Sabtu, 30 Mei 2020

Pohon Jiwa



Pada sebatang pohon
Yang kokoh berdiri
Di tengah kegelapan hutan batin
Keping-keping jiwa bersemayam
Pohon ini dinamai pohon jiwa

Suara pertama bertanya, dengan hati yang kacau balau, rusuh bergemuruh,
Dimana kubisa menemuinya kembali? Dahulu, aku dengan mudah melihatnya dan berada di sana.
Lantas, suara yang lainnya menyahuti,
Mengapa kau tak lagi mudah melihatnya? Apakah kini kau tengah gentar? Gentar untuk menelusuri kegelapanmu sendiri?
Bahkan, teriakanmu terdengar layaknya orang bingung. Dengan emosi yang tak bisa dibaca. Dan kata-kata yang sesak napas menjelaskan makna.
Suara pertama pun kembali berujar,
Emosi apa yang harus kusampaikan untuk menemukannya? Sungguh, aku tak tahu. Marahkah aku? Sedihkah aku? Senangkah aku?
Pohon jiwa memanggil,
Aku menunggu, keping-keping cahayamu. Yang muncul dan bermetamorfosa dari dasar tergelap. Kau tak akan melihatku, bila segenap emosi itu, gelap ataupun terang, tak kau lepaskan dengan jujur. Setidaknya, pada dirimu sendiri.
Ketika kau mampu menemukan kembali utuh dirimu, tabir itu terangkat dengan sendirinya. Aku tak pernah kemana-mana. Masih di tempat yang sama, saat dahulu kau menatapku dan berdiam di sana.

-Vinny Erika Putri, 30.05.20 

0 komentar:

Posting Komentar