan hatiku. Saat di titik ketidakpercayaanku akan seorang manusia pun yang sanggup tenggelam memahami intensitas dan kedalaman perasaan diriku, kecuali dirimu.

Terima kasih, Wahai Diriku. 
Untuk selalu ada bersamaku. Ketika aku bertanya tentang makna kehidupan bagi diri. Ketika aku bertanya tentang apakah aku harus menyerah atau melanjutkan hidup. Ketika aku ingin mengurai kekusutan jiwaku secara sembunyi-sembunyi atau menghilang sementara waktu dari bisingnya suara penghakiman orang-orang yang ingin mencampuri hidupku. Ketika aku ingin mengalirkan teriakan katarsis perih dalam dekapan sunyi. Ketika aku sedang tak bisa mencerna perasaanku sendiri dengan kata-kata kecuali embun yang membulir di kedua sudut mata.

Terima kasih, Wahai Diriku. 
Untuk selalu ada bersamaku. Mengenaliku pada bermacam perasaan diri di kedalaman sana. Mengajariku tentang penerimaan diri secara utuh, penuh, setulus-tulusnya, tanpa tapi, tanpa syarat. Merengkuhku dalam kesadaran diri ditengah-tengah kegilaan yang seringkali ingin merenggut kewarasan hati, jiwa dan akal pikiranku.

Terima kasih, Wahai Diriku. 
Untuk selalu ada bersamaku. Dan bersinar, jauh didalam sana. Tetaplah hidup, di langit hatiku, dengan cahayamu yang muncul entah dari mana saat gelap mengepungku. Tetaplah memintaku hidup dengan baik sampai pada waktu yang telah ditentukan-Nya, saat aku mulai menanyakan kebermaknaan hidup dan ingin mengenyahkan diri dari rangkaian garis takdirku. Tetaplah di sisiku sepanjang hayat, hidup menghidupi jiwaku, meski terkadang aku ingin menyerah dan terpikir untuk mengakhiri semuanya saat pusaran badai kehidupan tengah menguji dan mengebiri nyaliku. Tetaplah menantangku untuk bertahan dan memperjuangkan hidup, walau terkadang di titik tertentu, pada suatu rentang masa, aku melihat dunia tak ubahnya seperti seonggok sampah yang diperebutkan manusia tak berpunya jiwa kemanusiaan. 

Maafkan aku, dan terima kasih, Wahai Diriku. Tetaplah di sini, hidup bersamaku, berdenyut dalam nadi jiwaku seperti titah-Nya, agar aku tak kehilangan kesadaran diri sebagai dan menjadi manusia paripurna yang diinginkan-Nya. Semoga kelak, ketika aku kembali kepada-Nya, jiwaku berpulang dalam keadaan tenang dan telah menunaikan tugasku dengan sebaik-baiknya.


-Vinny Erika Putri, 10.08.21

0 komentar:

Posting Komentar