Minggu. Alam membisikkan pertanda kepada orang-orang yang dipercayainya. Bahwa ia harus menjalankan titah dari Sang Kuasa untuk memuntahkan material anak krakatau, mengguncang Tanjung Lesung dan mengayunkan gelombang pasang air laut. Lalu, dalam sekejap, sebagian kecil kehidupan dunia, di belahan bumi Banten lintang-pukang. Sebagian orang-orang terhempas air dan meregang nyawa seketika itu juga. Sebagian lagi berlari menyelamatkan diri dengan menggegam erat hal paling berharga yang ada di tangannya dalam arus ganas: anak-anak, sanak saudara, ataupun jiwa yang masih memiliki nyawa. Harta menjadi tidak lagi berharga. Bahkan nyawa sendiri pun tak mampu lagi terjamin.
Dalam diam, aku melihat banyak watak manusia dan sudut pandangnya. Mereka terpecah menjadi beberapa golongan. Sebagian, yang bergerak dengan empati, segera memberikan bantuannya. Sebagian, yang memandang hubungan secara vertikal dengan Tuhan, merujuk pada azab dan dosa, memperingatkan manusia untuk bertaubat secara halus mendamaikan maupun keras menusuk. Sebagian, berkutat dengan penelitian ilmiah yang bisa dijadikan rujukan sebagai penyebab dan ciri yang dibawanya untuk bisa dijadikan kuda-kuda pertahanan di masa depan.
Bagaimana dengan diriku?
Untuk mengatakan itu adalah azab, terlalu mengerikan, meski itu (mungkin) benar sekalipun. Jauh di lubuk hati mengatakan, kata-kata itu tak tepat untuk diungkapkan saat ini. Kata-kata itu bagai belati yang semakin mengoyak hati orang-orang yang tengah dirundung bencana dan masih berjuang dengan pedihnya rasa kehilangan orang-orang yang mereka sayangi. Terlepas persoalan azab, yang perlu dipahami adalah bahwa itu sudah merupakan kehendak-Nya untuk dijadikan pelajaran bagi manusia. Ia menyisakan manusia yang hidup untuk menjadi saksi dan berpikir. Bukan untuk saling berselisih atau mengotori pikiran dan hati tentang kelayakan mereka menerima azab, yang pada akhirnya menjadi ruang bagi iblis untuk menggoda kita dengan pandangan bahwa mereka tidak lebih beriman dari kita.
Ambillah makna azab itu untuk peringatan diri sendiri bukan untuk menilai orang lain atau bahkan menghakimi suatu penduduk daerah. Jadilah manusia yang berpikir dengan akal dan hati bukan nafsu yang menjerumuskan diri secara tak sadar dalam penghakiman yang tak adil terhadap manusia lainnya. Berbuatlah suatu kebaikan yang mampu menciptakan perubahan yang lebih baik dengan ilmu ataupun bentuk kepedulian lainnya. Kalaupun belum bisa melakukan itu semua, cukuplah berdoa dalam diam dan merenungkan segala khilaf dan dosa yang telah dilakukan diri sendiri lalu mulai memperbaiki diri.
-Vinny Erika Putri, 28.12.18, masih dalam mendung duka Tanjung Lesung Banten.


0 komentar:
Posting Komentar