Jumat, 29 Mei 2020

Katarsis Lirih Seorang Perempuan Sunyi

Puisi - Kesunyian Jiwa | Media Agus


Ada rindu
Diam-diam bergemuruh
Pada jiwa seorang perempuan 
Yang berdiri sendirian
Di hamparan padang batinnya


Tanyanya lirih, pada sosok yang telah menyentuh hatinya entah sejak kapan,
Bagaimana kabarmu? Apakah kau baik-baik saja? Kemanakah kau belakangan ini? Marahkah kau kepadaku? Mengapa padang ini menjadi terlampau luas untuk kujelajahi tiap jengkalnya?
Hei, kalian berdua 
Mungkinkah kalian adalah dua orang yang sama:
Sama-sama saling menguji?
Sama-sama bersikukuh dengan gengsi?

Ataukah kalian serupa dua orang pemalu
yang hanya bisa saling melihat dari jauh
dengan gumaman rasa yang terpendam?


Katarsis lirihnya bergema, lagi, 
Aku rindu! Tapi tak tahu bagaimana aku harus melukiskannya. Rinduku, setara dengan ketakutanku. Ya. Ketakutan. Takut ketika kenyataan berhasil memberi getah pahit awar-awar pada harapan yang bertumbuh hingga akhirnya mati bahkan sebelum sempat melayu.

Mata perempuan itu basah
Bersamaan dengan rasa yang menggelisah

Tanyanya lirih, dengan rasa yang entah mesti diterjemahkan dengan apa, 
Apakah hanya aku seorang yang merasakan ini? Dan haruskah kulepaskan sekarang juga?
Perempuan itu terkepung bingung
Aku jatuh iba padanya
Lalu, tiba-tiba saja kumerasakan perihnya
Katarsis lirih seorang perempuan sunyi

Seketika, kekhawatiran menjalari pemikiranku,
Menghempaskanku ke dalam relung hatinya
Menenggelami batinnya
Dan bertelimpuh sembari menangkupkan kedua tangan

Lantas merapalkan doa-doa dengan harapan melangit untuknya:
Semoga ini tidak bertepuk sebelah tangan. Atau berujung pada rasa sakit yang sama. Sesoal menyukai, mengagumi atau (bahkan mungkin saja) mencintai seseorang diam-diam.


-Vinny Erika Putri, 29.05.20

0 komentar:

Posting Komentar